My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
Love Bird Ep 18 - dr. Joan


__ADS_3

Ruang rapat menjadi sunyi senyap. Dibandingkan dengan Seo Won yang tegas namun mudah ditangani, Max adalah sosok yang dingin tanpa ampun. Dia tidak mau menerima siapapun yang menentang keputusan rapat. Jika itu Seo Won, para direksi masih bisa membuat negosiasi meskipun itu setelah rapat. Jika itu Max, tak ada negosiasi bahkan saat rapat masih berlangsung.


Hawa kematian langsung menyebar begitu Max datang. Banyak bisik - bisik terdengar sanyup.


Kemana wakil direktur Seo?


Ya, para anggota direksi IM Entertainment memanggil Seo Won dengan wakil direktur. Tak ada yang mempermasalahkan itu karena jabatannya lebih dari sekretaris.


Baru satu jam rapat berlangsung dan saat suasana rapat menjadi tegang karena beberapa hal, ponsel Max berdering. Max lupa mematikan ponselnya. Pasalnya dia datang ke kantor tergesa - gesa.


"Halo, hyung?"


"..."


"Hah?" Max sontak saja berdiri, tangannya melambai memanggil asistennya.


"..."


"Aku segera kesana.."


Salah satu asisten mendekati Max.


"Cancel rapat dan suruh sekretaris Na membuat jadwal ulang. Aku harus ke rumah sakit sekarang.."


"Ya? Baik Tuan.."


Wajah bingung asisten Max nampaknya menular pada hadirin yang ada di dalam ruang rapat. Mereka bertanya - tanya apa yang terjadi. Satu hal yang pasti, rapat yang melelahkan itu di undur sampai batas waktu yang belum ditentukan tanpa alasan jelas yang mereka tahu. Raut wajah lelah, kesal dan bingung tergambar jelas dari mereka yang tanpa daya harus meninggalkan ruang rapat.


---


Ruang Operasi Alexander Hospital


"Hyung.." Teriak Max.


"Max.."


"Bagaimana Yana?"


"Ada di dalam, Joan sedang menanganinya.."


"Hahh syukurlah.. aku langsung membubarkan rapat.." Suara Max tersengal karena berlari.


"Kenapa dibubarkan?" Alis Seo Won berkerut.

__ADS_1


"Bagaiaman bisa aku melanjutkan rapat sedangkan istriku sedang bertaruh nyawa melahirkan.." Jawab Max tanpa ceda.


"Tapi kan kamu bisa meminta sekretaris Na atau sekretaris Cha untuk melanjutkan.. menghentikan rapat tahunan direksi begitu saja tidak baik Max.."


"Tidak tahu. Aku tidak sempat berfikir begitu setelah mendengar nama Yana.." Sergah Max.


Fiuh. Seo Won menghela nafas kasar.


"Max.. tapi kan.."


"Sudahlah.. hyung sendiri juga kenapa meminta aku datang padahal awalnya hyung yang memimpin rapat itu dengan alasan Yasha sakit?"


"Itu memang benar. Paling tidak aku tidak sampai menghentikan rapatnya.."


"Tapi tetap saja hyung meninggalkan rapat. Apa bedanya dengan ku?" Max tak mau kalah.


"Max!"


"Lebih penting mana coba? Yasha atau Yana?"


"Kalau untuk ku Yasha.."


"Sama.. kalau aku Yana.."


"Terima kasih hyung.. aku bersyukur kamu menghubungiku.. aku sudah melewatkan kelahiran Jemima, jika kelahiran anak kedua ini aku lewatkan lagi.. entah apa yang akan terjadi.."


"Tenanglah.. Yana baik - baik saja.. tapi Max.. rapat itu rapat penting.. bagaimana?" Seo Won masih membahasa tentang rapat tahunan direksi. Rapat itu memang sangat penting karena sudah dipersiapkan jauh - jauh hari. Siapa yang tahu akan terjadi hal tak terduga seperti ini, berbarengan.


"Hyung.. aku tidak peduli. Apapun yang ada didepanku jika itu menggangguku dengan Yana aku akan menyingkirkannya. Siapa yang berani menentangku? Aku pemilik perusahaan, aku atasan mereka.. hyung kan juga sama jika menyangkut Yasha, apa aku salah?"


"Tidak Max. Kamu benar.. hidupku seperti teror jika itu menyangkut Yasha.. aku tidak akan bisa hidup tanpa dia.."


