My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
73. Daddy


__ADS_3

Rumah mewah dengan perabotan yang mewah juga. Yana sekilas melihat isi dalam rumah Max. Entahlah rumah siapa ini, Yana tak mau ambil pusing. Yana segera mengambil tempat di sofa empuk yang menghadap teras belakang dengan pemandangan luar kolam renang.


Semetara dia menyusui Jemima, Max masuk ke dalam rumah. Sadar akan hadirnya Max, Yana membalikkan tubuhnya. Dia tak ingin Max melihatnya.


"Aku akan tinggalkan kalian sebentar.." Max meletakkan tas milik Yana kemudian berjalan cepat menaiki tangga. Seo Woon mengikutinya di belakang.


Di ruang kerja lantai dua, Seo Woon dan Max duduk berhadapan.


"Jadi?" Celetuk Seo Woon.


"Jemima akan bersamaku sampai besok siang.." Jawab Max pelan.


"Kamu yakin? Memang kamu bisa mengurus bayi?"


Max menggeleng.


"Hyung akan membantuku kan? Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk dekat dengan Yana hyung. Dia benar-benar sudah berubah. Dia tidak bertanya apapun padaku saat kita bertemu. Bahkan tentang skandal yang dulu dia juga tidak bertanya.." Max mendengus kasar.


Yana sudah membangun dinding pemisah diantara mereka.


"Tapi ini hal yang sulit Max.. kamu yakin?"


"Tidak ada pilihan lain.."


"Ok baiklah.. ada baiknya juga Jemima mengenalmu. Kamu adalah anaknya. Yana memang sesuatu.." Ucap Seo Woon.


Beberapa menit kemudian Max keluar dari ruang kerjanya. Dia segera menuruni tangga untuk mencari Yana. Di sofa tempat Yana berada kosong. Hanya ada barang-barang yang sedikit berserakan.


Max mencari-cari tapi dia tidak menemukan mereka di dalam rumah. Suara ocehan yang tidak jelas dan tawa menjadi petunjuk. Max keluar dari pintu kaca yang terbuka menuju teraa belakang rumahnya. Kakinya menginjak rerumputan dan terus berjalan pelan mendekati kolam renang.


Mereka disana. Yana yang sedang mengejar Jemima. Langkahnya tertatih tapi penuh tekad. Bola mata hitam seperti miliknya berbinar bak matahari siang hari. Tertawa karena dikejar oleh Yana dari belakang. Ketika tubuhnya tertangkap oleh Yana, Jemima akan berteriak kemudian tertawa. Yana mengayun tubuh kecil Jemima dan menghadiahi ciuman acak dari dahi, mata, hidung dan berakhir dipipi.


Suasana yang harmonis.


Hati Max tertampar keras. Tubuhnya seperti tersenyat listri yang menyentak-nyentak. Dia bodoh telah menyia-nyiakan dua makhluk indah ciptaan Tuhan ini. Dia ingin keharmonisan itu tetap ada dengan dia didalamnya. Dia harus terlibat. Yana dan Jemima harus bahagia bersamanya.


"Ah.. kamu sudah selesai dengan urusanmu?"


Yana melihat Max mematung tak jauh darinya.


"Sudah.."


"Ada yang harus aku sampaikan padamu. Sepertinya kamu tidak punya pembantu ya.."


"Aku tinggal disini bersama Woon hyung.."


"Oh.." Ucap Yana singkat. Dia tak bertanya lebih lanjut karena dia tidak peduli.

__ADS_1


Jadi ini rumahnya. Ucap Yana dalam hati.


"Masuklah.. anginnya sedikit kencang. Jemima bisa masuk angin.."


Max berjalan masuk diikuti oleh Yana yang menggendong Jemima.


"Max.. kamu yakin ingin mengurus Jemima?"


"Ya.. Jemima harus mengenalku. Aku ayahnya. Bukankah tadi kita sudah sepakat?"


"Aku mengijinkan ini karena kamu sudah berjanji untuk tidak mengganggu kami setelah ini. Kamu akan menepati janjimu kan?"


"Aku pasti akan menepati janjiku Yana. Tapi kalau suatu hari nanti aku ingin bertemu Jemima apakah kamu mengijinkan?"


Yana diam sejenak.


"Akan aku lihat setelah ini.."


"Ok.. berikan Jemima padaku.."


"Tunggu. Ada yang ingin aku tanyakan. Tapi jangan salah faham. Aku hanya mengkhawatirkan Jemy.."


"Apa?"


"Bagaimana kalau kekasihmu tahu tentang Jemy? Dia tidak akan melukai Jemy kan?"


"Apa? Tidak ada hal seperti itu. Aku akan menjaga Jemima dengan sepenuh hati.."


"Tidak ada kekasih atau apalah itu Yana.. jadi tenang saja.." Jelas Max.


