
"Ada apa ini Max?"
Yana gemetar. Dia tidak tahu apa yang terjadi dan itu mengganggunya. Rasa takut menyusup cepat.
"Duduklah.. aku tidurkan Jemima dulu di kasur.."
Di dalam ruangan Max ada kamar untuk istirahat yang berukurab kecil tepat berada di samping kamar mandi.
Yana mencoba mengendalikan kecemasannya. Dia duduk di salah satu sofa dengan tangan yang bertaut serta sangat gelisah. Potongan-potongan memori kejadian dua tahun lalu berkelebat seperti rekaman video.
Meskipun tak sampai berurusan dengan kamera wartawan seperti tadi, merekalah yang membuat hubungannya dan Max putus. Karena berita percintaannya dan Max mencuat, Yana harus bersembunyi dan Max dengan caranya sendiri menyelesaikan kasus itu yang berakhir dengan kepergiannya.
Ada trauma di hati Yana. Raut wajahnya langsung pucat pasih. Hal ini bukan hanya menyangkut dia atau Max, tapi Jemima juga. Pikiran buruk melintas di depan Yana.
"Max.. apa yang terjadi?"
Yana langsung berdiri ketika melihat Max keluar dari salah satu pintu di ruangan.
"Hanya masalah kecil.."
"Tapi para wartawan berkumpul di depan kantor. Apakah mereka tahu aku?" Yana tak sabar menunggu penjelesan Max. Dia sudah memberondong Max dengan pertanyaan yang ada di kepalanya.
"Duduklah.." Max mempersilahkan Yana dan dirinya sendiri untuk duduk.
"Aku takut.. jangan bertele-tele Max.. apa yang terjadi?"
"Ya seperti dugaanmu. Ada orang yang mengambil foto kita waktu di bandara kemudian menghubungi wartawan. Untungnya mereka datang tepat setelah kita pergi dari sana. Woon hyung yang tahu. Jadi kemarin malam aku mengumpulkan orang-orangku untuk membahas masalah ini.. tenanglah.. semuanya sudah diurus.." Jelas Max pelan-pelan.
"Mereka juga tahu Jemy?"
"Aku rasa begitu.."
"Terus bagaimana? Max.. aku takut.."
Air mata Yana diam-diam merembas melewati pipi putihnya. Siapa ibu yang tidak takut anaknya diberitakan dimana-mana, Yana memang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi ini menyangkut Jemima.
"Hei ada aku.. jangan takut. Aku akan menjaga kalian.."
Max bangkit mendekati Yana. Dia melipat kedua kakinya kemudian menunduk. Tangannya berada di pangkuan Yana. Matanya menatap lurus mata Yan yang basah oleh air mata. Lagi-lagi dia harus melihat Yana menangis, sebenarnya dia tidak suka. Air mata itu menyakiti hatinya.
"Kejadian dua tahun lalu.. aku.. aku tidak mau itu terjadi pada Jemy.."
Sebuah kecelakaan. Yana masih mengingat dengan jelas kecelakaan yang menimpanya karena ulang fans fanatik Max. Yana takut jika hal itu akan menimpa pada Jemima juga. Yana tak mau Jemima disakiti oleh siapapun.
"Tidak. Itu tidak akan terjadi Yana. Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada kalian.." Jelas Max mencoba menenangkan Yana. Tangannya mengelus tangan Yana. Dia menarik tangan itu kemudian mengecupnya. Tangan Yana gemetar di dalam genggamannya.
"Tapi bisa saja ada yang masih mengidolakanmu Max.. kita tidak tahu apa yang mereka pikirkan.."
"Aku tidak peduli. Kenapa aku harus hidup sesuai keinginan orang lain. Aku yang menjalani hidup. Idol juga manusia, artis juga manusia Yana.. aku tidak akan membiarkan mereka mendekatimu dan Jemima barang sedikitpun.." Jelas Max sepenuh hati.
"Kamu serius kan? Meskipun bukan karena aku.. kamu akan melindungin Jemima kan? Kamu adalah orang terkenal Max. Keberadaan Jemima pasti akan menarik perhatian banyak orang.." Yana memohon.
