My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
11. Sinar Bulan


__ADS_3

Drrt drtt drtt


Yana merasakan ponselnya bergetar ketika dia keluar dari gedung konser. Sumpah.. yang datang konser DAMN! brutal semua. Akses satu pintu untuk keluar dan masuk perlu dikaji lagi, pasalnya ada ribuan orang yang datang dan mereka harus masuk dan keluar dengan satu pintu. Yang pasti Yana dan Jieun telah berhasil keluar dari lubang maut tersebut.


Tangan Yana merogoh saku celana yang dia pakai. Matanya membulat sempurna mendapat pesan dari nomor ponsel Max.


Max


Ikuti pintu emergency, kemudian jalan lurus jangan sampai belok. Ada jalan setapak diujung, aku tunggu kamu disana.


Glek


Yana menelan ludahnya sendiri. Disampingnya masih ada Jieun yang tengah mengatur nafasnya, untung saja Jieun tidak menyadari jika dia mendapat pesan dari Max. Song Jieun memang belum tahu tentang hubungan Yana dan Max.


Yana


Aku bersama temanku. Aku tidak enak meninggalkannya.


Beberapa detik kemudian ponsel Yana bergetar lagi.


Max


Kalau tidak datang sekarang, hutangmu aku naikkah dua kali lipat beserta bunganya. Aku tidak punya banyak waktu, aku harap kamu segera kemari Yana.


Mata Yana kembali terbelalak membaca pesan Max yang terakhir. Mau tidak mau dia harus berbohong pada Jieun. Setelah pamit pada Jieun jika Yana ada janji bertemu dengan temannya dan menyuruh Jieun untuk pulang dulu, dengan langkah seribu Yana mengikuti petunjuk Max.


Jalan setepak dibelakang gedung Sky Dome minim penerangan lampu, Yana harus menggunakan senter di ponselnya untuk melihat jalan. Dalam hati Yana bertanya-tanya, apa maksud Max menyuruhnya ketempat gelap seperti ini, bahkan Yana sempat meragukan kewarasan si idol Max.

__ADS_1


Benar sekali petunjuk dari Max, diujung jalan setapak Yana bisa melihat sosok Max yang tengah berdiri dengan menggenggam ponselnya. Max masih menggunakan kemeja putih yang dia gunakan tadi di atas panggung. Sejenak Yana berhenti, jantungnya kembali berdetak tak karuan. Kalau detakan jantung memiliki volume keras, mungkin sekarang ini seisi Sky Dome bisa mendengar suara detak jantung itu.


-----


Konser DAMN! di Seoul yang merupakan konser pertama dari rangkaian konser DAMN! keliling dunia, akhirnya selesai dengan sempurna. Setelah menutup acara, Max meminta ijin kepada manajer grupnya untuk beristirahat sejenak.


Max lagsung mengaktifkan ponselnya kemudian menghubungi seseorang lewat pesan seraya berjalan menuju belakang degung Sky Dome. Sudah lima menit dia menunggu tapi orang yang dia hubungi tadi tidak juga muncul. Wajahnya terlihat gusar, dia sudah mengirimkan ancaman agar orang itu mau datang menemuinya. Baru saja dia hendak menghubunginya lagi, mata Max menangkap sosok gadis yang berjalan hati-hati dengan bantuan senter ponsel. Senyum Max mengembang, orang itulah yang di tunggu, orang itu saja yang dia rindukan selama ini, Yana lah orangnya. Sang gadis yang berhasil membuat hati Max kacau balau.


Dengan gerakan cepat Max berlari ke arah Yana kemudian menarik tubuh Yana ke dalam pelukannya.


"Max!!" Yana menjerit karena kaget Max tiba-tiba memeluknya.


"Sttt.. jangan bergerak. Sebentar saja.." Titah Max mempererat pelukannya.


Yana terdiam, pelukan Max yang tiba-tiba memang sempat membuatnya kaget tapi tak bisa dipungkiri jika pelukan itu membuatnya nyaman. Bahkan Yana tidak ingin melepasnya, pelukan ini terlalu berharga untuknya. Yana membalas pelukan Max, tangannya mengusap pelan punggung Max.


