
Max baru saja turun dari pesawat yang membawanya pulang dari Jepang. Konser DAMN! yang memakan waktu hampir tiga bulan ini membuat tubuhnya kehilangan tenaga. Bahkan Max sampai tak punya waktu untuk menghubungi Yana, wanita yang telah membuat hari-harinya berat tanpa melihatnya.
Tangan Max merogoh ponsel yang ada disaku celananya kemudian menekan tombol satu untuk menelpon. Tak diangkat. Max mencoba dua tiga empat kali lagi tapi tak diangkat. Padahal telponnya jelas tersambung.
"Hyung hari ini aku akan pulang sendiri.." Tutur Max pada manajer grupnya.
"Tidak ada untuk tiga hari kedepan Max.. kalian punya waktu istirahat tiga hari sebelum pemotretan dengan sebuah majalah.." Manajer grup memberika arahan kepada dua member lain.
"Kalau gitu aku duluan, aku akan pulang sendiri, aku capek.." Max segera berlalu setelah mendengar arahan dari manajernya.
-----
Mobil Max melaju pelan di pelataran parkiran sebuah bangunan yang sudah lama tak dia kunjungi. Max masih mencoba menghubungi Yana, tapi gadis itu tak menjawab panggilannya sekalipun. Jam tangan hitam yang melingkar ditangannya menunjukkan pukul 6 PM, seharusnya Yana sudah pulang karena Max sangat tahu jika Yana pulang dari kampus pukul 5 PM. Tangan Max merogoh kaca mata hitam di dalam tasnya, setelah memakai kacamata Max keluar dari mobil kemudian berjalan mendekati sekuriti rumah kost Yana.
Jawaban dari sekuriti itu tak memuaskan hati Max.
"Nona Yana sejak tadi pagi keluar belum kembali. Apakah anda temannya? Nona Yana tinggal dikamar nomor 305. Tapi sepertinya tidak ada orang sekarang. Teman sekamarnya Nona Song Jieun juga belum terlihat.."
Max kembali duduk di dalam kursi kemudi mobilnya. Dia masih berusaha menghubungi Yana melalui telpon ataupun pesan singkat. Rahangnya terlihat mengeras, baru kali ini Max diabaikan oleh seorang wanita. Biasanya dialah yang mengabaikan para wanita.
"Arrrgghhhh!!!" Max mengusak rambutnya kasar.
-----
"Yana akhir pekan ini ada acara?" Suara Hoobin mengagetkan Yana. Sontak saja Yana menoleh.
"Akhir pekan aku kerja sambilan di percetakan.. kenapa?" Jawab Yana dengan suara yang dibuat normal untuk didengar. Tangannya menyelipkan ponselnya lagi ke dalam saku apron yang dia gunakan.
"Wah wah.. adik perempuanku pekerja keras rupanya.." Minjoon menimpali.
Tawa mereka meledak. Hari-hari di Sugar Bakery sungguh membahagiakan bagi Yana. Bahkan dia merasa istimewa disana, ketika tengah malam Yana dilarang untuk menjaga toko. Empat pria yang bekerja disana akan mengomeli Yana jika Yana tidak mau istirahat. Jadi ketika tengah malam Yana diperbolehkan bahkan dipaksa empat pria yang menjadi teman kerjanya itu untuk istirahat diruang belakang. Ya sekedar untuk merebahkan tubuh ataupun tidur. Sungguh istimewa bukan?
"Terimakasih atas kerja kerasnya hari ini.. sampai bertemu lagi nanti malam.." Yana membungkukkan tubuhnya. Kebiasaan orang Korea untuk memberi salam atau berpamitan.
Sudah satu bulan Yana bekerja di Sugar Bakery pada jam malam. Karena kerja itu Yana jarang bertemu dengan Jieun. Mereka hanya bertemu ketika pagi hari atau ketika dikampus. Walaupun begitu hubungan mereka tetap baik-baik saja.
Hari ini Yana tak ada jadwal kuliah pagi, kuliah hari ini dimulai pukul 1 PM. Yana berencana untuk segera pulang kerumah kemudian istirahat. Selama sebulan ini dia telah bekerja keras, tabungannya sebentar lagi mencapai tiga juta won. Dia sudah tak sabar mengakhiri penderitaannya selama ini.
Sejak tadi pagi ponsel Yana terus saja berdering, nama yang muncul di layar panggilan itu membuat dada Yana sesak hanya dengan membaca namanya saja. Max, nama yang terpampang nyata menelponnya. Seharian ini dia sibuk menghindari panggilan telpon Max. Urusan hati harus segera diselesaikan, jangan lemah hanya karena sebuah telpon. Batin Yana menjerit keras.
"Darimana saja kamu?" Suara seorang pria yang terdengar kesal memecah lamunan Yana.
Pandangan Yana lurus kedepan. Sosok pria bertubuh tinggi dengan kacamata hitamnya berdiri tegak di depan Yana.
"Max?" Respon Yana spontan. Sadar akan ucapannya Yana menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Pria tinggi itu adalah pria yang Yana hindari seharian ini. Yana tak mengira pria itu ada didepan matanya kini, pria yang dia rindukan. Ingin sekali Yana lari kepelukannya namun dia masih sadar sampai sekarang, ucapan Max di wawancara kemarin masih terngiang ditelinga Yana. Kenyataan itu menampar keras pipi Yana.
__ADS_1
"Darimana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" Langkah Max mendekat.
Sadar akan Max mendekat, Yana mundur satu langkah. Kepalanya menunduk menghindari bertatapan langsung dengan Max. Walaupun Max menggunakan kacamata hitam, Yana seperti bisa melihat dua bola mata Max langsung.
"Kenapa diam? Kalau ada orang bertanya itu dijawab! Kenapa tidak angkat telponku?"
