
Yana menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin. Di luar ada Max, dia masih berusaha mengendalikan jantungnya yang menyentak-nyentak. Bisa gawat jika Max mendengar detak jantungnya yang tak karuan.
Semburat merah terlihat di pipi Yana. Jarak Max yang dekat dengannya tadi membuat hatinya berdisir. Dia kira selama dua tahun ini dia sudah menangani hatinya dengan baik, namun dugaannya salah. Nyatanya hatinya tetap bergetar saat berdekatan dengan Max.
"Bisa gila aku.."
Yana menyalakan kran air di westafel kemudian membasuh mukanya. Dia harus segera menelpon keluarganya, karena panik tadi Yana lupa memberikan kabar. Bahkan dia lupa membawa ponselnya. Yana benar-benar datang seorang diri tanpa membawa apapun ke rumah sakit.
"Apa yang dokter katakan tentang keadaan Jemima?"
Yana keluar kamar mandi setelah mengurung diri di dalam kamar mandi hampir tiga puluh menit. Sebelum keluar Yana benar-benar memastika penampilannya rapi.
Max menoleh mendengar suara Yana. Dia masih setia duduk di sofa. Tapi pandangannya tak lepas jari Jemima.
"Hanya gangguan pencernaan. Jemima akan baik-baik saja setelah perawatan beberapa hari.."
"Bagaimana bisa seperti ini?" Suara Yana lemah.
Dia mendekati ranjang kemudian duduk ditepian.
"Maafkan aku.. ada rapat penting yang harus aku hadiri jadi aku menitipkan Jemima ke salah satu asistenku yang sudah mempunyai anak.. itu adalah kesalahanku karena membiarkan Jemima sendiri.."
"Kamu akan menepati janjimu kan?"
Max terhenyak. Dia bangkit lalu mendekati Yana.
__ADS_1
"Yana.. bisakah kita melupakan itu dulu? Yang terpenting sekarang adalah Jemima. Aku pasti akan menepati janjiku, tapi setelah aku memastikan Jemima baik-baik saja.."
"Tapi kamu sudah.."
"Sssttt.. aku mohon.." Max menggenggam erat tangan Yana. Sorot matanya penuh harap. Dia tak mungkin pergi begitu saja sebelum saat Jemima masih di rawat.
Tak ada pilihan lain selain mengangguk. Biarkan saja seperti ini dulu. Toh Max pun sudah berjanji. Yana mengangguk lagi untuk mengiyakan.
"Satu lagi.. ijinkan aku menjaga kalian.."
"Tidak perlu, pulanglah. Aku dan Jemima baik-baik saja. Jemima akan segera pulih. Bantuanmu cukup sampai disini saja.." Ucap Yana melepas genggaman tangan Max.
Jangan diteruskan Max.. Batin Yana meronta. Yana sudah mendorong pergi cintanya pada Mad sejak lama. Buka berarti Yana sudah tidak cinta lagi. Yana masih sangat mencintai Max. Tapi entahlah.. yang sudah lama pergi lebih baik jangan kembali lagi, yang sudah usai hendaknya tak di mulai lagi. Itulah pikir Yana.
"Aku akan menginap disini. Sudah kubawakan keperluan kalian. Kamu belum makan kan seharian? Ayo aku temani makan. Jangan sampai kamu yang dirawat menyusul Jemima.."
Yana sekuat tenaga mendorong Max pergi. Munafik. Dirinya sungguh munafik. Jauh di dalam hatinya dia inginkan Max. Tapi dimulutnya dia selalu menyuruh Max menjauh.
"Seseorang siapa?" Dahi Max mengkerut.
"Siapapun.." Yana mengalihkan pandangannya.
"Tidak orang yang akans seperti itu. Kenapa kamu selalu membuat kesimpulan sendiri dikepalamu ini Yanaku.. persisi seperti dua tahun lalu.. rasanya ingin aku belah kepalamu ini dan aku lihat isinya.."
