
"Oppa mabuk?" Ucap Yasha lirih.
Tampaknya telinga Seo Won tuli karena hasrat yang menguasainya. Bibir terus menjelajahi setiap inchi wajah dan leher Yasha. Tak peduli dengan geliat Yasha, dia terus menenam ciuman di wajah Yasha yang putih dan lembut.
"Oppa!" Teriak Yasha.
Namun suara Yasha teredam karena bibir Seo Won yang dengan ganas menumpas pemberontakannya. Kakinya yang bebas meronta namun tubuhnya sepenuhnya di bawah kendali Seo Won.
Merasa tak puas hanya dengan ciuman di wajah dan leher, bibir Seo Won turun menuju ceruk leher. Kerah baju yang berkacing lama - lama membuatnya terganggu. Dengan sekali tarikan, Seo Won membuat baju Yasha terbuka lebar. Merasakan dadanya yang langsung bersentuhan dengan udara dingin, Yasha semakin histeris.
"Jika kata - kata tidak mampu membuatnya percaya, buktikan dengan perbuatan. Bertindaklah hyung.."
Kata - kata Max terus terngiang di telinga Seo Won. Dia memang orang yang tak pandai berucap, dia memutuskan untuk membuat Yasha percaya dengan tindakannya.
"Aku akan membuatmu percaya jika aku hanya mencintaimu. Tolong terima bukti yang akan aku berikan.." Bisik Seo Won ditelinga Yasha kemudian menggigitnya.
"Oppa! Lepaskan!" Teriak histeris. Dia selimuti teror.
Selama menjalin hubungan dengan Seo Won, Yasha tak pernah diperlakukan kasar seperti ini. Seo Won selalu memperlakukannya dengan sopan dan lembut. Dia selalu dihargai hingga dijaga oleh Seo Won. Namun kali ini seperti tak seperti Seo Won biasanya. Dia kasar, dia melecehkan Yasha seperti ini.
Seo Won semakin lepas kendali ketika dimabuk aroma tubuh Yasha yang wangi. Melihat dua gundukan yang terpapar di depan matanya, mata Seo Won berubah merah. Nafsu telah mengambil alih kewarasannya.
"Oppa!" Yasha tersentak karena rasa sakit yang menyengat di lehernya.
Setelah itu rasa menyengat kembali terasa beberapa kali. Dari leher, pundak, ceruk leher dan yang terakhir di sekitar payudaranya. Rasa itu adalah gigitan Seo Won yang tentu saja meninggalkan noda merah disana.
__ADS_1
"Hiks.. oppa.. hiks.."
Air mata Yasha tumpah juga. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya dia diperlakukan seburuk ini. Tidak pernah ada yang melecehkan dia selama hidupnya. Tidak pernah ada yang kasar dengannya karena Yasha selalu berusaha baik pada orang lain. Tapi malam ini, dia jatuh ke dalam keterpurukan karena Seo Won. Sikap Seo Won yang pernah membuatnya merasa dicintai melebur begitu saja, pecah berkeping - keping tanpa sisa. Sekuat tenaga Yasha kembali meronta.
"Hiks.. hiks.. hiks.. oppa hiks hiks.." Upaya terakhir Yasha, menangis. Bukan karena dia lemah, tapi karena dia kecewa dengan Seo Won. Orang yang dia pikir tak akan melakukan ini ternyata melakukannya.
"Hiks.. hiks.. hiks.."
Sorot mata merah yang berkobar - kobar milik Seo Won perlahan mereda. Isak tangis Yasha mengembalikan kesadarannya yang sempat hilang karena alkohol.
"Yasha.. maafkan aku.."
Seo Won melepaskan genggamannya yang mengunci tangan Yasha. Dia sadar jika dia baru saja melakukan hal buruk. Melihat bercak merah di setiap sudut leher dan dada Yasha menambah rasa bersalahnya. Ditambak baju Yasha yang terbuka dengan kancing yang tidak lengkap lagi membuatnya merasa telah melakukan kesalahan besar.
Tubuh Yasha gemetar dan dia masih menangis. Seo Won panik. Dia sadar betul apa yang telah dia lakukan pada Yasha. Dia segera memeluk Yasha untuk menenangkannya.
"Maafkan aku, aku bersalah Yasha.. seharusnya aku tidak begini.. maafkan aku.. berhentilah menangis.."
"Hiks hiks.. oppa.." Bukannya berhenti, tangan Yasha semakin kencang. Dia meluapkan segala ketakutannya di dalam pelukan Seo Won. Tubuh hangat dengan dada bidangnya membuat Yasha nyaman. Padahal beberapa detik yang lalu pria ini berbuat buruk padanya. Namun tak bisa dipungkiri jika Yasha merindukan pelukan Seo Won.
