My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
42. NY City


__ADS_3

Hal yang paling tidak disukai Max adalah penolakan. Dia tak mau mentolerir kata 'tidak'. Jika dia menyuruh ikut ya harus ikut. Setelah Yana mengakui perasaanya pada Max, Max berubah menjadi diktator. Tiran yang egois.


"Max aku belum siap.."


Yana mencoba menawar keinginan Max. Ini terlalu cepat. Dia belum siap, bahkan tidak siap. Terlalu cepat. Ini terlalu cepat. Bertemu dengan orang tua Max? Kata-kata menusuk tenggorkan Yana.


"Woon hyung yang akan mempersiapkan keperluanmu. Aku akan mengaturnya.."


"Bukan itu maksudku Max.. persiapan yang lain. Ini terlalu mendadak buatku.." Yana sudah tidak peduli rambutnya yang basah dan acak-acakan.


Max yang sedang siap-siap untuk pergi diekori Yana.


"Ada aku disana. Apa yang kamu takutkan?"


"Aku tidak takut. Aku cuma belum siap.."


"Hmmm..." Erangan kecil lolos dari mulut Max.


"Pokoknya aku tidak mau!" Yana berbalik kemudian acuh pada Max.


"Besok aku akan menyuruh Woon hyung menjemputmu. Persiapkan passportmu. Tidak perlu membawa banyak barang. Kalau butuh sesuatu beli saja disana. Jangan tidur terlalu malam, perjalanan besok akan panjang. Sampai bertemu di New York.." Max mencium bahu Yana kemudian berjalan ke arah pintu.


Saat ini Yana sedang berperang dengan batinnya. Selalu seperti ini. Yana tak diberi kesempatan untuk menolak atau menyanggah sesuatu. Harusnya dia tinggal bilang tidak dan tidak melakukannya kan? Tapi hatinya selalu berkata lain. Secara alami dia mematuhi perintah Max meskipun dengan perdebatan kecil sebelumnya. Selalu saja pemenangnya adalah Max.


"Tunggu.." Yana menarik baju Max.


Langkah Max terhenti di pintu depan karena bajunya yang ditahan Yana. Max menoleh. Dia merendahkan pandangan kemudian menatap Yana.


"Aku takut orang tuamu tidak bisa menerimaku.." Suara Yana lemah. Ada ketakutan disana.


Max yang sudah berada di luar masuk ke dalam lagi.


"Sudah ku bilang ada aku. Kalau begitu anggap saja ini liburan ok?"


"Tapi kamu mengajakku kesana untuk bertemu orang tuamu kan?"


"Tidak sepenuhnya begitu. Aku sudah merencanakan pergi kali ini. Hanya tiga hari, waktu kosongku hanya tiga hari. Aku hanya ingin mengajakmu liburan Yanaku.."


"Kita bisa ketempat lain kan?"

__ADS_1


"Kemana?"


Yana menggeleng.


"Tidak usah takut. Orang tuaku pasti akan senang melihatmu.."


Sudah mentok. Tak ada jalan untuk menghindar. Sekali Max bilang A, itu akan tetap A tidak akan bisa B ataupun C.


"Istirahatlah.. akan akan menghubungimu nanti.."


Yana mengantar Max sampai depan pintu dan menerima ciuman di pipi. Dia tetap disana sampai Max menghilang dibalik lift yang membawanya pergi.


"Aduh bagaimana ini.."


Batin Yana berteriak frustasi.


-----


Bilyana, untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di New York. Dari jendela pesawat dia bisa melihat gedung-gedung pencakar langit. New York city ada di bawah kakinya. Kecemasan yang menghantuinya sejak kemarin sirna sudah. Otot-ototnya yang tegang karena panik juga mengendur.


Karena mengambil penerbangan reguler, perjalanan mereka menjadi lama. Mereka tiba kira-kira tengah malam. Kerlap-kerlip New York yang Yana lihat dari atas pesawat tampak nyata sekarang.


