
Yana keluar setelah Max. Dia perlu merapikan riasannya kembali. Bukan hanya itu, cairan Max yang tak tertampung semua di dalam perutnya menetes ke lantai dan Yana perlu membersihkannya. Dia menyemprotkan parfum ke beberapa titik untuk menyamarkan bau. Bau cairan itu masih kental tercium. Dia tak ingin siapapun curiga. Max jadi liar selama mereka ada di New York. Yana kewalahan mengatasi gairah Max yang tak tahu tempat. Untungnya besok adalah hari terakhir mereka di New York. Jika mereka tinggal lebih lama Yana pasti akan mati berdiri karena malu.
-----
"Impianku berbelanja dengan anak perempuanku akhirnya terkabul berkat Yana.. terima kasih sayang.." Ucap Nyonya Han.
Yana tersenyum simpul. Rasa tidak nyamannya tadi kabur tak bersisa.
Dia keluar dari ruang istirahat Max di tempat pemotretan tadi dengan keadaan yang sedikit kacau. Wajah Yana pucat pasih karena takut ketahuan. Tapi untung saja Nyonya Han ataupun Seo Woon tak bereaksi apapun. Max apalagi. Setelah membuat Yana berantakan tak ada perubahan apa-apa pada dirinya. Secara alami dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
"Dasar manusia tak punya hati nurani.."
Jika Max punya hati nurani. Max pasti akan seperti dia, malu dan takut. Max malah baik-baik saja. Seolah tak ada yang terjadi. Hal itulah yang membuat Yana kesal. Selalu Yana yang harus menanggung perasaan itu sendiri.
"Hari ini mari kita shopping sepuasnya. Apa yang kamu inginkan Yana? Bilang saja. Ibu akan membikannya untukku.."
Yana menggeleng.
Barang yang diinginkan?
Yana tak pernah sungguh-sungguh menginginkan sesuatu. Dia telah lupa pernah menginginkan sesuatu. Kerasnya hidup membuatnya harus menelan semua keinginannya. Apapun yang dia inginkan pasti tak akan terwujud karena hidupnya yang miskin.
"Barang-barang ini cantik bukan?"
Nyonya Han mengajak Yana ke Madison Avenue. Terletak di daerah Manhattan, Madison Avenue adalah pusat toko–toko barang bermerek. Disana banyak barang-barang merek terkenal seperti Prada, Gucci, Coach, hingga masuk ke Department Store terkenal Barney’s New York.
Yana tak begitu mengenal barang kelas atas. Menurutnya hanya ada barang yang bagus atau batang yang kurang bagus. Karena semua sama bagi Yana, dia tak begitu tertarik. Max sering membawakan sesuatu ketika pulang dari bepergian jauh. Yana tak suka tampil glamor jadi dia menyimpannya di lemari.
Sementara Nyonya Han berbicara dengan pelayan toko, Yana berjalan melihat-lihat seluruh isi toko.
Alis Yana terangkat. Bulan lalu Max pulang dari Jepang membawakannya sebagai oleh-oleh. Persis. Sebuah tas yang familiar dengan tagline 'Blind For Love'. Yana baru tahu jika tas itu dari Gucci. Walaupun miskin sedikit banyak Yana tahulah merk barang-barang mewah. Tas itu langsung masuk lemari sejak pertama kali datang ke apartementnya. Tas kecil berwarna biru muda dengan ukuran kecil. Yana biasa membawa banyak barang jadi dia memerlukan tas yang besar. Tas itu tentu tak menarik hatinya.
Tangan Yana iseng meraih label harga yang menempel di tas itu.
__ADS_1
6.700 $
90 juta rupiah? Yana hampir tersedak salivanya sendiri. Hanya untuk satu tas kecil? Seketika kepala Yana pusing. Memikirkan uang sebanyak itu hanya untuk satu tas, jiwa miskin Yana berontak.
Tiba-tiba dia memikirkan tas miliknya di lemari apartementnya. Ada sekitar lima tas yang pernah diberikan oleh Max. Itu belum dihitung dengan sepatu, perhiasan dan beberapa pakaian. Yana menyimpannya dengan rapi di lemari. Belum pernah dia pakai sama sekali. Pikirnya itu adalah barang mahal, tapi ternyata itu lebih dari mahal, bahkan sangat mahal. Yana punya PR begitu dia sampai di Korea. Mencari harga dari barang-barang yang diberikan Max.
