
"Rindu itu ibarat dua mata pisau yang tajam. Disatu sisi ingin segera bertemu untuk melepaskan rindu, disisi lain takut untuk segera bertemu karena tak sanggup menanggung rindu selanjutnya"
Bilyana Athena Queen
-----
Apa sih rindu itu?
Apakah rindu adalah rasa ingin bertemu dan ingin berjumpa?
Dua puluh tahun hidupnya, Yana baru pertama kali ini merasa tersiksa dengan yang namanya rindu. Rasa ini berbeda dengan rasa rindu yang biasanya, rasa ini jauh leih kuat hingga mampu membuat Yana sakit kepala dan tak bisa tidur. Matanya terus saja memandangi ponselnya, sedetikpun Yana tak mau berpaling. Rindu pada keluarga di Indonesia dengan baik bisa Yana atasi, tapi rindu yang satu ini tak ada obatnya. Ya, Yana sangat merindukan Max, sang idol yang tengah dia lihat di dalam layar televisi kamar kostnya.
Tanpa sadar Yana menenteskan air mata ketika kamera menshoot wajah Max. Hati Yana bergejelok, seperti telah puluhan tahun tak bertatap muka. Baru satu minggu Max berada di Amerika, tapi Yana merasa sudah satu tahun lamanya. Untung saja Jieun belum pulang dari part timenya di toko roti, jika ada Jieun disebalahnya Yana mungkin tak bisa menjelaskan kenapa dia malah menangis melihat konser musik.
Ceklek
Suara pintu kamar dibuka. Yana cepat-cepat menghapus air matanya dengan tissu, dia tahu jika yang datang adalah Jieun.
"Konser DAMN! ya?" Suara Jieun memenuhi seisi kamar mereka yang sederhana.
"Ya.. di Los Angeles.." Jawab Yana.
"Wah.. DAMN! luar biasa. Konsernya ditayangkan secara live. Bahkan papan billboard yang ada dijalan-jalan juga menayangkannya. Mereka superstar sejati.." Celoteh Jieun seraya duduk disamping Yana dan tangannya meraih camilan di atas meja.
"Hei cuci tangan dulu.." Yana mengerutkan alisnya. Teman sekamarnya ini memang orangnya acuh tak acuh. Sangat tidak menyukai kebersihan. Walaupun Yana bukan pemuja kebersihan tapi setidaknya dia tahu jika dari luar tubuh kita pasti terkena bakteri.
"Hehehehe.. aku sudah kebal dengan penyakit.." Jieun terkekeh tanpa memperdulikan ucapan Yana.
"DAMN! memang hebat, dia adalah boybond yang pertama bisa konser keliling Amerika Serikat, Los Angeles Yana, bayangkan.. di hollywood.." Ucap Jieun berapi-api dengan mulut penuh dengan kripik kentang.
"Iya.. Los Angeles, New York, dan Florida.. mereka akan mengelilingi Amerika Serikat.." Ucap Yana tanpa sadar.
"Hei kamu tahu darimana?" Jieun mendelik tak percaya, bahkan dia yang penggemar DAMN! saja tidak tahu jika sang idolanya akan ketiga tempat itu.
"Hah?" Yana terkejut, mulutnya memang tak bisa diajak kompromi. Yana tahu jadwal tour DAMN! dari Max kemarin. Melalui pesan singkat Max mengatakan jika dia akan ke tiga tempat tersebut. "Tadi sebelum konser dimulai MC mengatakannya, mana aku tahu. Aku kan tidak mengidolakan mereka.." Kelit Yana. Matanya memandang Jieun dengan cemas, takut jika kebohongannya terbongkar.
"Oh..." Mulut Jieun membulat sempurna.
Yana menghirup udara dalam-dalam. Hatinya merutuki kecerobohannya sendiri. Jadwal DAMN! memang belum dirilis dari pihak agensi, makanya Jieun tidak tahu. Yana berdoa dalam hati semoga Jieun tak menyadarinya.
-----
Kehidupan Yana berjalan seperti biasa, walaupun membuat langkahnya gontai, Yana berusaha keras untuk tidak menunjukkannya. Max tak pernah menelponnya, hanya beberapa kali mengirim pesan yang berisi posisinya saat di Amerika. Yana cukup senang Max mengirim pesan, namun tak mendengar suara pria itu, Yana seperti tak genap. Ingin sekali menelpon Max tapi selalu Yana urungkan, Max pasti sangat sibuk disana. Yana sudah berjanji untuk menunggu telpon dari Max, tak mungkin Yana terang-terangan memperlihatkan perasaannya pada Max.
Kelas selesai lebih cepat karena beberapa dosen harus mengikuti seminat keluar kota. Hari inipun bukan week end, jadi Yana tidak perlu berangkat part time.
