My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
85. Duduk Berdua


__ADS_3

"Sesuatu tentang kita sayang.. hanya kita berdua.. itu adalah hal yang intim.."


"Hah?"


Wajah Yana langsung memerah. Jantungnya seperti akan meledak. Darah panas mengalir cepat ditubuhnya.


"Apa maksudmu?" Yana mundur selangkah untuk menjangkau wajah Max.


"Sesuatu yang penting.. masuklah.. aku akan segera menyusul bersama Jemima.. ada hal yang perlu aku urus.."


Yana melirik ke arah orang-orang di ruang tengah. Mereka semuanya kompak tersenyum melihat Yana memperhatikan mereka.


"Apakah itu penting?"


"Tidak. Hanya masalah kecil.." Jawab Max tersenyum.


Bolehkah dia tersanjung hati ini? Sikap Yana sudah melunak, ucapannya lembut dan tatapannya tidak sinis lagi. Max sangat senang, Yana kembali seperti dulu lagi. Pengaruh Jemima sungguh luar biasa untuk hubungan mereka.


"Perlu aku buatkan sesuatu yang hangat?" Yana ragu-ragu.


Rumah ini dipenuhi dengan banyak laki-laki. Setidaknya dia sebagai wanita dewasa harus menunjukkan sedikit sopan santun. Tuan rumah nampaknya tidak peka. Yana melihat meja mereka hanya berisi berkas-berkas dan dua laptop yang menyala. Tak ada gelas minuman atau kudapan.


"Sebentar lagi kami akan selesai. Kamu tidak perlu repot-repot.. masuklah.."


"Ok.. aku juga ada yang ingin ku sampaikan padamu.."


Max menjawan Yana dengan senyum terbaiknya.


Sekilas Yana melirik Jemima yang anteng di lengan ayahnya. Hati Yana kesemutan. Dia melihat romantisme ayah dan anak langsung. Jemima seperti tak mau lepas dari ayahnya.


Langkah Yana gontai kembali ke dalam kamar. Dia langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


-----


Rasanya segar setelah mandi. Yana menghabiskan waktu yang lama di dalam kamar mandi. Terakhir Yana ke rumah Max dia tidak sempat melihat-melihat isi rumah Max. Kamar mandi Max sangat sederhana tapi interiornya sangat menarik. Selain kamar mandi di dalamnya ada walk in closet dan ruang rias.


Yana menjelejahai setiap sudut ruangan. Semuanya adalah barang-barang milik Max. Yana mengenalinya. Dia pernah menghabiskan waktu lebih dari setahun bersama Max. Kurang lebih dia tahu apa yang Max sukai.


Satu persatu Yana memegang barang-barang itu, dimulai dari parfum, sabun, dan banyak lagi yang lainnya. Hati Yana tergelitik. Dia seperti kembali ke dua tahun yang lalu. Tiba-tiba dia teringat dengan apartement milik Max yang pernah dia tempat.


Yana duduk di pinggiran bathup dengan tubuh lemas karena mengenang masa lalunya. Berkali-kali dia menghela nafas dalam.


Astaga. Kenapa dadaku sesak begini..


-----


"Ya Tuhan!" Yana terlonjak. Handuk basah ditangganya terlempar ke lantai.


Yana terkejut melihat Max yang sudah duduk di salah satu sofa dengan Jemima di atas dada Max sedang tidur.


"Ssttt.. Jemima baru saja tidur.."


Alis Yana bertaut. Jemima selalu tenang berada di tangan Max. Anak itu benar-benar mengerjainya.


"Kamu mengagetkanku. Kenapa tidak bersuara? Kapan kamu masuk?"


"Baru saja. Jemima baru saja tidur jadi aku tak mau membangunkannya. Apa tidak apa-apa dia tidur seperti ini?" Max menunjuk Jemima yang pulas di atas dadanya. Pipi gembulnya mendesak dada Max. Tangan Jemima menggelayut di perut Max.


"Sebentar.."


