My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
9. Nyaman


__ADS_3

Hampir setiap hari Max datang ke tempat Yana. Alasannya macam-macam, seperti ‘Aku mampir karena searah’ ‘Hanya memastikan kamu tidak melarikan diri dengan hutangmu’ ‘Aku ingin cari angin malah kesasar kemari’ dan masih banyak lagi yang lainnya. Untung saja jam ketika Max datang para penguni rumah kost Yana sedang berkelana ke alam mimpi. Yana tidak bisa membayangkan jika dia harus memberikan alasan macam-macam keteman satu kamarnya atau tetangga meraka ketika hendak menemui Max di parkiran.


“Apa lagi sekarang?” Yana mendengus kesal. Max selalu sukses memaksa Yana untuk turun menemuinya.


Max tak menjawab, matanya menatap lurus wajah Yana. Yana sadar jika dirinya sedang diperhatikan oleh Max, pipinya mendadak memerah. Ada rasa panas menjalar di tubuhnya.


“Kamu baik-baik saja?” Tanya Yana setelah membalas tatapan Max. Wajah Max sedikit pucat, dan bibir yang biasanya merah saat ini berwarna kebiruan. Rasa khawatir menyusup pelan di hati Yana.


Max mengangguk pelan. Yana tidak tahu jika Max sedang menahan sakit. Ketika datang menemui Yana kali ini, Max tidak sempat memikirkan alasannya untuk datang. Makanya dia diam saja ketika Yana bertanya.


‘Vertigo adalah kondisi di mana seseorang akan merasakan bahwa di lingkungan atau benda-benda yang ada di sekitarnya bergerak, melayang, dan seolah-olah berputar. Dalam kondisi ini biasanya penderita akan mengalami hilangnya keseimbangan sehingga untuk sekedar berdiri atau berjalan saja sangat sulit dilakukan. Selain itu, penderita juga akan merasakan bahwa bagian kepalanya akan terasa sakit, pusing, dan bahkan disertai dengan rasa mual dan ingin muntah’


Sudah satu tahun terakhir ini Max mengalami vertigo. Max sudah mengupayakan pengobatan dan terapi namun hasilnya sama, dia harus menahannya atau meminum obat penghilang rasa sakit. Vertigonya kambuh jika Max kelelahan atau jadwalnya yang padat hingga waktu makannya terbengkalai. Sama seperti saat ini, besok adalah peluncuran album baru DAMN!, para anggota grup berlatih siang dan malam untuk mempersiapkan promosi atau showcase di saluran televisi.


“Argghhhh..” Max memegang kepalanya karena tiba-tiba rasa sakit di kepalanya itu terasa menusuk.


“Max kamu kenapa?” Yana sontak terkejut melihat Max yang sedang memegang kepalanya seperti menahan sakit. “Max kamu kenapa?” Tangan Yana memegang bahu Max. Yana bisa melihat jelas bulir keringat Max menetes dari kening. “Max.. Max..” Yana berulang kali memanggil Max namun Max tak bergeming, telinganya seolah tak mendengar panggilan Yana.


“Argghhh.. obat.. obat.. disana..” Ucap Max menunjuk dashboard mobil.


“Hah mana? Dashbord?” Tangan Yana gemetar, untuk membuka dashbord mobil Max saja dia sampai kesusahan.


Belum juga Yana berhasil membuka dashbord tangannya sudah ditarik oleh Max, kemudian Max memeluknya erat. Yana terkesiap. Yana bisa mendengar detak jantung Max yang tak karuan hingga suara nafas Max yang lemah. Tubuh Yana tak bergerak, otaknya sedang memproses kejadian ini. perlahan salah satu tangan Yana mengusap bagian belakang kepala Max. Yana tahu jika pria itu sedang menahan rasa sakit, dan Yana tidak tahu apa sakitnya.

__ADS_1


“It’s ok it’s ok... mana yang sakit?” Yana terus saja mengelus kepala Max, mencoba menenangkan pria dalam pelukannya saat ini. Yana tidak menolak ketika Max memeluknya, awalnya dia terkejut, namun Yana bisa mengerti, Max mungkin melakukannya karena tak bisa menahan rasa sakit di kepalanya.


Max mempererat pelukannya dan kepalanya terbenam di ceruk leher Yana, kemudian berpindah ke dada Yana. Tentu saja Yana terkejut, namun dia memilih untuk diam. Yana takut jika dia bereaksi, Max akan semakin sakit.


Perlahan nafas Max kembali normal, tangan Yana yang digenggam erat oleh Max tadi juga sudah di lepaskan, namun kepala Max masih terbenam di kepala Yana. Tangan Yana pun masih mengelus kepala Max mencoba untuk meringankan rasa sakit Max.