"Maka dari itu. Hanya ada satu solusi agar masalah ini selesai.." Senyum Max terbit.
"Solusi?" Alis Yana terangkat sebelah.
"Itu tergantung kamu setuju atau tidak.."
"Demi kebaikan Jemy aku pasti akan setuju Max.. apa itu?"
__ADS_1
"Menikahlah denganku.." Singkat padat dan jelas. Tanpa basa-basi Max mengutarakan keinginannya.
"Apa?" Yana seperti tersambar petir mendengarnya.
"Sebentar lagi akan ada konferensi pers untuk mengklarifikasi berita itu. Wajahmu dan Jemima sudah ada dimana-mana Yana. Aku tidak mungkin menyembunyikan kalian dan aku tak mau lagi mengelak. Dulu aku takut akan banyak hal, sekarang aku tidak. Dan inilah satu-satunya cara. Kamu mau kan?" Max menggenggam erat tangan Yana.
Yana diam. Dia tertohok. Menikah? Telinganya baik-baik saja, jadi kata menikah tadi memang benar keluar dari mulut Max. Tenggorokannya tercekat, dia tak mampu berkata-kata.
"Maukan? Menikahlah denganku dan ayo kita hadapi bersama-sama. Aku tak mau lagi kehilanganmu.."
Max menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Yana. Bibirnya menyentuh kedua tangan Yana yang dia genggam sejak tadi. Dia menunduk penuh permohonan. Max tak mempedulikan harga dirinya sebagai seorang pria dan bos besar pemilik perusahaan ternama. Demi Yana dia rela menyerahkan apapun. Bahkan jika Yana menyuruhnya bersujud agar bersedia menikah dengannya, Max tak kan ragu melakukannya.
"Max.." Tubuh Yana tersentak. Siapa dia hingga pria sehebat Max menundukkan kepala padanya. Matanya menatap nanar kepala Max di atas pangkuannya.
Pria ini adalah cinta pertamanya. Dia adalah yang pertama bagi Yana, semuanya. Hari ini pria itu menundukkan kepala memohon padanya. Dia mengenyahkan harga dirinya sebagai seorang pria demi mendapatkan hati Yana. Yana terenyuh, hatinya meleleh. Ini lebih dari memohon, tindakannya adalah simbol kesungguhan. Apa lagi yang harus Yana pikirkan, pria dengan kepala menunduk dipangkuannya ini sudah membuktikan jika dia sepenuh hati mencintainya. Maka jika begini, tak ada alasan lagi untuk menolak.
"Kalau aku mau apa kamu mau berjanji satu hal?" Suara hati Yana lolos begitu saja.
Max sontak mengangkat kepalanya. Keduanya saling bertemu pandang.
"Hanya satu? Seribu pun akan aku kabulkan.."
Bagai mendapatkan lotre. Hati Max bersorak gembira. Akhirnya Yana kembali padanya.
"Berjanjilah tidak akan meninggalkan aku dan Jemy.."
"Tentu saja. Aku bersumpah atas nama Tuhan!" Max berteriak lantang.
"Kamu tahu kan aku sudah melahirkan Jemy. Jadi aku sudah tidak seperti dulu lagi. Jemy adalah yang pertama disetiap perhatianku. Aku minta kamu bisa mengerti.."
"Siap!" Teriak Max kedua kalinya.
"Ok!" Teriak Max ketiga kalinya.
"Kenapa teriak-teriak sih? Bikin kaget tahu.." Yana menutup telinga dan kedua tangannya. Suara Max menggelegar menemuhi ruangan.
"Janji kan harus diucapkan dengan lantang.." Protes Max.
"Tapi kan tidak harus teriak-teriak. Jemy sedang tidur. Kamu juga membuatku kaget.." Ucap Yana kesal.
"Terima kasih Yana.. terima kasih.. aku tak tahu lagi bagaimana hidupmu tanpa kamu dan Jemima.."
Max menyambar tubuh Yana dan tak menghiraukan kekesalan Yana. Tubuh Yana tenggelam di dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu.." Tutur Max.
