
Inikah rasanya jatuh dari ketinggian setelah berada disana dan tidak pernah berfikir akan terjatuh?
Begitulah perasaan Yana.
Kecewa?
Bukan. Itu lebih dari kecewa.
Lalu apa?
Entahlah. Rasanya sangat sakit. Hingga untuk berjalan tegakpun tak sanggung. Kaki ini rasanya tertusuk sesuatu jika melangkah.
Aku sekarat.
-----
"Kamu yakin?"
"Iya.. aku yakin. Semuanya sudah selesai. Aku harus segera pulang. Keluargaku menungguku.."
Isak tangis memenuhi ruangan. Dua diantara tiga orang yang ada menangis sambil berpelukan. Satu orang lagi yang seorang pria hanya diam tak mampu menunjukkan ekspresinya, dia juga sedih.
-----
Berita kencan Max menyebar keseluruh penjuru dunia. Banyak yang mengelu-elukan jika mereka akan menjadi couple of the year.
Max & Swan resmi berpacaran.
Diam-diam menjalin hubungan satu tahun.
Teman masa kecil yang menjadi sepasang kekasih.
Setelah klarifikasi Max lewat IM Entertainment di balas oleh klarifikasi Swan dari pihak manajemennya, mereka menjadi sepasang kekasih yang paling disorot saat ini.
Berita skandal yang melibatkan Max terjawab sudah. Gadis yang wajahnya tak jelas itu ternyata model papan atas Swanlove Ruby. Sesuai dengan ekspektasi khalayak publik. Merekapun berbondong-bondong memberikan dukungan untuk hubungan Max dan Swan.
IM Entertainment kembali pulih setelah mengalami krisis. Jadwal Max kembali teratur. Dia jadi lebih sibuk daripada biasanya. Tawaran iklan berdatangan, termasuk iklan berdua sebagai pasangan dengan Swan.
Hanya segelintir orang yang tahu jika semua itu adalah panggung sandiwara. Semuanya adalah bagian dari kesepekatan Max dan Swan.
Tak banyak yang tahu, termasuk Yana juga orang yang tidak tahu jika itu sandiwara. Setelah dia bangun dari pingsannya, dia belum bertemu Max. Seo Woon mengatakan jika Max ada urusan penting dan dia diantar pulang ke apartement. Yana tak menaruh curiga apapun hingga berita besar muncul di televisi yang dia lihat.
Jantungnya melonjak. Apa-apaan itu?
Lagi-lagi ponsel Max tak bisa dihubungi. Yana segera menelpon Seo Woon menanyakannya. Jawaban yang keluar dari mulut Seo Woon membuat Yana tercengang.
"Maaf.."
Satu kata berjuta makna.
__ADS_1
Kata itu terngiang di kepala Yana. Dia berusaha mencari tahu tapi sia-sia. Dia tak tahu harus bertanya pada siapa. Harus kemana untuk mencari. Apa yang sebenarnya terjadi? Jika itu kesalahfahaman, tak ada yang datang meluruskannya. Max menghilang.
Tiba-tiba dalam waktu singkat Max jauh dari jangkauannya.
Diakhir ucapannya Seo Woon mengatakan "Tunggu.."
Tunggu? Tak ada petunjuk apapun. Yana memikirkan apapun karena tidak ada yang memberitahunya.
Satu hal yang dia sadari, Max telah membuangnya.
-----
"Tidak ada yang tertinggalkan kan?" Seru Jieun.
"Aku hanya membawa barangku saja. Semua barang dari dia akan aku tinggalkan.." Jawab Yana.
"Kamu yakin tidak perlu kami antar ke bandara?" Celetuk Taejoon.
"Aku akan mampir ke suatu tempat. Kalian kan sedang sibuk mencari kerja. Jangan pedulikan aku. Aku bisa sendiri.."
Jieun berlari kemudian memeluk Yana. Tangisnya semalam kurang cukup untuknya. Perpisahan selalu menyakitkan.
"Aku akan merindukanmu.." Air mata Jieun meleleh.
