
Yana membuka matanya karena terusik dengan sebuah tangan yang memeluk perutnya erat. Setelah masuk ke dalam kamar, Yana langsung merebahkan tubuhnya tanpa mandi terlebih dahulu, waktu sudah larut malam dan Yana sudah tidak sanggup lagi untuk pergi mandi. Baru sebentar saja merebahkan tubuhnya di kamar tamu milik Max, Yana sudah berkelana ke alam mimpi. Namun tidur nyenyaknya yang baru beberapa jam itu terusik karena Yana merasakan sebuah tangan bergerak-gerak menyentuh kulit perutnya kemudian melingkar dan memeluk perutnya. Yana berusaha membuaka matanya, rasa kantuk seolah enggan membiarkan kelopak matanya terjaga.
Dengan setengah sadar Yana bangkit dari tidurnya namun gagal, pelukan erat itu mampu membawanya ke posisi awal, terbaring. Yana coba memalingkan wajahnya ke arah tangan yang memeluknya, ternyata pemiliknya adalah Max. Max dengan nyamannya tertidur sembari memeluk erat perut Yana.
Yana terdiam, tubuhnya menghadap ke arah Max. Tentu saja Yana sedikit kesulitan membalikkan tubuhnya melihat pelukan Max yang erat.
“Max.. bangun.. kenapa kamu bisa tidur disini?” Yana menyisir rambut Max, merapikan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Max dengan pelan.
Memandang wajah Max yang polos ketika tidur membuat hati Yana berdesir. Perasaan yang selalu dipungkiri menamparnya keras. Nyatanya jantung Yana akan berdetak tak beraturan ketika berdekatan dengan Max, jatuh cinta ini sungguh menyakitkan bagi Yana. Bahkan Yana setuju membantu Max bukan karena hutang tiga juta won nya, lebih karena dia ingin selalu dekat dengan Max. Meskipun hanya menjadi media penyembuhan penyakit Max, Yana sedikit senang karena dia berperan dalam hidup Max. Jika Max nanti melupakannya ketika penyakit itu sudah sembuh, Yana tak mempermasalahkannya. Yana ingin memanfaatkan waktunya sekarang bersama dengan Max, itu saja. Tidak berlebihan kan keinginan Yana?
Yana merapatkan tubuhnya dalam pelukan Max. Tangannya mengelus kepala Max, memastikan jika Max tidur dalam posisi yang nyaman.
“Aku tidak ingin malam ini cepat berlalu Tuhan.. tolong..” Gumam Yana lirih dengan air mata mengalir pelan dari dua sudut matanya.
__ADS_1
----
Sekuat tenaga Max mencoba untuk tidur tapi usahanya sia-sia, bukan karena ada orang lain disebelah kamarnya, tapi karena Max juga menderita insomnia. Terakhir Max bisa tidur dengan nyenyak adalah setelah memeluk Yana satu bulan yang lalu kira-kira.
Max mengusak kasar rambutnya, malam ini dia sama sekali tak bisa terpejam. Biasanya minimal tiga sampai empat jam dia bisa istirahat, tapi hari ini sama sekali tak bisa.
Awalnya sempat ragu, tapi tangan Max dengan pasti membuka knop pintu kamar tamu yang digunakan Yana. Kamarnya terang benderang, tak seperti dia yang suka tidur dalam kegelapan. Melihat Yana yang tertidur dengan pulasnya Max menjadi iri. Dia rebahkan tubuhnya disamping tubuh Yana sementara tangannya meraih perut Yana kemudian memeluknya. Rasa hangat menjalar disekujur tubuhnya. Seolah kurang puas dengan pelukannya, tangan Max menyusup kedalam perut Yana kemudian memeluk posesif punggung Yana. Rasa hangat lagi-lagi menjalar ditubuhnya. Tak menunggu lama mata Max terpejam dan berkelana ke alam mimpi menyusul Yana.
-----
Dengan sedikit gontai Yana bangun dari tidurnya.
“Max..” Panggil Yana dengan suara parau.
__ADS_1
Tak ada jawaban.
Yana mencari di kamar mandi juga tidak ada. Mungkin Max sudah kembali ke kamarnya sebelum Yana bangun. Ketika hendak keluar kamar langkah Yana terhenti melihat secarik kertas di atas meja kecil samping kasur yang dia gunakan tidur. Langkahnya mendekat kemudian meraih kertas itu.
Aku mengejar penerbangan pertama untuk kembali ke
Florida. Aku akan menelponmu nanti. Pulang naik taksi dengan uang yang aku
tinggalkan. Sampai bertemu lagi.
Max.
Yana menatap nanar uang pecahan lima puluh ribu won sebanyak tiga lembar.
__ADS_1
Entah kenapa hati Yana terasa perih.
Bersambung...