
Empat orang saling berhadapan tanpa bicara. Masing-masing sedang bergumul dengan pikirannya. Max duduk disebelah Yana berhadapan dengan Taejoon yang duduk disebelah Jieun.
Situasi rumit ini masih berlanjut.
Pesta yang sudah direncanakan sedemikian rupapun berantakan.
"Jieun.. Taejoon.." Yana buka suara.
Orang yang namanya dipanggil terkejut. Jieun dan Taejoon sontak mendongak. Awalnya wajah mereka menunduk. Tak sanggup untuk bertatapan dengan Max.
Max sendiri merasa seperti pasangan yang tertangkap sedang selingkuh. Kecanggungan dalam situasi rumit ini menyiksanya. Mau bagaimana lagi. Situasinya tak menguntungkan sama sekali. Tak ada pilihan lain selain mengakui semuanya.
"Jadi begini.." Mulut Max gatal.
Mendengar Max membuka suaranya Yana *** tangan Max disebelahnya. Kepalanya menggeleng pelan 'jangan'.
Max *** tangan Yana 'tidak apa-apa'. Mereka saling menukar pandang.
Dua pasang mata di depan mereka memperhatikan dengan seksama. Ada sesuatu diantara mereka. Antena Jieun menyala.
"Tolong jangan salah faham.." Lanjut Max.
"Tidak-tidak.. Aku dan Taejoon mana mungkin salah faham.. ya kan Taejoon?" Jieun menepuk pundak Taejoon dengan keras hingga Taejoon terperanjat.
"Ya.. Ya.." Taejoon menjawab seperti orang gagap.
"Jadi begini.. kita.."
"Max berhenti.." Sela Yana cepat. Max pasti akan mengungkapkan hubungan mereka. Tapi Yana belum siap. Dengan cepat Yana menutup mulut Max dengan tangannya. Kemudian dia menggeleng penuh keputus asaan.
Adegan yang tidak elit itu lagi-lagi membuat Jieun dan Taejoon terkejut. Mata Jieun menyipit memandang dua manusia yang terus saja menutupi hubungan mereka.
"Aku sudah dengar tadi dari Max kalau kalian pacaran Yana.. Ucapan Max tadi sangat jelas sekali terdengar di telingaku.." Jieun berkacak pinggang.
Apalagi yang mau disembunyikan. Semuanya sudah terpampang nyata di mata Jieun. Yana saja yang naif. Taejoon mungkin telmi, tapi Jieun adalah pengendus yang hebat. Diperkuat dengan pekukan dan ciuman Max ke Yana. Semua yang terlihat tak terbantahkan.
"Hah?" Yana otomatis melepas tangannya dan kembali duduk tenang.
Mendengar? Kapan? Pasti saat itu otak Yana lagi blank. Jadi sudah ketahuan nih? Yana menggigit bibir bawahnya. Sadar betul akan situasi saat ini.
__ADS_1
"Sejak kapan kalian pacaran?" Mata Jieun menatap Yana dan Max bergantian.
Sejak kapan situasinya berubah? Yana dan Max seperti di interogasi. Yana menundukkan wajahnya sedangkan Max mencuri pandang ke arahnya.
"Sudah lama. Kalian teman Yana kan? Perkenalkan aku Han Jungwoo.. panggil aku Max. Mungkin kalian sudah pernah melihatku. Tapi ijinkan aku memperkenalkan diriku sebagai pacar Yana. Mohon bantuannya.." Max memperkenalkan diri dengan sopan. Senyum manisnya terukir.
Jieun melongo melihat kelancaran bahasa Max. Tak ada raut wajah gelisah atau khwatir karena dia yang notabene seorang artis baru saja kepergok menjalin hubungan. Apakah mereka sudah terlatih dalam situasi darurat? Luar biasa. Jieun membatin dalam hatinya. Benar-benar beda.
Wajah tampannya juga terkontrol dengan baik. Jieun terpesona. Yana sangat beruntung mendapatkan Max. Satu pertanyaan yang mengganjal dalam hati Jieun, darimana Yana memungut makhluk Tuhan paling seksi ini..
"Oh hai.. aku Song Jieun dan sebelahku Kang Taejoon. Kami teman kampus Yana.." Jieun memperkenalkan dirinya dengan canggung.
