
"Hai.."
Darah panas langsung megalir ke seluruh tubuh Yana. Tenggorokannya menelan salivanya sendiri.
Astaga. Astaga. Ya Tuhan. Apa-apaan ini.
Batin Yana berteriak tak terkontrol. Suaranya tercekat di tenggorkan. Kelopak mata Yana mengerjap beberapa kali. Memastikan jika orang yang ada didepannya sekarang adalah Max.
"Bagaimana kabarmu?"
Max mengambil kursi didepan Yana. Tatapan mereka beradu. Senyumnya tersungging puas. Melihat kilatan bingung di mata Yana membuat Max senang.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Suara Yana bergetar.
Matanya tak lepas pada Max. Diam-diam Yana terus mengeratkan pelukannya pada Jemima. Rasa takut menyusup di aliran darahnya.
"Mm.. aku merindukanmu.." Jawab Max polos.
Dahi Yana mengkerut. Dia sedang mencerna yang terjadi sekarang.
"Kamu bersekongkol dengan Taejoon kan?"
"Jangan salahkan dia. Aku susah payah meminta bantuannya.."
"Atas dasar apa? Apa maumu?" Suara Yana sedikit meninggi.
"Aku merindukan kamu Yana.."
Max menghela nafas. Dadanya terasa sesak setelah melihat Yana. Yana benar-benar sudah berubah. Tapi dia tetap cantik. Diam-diam Max terua melirik Jemima yang sedang asyik memakan snack ditangannya. Pipinya mengembang penuh dengan makanan. Bayi itu sesekali juga melirik Max. Tatapan mereka beberapa kali bertemu. Hati Max benar-benar penuh.
__ADS_1
Diluar Max terlihat tenang namun di dalam dirinya ada badai. Bola mata Jemima seperti miliknya. Bahkan garis wajah, bibir, dan hidung Jemima adalah miliknya. Melihat Jemima dengan jelas sekarang membuat hati Max tersentak. Jemima adalah anaknya, tidak ada keraguan lagi.
"Bagaimana kabarmu? Kamu banyak berubah. Kapan kamu memotong rambutmu? Kamu tetap cantik seperti dulu. Kenapa kamu tidak menghubungiku kalau kamu ke Korea. Aku sangat menunggu pertemuan kita ini Yana.." Max menormalkan suaranya.
Dua tahun tak bertemu, Max terkesima dengan Yana. Potongan rambut sehabu sangat pas untuknya. Yana telah tumbuh menjadi wanita yang menawan. Jiwa posesif Max yang lama tertidur kini bangun. Tidak ada yang boleh memiliki Yana, Yana mutlak miliknya sampai kapanpun.
"Apa kamu sudah selesai bicara sekarang? Tidak ada alasan kita duduk berdua. Pertemua ini tidak seharusnya terjadi. Aku ada urusan lain. Aku harus pergi.."
Yana buru-buru bangkit dari duduknya dengan mengangkat tubuh kecil Jemima. Namun langkahnya didahului oleh Max. Tubuh Max memblokir aksesnya ke pintu.
"Minggir! Apa maumu!" Suara Yana menggelegar memenuhi ruangan. Matanya menyala penuh amarah.
Hanya ada satu hal
Jemima menangis karena suara teriakan Yana. Bayi kecil itu gemetar. Tangisnya pecah memenuhi ruangan.
"Maafkan mama.. sayang maafkan mama.."
Dia terus menenangkan Jemim tapi tak berhasil. Semakin dipaksa tangis Jemima semakin kencang.
Di tengan kepanikan itu. Tangan Max terulur meraih Jemima dari Yana kemudian membawa ke dalam pelukannya. Kepala Jemima terbenam di leher Max. Dia mengelus punggung Jemima penuh sayang.
"Sstt... sttt.."
Max menjauh dari Yana seraya terus menimang Jemima penuh kelembutan. Dia tak pernah belajar menangani bayi, yang baru saja dia lakukan adalah naluri. Dia juga panik menyaksikan Jemima yang menangis kencang. Wajah Yana yang pucat memunculkan keberanian itu.
Suara tangisan Jemima mereda. Isaknya lambat laun berubah menjadi dengkuran halus. Nafas Jemima sudah teratur dalam tidurnya.
Di ujung ruangan Yana mematung. Setelah kesadarannya kembali tubuh Yana ambruk ke lantai. Tubuhnya ditarik gravitasi bumi. Air matanya tumpah begitu saja.
__ADS_1
Memang darah itu lebih kental daripada air. Sekuat apapun kita menolak, yang datang pasti akan datang. Sekuat apapun kita menahan, yang ingin pergi pasti akan pergi.
Jemima adalah anak Max. Yana memaksa untuk melupakan kenyataan itu. Kini dia melihatnya sendiri. Jemima sangat nyaman ada dipelukan Max. Tubuh kecil Jemima sangat pas melekat di dada Max.
"Sudah jangan menangis.. Jemima baik-baik saja.."
Max membungkuk di depan Yana dengan Jemima yang pulas di tangannya.
Kepala Yana mendongak menatap Max. Air matanya masih mengalir. Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang Tuhan? Apa kamu ingin menunjukkan jika yang aku lakukan sekarang salah? Aku yang menyembunyikan Jemima dari ayahnya adalah dosa besar? Takdir apa yang kau buat ini Tuhan..
"Tenanglah. Jemima bisa bangun mendengar tangisanmu.."
Max mengembalikan Jemima ke Yana. Tubuh kecil Jemima sudah berpindah tempat dalam waktu sekejap. Max dengan penuh hati-hati memapah Yana duduk di kursi.
"Berhentilah menangis Yana.. pikirkan Jemima.." Ucap Max sembari mengusap pipi Yana yang basah oleh air mata.
Tak ada penolakan dari Yana. Yana sendiri merasa nyaman akan perlakuan Max. Tubuhnya menggigil. Rasa aneh menjalari sendi-sendi tubuhnya.
"Sudah berhentilah menangis.." Ucap Max tegas.
Jemima baru saja tidur. Jika Jemima bangun dia pasti akan menangis lagi. Max tidak mau melihat Jemima yang menangis hingga tersedu-sedu.
Yana mengangguk pelan.
"Ok.. sudah tenang?"
Yana mengangguk lagi.
"Jadi.. apakah ada yang mau kamu ceritakan tentang Jemima? Aku ingin mendengar semuanya. Ceritakan semuanya dengan jujur. Aku tidak akan bertanya. Jadi ceritakan apa yang kamu sembunyikan dariku Yana.."
__ADS_1
Max tersenyum menatap Yana yang terbelalak. Kali ini dia tidak akan melepaskan Yana. Tekad Max sudah bulat.
Bersambung...