
"Kenapa kamu bilang sama dokter itu kalau aku istrimu? Jangan membuat orang salah faham.." Seloroh Yana.
"Apa aku harus menceritakan hubungan kita yang rumit? Kamu melahirkan anakku sembunyi-sembunyi begitu?" Mata Max berkilat marah.
"Kamu yang membuat hubungan kita rumit. Cukup tinggalkan kami. Semua masalah sudah selesai Max!" Suara Yana meninggi.
Percekcokan berakhir karena Joan masuk ke dalam ruangan rawat Jemima.
Suasana hening. Joan bergantian pandang antara Max dan Yana.
"Apakah aku masuk disaat yang tidak tepat?" Ucap Joan.
"Tidak dokter. Silahlan masuk. Apa dokter akan memeriksa Jemima?"
"Ya.." Jawab Joan.
Joan melangkah mendekati Max.
"Apa kalian sedang bertengkar?"
Suasana menjadi aneh saat dia masuk, jadi Joan membuat kesimpulan kalau Max dan Yana baru saja bertengkar.
"Tutup mulutmu.." Ancam Max dengan tatapan sinis.
Joan terkikik pelan. Menggoda Max memang selalu menyenangkan.
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya Yana.
"Saya masih terus memantau perkembangannya. Perut orang dewasa dengan anak kecil berbeda.." Jelas Joan. "Ah perkenalkan saya Joan kakak ipar.. keluarga kami sangat dekat dan kami bergaul dengan baik. Salam untuk kakak ipar. Selamat datang di keluarga Han.." Joan mengulurkan tangannya menyalami Yana.
"Hah?" Yana kebingungan.
"Ya.. aku menerima salammu.."
Max mengambil alih uluran tangan Joan. Joan mengangkat alis kemudian tersenyum sinis pada Max.
"Astaga. Aku hanya ingin berkenalan dengan kakak ipar saja.. cih.." Joan berdecak kesal. "Jemima kan namanya.." Tunjuk Joan.
Yana mengangguk.
"Kalian harus mengawasi Jemima. Tolong perhatikan pola makannya. Kalau dia tiba-tiba demam atau muntah lagi segera panggil perawat.."
__ADS_1
"Sampai berapa lama Jemy harus dirawat?"
"Mmm.. tiga hari cukup.."
Mata Yana membulat. What? Tiga hari? Yana harus segera kembali ke Indonesia. Semakin lama disini semakin dia tersiksa dekat dengan Max. Yana menelan teriakannya kembali. Demi Jemima, mau bagaimana lagi.
"Hanya tiga hari kan?" Yana mempertegas.
"Ya.. aku rasa itu sudah cukup.." Joan mengangguk.
Setelah memerika Jemima, Joan kembali keruangannya. Itu harusnya bukan jadwal kunjungannya. Dia tertarik dengan kehadiran Yana dan Jemima dalam hidup Max yang tiba-tiba untuknya. Setelah terkena skandal dua tahun lalu, Max menarik diri dari pergaulan kelas atas. Tak banyak yang tahu apa yang terjadi saat itu. Arthur Alexander, kakak Joan adalah orang yang paling dekat dengan Max. Namun karena harus mengurus Alexander Hospital di Indonesia, kakak Joan juga tak tahu kabar Max. Joan adalah orang yang tersisa di Korea.
Hari ini dia dikejutkan dengan kemunculan Max di rumah sakitnya dengan bayi kecil di dalam gendongannya. Yang lebih mengejutkan Joan adalah kehadiran Yana yang di klaim sebagai istri Max. Kesimpulan Joan adalah Max menarik diri dari pergaulan selama ini karena istri dan anaknya.
Joan berencana menghubungi kakaknya untuk menceritakan kabar Max. Malam ini akan menjadi malam yang panjang.
-----
Suhu tubuh Jemima tiba-tiba naik menjelang tengah malam. Tidurnya tak nyenyak dan dia terus berkeringat. Yana dan Max begadang semalam untuk bergantian menjaga Jemima.
Untung saja Max menolak saat Yana menyuruhnya pulang. Prediksinya tepat. Jemima tak mau tidur di kasur. Dia hanya mau tidur di dalam gendongan. Max dan Yana terus terjaga hingga fajar.
"Tidurlah.. aku yang akan menjaga Jemima.." Ucap Max melihat Yana yang kelelahan.
"Jangan membantah. Kamu lelah kan? Jangan sampai kamu juga ikut dirawat menyusul Jemima.."
Suhu tubuh Jemima sudah kembali normal. Hembusan nafasnya juga tidak panas lagi. Tidur Jemima sudah tenang di atas kasur. Perawat mengatakan keadaan ini adalah reaksi akan obat yang diberikan.