Kang Taejoon bahkan menggaruk telinganya yang tidak gatal. Dia bingung harus merespon bagaimana. Dia hanya tahu Max adalah seorang artis. Hanya itu saja. Tak banyak yang dia tahu. Makanya Taejoon memilih untuk pasif dan mengiyakan dominasi Jieun.
"Hai juga Jieun dan Taejoon.. bolehkah aku memanggil kalian dengan akrab begini?"
"Tentu saja.." Suasana tegang mulai mencair.
"Berarti kita teman kan sekarang?"
Yana tersentak. Dia mendongak menatap Max.
"Bolehkah aku meminta satu hal sebagai teman?"
"Boleh. Katakan saja.."
"Tolong rahasiakan hubungan kami. Kamu tahu kan posisiku seperti apa. Aku tidak khawatir dengan diriku atau karirku. Tapi aku khawatir dengan Yana.. bisa kan?"
Yana, Jieun dan Taejoon melongo bersama. Mereka kompak menatap Max.
Yana dengan tatapan haru dan jantung berdebar. Max sedang mengkhawatirkan dia sekarang.
Jieun dengan tatapan tak percaya jika Max ternayata romantis. Dia mengidolakan Antony di DAMN! tapi sekarang setelah bertemu Max dan berbincang beberapa menit idola Jieun berganti, idolanya sekarang adalah Max.
Taejoon dengan tatapan sesama pria. Max sangat gentle and manly. Entah. Taejoon kehabisan kata-kata untuk mendefinisikan aura Max yang menguar kemana-mana.
"Bisa kan? Tolong dukunga hubungan kami.."
Max menarik tangan Yana, menggenggamnya kemudian mengangkatnya sebagai bukti dia serius.
__ADS_1
"Kami pasti akan merahasiakannya.. Max.. tenang saja. Kami akan akan mendukung hubungan kalian.." Jieun menjawab dengan nafas tak teratur. Jantung meledak bak petasan malam tahun baru.
"Terima kasih.." Senyum Max kembali mengembang.
Untung saja Jieun bukan ice cream. Coba kalau dia ice cream kemudian terkena paparan panas Max, bisa-bisa di meleleh.
Apa kabar jantung Yana yang tiap hari berhadapan dengan makhluk Tuhan paling seksi ini ya. Sudah tampan, sexy lagi. Duh Yana, jurus apa yang kamu pakai. Tiba-tiba otak Jieun mengkhayal tak tentu arah. Bertanya-tanya dalam hati bagaimana Max dan Yana pacaran. Namun dia menepisnya, hal itu bisa ditanyakan kapan-kapan. Yang terpenting sekarang adalah, Max yang ada di depan matanya. Nyata. Real.
"Apakah kalian sedang berpesta?"
Ucapan Max membuyarkan kehaluan Jieun.
"Ah rencananya sih begitu.. tapi.."Jieun ragu sejenak. "Tiba-tiba kami harus segera pergi karena ada urusan mendadak.. ya kan Taejoon?" Jieun berkedip pada Taejoon yang jadi kambing congek sejak tadi.
"Hah? Ah iya.. kami harus buru-buru pergi.. silahkan nikamti waktu kalian.."
Untungnya Taejoon merespon cepat.
"Apakah aku mengganggu?"
"Tidak. Tidak. Taejoon ayo kita pergi. Kita bisa terlambat nanti.." Jieun mencubit tangan Taejoon, memberinya kode untuk segera bangkit.
"Ya ayo cepat.."
Dengan tergesa-gesa Jieun dan Taejoon berjalan ke pintu. Membuka gagang pintu dan menghilang secepat kilat.
Hening.
Yana masih menunduk. Dia tak mampu mengangkat kepalanya. Malu. Itulah yang dia rasakan sekarang.
"Kyaaa.."
Pandangan Yana kabur. Tubuhnya berada di udara. Max tiba-tiba mengangkat tubuhnya. Menjatuhkannya di atas kasur sedikit kasar.
"Max!"
"Sstt.. aku merindukanmu.."
Max mencium pipi Yana yang memerah.
__ADS_1
Bersambung...