Max mengangguk tanpa suara. Rasa hangat menjalar diseluruh tubuhnya, Max seperti telah menemukan tempat pulang setelah sekian lama menjadi musafir tak tentu arah. Perlahan Max memindahkan kepalanya ke ceruk leher Yana kemudian menciuminya pelan. Aroma tubuh Yana membuat Max terlena. Tubuh itu yang membuatnya menahan rindu cukup lama sekarang ada di dalam pelukannya. Max tak ingin melewatkan sedikitpun kenikmatan di tubuh Yana.


"Max! apa yang kamu---" Ucap Yana sedikit terkejut karena Max menciumi lehernya.


"Sebentar saja.. jangan bergerak.."


Mendegar titah Max itu tubuh Yana mematung, Yana tak tahu harus berbuat apa. Hatinya ingin menolaknya tapi tubuhnya menghianatinya. Tak bisa dipungkiri, sentuhan Max ini membuatnya tak berkutik. Nyatanya Yana sangat merindukan sentuhan Max selama ini.


Sinar bulan menjadi saksi dua sejoli yang tengah melepas rindu mereka masing-masing di dalam dekapan. Mulut mereka saling diam namun bahasa tubuh keduanya telah menjelaskan semuanya.


-----

__ADS_1


Max dan Yana duduk disalah satu kursi panjang di taman belakang gedung Sky Dome. Beberapa saat suasana hening, tiba-tiba suara Max membuyarkan lamunan Yana.


"Besok aku akan terbang ke Amerika, tempat konser DAMN! selajutnya di tiga negara Amerika, kemudian Jepang, China dan yang terakhir Thailand. Kira-kira tiga bulan aku baru akan kembali ke Korea.." Jelas Max denga suara lemah.


Otak Yana yang masih bergumul dengan pikirannya sendiri dipaksa untuk sadar dari lamunan.


"Ya?" Ucapan singkat akibat respon kesadaran yang tiba-tiba.


"Kamu melamun?" Max menautkan kedua alisnya.


"Mmmm.. tidak.. aku hanya.." Yana diam sejenak. "Memandangi sinar bulan.." Lanjutnya dengan senyum cerah. Tak mungkin Yana bilang jika dia melamun, ekpresi Max tadi membuatnya gelapan. "Jadi? Kamu tidak akan ada di Korea selama tiga bulan?" Yana mengulangi ucapan Max.


Max mengangguk pelan, sorot matanya meredup. Kenyamanan yang diberikan oleh Yana menjadi alasan utama dia berat untuk meninggalkan Korea selama itu. Beberapa minggu saja Max sungguh tersiksa seperti kemarin ketika dia mempersiapkan konser di Seoul dan sekarang tiga bulan. Kepala Max hampir penah hanya dengan memikirkannya saja.


"Kamu bisa menelponku jika kamu bosan.." Tutur Yana memberi pemghiburan pada Max. Yana tahu jika pekerjaan artis adalah pekerjaan paling menyakitkan didunia. Kita dituntut untuk tampil sempurna di depan kamera. Rasa lelah, muak, marah dan rasa lainnya dilarang ditampilkan. Ibarat manusia bertopeng. Dia tahu sorot mata Max ada;ah sorot mata kesedihan. Yana mengambil keputusannya sekarang, dia akan menjadi teman Max. Ya hanya teman. Dia tak mungkin mengharapkan lebih, cukup tau dirilah.


"Serius?" Max mengangkat kepalanya dengan senyum yang cerah secerah matahari pagi hari. Siapapun yang melihatnya pasti akan tergoda. Tentu saja Yana tercengang melihatnya, bagaimana bisa seorang manusia menyerupai malaikat seperti Max ini.


"Ya.." Jawab Yana dengan anggukan kecil.


"Boleh aku memelukmu sekali lagi?"


"Sekali ya?" Yana mengulang ucapan Max.


Secepat kilat tubuh Yana telah berpindah ke dalam pelukan Max yang erat dan dalam. Saking dalamnya Yana sampai tak mau kehilangannya.


Bukan hanya sekali Max, mau puluhan atau ribuan kali aku rela memberikannya. Aku mencintaimu Max! Batin Yana menjerit keras.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2