My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
50. After Dinner


__ADS_3

Makan malam bersama berakhir dengan kecanggungan satu sama lain.


Yana yang pertama pamit mengundurkan diri kembali ke kamar. Dia sudah tidak sanggup menanggung malu. Max tampaknya baik-baik saja menanggapi ucapan ibunya tapi Yana tidak. Jantungnya hampir meledak dan pipinya terasa panas. Ibu dan anak memang mirip sifat blak-blakannya.


"Aku akan mengganti pakaian sendiri.. kalian istirahatlah.. terima kasih atas bantuannya hari ini.." Yana mengusir para pelayan yang mengikutinya kembali ke kamar.


"Baik Nona.. semoga tidur anda nyenyak.."


Para pelayan menunduk memberi hormat kemudian satu persatu meninggalkan kamar Yana.


"Bisa gila aku lama-lama disini.. apa? Hamil? Anak? Aku bahkan tak berfikir sampai disitu. Aku mengandung anak Max? Astaga!!" Yana menjerit.


Dia tak percaya dengan kata-katanya sendiri. Tidak bisa dipungkiri jika dia bisa saja hamil melihat hubungannya dengan Max. Max juga tak memakai pengaman sama sekali jika berhubungan dengan Yana. Benar apa yang dikatakan ibu Max.


"Astaga!!!"


Tangan Yana bergerak mengipas pipinya yang terasa panas. Mulai sekarang dia harus membatasi hubungannya dengan Max. Kalau tidak, kekhawatiran ibu Max akan menjadi kenyataan.


Setelah mengganti pakiannya dengan gaun tidur, Yana membuka perban ditangannya yang terluka. Itu hanya luka kecil. Berlebihan sekali jika sampai diperban. Betisnya yang tergores juga tidak sakit lagi. Selesai membersihkan diri Yana langsung naik ke kasur. Dia segera menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut. Hari ini cukup sampai disini saja.


-----

__ADS_1


Menjelang dini hari Max masuk ke kamar Yana. Setelah berbincang panjang lebar dengan ibunya dan Seo Woon akhirnya selesai. Perbincangan mereka seputar IM Entertainment dan hal kecil lainnya, termasuk Yana. Max juga bertanya kapan ayahnya kembali dari Toskana, setidaknya Yana harus menyapa ayahnya selum kembali ke Korea lusa.


Kamar dalam keadaan gelap. Kamarnya berlawanan arah dengan kamar Yana. Tapi Max tak ada niatan tidur di kamarnya malam ini. Sejak melihat Yana memakai kaos putih ketat selama makan malam tadi, gairahnya terbakar. Matanya tak bisa lepas dari dada berisi Yana. Tak peduli ada dimana mereka sekarang, kobaran gairah harus segera dipadamkan. Max juga tak peduli dengan kata-kata ibunya tadi. Jika Yana hamil Max tinggal tanggung jawab. Bereskan?


Dengan kasar Max menendang selimut yang menutupi sebagian tubuh Yana. Cahaya yang minim tak mengurangi sinar tubuh Yana. Dimata Max, tubuh Yana berkilauan. Matanya dipenuhi dengan gairah yang besar.


"Max?"


Yana merasakan rasa panas di tubuh bagian bawahnya. Kakinya di udara dan pahanya ditahan oleh kekuatan yang besar. Kepalanya terangkat untuk melihat bagian bawah. Ada kepala Max terbenam di bawah. Memberikan stimulus-stimulus kecil.


Rasa panas yang menjalari tubuhnya kemudian membuat kesadaran Yana kembali. Tangannya *** seprei dan tubuhnya tergundang. Punggungnya melengkung karena perasaan yang enak. Erangan kecil lolos dari mulutnya.


Suara-suara centil menyusul kemudian. Sentuhan Max di bagian bawahnya sangat memabukkan. Pandangan Yana kabur. Dalam waktu sekejap Max telah membawanya ke puncak kenikmatan. Cairan panas mengalir di pahanya.


"Max hentikan.." Suara Yana terengah.


Kepala Max naik dari bagian bawahnya menuju ke atas. Max mencium acak dari dahi, mata, hidung, bibir dan kemudian menggigit leher hingga meninggalkan bekas merah disana.


Yana mendorong dada Max tapi sia-sia. Seperti biasa, Max sudah menjulang di atasnya dengan gagah berani.


"Kyaa!" Suata Yana berteriak.

__ADS_1


Dia menyilangkan dua tangannya di dada. Tak ada sehelai kainpun menutupi tubuhnya. Saat dia tidur Max sudah melucuti pakaiannya. Max sendiripun sama.


"Teriaklah yang keras Yana. Kamu bisa membawa semua orang kemari.." Seringai Max.


"Lepaskan.. kamu lupa apa yang ibumu katakan tadi.." Yana merendahkan suaranya.


"Kenapa? Kamu tidak mau? Kamu juga menikmatinya kan? Buktinya baru saja kamu...."


"Jangan dilanjutkan! Kamu yang membuatku begitu.." Yana menutup mulut Max dengan kedua tangannya.


Dia malu. Bagaimana bisa Max mengatakannya begitu saja. Wanita bisa klimaks berkali-kali dalam satu kali putaran. Tapi Max tak perlu mengatakannya, hal itu akan membuat Yana semakin malu akan tubuhnya yang bereksi berlebihan pada sentuhan Max.


"Kamu curang. Jangan merasakan enak sendiri. Aku juga mau.."


"Ah!"


Anggota tubuh Yana bagian bawah merasakan dorongan yang kuat tanpa deklarasi sebelumnya. Ketika tangannya hendak mendorong tubuh Max menjauh, langkahnya telah didahului Max dengan menguncinya di atas kepala.


Malam ini menjadi malam yang panjang bagi mereka. Hingga fajar semua baru selesai.


Yana jatuh tertidur seperti orang mati di dalam pelukan Max.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2