Yana masih diam. Tangannya sedikit gemetar.
"Kenapa diam saja? Aku bertanya padamu!" Max menarik tangan Yana namun dengan cepat Yana menepisnya kemudian mundur satu langkah lagi.
Dahi Max mengkerut mendapat perlakuan Yana yang tidak seperti biasanya. Yana lebih banyak diam kali ini dan menghindarinya.
"Ikut aku!" Ucap Max dengan nada kesal. Tangannya menarik paksa pergelangan tangan Yana tanpa memperdulikan Yana yang meronta kemudian membawanya masuk mobil dan segera melaju meninggalkan tempat parkir.
"Max apa yang kamu lakukan?" Tanya Yana sembari memegang pergelangan tangannya yang terasa sakit karena ditarik paksa oleh Max.
"Max!!" Yana meninggikan suaranya karena Max tak menoleh padanya sedikitpun.
"Diam! Diam atau aku akan menyumpal mulutmu!" Ucap Max dengan amarah membuncah. Sedikitpun dia tidak menoleh pada Yana.
Tubuh Yana menciut mendengar hardikan Max. Baru pertama kali ini Yana melihat amarah Max.
"Ah!"
Tubuh Yana terhempas di atas sofa apartement Max.
"Max apa yang kamu lakukan?" Yana tak menyangka akan mendapat perlakuan kasar dari Max.
"Kamu tahu kan aku tidak suka dibantah?" Tubuh Max mendekati Yana. "Aku tanya sekali lagi.. darimana kamu semalaman? Kenapa telponku tidak kamu angkat?" Lanjutnya.
"Bukan urusanmu!" Yana memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan Max meskipun tubuhnya gemetar hebat. Mata Max menyala merah, sorot mata itu membuat Yana takut.
"Kamu berani-beraninya!"
Bruk
Max mendorong tubuh Yana hingga telentang kemudian menindihnya.
"Ahhh!!" Yana meringis pelan.
"Max apa yang kamu laku-----"
Mata Yana membulat sempurna melihat Max dengan cepat mencium bibirnya. Lumatan pelan kemudian merubah menjadi ciuman kasar, bahkan Max menggigit bibir bawah Yana. Sekuat tenaga Yana mendorong tubuh Max menjauh tapi sia-sia, tubuhnya ditindah dengan tubuh kuat Max.
"Max hentikan.." Suara Yana melemah.
Harga diri? Jangan sampai kamu kehilangan harga dirimu didepan laki-laki ini Yana. Cepat selesaikan persoalan hati yang menyesakkan dada ini. Suara batin Yana terdengar jelas di telinganya.
__ADS_1
"Max!" Yana berteriak ketika tangan Max bergerilya masuk kedalam kaos yang digunakannya. "Max ku mohon berhentilah.. Max..." Tanpa terasa air mata mengalir.
Perbuatan Max kali ini membuat hatinya terluka. Bagaimana bisa Max begitu kasar pada Yana. Entah setan apa yang telah menguasai Max.
"Maafkan aku.." Max menghentikan perbutaannya ketika dia sadar tubuh Yana yang bergetar dan air mata yang keluar dari mata Yana. Direngkuhnya tubuh kecil Yana. Tubuh yang beberapa bulan ini dia rindukan.
"Ah sial. Kenapa aku bertindak bodoh!" Batin Max mengumpat kesal. Max sadar akan kesalahannya sekarang.
Yana yang terisak didalam pelukan Max membuat hatinya perih. Bukan seperti ini yang Max inginkan, karena secuil amarah membuat rencananya berantakan. Rencana untuk menemui Yana dan membayar kerinduannya selama ini telah dia rusak sendiri.
"Maafkan aku.."
Suasana hening menyelimuti ruang tv sebuah apartement.
"Jadi kamu tidak mau menjawab pertanyaanku hmm?" Siara Max melembut, sekilas dia melihat tubuh Yana masih gemetaran.
"Aku bekerja.." Jawab Yana.
"Semalaman? Apa kamu butuh uang?" Max menyipitkan matanya.
Uang? Tentu saja semua orang butuh uang Max! Yana tersenyum getir.
"Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan perjanjian kita Max. Aku akan segera mengembalikan uang yang aku pinjam, tiga juta won. Akan aku kembalikan bulan depan. Beri aku nomor rekeningmu.." Yana mencoba tersenyum menatap Max.
"Apa maksudmu?"
"Aku rasa perjanjian kita salah Max. Aku tidak ingin kamu terkena skandal karena aku.. bukahkan kita awalnya tidak saling mengenal? Aku ingin kembali ke keadaan semula. Aku janji aku tidak akan melarikan diri sampai hutangku lunas. Beri aku waktu satu bulan lagi.." Jelas Yana dengan suara sedikit bergetar.
Raut wajah Max berubah mendengar yang dikatakan Yana barusan.
"Kamu sudah janji padaku Yana. Kamu tidak ingat?"
"Tolong mengerti Max, aku tidak ingin berhutang budi padamu.." Yana bangkir dari posisinya kemudian mengambil tasnya yang tergelak di lantai tak jauh darinya.
"Mau kemana kamu?" Max menarik tangan Yana.
"Aku harus pergi, aku tak bisa lama-lama disini.. ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan Max.." Yana melepas tangan Max. "Aku akan menghubungimu jika uangku sudah terkumpul.." Ucap Yana tak menoleh sedikitpun pada Max.
"Aku tak butuh uang itu Yana.. kamu sudah berjanji padaku untuk membantuku bukan? Yana berhenti!" Teriak Max dari belakang. Namun Yana tak terus melangkahkan kakinya ke arah pintu.
"Yana! Berhenti aku bilang!"
Brak
Pintu apartement tertutup sempurna.
Bersambung...
__ADS_1