"Aku.. aku juga.."
Beban hati Yana telah terangkat. Hatinya terasa ringan. Semua sakitnya menghambur begitu saja.
"Aku mencintamu Yana.. jangan pergi lagi dariku.."
Yana diam. Dia membalas pelukan Max. Air matanya kembali merembas. Air mata ini bukan air mata kesedihan, ini adalah air mata bahagia. Lepas sudah beban hatinya.
Ceklek
Pintu terbuka dan Seo Woon masuk tanpa tahu apa yang terjadi. Melihat Max dan Yana saling berpelukan membuatnya salah tingkah. Dia dilema antara keluar atau tetap disana.
"Ehemmm.. Max.." Suara Seo Woon menginterupsi kemesraan di depan matanya.
__ADS_1
Max dan Yana kompak menoleh. Yana yang malu di lihat Seo Woon melepaskan diri dari pelukan Max. Dia segera mengusap air matanya.
"Aku akan melihat Jemima.." Yana bangkit. Namun sebelum dia pergi, Max menarik dirinya dan menggeleng.
"Persiapaannya sudah siap hyung?"
"Ah iya.. sudah.. semuanya sudah berkumpul.." Seo Woon malu sendiri.
"Baiklah.. mati kita hadapi mereka sekarang.."
"Kamu yakin ini akan berhasil kan? Tapi kan Yana.." Seo Woon ragu sejenak.
"Yana sudah setuju. Dan sebentar lagi kami akan menikah.. mungkin besok.." Ucap Max datar.
"Apa?" Giliran Seo Woon yang berteriak karena kaget.
Sama seperti Seo Woon, tubuh Yana juga tersentak. Sifat jahil dan tanpa basa basi Max sama seperti dulu. Hanya saja itu kadang memalukan.
"Ya kan sayang?" Max menoleh mencoba mengkonfirmasi pada Yana.
"Aku bilang ya tapi kalau besok aku tidak.. jangan becanda Max.." Jawab Yana malu-malu. Entah semerah apa wajahnya sekarang, yang pasti saat ini dia malu pada Seo Woon.
"Itu tak penting, yang penting kamu sudah setuju dan kamu harus bertanggung jawab.." Senyum Max misterius.
"Tanggung jawab apa?" Mata Yana menyipit.
"Tanggung jawab karena sudah mencuri hatiku.."
Cup
Max mencium pipi Yana sekilas.
Astaga. Yana hampir saja berteriak. Harus dia apakan Max ini. Benar-benar tidak tahu malu.
Seo Woon membatu. Ucapannya menghilang diterpa angin. Ingin rasanya dia kabur dan mengubur diri. Dosa apa dia sampai bisa melihat adegan menjijikkan Max yang sedang dimabuk cinta.
"Astaga.. aku tahu kalian baru saja berbaikan. Tapi para wartawan tak mungkin bisa munggu hingga Yana melahirkan anak keduamu Max. Mesra-mesranya nanti saja. Kau harus mengurus mereka dulu Max.."
Yana malu semalu-malunya. Dia langsung menundukkan kepalanya.
"Dasar jomblo abadi. Awas aja nanti hyung sepertiku, aku tidak akan mau membantumu.." Celoteh Max tak terima.
"Selesaikan dengan cepat dan aku akan menunggumu di luar.." Ucap Seo Woon.
"Konferensi pers?" Tanya Yana.
"Iya.. tunggu aku disini bersama Jemima.."
"Aku tidak perlu ikut datang kan?"
"Akan aku usahakan.."
Max kembali memeluk Yana. Tubuh Yana adalah obat baginya. Sebenarnya Max sedang gugup saat ini. Namun tak mungkin dia menunjukkannya pada Yana. Dia agak lama memeluk Yana kemudian berjalan keluar meninggalkan Yana dan Jemima sendiri di dalam ruangannya.
Tunggu aku. Aku akan segera kembali sayangku..
-----
"Selamat siang semuanya.. saya adalah Han Jungwoo CEO IM Entertaiment.. bagaimana kabar kalian semua?"
__ADS_1
Bersambung...