Sepanjang perjalanan Yana sedikir bertanya-tanya tentang Max. Seo Woon pun menjawab dengan senang hati, dan Yana merasa nyaman berada didekatnya. Tak ada ketidaksukaan dari pandangan Woon dan itu membuat Yana lega. Pasalnya Seo Woon adalah manajer Max, umumnya seorang manajer akan proktektif pada artisnya. Dia pasti tahu jika Yana adalah pacar Max. Seo Woon memperlakukan Yana dengan sangat baik.


"Hyung.."


Suata itu dari orang yang melambai-lambai di depan pintu kedatangan. Memakai kaos putih polos dan celana jins hitam. Tak ada atribut seperti topi ataupun kacamata hitam. Rambutnya yang hitam bersinar dan wajahnya tampak jelas. Itulah belahan hati Yana, Max.


Seo Woon balas melambai pada Max. Yana tersenyum melihat tingkah dua orang itu. Mereka tampak akrab satu sama lain. Tidak seperti manajer dan artisnya. Apa hubungan mereka? Yana tiba-tiba curiga.


"Kenapa kamu yang datang menjemput?"


Seo Woon berjalan agak maju untuk memeluk Max namun langkah Max tak menuju Woon. Dengan cepat Max menyambar tubuh Yana dan memeluknya erat.


"Welcome.." Bisik Max di telinga Yana.


Wajah Yana seketika memerah. Max memeluknya di depan Seo Woon, Yana malu.


"Hei.." Woon mendengus kesal. Dia seperti orang ketiga, terabaikan.

__ADS_1


"Maaf hyung.. aku merindukan dia lebih dari apapun.." Jawab Max datar. Dia menggenggam tangan Yana setelah melepas pelukannya.


Jantung Yana meledak mendapat perlakuan Max yang tak tahu tempat dan situasi. Sekarang dia mulai buka-bukaan di depan orang lain. Menunjukkan dengan jujur hubungannya dengan Yana.


"Kenapa tidak pakai kaca mata atau masker Max? Orang-orang mungkin mengenalimu.." Gerutu Woon.


"Kenapa? Biarkan saja hyung. Aku tak peduli.."


"Jangan bertindak tak masuk akal Max.."


"Tenanglah hyung.. dini hari begini tak banyak orang di bandara atau di jalanan.." Max tersenyum.


"Lain kali jangan lakukan itu.."


"Siap bos.."


Mobil Max melaju membelah kota New York yang cukup ramai meskipun dini hari.


"Jangan tegang.." Lirih Max.


"Hah? Aku tidak.. ya.. sedikit.."


Max tahu Yana sedang gelisah. Sejak turun dari pesawat dia jadi pendiam dan beberapa kali terlihat menggigit bibirnya. Max terkekeh geli melihat tingkah Yana yang menggemaskan. Rasanya ingin membawa tubuh lembut Yana ke dalam pelukannya kemudian menyatuka tubuh mereka. Otaknya dipenuhi hal-hal cabul begitu melihat wajah Yana keluar dari pintu di bandara tadi. Hanya sehari tak bertemu, rindunya sudah menumpuk.


"Jangan gigit bibirmu begitu.. kamu mencoba menggodaku ya?"


"Max.. ada ahjussi disini.. jangan berbicara macam-macam.."


Malu. Yana menundukkan kepalanya karena malu.


Tawa Max menggelegar dan suaranya memenuhi Max.


"Lihatlah hyung.. pacarku imut banget.." Suara Max bergetar karena tawanya.


"Kasihan Yana Max.. jangan goda dia.. dia sudah cukup tegang tadi.. wajahnya tadi pucat saat di pesawat.." Seo Woon memperparah tindakan Max.


Meledaklah tawa diantara mereka.


Yana makin tak bisa menegakkan kepalanya karena malu. Dia akan membuat perhitungan pada Max begitu mereka punya kesempatan berdua.

__ADS_1


Berdambung...


__ADS_2