
"Selamat datang Nyonya.."
Para pekerja menyambutnya dengan hormat. Nyonya rumah tak peduli dengan sambutan para pekerja. Dia langsung melambai menyuruh mereka semua kembali bekerja.
Tatapannya beredar kesegala penjuru ruangan. Elea yang melihat Nyonya besar langsung menghampiri.
"Anda sudah datang Nyonya.." Elea menyapa hormat.
"Dimana dia?"
"Nona Yana sedang bersama koki pastry Nyonya.. mereka akan membut Apple Pie.." Jelas Elea.
"Antar aku kesana.."
"Baik.."
Nyonya rumah berhenti agak jauh dari Yana. Matanya tak lepas dari Yana yang sedang sibuk membuat Pie bersama koki. Segala gerak-geriknya tak luput dari pengawasan sang Nyonya. Elea yang berada di belakang membuka suaranya.
"Perlukan saya memanggil Nona Yana?"
"Tidak. Aku sendiri yang akan menghampirinya sebentar lagi. Sepertinya mereka sedang menungu Pie matang.."
Ting
Bel oven berbunyi. Pie buatan koki dan Yan sudah matang. Dengan hati-hati koki mengambilnya dari dalam oven. Yana menunggu dengan penuh kecemasan. Dia takut kuenya akan gagal karena tangannya yang tidak terampil. Namun kecemasannya terpatahkan dengan Apple Pie yang terhidang dengan sempurna. Warna kuningnya merata dan apelnya cukup masak hingga menjadi lunak. Mata Yana berkaca-kaca menatap Pie indah di depannya. Yana akan sangat menghargai Pie tersebut. Potongan pertama akan dia berikan pada Max nanti. Tak henti-hentinya Yana mengucapkan terima kasih kepada koki hingga membuatnya kikuk.
Saat Yana mengoleskan mentega atas perintah koki, Nyonya rumah mendekati mereka.
"Sepertinya sangat lezat.. bolehkah aku mencicipinya?"
Yana menoleh pada sumber suara.
"Salam saya untuk Nyonya.." Koki kue memberi hormat pada Nyonya rumah.
"Nyonya?" Kuas mentega jatuh dari tangan Yana.
Tatapan mereka bertemu. Yana membeku sebentar.
"Salam kenal saya Yana Nyonya.." Sapa Yana menunduk hormat. Pandangannya jatuh ke lantai.
Max mangatakn mereka akan kembali lusa dan kemungkinan tak akan bertemu karena Yana hanya tiga hari di New York. Yana menelan salivanya sendiri. Tangannya sedikit bergetar. Dia sadar jika saat ini ibu Max pasti sedang memindahnya dari atas sampai bawah sambil bergumam dalam hati, jadi ini kekasih anakku. Pasti.. pasti seperti itu. Membayangkannya saja keringat dingin bercucuran di dahi Yana.
"Oh salam kenal. Aku ibunya Max. Kamu bisa mengangkat wajahmu Yana.." Suara Nyonya lembut.
__ADS_1
"Terima kasih.."
Tapi tetap saja Yana enggan menegakkan kepalanya. Pandangannya kembali tertunduk meski tidak serendah tadi. Pertemuan pertama dengan ibu Max. Dia pasti sudah tahu jika Yana adalah kekasih Max. Jika tidak keberadaannya sekarang sudah cukup jelas menggambarkannya. Yana lahir dari kekuarga biasa di pelosok Indonesia. Tak ada yang mengajarinya etika orang kaya. Tata krama bertemu orang-orang elit. Dia bergerak berdasarkan hati nurani. Mungkin dia tampak kaku saat ini.
"Apa yang kamu buat?"
"Koki sedang membuat Apple Pie jadi saya membantu sedikit.."
"Terlihat sangat enak.. apakah sudah bisa dihidangkan sekarang?"
Koki mengangguk.
"Yana.. maukah kamu minum teh bersamaku?"
Yana mendongak kemudian mengangguk pelan. Setelah itu kepalanya kembali menunduk.
"Buatkan kami teh dan hidangkan pie itu Elea.."
"Baik Nyonya.."
"Yana ikuti aku.."
Ibu Max berjalan keluar dapur kemudian menuju teras di dekat kolam renang. Yana mengikutinya dari belakang dengan wajah masih menunduk.
Sebuah meja kecil diatur untuk empat orang telah rapi dengan teh dan kudapan kecil termasuk Apple Pie yang dibuat Yana tadi.
