
"Apa yang sudah aku lewatkan ini?"
Suara Seo Woon memecah kemesraan yang sedang terjalin. Dia sepertinya ketinggalan sesuatu yang penting. Max yang sedang memeluk Yana, para pelayan menundukkan kepalanya, dan ibu Max yang mematung melihat adegan romantis Max dan Yana. Pemandangan itulah yang dia lihat ketika masuk rumah.
Yana segera melepas pelukan Max. Dia menyeka air mata dengan punggung tangannya. Namun Max sepertinya enggan berpisah. Tangannya mengelus pipi Yana pelan.
"Sudah makan hmm?" Max meraih dagu Yana kemudian mengangkatnya.
Mata Yana merah karena menangis. Make up yang dia pakai sedikit berantakan. Melihat ibu Max di kejauhan dan Seo Woon yang berjalan mendekat tubuh Yana tersentak. Sekilas dia juga melirik para pelayan yang sedang menundukkan kepalanya. Baru saja terjadi drama antara dia dengan Max. Pipi Yana memerah. Sadar akan situasi yang dia buat.
"Astaga.. lagi-lagi aku seperti lalat yang berterbangan.." Woon mendengus kesal.
Jika sudah di depan Yana, Max tak akan menghiraukan kebaradaan senyawa lain.
"Woon-a.. kaukah itu?" Nyonya Han berjalan menghampiri Woon.
"Bibi.. kapan kembali?"
"Tadi pagi.. bagaimana kabarmu? Lama tak bertemu.. apakah satu tahun lalu kita saling menyapa?"
Nyonya Han memeluk Seo Woon. Ibu Woon adalah kakak suaminya. Keluarga Woon menetap di Korea. Pertemuan keluarga besar Han hanya bertemu beberapa kali dalam setahun.
"Apa kabar bibi dan paman?"
"Kami baik-baik saja.. bagaimana kabar orang tuamu?"
"Mereka baik. Kapan bibi akan mengunjungi kami di Korea?"
__ADS_1
"Segera mungkin.." Nyonya Han tersenyum lebar.
Mereka sibuk sendiri mengabaikan Max dan Yana sebagai gantinya. Mereka juga di abaikan Max di tempat pertama.
"Apakah reuni kalian sudah selesai?" Suara Max merenggut kebahagiaan kecil Nyonya Han yang bertemu keponakannya.
"Lihatlah dia Woon.. lama tak bertemu tapi sekali bertemu malah disalah fahami.. apakah dia sekarang semakin menjengkelkan?" Ucap Nyonya Han melirik Max sekilas.
"Bibi tidak tahu apa yang harus aku terima setiap hari jika itu menyangkut Yana.. sangat sulit untukku bibi.." Woon tertawa kecil.
Nama Yana disebut. Darah panas mengalir dipipi Yana, dia malu. Subjek yang disebut Woon adalah dia. Ini pasti berhubungan dengan sikap Max karena dia.
"Apapun tentang Yana sangat penting buatku.."
"Astaga.. lihatlah betapa pintarnya anakku. Tidak memberi salam karena bertemu ibunya tapi malah sibuk dengan kekasihnya.. aku benar-benar sedih Woon.."
"Sapa ibumu Max.. tadi itu salah faham.." Yana mendorong tubuh Max untuk memberi salam pada ibunya.
"Aku kira ibu menyakiti Yana.. maafkan aku ibu.. bagaimana kabar ibu? Bukankah harusnya kembali besok?"
Max memeluk ibunya kemudian mencium kedua pipi ibunya.
"Ibu baik-baik saja. Ada Yana disini tentu saja ibu harus pulang.. dan tidak mungkin ibu menyakiti Yana. Kita berteman sekarang.." Jelas ibu Max menunjul Yana dengan lirikannya.
Max sedikit terkejut. Tak menyangka Yana akan akrab dengan ibunya secepat ini. Untunglah kecemasannya juga tak berarti. Ibunya menyukai Yana. Awalnya Max memiliki beberapa rencana. Jika orang tuanya tidak menyukai Yana dia akan memaksa mereka. Apapun itu. Tujuan utamanya Max mengajak Yana ke rumahnya di New York adalah Max ingin orang tuanya mengenal Yana. Saat dia menikahi Yana mereka setidaknya harus bertemu satu kali. Kata-kata menikah masih samar diotak Max, dia masih ragu dengan keputusannya. Tapi hubungannya dengan Yana tak mungkin jalan ditempat terus. Max menyerahkan semuanya pada sang waktu.
"Bagaimana kalau kita makan malam dulu?" Ucap ibu Max.
__ADS_1
"Ibu dan Woon hyung dulu saja. Aku akan menemani Yana mengobati lukanya.."
"Aku baik-baik saja Max. Aku akan menyusul kalian. Pergilah.." Yana terus mendorong Max untuk dekat dengan ibunya.
"Mereka bisa makan tanpa aku. Tapi lukamu serius. Aku akan menemanimu.."
"Pergilah Max.. aku tidak apa-apa.."
"Kamu yakin?"
Yana mengangguk.
"Segera menyusul jika sudah selesai.. bantu Yana mengobati lukanya.." Titah Max pada beberapa pelayan.
Max memapah Yana kembali duduk disofa. Matanya menatap Yana penuh cinta. Kekasih hatinya terluka. Bahkan jika luka itu hanya seujung jari Max tetap terluka. Tatapannya memindai Yana. Tatapan itu terkunci di tubuh Yana bagian atas. Kaos putih ketat itu menarik perhatiannya. Tak ada yang salah. Pakaiannya tampak serasi namun ukuran kaos itu terlalu ketat hingga menunjukkan dada Yana yang berisi. Max tak suka menunjukkan miliknya ke orang lain. Para pelayan tak harus membuatnya sangat cantik. Tanpa polesan Yana sudah cantik. Dia tak ingin menunjukkan pertamanya yang indah ke dunia luar. Dia harus menindak para pelayan yang melayani Yana.
"Apakah Jungwoo selalu seperti itu?"
Han Jungwoo adalah nama asli Max. Nama Max hanyalah nama panggung.
Ibu Max kembali memperhatikan sikap anaknya. Raut wajah anaknya seperti dunianya telah runtuh melihat Yana terluka. Hanya luka kecil saja Max menghebohkan dunia. Bagaimana jika Yana meninggalkan Max? Nyonya Han menyingkirkan pikiran itu buru-buru. Yana adalah gadis yang baik, dia takkan menungkin menghianati putranya.
"Lebih dari itu bibi.. di matanya hanya ada Yana.." Jawab Woon jujur.
Tampaknya atmosfer keluarga Han telah berubah. Hawa dingin yang biasa di rasakan ibu Max karena hidup dengan dua pria yang dingin, suami dan anaknya, telah menghangat. Kehangatan itu dibawa oleh seorang gadis cantik, Yana.
Bersambung..
__ADS_1