Yana mengangguk. Entah kenapa hatinya terasa lega. Rasa asing itu tiba-tiba kembali menjalar. Yana segera menepis rasa yang tidak dia kenal itu. Dia datang bukan untuk merajut romantisme lagi dengan Max. Dia ada disini untuk menghubungi hubungannya dengan Max selamanya.


"Aku sudah menyimpan susu untuk Jemy di kulkas.." Yana berjalan menuju dapur yang diikuti oleh Max.


"Kamu nanti tinggal memanaskannya kemudian tunggu dia dingin dan masukkan ke dalam botol. Jemy biasanya minum satu botol penuh ini.."


Yana sudah menata rapi botol kosong untuk susu Jemima nanti. Selain itu Yana juga menaruh beberapa snack untuk Jemima. Karena tidak mungkin Max membuatkan Jemima nasi jadi Yana mengganti makanan Jemy dengan biskuit gandum yang nanti bisa dihancurkan dengan susu hangat.


Selain makanan, Yanan telah menata handuk dan beberapa pakaian Jemima. Ada popok dan tissue basah juga. Untung saja Yana membawa peralatan penting untuk Jemima.


"Kamu bisa mengganti popok bayi kan?"


Max menggeleng. Sejak tadi dia diam memperhatikan Yana. Bukan karena apa yang dia ucapkan tapi karena dia senang berada di dekat Yana. Ucapan itu lebih menyentuh hatinya dibandingkan telinganya.


"Nanti kamu bisa mencari caranya di internet.. tidak susah kok.. pastika kamu mencari cara memandikan bayi juga.."


Mulut Yana komat-kamit tanpa henti. Yana melanjutkan penjelasannya. Dia mengajari cara membuat makanan untuk Jemima hingga mengganti pakaian untuk Jemima. Yana terus memberikan informasi penting tentang Jemima. Yang paling penting adalah menjaga kebersihan.

__ADS_1


Max mengangguk faham. Ternyata mengurus bayi serumit itu.


"Kamu luar biasa Yana.." Puji Max.


"Aku tidak butuh pujianmu Max. Karena Jemima aku seperti ini.." Timpal Yana datar.


"Apakah kamu tidak penasaran dengan hidupku dua tahun ini setelah kamu meninggalkanku?"


"Tidak.." Singkat padat dan jelas jawaban Yana.


Yana acuh tak acuh.


"Lalu tentang reaksiku yang tahu jika Jemima adalah anakku?"


"Tidak juga.."


Max mati kutu. Kenapa sangat sulit sekali menarik perhatian Yana. Max menggerutu dalam hati. Apa yang harus dia lakukan agar Yana kembali seperti dulu. Max putus asa.


"Besok siang aku akan menjemput Jemy. Penerbangan pulang pada sore hari.." Ucap Yana.


"Besok? Apakah tidak terlalu cepat.. aku butuh waktu untuk akrab dengan Jemima.."


"Janji kita hanya satu hari.. tidak lebih.."


Max menghela nafas kasar. Tertolak lagi. Lagi dan lagi. Yana seperti landak yang ketika Max mendekat dia akan mengeluarkan duri-durinya.


"Baiklah.." Max pasrah.


"Jemima akan baik-baik saja kan bersamamu?"


Yana mencium pipi tembam Jemima kemudian memberikan tubuh mungil itu ke Max.


Max menerima tubuh Jemima dengan hati-hati kemudian memeluknya. Hatinya seperti kesemutan merasakan hembusan nafas Jemima di lehernya. Dekat jantung mereka bersatu. Max bisa merasakannya. Entah detak jantung siapa yang berdetak lebih kencang sekarang.


"Aku akan menjaga Jemima Yana. Tidak perlu khawatir.."


Tak rela. Yana tak suka melihat Jemima yang tenang di dalam pelukan Max. Anak kecil itu mengenali ayahnya. Hati Yana terasa penih. Sembilan bulan penuh Yana mengandungnya tapi bayi miliknya kini ada orang lain, Yana cemburu. Max memang ayah kandungnya tapi Yana yang telah melahirkannya. Yana yang mengambil keputusan dengan taruhan nyawa untuk melahirkan Jemima.


Namun Yana harus rela, Max punyak hak atas Jemima. Dia ayahnya. Max yang awalnya tidak tahu akan kehadiran Jemima tetap saja. Tak bisa dipungkiri jika Max adalah ayah Jemima.


"Baik-baik dengan ayah disini sayang.. mama besok akan menjemputmu. Mama sayang Jemy.."


Yana mencium punggung Jemima yang berada di dalam gendongan Max. Jemima tenang di dalam pelukan hangat ayahnya. Bayi itu tidak menangis ketika mengantar mamanya masuk ke dalam taksi.


Yana meninggalkan Max dengan perasaan yang kacau.


Ayah. Ayah.

__ADS_1


Max terus mengulangi ucapan Yana tadi. Rasa senang meledak di dalam hatinya.


Bersambung..


__ADS_2