“Masih sakit?” Yana mencoba buka suara.


Max masih terdiam. Diam Max bukan karena dia tak mendengar karena menahan rasa sakit, namun karena Max tak ingin rasa nyaman dia saat ini berakhir. Jika Max menjawab, Yana pasti akan melepas pelukannya. Pelukan Yana mampu menghilangkan rasa sakit Max, setelah tangannya memeluk Yana, rasa hangat dari tubuh Yana tersalur ke Max, dan itu mampu menenangkan Max.


“Max?” Yana mengulang lagi ucapannya. Yana mencoba bertanya, barangkali Max masih terasa sakit atau bagaimana.


Kepala Max mengangguk. Perlahan Max melepaskan pelukannya. Saat ini tubuhnya bersandar di kursi mobil, mengambil dan melepaskan oksigen lewat mulutnya. Benar-benar ajaib, baru kali ini tanpa meminum obat Max bisa menghilangkan sakit vertigonya.


“Aku menderita vertigo..” Akhirnya mulut Max mengeluarkan suara. Max tahu jika saat ini Yana masih bingung dengan apa yang dia lakukan barusan. Dia tak ingin Yana salah faham atau menjadi canggung.


“Maaf untuk yang tadi.. aku tidak bermaksud melakukannya..” Jelas Max dengan suara yang masih lemah.


Max menoleh ke arah Yana dan mengakibatkan mata mereka bertemu. Max kira Yana akan marah karena memeluk tanpa ijin, namun respon Yana diluar ekspektasi Max. Ada rasa lega mengalir di tubuhnya.


“Ya aku baik-baik saja sekarang..” Jawab Max.


“Syukurlah.. jantungku hampir copot melihatmu kesakitan Max. Lain kali beri tahu aku jika kamu sakit..” Ucap Yana kesal. Yana tak berbohong, semua yang dia katakan adalah kenyataan.

__ADS_1


“Kamu khawatir?”


“Tentu saja. Kalau kamu mati bagaimana? Aku tidak mau dituduh yang membunuhmu Max. Bayangkan jika besok ada berita seorang idol papan atas meninggal di dalam mobil dan pelakunya adalah seorang wanita Indonesia yang tidak ada cantik-cantiknya sama sekali...” Yana berceloteh panjang lebar.


Max tersenyum pelan. Dia tidak pernah terganggu dengan semua celotehan Yana, malahan Max suka jika mulut gadis itu bergerak mengeluarkan isi hatinya. Mungkin itu adalah kenyamanan Max yang pertama, berbincang dengan Yana mampu membuat stress Max menguap diterpa angin. Dan hari ini Max mendapatkan kenyamanan yang kedua melalui pelukan Yana.


“Oiya aku hampir lupa. Ini tiket konser DAMN! bulan depan. Datanglah dengan teman sekamarmu, katamu dia fans Antony kan?” Tutur Max seraya memberika dua tiket konser DAMN!.


Yana menerimanya, sekilas dia membaca tulisan yang ada di tiket tersebut.


“Pokoknya harus datang. Ok? Kalau kamu datang aku kurangi hutangmu satu juta won, ok?”


Mata Yana terbelalak, enteng sekali mulut pria ini. Yana seperti boneka yang dikendalikan oleh Max melalui utang. “Ah sial!” Umpat Yana dalam hati. Yana selalu lemah jika berhubungan dengan uang.


“Kamu serius kan? Jangan dicabut lagi loh.. kamu sudah janji..” Yana memastikan kepada Max kalau apa yang dia dengar tidak salah. Berarti jika dihitung hutang Yana tinggal empat juta won lagi. Ah senangnya..


“Mungkin aku akan jarang kesini lagi.. mulai besok sampai bulan depan DAMN! Pasti akan sibuk sekali..” Suara Max kembali melemah. Hatinya sungguh belum siap untuk berpisah sementara dengan Yana. Bisa dipastikan dia tidak akan punya waktu lagi bertemu Yana karena promosi album.


“Ok.. kamu sudah tidak apa-apa kan? Jangan terlalu lelah, dan perhatikan pola makanmu.. jangan sampai sakit..” Yana menatap mata Max lekat.


‘Jangan sampai sakit’ Entah kenapa ucapan Yana itu membuat hati Max tenang. Rasanya senang sekali ada yang memperhatikan.


“Ya..” Max menjawab pelan.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian mobil Max telah menghilang dari parkiran rumah kost Yana. Hati Yana seperti kehilangan melihat mobil Max tak terlihat lagi oleh matanya. Yana sangat asing dengan perasaannya saat ini. Baru sebentar dia sudah merindukan Max. Aduh bagaimana ini, sepertinya Yana telah jatuh cinta pada Max.


Bersambung....


__ADS_2