My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
74. Hot Daddy


__ADS_3

Dua pria lajang terlihat kerepotan mengurus satu bayi perempuan.


"Kamu berani-beraninya Max.. kamu belum pernah mengurus bayi sebelumnya dan kamu dengan entengnya menawarkan diri mengurus Jemima? Jangan pernah libatkan aku ke dalam ide gilamu itu.."


Seo Woon mendengus kesal. Dia sedang mempertanyakan ide gila Max. Kalau ide gila itu di lakukan Max sendiri, Seo Woon tak masalah. Tapi ide gila itu melibatkan dirinya. Ide gila marawat Jemima.


"Maaf hyung.. aku tak ada pilihan lain.." Jawab Max.


Mereka berdua yang tak ada kemampuan mengurus bayi-bayi tiba-tiba harus mengurus Jemima. Menit pertama baik-baik saja. Menit berikutnya, rumah Max seperti kapal pecah. Jemima berlarian kesana kemari dengan riang gembira. Anak kecil itu pada dasarnya tidak rewel, dia tidak takut pada Max ataupun Seo Woon, Jemima hanya aktif saja.


Max tidak bisa memandikan ataupun membuat makanan untuk Jemima. Bahkan Max tak bisa mengganti popok untuk Jemima. Namun dia dengan sungguh-sungguh mau belajar meskipun merepotkan Seo Woon. Jadilah mereka berdua yang mengurus Jemima.


Jemima pulas di kamar Max setelah makan satu mangkok bubur dan satu botol susu. Tubuhnya miring ke kanan. Pipinya tertekan oleh bantal hinggal menyumbal. Hidungnya yang tinggi dan mancung itu tertelan oleh pipi gembulnya.


Perasaan Max campur aduk melihat kedamaian Jemima. Rasa bersalahnya kian bertambah. Dia tidak ada saat Yana mengandung Jemima. Dia juga tidak menemani Yana saat melahirkan. Dia tidak terlibat saat Jemima tumbuh hingga saat ini. Max adalah ayahnya tapi dia tidak tahu apa-apa. Hatinya meringis. Dia adalah orang yang rugi karena menyia-nyiakan Yana dan Jemima.


Max merebahkan tubuhnya disamping Jemima kemudian segera terhanyut ke dalam mimpi.


-----


"Hai ayah paling seksi sedunia.."


Seloroh Seo Woon yang sudah memakai apron pukul 6 pagi.


Max tersenyum tipis.


"Hyung cocok dengan apron itu.." Ledek Max.


"Jemima sudah bangun?"


"Belum.. semalam dia bangun terus tidak mau tidur. Baru tidur saat fajar tadi.."


Tawa Seo Woon meledak.


"Aku tidak bisa membayangkan jadi Yana yang harus mengurus Jemima.." Max menarik kursi di depan meja dapur kemudian duduk mengahadap Seo Woon yang sedang memasak.

__ADS_1


"Yana memang wanita luar biasa.."


Max mengangguk setuju.


"Seharusnya dulu aku tidak melepaskannya pergi apapun yang terjadi. Jika aku tahu Yana mengandung Jemima, aku pasti akan mencegahnya pergi hyung.."


"Sudahlah Max.. yang lalu biarlah berlalu. Tidak ada gunanya kamu menyesalinya. Kamu masih ada kesempatan kalau kamu ingin mendekati Yana. Ada Jemima diantara kalian.."


"Aku harap begitu hyung.."


"Kehadiran Jemima adalah pemersatu kalian.."


Max termenung. Semoga apa yang dikatakan Seo Woon benar. Semoga..


-----


Semua orang membatu ditempat, tanpa kecuali. Melihat pemilik perusahaan tempar mereka bekerja datang dengan tubuh kecil di gendongannya. Wajah mereka tak bisa dibedakan satu sama lain. Orang yang tidak tahupun bisa mengira jika mereka adalah ayah dan anak.


Dengan langkah mantap sang ayah berjalan masuk lobi perusahaan. Menatap lurus apa yang dia tuju. Dia tak menghiraukan puluhan pasang mata yang memperhatikannya.


Sang anak di dalam pelukannya tanpak ceria dengan mata hitamnya mengendarkan pandangannya ke segala penjuru. Dia senang melihat banyak orang hari ini. Tubuhnya meronta meminta turun dari pelukan ayahnya namun usahanya sia-sia, tangan ayahnya jauh lebih kuat dari tenaganya.


Jadi seperti sekarang ini. Max yang menggendong Jemima menjadi pusat perhatian para karyawan IM Entertainment. Tubuh mereka membatu dan mulut mereka membisu.


"Kamu jadi pusat perhatian.." Ucap Seo Woon begitu mereka masuk ke dalam ruangan.


"Biarkan saja.." Max menjawab datar.


Perlahan dia menurunkan tubuh Jemima yang terus saja menggeliat.


"Kamu mau jalan-jalan? Kantor ayah sangat luas.. ayo kita berkeliling.." Ucap Max pada Jemima.


Jemima menjawab dengan senang. Mulutnya tak berhenti berceloteh. Dia segera menjelajahi ruangan ayahnya dengan tertatih. Ayahnya memperhatikan dia dari kejauhan. Tidak ada barang yang berbahaya disana.


"Ayah? Kamu membuatku merinding Max.." Ledek Seo Woon.

__ADS_1


"Aku memang ayahnya.." Timpal Max tak terima.


Seo Woon tak bisa lagi menahan tawanya. Max sekarang sudah berubah. Tubuh kaku dan dingin itu perlahan telah menjadi manusia normal setelah bertemu dengan Jemima. Memang Yana selalu memberikan efek yang sangat positif pada Max.


Dia tidak mau membayangkan lagi Max tanpa Yana. Kali ini dia akan membantu Max mendapatkan Yana.


-----


Tinggal sendirian dirumah membuat Yana frustasi. Biasanya ada Jemima yang menemaninya, namun sekarang tidak ada. Jemima menghilang. Yana tak bisa tidur, dia rindu Jemima, bayi kecilnya. Dia ingin mendengar suara Jemima tapi dia tidak mempunyai nomor Max. Yana terpuruk.


Rumah besar yang ditinggal pemiliknya itu terasa luas untuk Yana. Di dalamnya banyak kehampaan. Hati Yana kosong karena ditinggal Jemima.


Yana tidak bisa tidur menjelang fajar. Dia hanya tidur satu jam kemudian bangun dan segera membereskan barang-barangnya untuk pulang ke Indonesia. Beberapa jam lagi dia akan menjemput Jemima, hatinya kembali terisi penuh.


Semua persiapan telah selesai, semua barang telah rapi di dalam koper. Yana sedang ganti baju saat bel berbunyi.


"Siapa?" Ucap Yana pada interkom.


"Saya datang karena perintah Tuan Han Nona.."


Alis Yana mengkerut. Dia segera membuka pintu dan berjalan keluar.


"Han Jungwoo?" Yana memastikan.


Pria yang berdiri di depan pintu dengan setelan jas resmi membungkuk.


"Ada masalah apa?"


"Saya disuruh untuk menjemput Nona dan mengantarkan ke rumah sakit?"


"Apa yang terjadi?"


Rasa takut langsung menyebar ke seluruh tubuh Yana.


"Nona kecil barusan dilarikan ke rumah sakit.."

__ADS_1


"Apa?"


Bersambung..


__ADS_2