
"Woon ahjussi?"
"Ya.."
-----
Mobil sport putih melaju dari parkiran apartement menuju jalanan kota Seoul yang sepi. Keramaian kota Seoul masih terlalu dini untuk bangun. Beberapa jam lagi matahari akan terbit. Mereka bergegas meninggalkan kota Seoul menuju ke luar kota. Jalanan masih sepi. Mobil putih satu-satunya yang melaju dengan kecepatan tinggi.
Di depan kemudi ada Seo Woon yang telah melepas topi dan maskernya. Yana duduk disampingnya dengan tangan tergenggam erat. Di kursi belakang ada seseorang yang baru saja dikenal Yana. Siapa ya tadi namanya? Ah dia memperkenalkan diri sebagai karyawan IM Entertainment, Park Jihoo.
Orangnya ramah dan baik. Yana tak canggung berkenalan dengannyan. Seo Woon mengatakan jika dia adalah orang kepercayaannya dan Max.
Yana tiba-tiba diajak oleh Woon kesuatu tempat yang tidak tahu dimana. Jieun yang terlelap tidak tahu apa yang terjadi. Tapi Yana sudah meninggalkan pesan di post it yang ditempel di meja samping kasur. Dia tidak ingin membuat keributan untuk membangunkan Jieun, jadi Yana memilih untuk pergi diam-diam.
Sebuah rumah di tengah perkebunan dengan gerbang yang sangat tinggi samar terlihat. Yana bertanya-tanya dimana mereka. Mereka telah mrlakukan perjalanan kurang lebih 30 menit menuju arah timur Seoul kemudian keluar kota.
"Max menunggumu di dalam.."
"Ya? Ah iya.." Jawab Yana singkat.
Melihat Woon di depan pintu rumahnya tadi Yana senang. Berarti Max sudah kembali ke Korea. Kemarin dia mendapatkan telpon dari Woon kalau semuanya baik-baik saja dan Yana dilarang keluar rumah. Dia tidak mengatakan untuk tetap diam di rumah dan Yana mematuhinya hingga dia dijemput Seo Woon saat ini.
"Max!"
Yana berhambur masuk ke dalam rumah Woon. Melihat Max yang berdiri di dekat jendela dekat ruang penerima membuat perasaannya membuncah.
"Wow.." Max hampir terjungkal.
Yana berlari kemudian memeluknya. Namun kekuatan Yana tak sebanding dengan kekuatan Max. Meskipun dia melemparkan tubuhnya ke arah Max, tubuh Max tetap tegak.
"Aku takut.." Air mata Yana tak bisa lagi dibendung. Isak tangisnya pecah.
__ADS_1
Max tak menjawab. Dia memeluk Yana dan mengelus rambutnya pelan.
"Semuanya baik-baik saja. Ada aku disini.."
Kehangatan memenuhi hati Max. Kepalanya terbenam di ceruk leher Yana. Harum tubuh yang dia rindukan. Aroma menyegarkan yang selalu membayanginya. Max mengangkat tubuh Yana kemudian membawanya ke dalam pangkuan.
Tidak ada kata-kata. Max terus mengelus punggung Yana. Isakan Yana masih kencang. Dia tidak peduli kemeja yang di pakai basah ataupun kotor, dia hanya peduli kepada kekasih hatinya yang sedang menangis. Suara isaknya menyayat hati.
Soe Woon dan Park Jihoo mematung melihat drama di depannya. Karena tidak mau mengganggu, mereka berdua meninggalkan sepasang kekasih yang sedang mengharu biru. Memberikan waktu kepada mereka untuk saling melepas rasa.
"Berhentilah menangis Yana.." Suara Max lembut.
"Aku.. aku.. hiks.." Yana tak mampu menyelesaikan kata-katanya. Rasa takut, khawatir, cemas, gelisah yang menjadi satu dia tumpahkan dengan air matanya.
Kepalanya terbenam di dada Max. Tangan Max masih mengelus punggung Yana hingga isaknya mereda.
Max menjauhkan tubuh Yana untuk menjangkau pandangannya. "Sudah selesai menangisnya? Aku baru pulang sudah disambut dengan air matamu itu. Apa itu tidak keterlaluan?" Ucap Max dingin. Matanya berkilat tidak suka.
"Aku takut.. apa yang terjadi? Kamu tidak bisa dihubungi.."
Air mata masih meleleh di sudut matanya. Tangannya meraih pipi Max kemudian mengelusnya. Memastikan jika Max adalah nyata, Yana menutup matanya sebentar kemudian membukanya lagi dan Max masih di depan matanya. Max memang nyata.
"Maafkan aku.. situasinya tidak bisa dikendalikan. Ponselku harus dimatikan untuk keamanan.."
Tangan Max menyeka air mata Yana kemudian mencium kelopak matanya yang basah. Air mata itu menyakitinya. Dia sakit jika Yana sedih.
Wanita ini miliknya. Tak boleh ada yang menyakitinya, bahkan seujung kuku saja.
"Apa yang terjadi?" Tanya Yana.
"Tidak ada. Hanya masalah kecil. Tidak perlu cemas.."
__ADS_1
"Tapi foto itu.."
Cup
Max membungkam mulut Yana dengan ciuman kilat. Dia tidak ingin Yana terus memikirkan skandal mereka. Dia yang akan menghadang segala rintangan di depan mereka seorang diri. Max tak ingin melibatkan Yana karena hatinya akan terluka jika Yana terluka juga. Cukup dengan melihat Yana aman, Max siap menghadapi semuanya.
"Jangan menangis lagi tanpa izinku.."
Yana mengangguk. Kepalanya kembali terbenam di dada Max. Perasaan lega mengalir keseluruh tubuhnya. Ada Max disampingnya. Untuak apa taku?Semuanya pasti akan baik-baik saja.
Yana terkesiap karena tubuhnya tiba-tiba terangkat. Mata membulat melihat wajah datar Max. Jangan-jangan? Yana sedikit cemas.
Bruk
Tubuh Yana jatuh di atas tempat yang empuk. Dia tak sempat memandang sekitar karena ciuman Max yang panas.
"Max dimana ini?" Suara Yana bergetar.
"Sstt.. satu kali saja. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat.." Ucap Max dengan cepat menyingkap dress yang dikenakan Yana.
Yana memukul dada Max dan mencoba menjauh namun kecepatan tangan Max mendahului usahanya.
"Max!" Yana menjerit.
"Sstt.. diluar ada Woon hyung dan beberapa staff manajemen.." Bisik Max.di telinga Yana.
Mata Yana membulat tak percaya. Tangannya memukul Max dengan sia-sia. Dia tak pernah bisa mengalahkan Max. Pria itu selalu semena-mana.
"Max! Aku mo.. Ah!"
Tubuh Yana tersentak merasakan penyusup di dalam tubuhnya. Penyatuan Max selalu tiba-tiba tanpa stimulus.
__ADS_1
Bersambung..