Yana meraih handuk di lantai kemudian menyeka rambut basahnya sebentar. Dia sudah berganti baju santai. Kaos putih polos dengan rok motif floral di bawah lutut. Dia tidak sadar jika Max diam-diam mengamati gerak-geriknya.


Tangan Yana dengan lincah mengeringkan rambutnya yanh sebahu. Rambut basahnya berkilauan di bawah cahaya lampu malam ini. Max sekali lagi tersihir menatap keindahan Yana. Tubuhnya tetap sama meskipun sudah melahirkan Jemima. Max merasa sedih tidak bersama Yana saat dia mengandung Jemima. Max bertekad akan menebusnya dengan cara apapun.


"Jemy belum mandi. Tapi tidak apa-apa, anak kecil tak punya jadwal mandi dengan teratur. Apa Jemy merengek sebelum tidur?"


"Tidak.."

__ADS_1


"Biasanya dia akan meminta susu sebelum tidur. Tapi syukurlah.. aku akan mengganti popok dan bajunya.. kamu ingin mengatakan sesuatu padaku kan? Tungu aku sebentar.. aku akan segera selesai.."


"Tidak apa-apa.. aku bisa menunggu selama apapun demi kamu.." Max tersenyum ceria.


Deg


Ah lagi-lagi senyum itu. Jantung Yana berdetak serampangan.


"Bisa letakkan Jemy di ranjang?" Pinta Yana.


"Oke.."


Yana langsung membuka kopernya dan menganbil baju tidur dan popok Jemima.


Tubuh kecil Jemima menggeliat pelan karena terganggu dengan sentuhan Yana. Dia pelan-pelan melepas baju Jemima dan menggantinya dengan baju tidur yang sangat nyaman.


Max mendekati Yana.


"Ada yang bisa aku bantu?"


"Tolong longgarkan popok ini dan masukkan ke dalam kaki Jemy. Satu-satu ya, pelan-pelan.." Yana memberikan popok celana itu pada Max.


Agak canggung. Max pelan-pelan mengikuti instruksi Yana.


"Ah selesai.." Gumamnya lirih.


Tubuh kecil itu menggeliat pelan. Max menepuk pantat Jemima yang menyumbal ke atas. Betapa lucunya posisi tidur Jemima. Dia tidur miring dengan pantat yang terangkat ke atas.


"Tidurnya seperti kamu Max.." Ucap Yana dari belakang. Dia baru saja kembali dari membereskan pakaian Jemima dan mencuci tangannya.


"Benarkah?"


"Ya begitulah jika aku tak salah ingat.."


Max bersorak girang di dalam hatinya. Yana masih mengingat kenangan tentang mereka. Hal ini seperti lampu hijau yang mengisyaratkan maju terus untuk mendapatkan hati Yana.


"Mmm.. ini tentang Jemima.." Yana diam sebentar.


"Kita duduk dulu di sofa. Tak nyaman berbicara sambil berdiri dan disini dekat Jemima. Aku takut dia bangun karena mendengar suara kita.." Ucap Max seraya menarik tangan Yana untuk mengukutinya.


Di dalam kamarnya ada ruang penerima kecil, terdiri dari satu sofa panjang dan satu meja. Max sengaja mengatur kamarnya serupa dengan apartement Yama dulu. Sayangnya Yana tak menyadarinya.


"Bicaralah.." Titah Max.


"Aku ingin meminta bantuanmu.." Yana ragu-ragu. Dia melihat raut wajah Max yang berubah.


"Apa itu?"


"Kalau aku nekat kembali ke Indonesia seperti hari ini aku takut Jemima akan histeris lagi. Tapi aku harus segera kembali. Aku sudah terlalu lama disini. Aku hanya mengambil cuti untuk 4 hari. Tapi itu menjadi 9 hari sampai hari ini.. jadi.."


"Jadi?"


"Maukah kamu mengantar aku dan Jemima pulang? Setelah kami sampai di Indonesia kamu boleh langsung kembali ke Korea.. Jemima akan menangis jika tidak melihatmu. Maukah kamu menolongku?" Jelas Yana.