Bruk
__ADS_1
Yana melemparkan tasnya ke sembarang tempat. Tubuhnya merebah dikasur dengan tangan memeluk guling kesayangannya. Perlahan tapi pasti tubuh Yana terbang ke alam mimpi.
Kring kring kring
Mimpi indah Yana terusik dengan suara alarm. Jam munjukkan angka sepuluh, berarti Yana sudah tidur kurang lebih eman jam dari pulang tadi.
"Astaga.. sudah berapa lama aku tidur.." Celoteh Yana dengan suara parau. Matanya menatap ruangan yang gelap. Jieun belum pulang dan dia tertidur dari jam lima sore tadi.
Perlahan Yana berjalan menuju saklar lampu kemudian menyalakannya. Matanya menangkap sinar berkedip-kedip dari layar ponselnya.
"Halo.." Sapa Yana tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Darimana saja kamu!!!" Teriak orang diseberang sana yang membuat Yana harus menjauhkan ponselnya kemudian membaca nama penelpon. Max, nama itu yang tertera.
"Aku ketiduran tadi pulang kuliah, ada apa Max?" Ucap Yana sedikit terbata campur bahagia. Akhirnya Max menelponnya. "Ada sesuatu? Kepalamu sakit lagi? Atau konsernya tak berjalan baik?" Tanya Yana tanpa jeda.
"Apakah aku harus menelpon jika ada masalah?!" Max balik bertanya, dengan suara meninggi.
Yana sejenak diam. Ucapan Max sulit dicerna otaknya. Selama ini Max memang menghubungi Yana jika ada kesulitan, itu yang Yana tahu. Kalau tidak ya perihal hutang Yana yang belum dia lunasi.
"Lalu ada apa?" Yana sempat ragu bertanya, atau mungkin dia salah mengatikan telpon Max kali ini.
"Aku merindukanmu.." Suara Max melemah.
Hati Yana berdesir. Yana tidak salah dengar kan? Max merindukannya, bolehkah pernyataan itu diulangi?
"Kamu tidak rindu aku?"
Jleb
Tepat sasaran Max. Pertanyaanmu tepat menghujam jantung Yana. Tentu saja Yana merindukanmu. Haruskah Yana jujur?
"Yana?" Max memanggil nama Yana pelan, pertanyaannya belum dijawab oleh Yana.
"Ya Max?" Yana terksiap.
"Kamu tidak merindukan aku?" Ulang Max.
"Tentu aku merindukanmu Max.."
Keluar juga ucapan itu. Rasa rindu yang telah tertahan lama, Yana siap menanggung semua akibat dari merindukan seorang Max.
"Apa yang kamu rindukan dariku?"
"Mmm.. pelukanmu.." Jawab Yana lirih namun masih terdengar oleh Max.
"Serius kan kamu merindukan aku?" Max mengulang lagi pertanyaannya tadi.
__ADS_1
"Iya.." Jawab Yana singkat.
"Tunggu aku, aku akan segera datang menemuimu.."
"Hah? Tidak perlu Max.. kamu menelpon saja sudah cukup untukku.." Jelas Yana. Yana memang pintar berbohong semenjak mengenal Max. Bohong tentang perasaannya, bohong tentang rindunya, dan bohong jika sekarang dia tidak menginginkan Max datang menemuinya.
"Katanya kamu rindu pelukanku? Kalau rindu suaraku sih cukup aku telpon, tapi kamu bilang kamu rindu pelukanku kan? Berarti aku harus menemuimu.."
Ucapan Max barusan membuat Yana tersambar petir malam hari. Bagaimana Max tahu jika saat ini Yana sedang menginginkan kehadiran Max.
"Apa maksudmu Max? Kamu kan sedang di Amerika.."
"Aku bisa naik pesawat sekarang ke Korea.."
"Max jangan bercanda.."
"Aku tidak bercanda Yana.."
"Max!!!"
"Yana!!!"
"Hentikan! ini tidak lucu.."
"Siapa yang lucu?"
"Aku ngantuk aku mau tidur.. aku matikan telponnya.."
"Tadi kamu bilang rindu aku, kenapa sekarang mau menutup telpon?"
"Aku tidak mau berdebat denganmu!"
"Yang ngajak berdebat bukan aku, Yana yang ngajakin tuh.."
"Max stop!"
"No!"
Huft.. jika terus begini tak akan ada ujungnya. Sifat kekanakan Max yang membuat Yana menjadi dirinya sendiri. Diam-diam Yana menikmati setiap perdebatannya dengan Max, baik itu bertemu langsung atau melalui telepon.
"Kenapa kamu repot-repot begini Max?"
"Karena aku juga merindukanmu.."
Kalimat yang terakhir membuat jantung Yana seperti tertikam pisau untuk kedua kalinya.
Bersambung...
__ADS_1