"Aku juga.. aku akan mengunjungi kalian suatu hari nanti.."
Mereka bertiga berpelukan sambil menangis. Air mata Taejoon yang tertahan semalam akhirnya pecah juga.
-----
IM Entertainment
Kita hanya punya sepotong hati bukan? Satu-satunya.
Potongan hati Yana itulah untuk Max.
Langkahnya berat masuk lobi perusahaan hiburan terbesar di Korea. Skandal Max dan Swan semakin menaikkan pamot IM Entertainment.
"Permisi.. saya ingin bertemu dengan manajer Seo Woon.." Sapa Yana lembut.
"Anda sudah membuat janji Nona?"
"Belum.."
"Manajer Seo saat ini sedang di luar untuk mengatur jadwal artisnya.."
Yana terdiam. Seo Woon adalah manajer Max. Berarti saat ini dia sedang bersama Max. Yana bimbang. Ada yang ingin dia berikan pada Seo Woon, lebih tepatnya menitipkan. Yana tak sanggup bertemu Max. Jalan satu-satunya adalah bertemu Seo Woon. Tapi ternyata dia juga sibuk.
Yana bergumul dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Yana.."
Sontak Yana menoleh.
"Ah ahjussi.." Jawab Yana reflek.
Di belakang Seo Woon terlihat Max berjalan masuk lobi perusahaan diikuti beberapa staffnya. Mereka datang seperti rombongan.
Hatinya berdesir ketika Max semakin dekat dan tatapan mareka bertemu. Langkah Max langsung berhenti dan matanya terbelalak.
Ekspresi Max saat ini menyakiti Yana. Dia merasa seperti kotoran yang harus dihindari. Yana meringis dalam hati. Tangannya menekan dadanya yang sakit.
"Kamu mencariku?" Seo Woon kikuk.
"Iya.. ah maaf. Salam untuk manajer Seo.." Yana membungkuk memberi salam.
Seo Woon dan Max terkejut. Yana tiba-tiba sangat sopan pada mereka.
"Ada yang ingin saya bicarakan. Anda punya waktu sebentar?" Yana memaksakan senyumnya. Pandangannya lurus pada Seo Woon. Dia sengaja menghindari kontak mata dengan Max.
Pria itu telah mencampakkannya. Dia tak mau terlihat lemah di mata pria brengsek itu.
"Ajak temanmu masuk ke dalam hyung. Disini banyak orang yang melihat.." Suara Max menggelegar. Dia berjalan maju melewati Yana begitu saja.
"Temanmu?"
Batin Yana menangis.
"Maaf aku tidak punya banyak waktu manajer Seo. Aku harus mengejar penerbanganku.."
Deg
Langkah Max terhenti dan dia menoleh pada Yana dan Seo Woon yang saling berhadapan.
"Aku hanya ingin mengembalikan ini.. terima kasih atas kebaikan anda selama ini.."
Yana menyodorkan sebuah kunci dan segera diterima oleh Seo Woon.
"Jika ada kesempatan lain saya akan sangat senang bisa bertemu dengan anda lagi nanti. Saya akan pulang ke Indonesia.. sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Saya harap anda hidup bahagia. Saya juga akan hidup dengan bahagia di tempat asal saya.." Suara Yana bergetar.
Sekali lagi dia menunduk kemudian tersenyum dengan tulus. Ingin sekali dia mengatakan semua itu pada Max namun Yana tak sanggup. Dia tak sanggup melihat ekspresi Max jika mendengarnya.
"Maaf jika saya merepotkan manajer Seo.. saya pamit.."
Masih dengan senyum yang tulus Yana segera berlari keluar lobi. Tanpa menoleh dia terus berjalan kemudian melambai pada taksi.
Tangisnya pecah di dalam taksi.
"Bukan kamu yang membuangku Max. Akulah yang membuangmu. Berani-beraninya kamu denganku. Aku takkan sudi melihat wajahmu lagi. Aku benci kamu.."
__ADS_1
Begitulah kesalahfahaman mereka yang tak pernah dijelaskan oleh siapapun.
Bersambung...