"Kalau aku tidak bersedia?"


"Aku tidak ada pilihan lain selain menunggu Jemy tidur kemudian naik pesawat. Tapi itupun aku harus menyesuikan jadwal penerbangannya. Bisa jadi di tengah perjalanan Jemy bangun. Aku sedang memikirkan untuk konsultasi dengan dr. Joan Alexander apakah Jemy bisa diberi sesuatu untuk tenang atau seperti.. obat.. tidur.."


Mata Max hampir lepas mendengar ide Yana. Itu ide yang sangat buruk. Dia tidak akan menyetujuinya.


"Yana.. apa maksudmu? Jemima baru satu tahun. Singkirkan pikiran burukmu itu. Kalau kamu sampai melakukannya aku tidak akan memaafkan kamu ataupun Joan.."


"Aku tidak punya pilihan Max.. tidak mungkin aku disini terus. Aku sudah melihat kedekatan kalian, kamu dan Jemy. Pasti akan sulit membawa pulang Jemy tanpa dirimu.." Suara Yana putus asa.


"Stop.. aku bilang jangan berkata satu patah pun Yana.." Max sedikit meninggikan suaranya.


Dia bisa gila. Tidak. Dia sudah gila. Gila yang dibuat oleh Yana. Max kira dia sudah bisa mengenggam Yana di tangannya, nyatanya tidak. Wanita itu tetap gigih ingin melarikan diri darinya.

__ADS_1


"Maafkan aku Max.. maka dari itu tolonglah aku sekali ini. Aku akan sangat berterima kasih. Setelah ini kita kan tidak akan pernah bertemu lagi. Jadi aku mohon untuk terakhir kalinya.."


"Stop!" Teriakan Max yang tercekat di tenggorokan lolos juga.


Yana tersentak. Dia sekilas pada mata Mata. Mata itu dipenuhi amarah. Tubuh Yana langsung menciut.


"Sebegitu bencikah kamu padaku Yana hingga bersamaku sebentar saja kamu jijik? Apakah kamu harus sejauh ini untuk menghindariku?" Suara Max melemah.


"Aku tidak pernah membencimu Max. Aku sudah memaafkanmu. Bertemu denganmu, aku tidak pernah menyesalinya. Aku hanya harus pergi. Kamu sudah berjanji padaku kan?"


"Lalu kenapa kamu terus mendorongku pergi? Aku sudah memberitahumu kalau cintaku padamu tak pernah berubah.."


"Kenapa dulu kamu meninggalkanku kalau kamu mencintaiku?!" Suara Yana menggelagar. Kesabarannya hilang sudah. Dia selalu ingin menanyakan alasan Max meninggalkannya dua tahun lalu. Kini dia tak gentar. Ketakutannya telah hilang entah kemana.


"Aku ingin melindungimu Yana. Aku tidak mau kamu terluka.."


"Dengan cara mengakui hubunganmu dengan orang itu dan meninggalkanku?" Keberanian Yana meningkat tajam. Mata berkobar penuh amarah.


"Bukan aku Yana.. tapi kamu yang pergi dariku.."


"Cih.. kamu memang egois Max.. siapa sebenarnya aku? Aku hanya simpananmu kan? Kamu mau aku bagaimana? Kamu dengan percaya dirinya mengakui hubunganmu dengan orang itu di depan publik dan kamu mengabaikanku. Kamu kira aku tidak punya harga diri? Kamu yang membuatku seperti itu. Kamu tidak akan pernah tahu rasa sakit tidak dipilih Max.. Aku tulus mencintaimu tapi kamu mengkhianatiku.." Pipi Yana basah oleh air mata yang melelah dari sudut matanya. Air mata tak bisa dia bendung lagi.


"Yana maafkan aku.. aku tidak punya pilihan lain saat itu. Aku tahu aku salah dan aku sangat menyesal. Jadi maafkanlah aku. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia. Kami hanya membuat perjanjian saat itu. Aku hanya tidak ingin kamu terluka lagi.." Max panik melihat mata teduh Yana penuh dengan air mata.