"Apakah kamu suka itu?" Suara Nyonya Han dari belakang membuyarkan lamunan Yana.
"Ah tidak. Saya hanya melihat-lihat saja.." Jawab Yana segera kembali ke tempat ibu Max.
"Pilihlah satu. Ibu akan memberikannya sebagai hadiah.."
"Tidak perlu bu.. terima kasih.."
"Ayolah.. anggap sebagai bayaran karena sudah menemaniku hari ini. Bagimana?" Desak ibu Max.
Yana menggeleng. Jujur tak ada yang dia suka. Tapi karena di dipaksa, tak ada pilihan lain selain memilih salah satu. Yana menunjuk acak selah satu tas yang ukurannya lebih kecil dari miliknya dirumah. Pikirnya jika ukurannya lebih kecil harganya pasti lebih murah.
Puas berbelanja dengan Yana, Nyonya Han mengajak Yana beristirahat sejenak. Tempat yang dia pilih adalah Lady M Cake Boutique. Nyonya Han sengaja mengajak Yana kesini karena di tempat ini ada makanan kesuakaannya yang sekaligus makan favorit milik Lady M. Mille Crepes, itulah namanya.
Mille Crepes cake merupakan kue klasik dari Prancis yang terdiri dari 20 lapisan tipis crepes. Di mana di setiap lapisan crepes ini dipisahkan dengan olesan tipis krim pastry ala Prancis. Kata 'mille' sebenarnya berarti ribuan yang mengacu pada banyaknya lapisan crepes di kue ini.
"Terima kasih sudah menemaniku jalan-jalan Yana.." Ucap Nyonya Han.
"Saya juga senang bisa jalan-jalan dengan ibu.."
"Aku akan meminta pada Max agar sering membawamu ke New York. Kamu tahukan hidupku itu sangat kesepian. Tinggal terpisah dengan Max dan ayah Max yang terlalu sibuk.."
"Saya akan senang hati datang jika ibu mengundangku kemari.."
Yana menggenggam tangan ibu Max. Hidupnya juga terpiasah sengan orang tuanya. Kurang tauanya pasti sama sedihnya dengan ibu Max.
"Max bilang kamu juga hidup terpisah dengan orang tuamu?"
__ADS_1
Yana mengangguk lembut.
"Pasti itu sulit kan?"
Yana mengangguk lagi.
"Tolong hibur Max jika dia merasa kesepian. Walaupun sepertinya itu tidak mungkin terjadi. Max itu anak yang paling tega dengan ibunya. Dia tidak pernah mengunjungiku sebelum aku yang memintanya duluan. Tapi hati orang siapa yang tahu. Hidup itu sangat keras. Pasti Max pernah mengalami kesulitas.."
"Karena aku tidak ada disampingnya, aku mau meminta bantuan Yana. Tolong selalu berada di samping Max. Gantikan aku sebagai ibunya yang tidak bisa setiap saat memeluknya.." Ucap Nyonya Han tulus. Matanya berkaca-kaca.
"Pasti bu.. aku akan selalu di samping Max.."
"Terima kasih Yana.. kamu memang anak yang baik.."
Senyum Yana mengembang.
"Aku lega Max mendapatkan Yana. Sepertinya Max telah menemukan teman hidup yang baik.. semoga hubungan kalian langgeng.."
"Ya bu.. terima kasih atas restu ibu.." Mata Yana juga berkaca-kaca.
Mereka berdua saling berpelukan penuh haru.
Nyonya Han semakin yakin jika Yana adalah orang yang tepat untuk Max. Baru pertama kalinya Nyonya Han melihat mata seorang gadis yang tidak serakah dan ambisius. Tak pernah dia melihat seorang gadis muda yang tidak tertarik dengan barang mewah di toko yang dia kunjungi tadi.
"Apakah karena dia orang biasa?"
Tapi banyak orang biasa yang berubah menjadi liar setelah berhadapan denga uang. Namun Yana berbeda. Yana mungkin satu-satunya gadis yang tidak tertarik dengam barang-barang mewah seperti tadi.
Nyonya Han bernafas lega. Yana pasti bisa mengubah Max menjadi lebih baik.
Nyonya Han yakin itu.
Bersambung...
__ADS_1