"Aku akan tidur sebentar saja.." Tutur Yana.
"Iya.. tidurlah disebelah Yana.."
Yana mengangguk kemudian naik ke atas kasur. Dia memposisikan tubuhnya disebelah Jemima. Perlahan dia masuk ke dalam selimut yang sama dengan Jemima. Tangannya memeluk tubuh kecil Jemima. Berpelukan dan saling menyalurkan suhu tubuh masing-masing.
Max menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuh dia orang yang sangat dia cintai. Melihat keduanya saling berpelukan dalam tidur membuat Max iri. Max menggenggam salah satu tangan Jemima dan segera menyusul mereka ke alam mimpi.
-----
Suara sayup terdengar samar di telinga Max. Suaranya timbul tenggelam. Pendengarannya yang ikut tidur dipaksa untuk bangun. Dia mengenali suara itu. Kadang terdengar lembut, kadang keras, dan kadang lirih. Suara wanita dan laki-laki saling bersahutan.
Perlahan Max membuka matanya karena suara yang lambat laun dekat dengan telinganya. Dia mengerjap beberapa kali. Wajah Jemima dan Yana terlihat pertama kali. Dua jantung hatinya masih pulas dalam tidurnya. Dengan sekuat tenaga Max menganggkat kepalanya yang berat. Kesadarannya masih kabur. Max mengucek kedua matanya dengan salah satu tangannya. Pandangannya beredar mencoba mencari suara yang mengganggu tidurnya yang baru beberapa saat lalu.
__ADS_1
"Ibu!" Kesadaran Max yang masih kabur langsung kembali. Suaranya sedikit melengking
Nyonya Han berdiri tak jauh dari ranjang Jemima. Disebelahnya ada Seo Woon dan Elea. Tatapan mereka bertemu. Max langaung bangkit dari posisi tidurnya yang membungkuk.
"Max.." Senyum tersungging di bibir Nyonya Han.
"Kapan ibu sampai?" Max setengah tak percaya. Mungkin karena efek bangun tidur dia jadi berhalusinasi. Tapi tidak, mereka bertiga nyata setelah Max mendekatinya dan mengucek matanya beberapa kali.
"Kenapa tidak memberitahu ibu?"
Pletak
Nyonya Han menjitak kepala Max pelan. Dia hilang kesabaran. Anak lelaku satu-satunya tak pernah mau bercerita padanya. Dia selalu mendapat kabar dari orang lain tentang keadaan anaknya itu. Max memang anak yang keterlaluan.
"Awww.." Max meringis pelan.
"Bagaimana keadaannya? Katanya Joan Alexander yang menanganinya langsung?" Nyonya Han menunjuk Jemima.
"Gangguan pencernaan. Jemima baru saja bisa tidur beberapa jam yang lalu. Joan bilang ini adalah masa kritis. Kalau Jemima tidak muntah hari ini berarti keadaannya akan baik-baik saja.." Jelas Max seraya mengusap kepalanya yang masih terasa sakit.
"Jemima.. nama yang indah. Kenapa kamu tidak menceritakan pada ibu Max? Haruskah Woon yang mengatakan semuanya.. kamu benar-benar anak nakal.." Ucap Nyonya Han kesal.
Ah. Ibunya datang pasti karena telpon kemarin. Seo Woon sudah mengatakan padanya jika ibunya menelpon saat Jemima di IGD. Memang tak ada yang bisa dia sembunyikan dari ibunya.
"Aku juga baru tahu bu.. Yana menyembunyikan Jemima dariku.."
"Berapa usianya?"
"Satu tahun aku rasa.."
"Kamu harus meminta maaf sebanyak mungkin pada Yana Max.. dia sudah banyak menderita selama ini.." Tutur Nyonya Han. "Bagaimana hubungan kalian? Apa kalian sudah berbaikan?" Lanjutnya.
Max menggeleng lemah.
"Saya akan membantu Tuan. Nona Yana adalah orang yang baik. Nona pasti akan memaafkan anda.." Elea buka suara.
Elea dengan sukarela mengajukan untuk ikut Nyonya Han setelah mendengar nama Yana. Dia kecewa saat memdengat kabar Max dan Yana telah berpisah. Pertemuan mereka di New York dua tahun lalu meninggalkan kesal yang mendalam di hati Elea. Dia ingin Yana lah yang akan menjadi Nyonya Han selanjutnya. Maka dari itu Elea ikut ke Korea untuk membantu Yana dan Max bersatu kembali.
"Ide Elea tidak buruk. Ibu juga akan membantu Max. Tapi kali ini jangan sia-siakan Yana lagi.. ok?" Tegas Nyonya Han.
"Aku juga akan membantu.." Timpal Seo Woon.
__ADS_1
Bersambung...