Pandangan Yana masih menunduk. Suasana diantara mereka tampak kikuk. Sesekali Yana melirik ibu Max. Meskipun tampak tua, tapi kecantikan ibu Max masih terpancar. Yana bertanya-tanya berapa umur ibu Max. Usianya jelas masih muda Yana, tapi Yana minder. Bagaimana orang bisa tampak seperti dewi. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitan legam berkilauan. Lekuk tubuhnya indah. Cara berjalan, cara bicaranya dengan orang lain adalah cerminan etika tingkat tinggi. Suaranya lembut, gerak geriknya halus.
"Apakah kamu tegang?" Ucap ibu Max sambil menyesap tehnya.
"Ah saya tidak. Sayahanya tidak tahu harus bagaimana.." Yana tersenyum tipis kemudian kembali menunduk.
"Hei kenapa begitu? Apakah aku terlihat menyeramkan?" Suara ibu Max melengking.
"Bukan.. bukan begitu Nyonya.."
Ibu Max mengernyit mendengar nama Nyonya dari mulut Yana.
"Kenapa kamu memanggilku Nyonya?" Ibu Max mendengus.
Im Soohyang adalah ibu Max. Dia adalah mantan artis terkenal di Korea. Jatuh cinta dengan ayah Max yang merupakan keturunan Korea-Amerika. Dia memilih meninggalkan dunia hiburan kemudian tinggal di New York sampai sekarang. Melahirkan Max tak memudarkan kecantikannya. Max adalah satu-satunya anaknya. Hidup ditengah dua pria menyesakkan dadanya. Dia selalu ingin punya anak perempuan yang bisa diajak kemana-mana, yang bisa mengerti dunia perempuan. Mendengar Max yang memiliki kekasih membuatnya girang. Dia ingin segera bertemu dengan gadis itu. Dia berangan-angan akan seperti apa gadis itu hingga mambuat gunung es seperti Max meleleh. Kepulangannya yang harusnya lusa dipercepat menajdi hari ini.
Ibu Max pulang sendiri karena ayah Max masih harus menyelesaikan urusannya di Toskana. Setelah di kabari Elea jika Yana sudah sampai, Ibu Max langsung pulang ke New York. Ketika dia tiba dia langsung mencari Yana. Ternyata gadis itu di luar ekspektasinya.
__ADS_1
"Hah?"
Wajah polos Yana mengingatkannya akan usia mudanya dulu. Mata ibu Max tak bisa lepas dari Yana. Yana mungkin bukan gadis tercantik yang pernah dia temui tapi gadis itu punya sesuatu yang menarik. Tatapan matanya jujur, tanpa ambisi dan apa adanya. Buka sorot mata yang sering dia temui. Sorot yang menempatkan dirinya seperti mangsa empuk. Gerakannya terlihat tulus dan jujur. Mungkin pesona inilah yang mengguncang hati Max yang beku.
"Panggil aku ibu.. sama seperti Max.."
Wajah Yana mendongak. "Maaf tapi.." Yana ragu.
"Sudahlah.. santai saja ok?"
Ibu Max sangat menyukai Yana. Wajah Yana yang menggemaskan membuatnya ingin mencubit pipinya. Dia cantik. Max sangat pintar mencari wanita untuk dipacari. Dasar anak nakal itu.
"Sudah berapa lama kalian pacaran?"
"Satu tahun.." Jawab Yana pelan. Tangannya meraih cangkir kemudian menyesap tehnya.
"Ini enak.. kamu pintar sekali memasak.." Ibu Max mencicipi satu potong pie.
"Koki yang membuatnya.. saya hanya membantunya saja.."
Kelembutan inilah yang membuat hati ibu Max tersentuh. Keinginannya memiliki anak perempuan akhirnya terwujud.
"Yana.. bisakah kita berteman?"
"Tentu saja.. ibu.." Jawab Yana canggung.
Tutur kata yang halus dan senyumannya yang tulus, ketegangan Yana mencair. Ekspektasi ibu Max dikepalanya sirna seketika. Ketakutan jika ibu Max tidak menyukainya ternyata hanya ketakutannya sendiri. Nyatanya ibu Max adalah seseorang yang hangat. Kata-katanya menenangkan.
"Apakah Max menyusahkanmu?"
"Max tidak.."
"Dia keras kepala kan?"
"Sangat.."
"Hahahaha.." Tawa meledak dari mereka berdua.
Pembicaraan mereka mengalir dengan topik utamanya adalah Max dan beberapa percakapan tentang ayah Max.
Hati Yana lega. Sepertinya dia bisa diterima ibu Max. Sore itu dia habiskan dengan ibu Max yang bercerita segala sesuatu yang pernah dia alami. Yana seperti menyelami labirin kehidupan yang baru.
Kecemasannya kabur tanpa bekas.
__ADS_1
Bersambung...