"Sudahlah. Aku rasa aku harus segera membawa Jemy pulang ke Indonesia dengan usahaku sendiri. Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi.."


Yana tahu jika skandal hubungan Max itu hanya sandiwara. Tapi dia kecewa. Dia mendengarnya bukan dari Max sendiri. Yana hanya ingin Max terbuka padanya. Mungkin jika Max mengatakannya lebih dulu Yana tak akan sekecewa itu. Ah sudahlah.. hati Yana ibarat vas bunga yang sudah hancur, tak akan mungkin bisa dikembalikan seperti sebelumnya.


Dia bangkit dari sofa dan berjalan menjauhi Max.


"Yana! Jangan bodoh. Kamu bisa membahayakan Jemima!" Suara Max menggema. Suaranya teriakannya bercampur dengan amarah.


Kenapa jadi seperti ini? Situasi mereka tak seperti yang diinginkan Max. Dia segera menarik tangan Yana mendekatinya.


"Lepaskan aku!" Yana meronta. Tubuhnya dalam sekejap sudah berada dalam pelukan Max.


"Tidak!"


"Lepaskan!"


"Tidak akan lagi! Sampai kapanpun tidak akan aku lepaskan lagi!"


Tangis Yana yang hampir mereda pecah lagi. Kali ini isaknya kencang. Dia menangis sejadi-jadinya di dalam tubuh Max. Kenapa hatinya sangat keras kepala begini. Dia sadar jika dia masih mencintai Max. Tapi rasa kecewa dan takut kejadian dua tahun lalu terulang menguasi hati dan pikirannya. Hatinya sungguh bebal.


"Aku sudah bilang jangan bertindak bodoh Yana.. percayalah padaku.. berfikirlah jernih aku mohon.. demi Jemima.."


Mendengar ucapan lembut Max membuat isaknya semakin kencang. Air matanya keluar seperti air banjir dan telah membasahi pakaian Max dalam waktu sekejap. Dia butuh mencuci semua kekesalan dihatinya itu.


"Huwa... mama.. huwa.. huwa.."


Jemima bangun karena suara teriakan yang disusul dengan suara tangis ibunya. Tubuh gadis kecil itu menggeliat mencari-cari ibunya yang biasanya ada disampingnya, namun tidak ada. Akhirnya tangisan menjadi akhir dari pencariannya. Matanya setengah tertutup tapi air mata terus meleleh.


"Kamu membangunkan Jemima Yana.. berhentilah.. Jemima butuh kamu.."


Max mencoba menenangkan Yana dengan tepukan pelan di pundaknya. Dua orang yang sangat dia cintai menangis bersamaan. Max menghela nafas kasar. Dia secara sukarela telah menceburkan diri ke dalam kekacauan yang besar.


"Mama.. mama.. mama.. huwa.." Tubuh Jemima terus saja gelisah mencari mamanya. Dia menangis dengan mata terpejam.


Dilema. Max terjepit di antara dua pilihan yang sulit. Yana dan Jemima menangis bersamaan. Kepalanya seperti dihantam oleh benda seberat 10 ton. Dia melepas pelukannya dan kemudian berjalan ke arah Jemima. Tangan Max tentu tak lepas dari genggamannya pada Yana. Dua-duanya harus dia tenangkan.


"Sayang.. ayah disini.. mama juga disini.." Max menepuk pantat Jemima pelan.


Usahanya sia-sia, Jemima tak mau berhenti menangis dan Yana juga masih menangis. Max mengangkat tubuh Jemima dan meletakkannya di dadanya. Satu tangannya memeluk Jemima dan tangannya yang lain masih menggenggam tangan Yana.


Dia membawa kedua jantung hatinya ke ruang tengah kamarnya. Dia duduk dengan Jemima di pelukannya dan Yana disebelahnya. Salah satu tangannya merangkul pundak Yana. Dia menarik kepala Yana agar bersandar di bahunya. Dia terus mencoba menenangkan keduanya bergantian. Dalam hati Max berteriak.


Malam ini masih panjang.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2