Seo Won hanya diam dan memeluk Yasha hingga tangis Yasha mereda. Dengan lembut tangannya mengelus rambut Yasha untuk menenangkannya. Berangsur - angsur gemetar Yasha berkurang dan tangisnya juga mereda. Dalam hati Seo Won merasa lega. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk membuat Yasha diam. Namun dengan pelukannya yang tulus, dia berhasil menenangkan Yasha.
"Jangan menangis lagi.. maafkan aku.."
Seo Won melepas pelukannya kemudian agak menjauh untuk menjangkau pandang dengan Yasha. Dia segera merapikan pakaian Yasha yang dia buat berantakan.
__ADS_1
Dengan mata sembab Yasha menatap Seo Won balik. Mereka saling menatap agak lama. Seo Won menarik tangan Yasha kemudian menciumnya. Mereka terbaring sambil berhadapan. Seo Won menggenggam tangan Yasha erat kemudian dia letakkan di dadanya.
"Maafkan aku.. aku bersalah.." Ucap Seo Won lirih.
"Aku kehilangan akal saat kamu bilang ingin pergi. Aku bodoh karena melampiaskan semuanya pada alkohol. Aku gelap mata. Aku berengsek.." Seo Won berhenti sejenak. "Kamu mau memaafkan aku kan? Aku bersalah. Aku tak berfikir panjang malam itu. Seharusnya aku tak mengijinkan wanita itu masuk dan membuat kamu salah faham. Aku juga bersalah karena tidak bisa menjelaskan dengan baik padamu.. Yasha percayalah, hanya kamu wanita yang aku cintai. Tolong percayalah padaku, berikan aku kesempatan satu kali lagi. Aku tidak bisa hidup tanpamu.."
Aku tak bisa hidup tanpamu.
Mendadak Yasha susah bernafas setelah mendengar ucapan Seo Won yang tidak bisa hidup tanpanya. Pikirannya menjadi kacau. Apa benar selama ini dia yang salah faham? Seharusnya dia yang lebih tahu jika Seo Won adalah orang tidak pandai berkata - kata, seharusnya dia mendengarkan Seo Won waktu itu. Jika dia mendengarkan Seo Won pasti salah faham ini tidak akan terjadi. Akhirnya keras kepala Yasha lah yang memenangkan keselahfahaman diantara mereka. Egois karena tak mau disakiti ikut andil juga atas salah faham mereka. Mereka berdua bersalah. Seo Won yang ceroboh dan tidak menjaga perasaan Yasha dan Yasha yang egois menghindari Seo Won karena kesimpulan sepihaknya. Namun bukankah Seo Won sudah berusaha menjelaskan dan meminta maaf pada Yasha? Yasha sendiri yang tidak mau menerimanya dan acuh hingga kesalahfahaman diantara mereka menjadi memburuk hingga puncaknya Seo Won tak tahu lagi harus bagaimana dan memilih untuk melampiaskannya pada alkohol. Akhirnya adalah perlakuan buruknya malam ini.
Yasha lah orang yang paling bersalah karena keras kepalanya.
Air mata Yasha kembali tumpah menyadari jika dialah yang paling bersalah karena tidak mau mendengar penjelasan Seo Won.
"Hei.. kenapa menangis lagi?" Tanya Seo Won diliputi rasa bersalah. Tangannya reflek mengusap sudut mata Yasha yang basah.
"Aku memang brengsek.. aku tidak akan memaksamu lagi untuk memaafkanku. Jika kamu ingin aku pergi, aku akan pergi. Aku memang tidak pantas dimaafkan.." Seo Won merendahkan suaranya.
Melihat tangis Yasha membuat hatinya pilu. Dia tidak ingin membuat Yasha menangis lagi. Dia akan pergi asalkan Yasha tidak menangis lagi. Jujur saja Seo Won tak rela, tapi mau bagaimana lagi. Yasha terlalu berharga untuknya. Jika dia menjadi alasan Yasha sedih, maka pergi adalah satu - satunya cara.
"Tapi perlu kamu tahu satu hal, aku mencintaimu.. itu tidak akan berubah sampai kapanpun.." Seo Won melepaskan genggamannya kemudian mencoba untuk bangkit.
Disaat Seo Won akan turun dari ranjang, Yasha menghentikannya dengan memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi.." Ucap Yasha lirih kemudian diikuti isak tangis.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku.."
Bersambung...