My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
43. NY City (2)


__ADS_3

Hampir lima belas menit berkendara, tibalah mereka di depan rumah yang mirip kastil kerajaan. Yana mengintip dari kaca mobil. Pagarnya terbuat dari besi yang dicat hitam. Pagar itu dibuat tinggi seolah melindungi yang ada di dalamnya.


Begitu mobil Max memasuki gerbang yang tinggi hamparan rumput hijau menjadi halaman kastil besar itu. Mendekati kastil terlihat taman bunga yang indah. Mata Yana terpaku. Istana yang dia dengar di cerita dongeng benar adanya.


Max turun lebih dulu kemudian memutar ke arah pintu Yana.


"Hati-hati.." Max membantu Yana keluar dari mobil.


Yana masih terpaku. Tubuhnya berdiri tegak memandang kastil besar di depan matanya. Ada berapa lantai rumah ini? Yana harus mendongan untuk melihat keseluruhan kastil.


"Masuklah.. kalian buruh istirahat.." Max menarik tangan Yana ke dalam rumah.


Dua penjaga pintu langsung membuka pintu utama. Bola mata Yana hampir lepas dari tempatnya ketika memasuki rumah Max. Satu kata. Mewah.


Terang benderang dengan lampu gantung krystal yang sangat besar. Yana sampai lupa untuk berkedip. Perabotan rumah tampak mewah dan terurus. Ruang tamunya besar dengan bentuk bulat di tengah. Ada tangga dibelakang ruang penerima dengan karpet merah yang menutupi lantai. Beberapa pelayan berada disudut-sudut ruangan. Merika bersikap siap penerima segala perintah. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan semuanya menundukkan kepalanya.


Suasana hening, yang terdengar hanyalah bunyi jarum jam dan nafas gelisah Yana. Kakinya gemetar semenjak masuk ke rumah Max. Ralat, bukan rumah tapi kastil, istana, mansion. Dia jadi bertanya-tanya sekaya apa orang tua Max hingga punya rumah seperti istana. Kegelisahaannya meningkat. Dia jauh dari kata mewah dan kaya. Orang tuanya hanya buruh, bukan keturunan orang berada. Dihadapkan dengan Max yang kaya raya. Kepercayaan diri Yana menguap tanpa sisa.


"Kalian pergilah istirahat. Aku akan mengantarnya sendiri ke kamar.." Titah Max.


"Baik Tuan.." Suara pelayan menggema. Secara teratur mereka meninggalkan ruang penerima.


"Hyung pilihlah sendiri kamar disini.. Masih ada banyak kamar kosong di lantai 2.." Ucap Max.


"Ok.. kamu uruslah Yana. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku sudah seperti lalat yang tak dianggap.." Celetuk Seo Woon. "Sampai bertemu besok Yana.." Seo Woon melambai ke Yana seraya berjalan menaiki tangga yang melingkar. Tangga itu menghubungkan lantai atas dengan lantai bawah sebagai tempat berkumpul.


"Ayo aku antar.."


Yana tersentak.

__ADS_1


"Ayo.." Ulang Max.


Yana mengangguk kemudian mengikuti Max dibelakang.


-----


"Orang seperti apa orang tuamu Max?" Tanya Yana begitu dia masuk ke dalam kamar.


"Orang yang baik.." Jawab Max singkat.


Yana duduk ditepian kasur sementara Max merapikan barang bawaan Yana.


"Bukan itu maksudku.. sifat atau karakternya. Aku perlu tahu supaya bisa menyapanya dengan benar.."


"Tidak perlu menyapanya. Mereka sedang ke luar negeri. Mungkin lusa baru pulang.."


"Hah? Kamu sendirian disini?" Tanya Yana tak percaya.


"Apakah mereka akan menyukaiku?" Tubuh Yana terkulai lemah.


"Jadilah dirimu sendiri.. kita tidak akan bisa menyenangkan semua orang.."


"Bagaimana respon mereka ketika kamu memberitahu tentangku?"


"Mmm..." Max berfikir sejenak. "Mereka cukup antusias.."


"Aku takut.." Suara Yana putus asa.


"Jangan takut. Mereka pasti akan merestui kita.."

__ADS_1


"Kalau tidak?"


"Mereka pasti merestui.. percayalah padaku.."


Yana mengangguk. Selama ini Max adalah pria yang bisa diandalkan. Yana akan mempercayainya untuk kali ini juga.


Ayo lakukan yang terbaik Yana. Jika Max bilang tidak apa-apa, semuanya pasti baik-baik saja. Semangat.


"Mau mandi dulu atau langsung tidur?"


Sementara Yana berdebat dengan pikirannya, Max sudah berada di depannya dengan pakaian tidur tunggal. Di tangannya ada pakaian yang warnanga sama dengan miliknya.


Wajah Yana memerah. Tidak mungkin mereka tidur satu kamar kan? Ini di rumah orang tuanya bukan di Korea.


"Aku akan tidur disini malam ini.." Max yang melihat wajah linglung Yana tertawa kecil.


"Hah? Apa maksudmu Max.. ini rumah orang tuamu.. pergilah ke kamarmu.."


"Rumah ini milikku juga.."


"Tapi kan tetap saja.. Max!!" Tubuh Yana berpindah ke gendongan Max dengan cepat.


Max menjatuhkan tubuh mereka di atas kapuk yang empuk.


"Tidurlah.. aku hanya akan memelukmu.."


Rasa nyaman yang tak bisa dibeli dimanapun. Yana suka bau tubuh Max. Harum seorang pria yang sudah biasa dia hirup dan dia rasakan.


Semoga bisa selamanya seperti ini.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2