Dua laki - laki dewasa sedang terlibat percakapan serius di lorong rumah sakit. Mereka duduk bersebelahan. Matahari yang tampaknya enggan berpamitan dengan semesta menjadi saksi bisu dalamnya perakapan mereka. Obrolan tentang hati, cinta dan kekasih hati mereka. Keduanya terdiam agak lama seolah mengerti akan isi hati masing - masing.


Apa bukti mencintai seseorang?


Jika itu Max, dia akan menjawab "Aku tidak peduli dengan yang lain, aku hanya ingin dia. Aku akan menyingkirkan segalanya yang membuatku tak bisa melihatnya. Tapi untung saja, dia sudah menjadi milikku. Aku akan terus berusaha menjaganya. Karena dia adalah hatiku.."


Jika itu Seo Won, dia akan menjawab "Tidak bisakah alasan aku mencintainya karena aku mencintainya? Tanpa motif. Tanpa alasan yang membahagiakannya. Tapi jika itu tidak cukup, aku akan menjadi seperti Max. Bukan sekedar menjaganya, aku akan mempertahankannya sekuat tenaga karena dia adalah hidupku.."


Max dan Seo Won tenggelam dalam pikiran mereka masing - masing.


Bukankah cinta itu takdir? Sekuat apapun kita menolak, yang datang akan tetap datang bukan? Sekuat apapun kita menahan, yang pergi akan tetap pergi. Kita hanya punya sepotong hati. Satu - satunya.

__ADS_1


"Hei.. sedang apa kalian? Wajah kalian menakutkan!" Suara Joan membuyarkan lamunan Max dan Seo Won.


Pikiran mereka sedang terbang entah kemana. Max memikirkan Yana. Bagaimana keadaan Yana, apakah baik - baik saja, bagaimana dengan proses melahirkannya, dan banyak hal lainnya. Sedangkan Seo Won sedang berfikir bagaimana caranya menyelesaikan salah fahamnya dengan Yasha. Tanpa mereka sadari Joan keluar dari ruang operasi dan memperhatikan wajah bengong mereka hanya bisa geleng kepala.


"Joan.. bagaimana istriku?" Max bangkit dari duduknya.


"Selamat Max.. anak keduamu sudah lahir dengan selamat.. bayinya perempuan.."


"Benarkah? Bagaimana kondisi mereka?"


"Baik ibu ataupun bayinya sehat Max.. selamat.."


"Syukurlah.. hyung bayinya perempuan.. aku senang sekali!" Teriak Max girang.


"Selamat Max.." Ucap Seo Won memeluk Max.


"Aku akan segera memindahkan ibu dan anak ke ruang perawatan.." Sela Joan.


"Pastikan itu ruang VIP.." Timpal Max.


"Tentu saja.. aku faham dengan isi kepala kalian.." Joan menunjuk Max dan Seo Won bergantian. "Bayaranku sebagai dokter sangat mahal.. pastikan kalian membayarnya dengan benar.."


Tawa meledak dari mereka bertiga.


"Eh ngomong - ngomong.. Won hyung masih punya hutang padaku.. hyung tidak lupa kan?" Ucap Joan.


"Hah? Apa itu?" Tanya balik Seo Won.


"Cerita tentang pasien di kamar VIP 03.."


"Aku tidak akan ikut campur.. silahkan hyung selesaikan sendiri dengan Joan.." Max tersenyum licik.


"Tidak ada. Tidak ada hutang semacam itu. Kapan aku berhutang?" Seo Won tak terima.


"Hyung keterlaluan.. padahal hyung sudah janji.."


Seo Won berbalik dan berjalan pergi begitu saja tanpa menghiraukan rasa penasaran Joan. Begitu juga Max yang mengekori Seo Won.


"Hei.. kalian keterlaluan.. teganya padaku.. Won hyung.. Max!" Teriak Joan yang dibalas dengan langkah seribu Seo Won dan Max. Joan juga tak mau kalah, dia berlari mengejar Seo Won dan Max.


Terjadilah aksi kejar - kejaran di lorong rumah sakit antara Seo Won - Max dan Joan.


Joan dalam hati, "Mereka beruntung sekali.. kapan aku bisa merasakan memikirkan seseorang hingga jantungku berdebar - debar.. sepertinya aku harus meminta tolong ibu untuk mengatur kencan buta.. hei aku juga ingin mencintai dan dicintai. Aku juga ingin menikah!"

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2