Max mengelus puncak kepala Yana. Dia sangat mencintai Yana. Tak pernah berubah sampai kapanpun. Haruskah dia memberitahu Yana kalau dia sangat menderita selama ini. Sangat menderita hingga kehilangan pijakan untuk berdiri. Membuat dirinya kacau balau. Menjalani hidup seperti orang mati. Yanalah penyebabnya. Ingin rasanya Max berteriak lantang pada Yana. Tapi ada Jemima sekarang. Max mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Jangan pergi lagi tanpa pamit padaku.. jangan ulangi kejadian dua tahun lalu Yana.. jangan mengahakimiku lagi.. maukah kamu berjanji?" Ucap Max tulus.
"Kamu yang membiarkan aku pergi.."
"Yana.. kamu salah faham padaku. Ada banyak hal yang harus aku ceritakan padamu tentang kejadian dua tahun lalu.."
"Tidak Max. Aku tidak perlu tahu. Itu urusanmu, bukan urusanku. Kita sudah lama selesai.."
Yana bangkit namun dicegah Max saat dia hendak menjauh.
"Kamu memang sangat keras kepala. Apa kamu sedang memberikanku hukuman? Kalau iya kamu sudah berhasil Yana. Kamu membuatku kacau dua tahun ini.."
"Lepaskan.. jangan ungkit masalah dua tahun lalu. Aku tidak mau membahasnya lagi.." Yana berusaha melepaskan genggaman Max namu gagal. Tangannya ditarik oleh Max dan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Max.
"Maafkan aku.. aku bodoh karena membiarkanmu pergi. Saat itu ada banyak hal yang harus aku urus. Aku kira dengan meninggalkanmu sendiri akan membuatmu aman. Tapi ternyata aku salah. Aku mengambil keputusan yang salah. Aku malah menyia-nyiakanmu.."
Max membenamkan kepalanya di ceruk leher Yana.
"Hubunganku dengan Swan hanyalah sandiwara. Aku membuat perjanjian dengannya. Aku ingin melindungimu agar tidak terluka lagi Yana. Maaf karena aku tidak mengatakannya padamu. Aku takut kejadian buruk terulang lagi padamu. Woon hyung sudah mengatakan untuk menunggu bukan? Kenapa kamu malah pergi?"
Yana menghela nafas dalam.
"Max.. hubungan adalah tentang dua orang. Kamu memutuskan sendiri saat itu. Dengan alasan apapun jika kamu tidak meminta pendapatku bukankah artinya kamu sudah memilih dia? Ahjussi sudah menceritakan semuanya padaku. Karena aku lelah menunggumu, aku memilih untuk pergi. Sejak awal hubungab kita terlalu beresiko. Kita tidak cocok satu sama lain. Jika kita teruskan hubungan itu akan melukai kita berdua. Jangan meminta maaf padaku.. keputusan yang kamu ambil sudah tepat Max. Kamu menyelamatkan banyak orang. Takdir kita memang seperti ini.. tidak akan ada yang berubah. Tolong lepaskan aku.." Suara Yana bergetar. Dia masih berjuang mengatasi hatinya.
Ah entahlah.. keengganan apa ini. Max masih mencintainya, dia tahu. Tapi mengingat rasa sakit dua tahun lalu membuat hatinya menolak Max. Kenapa bukan dia yang dipilih? Kenapa Max memilih Swan? Pertanyaan itu selalu berputar di kepala Yana. Hubungan tentang dua orang yang berbagi suka dan duka. Jika salah satu pihak memutuskan sendiri itu berarti pihak lain tidak dianggap lagi keberadaannya. Itulah yang membuat hati Yana terluka. Perasaan menjadi pihak yang tidak terpilih sangat melukai hatinya. Max tidak akan pernah tahu sebesar apa Yana terluka. Dia selalu mengerti Max tapi Max tak bisa mengerti dia. Itu hanya hubunga sepihak, dan Yana tak mau melakukannya lagi. Dia tidak mau menjadi simpanan lagi. Tidak akan pernah.
__ADS_1
Meskipun kamu tahu alasan Max memilih Swan karena dirimu. Tolong jangan goyah Yana. Cerita kalian sudah selesai dua tahun lalu. Tetapkan hatimu! Marilah kembali ke kehidupan masing-masing.
Bersambung...