
".. Na.."
"Nona.."
Suara sayup dan sentuhan yang lembut ditangan Yana membuat kesadarannya kembali. Rasa kantuk menggelayuti matanya.
"Nona.."
Mata Yana terbuka lebar sekarang. Dia berusaha bangkit dengan satu tangan menopang tubuhnya.
"Tuan muda menelpon. Tuan khawatir karena anda belum bangun sampai sekarang.." Salah satu pelayan yang dekat dengan Yana membuka mulutnya.
"Aku baik-baik saja.."
Yana mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Semalam dia tidak memperhatikannya karena sibuk gelisah. Kamar yang di tempati ternyata luas. Luasnya dua kali apartmentnya di Korea. Di samping kanan kasurnya ada ruang penerima sederhana dengan sofa tunggal dan televisi besar. Disamping kiri berjejer lemari besar berwarna putih. Beberapa pelayan bersiap di beberapa titik. Total ada lima dengan salah satu ada di dekat Yana. Mereka tampak masih muda dan menundukkan pandangannya dari Yana. Wajah mereka khas orang Amerika, bahasa Inggris Yana tak sebagus yang dia kira. Dia takut tak bisa berkomunikasi.
"Tuan menanyakan apakah anda baik-baik saja? Atau anda perlu kami panggilkan dokter?"
Suaranya lembut dan tulus. Untuk pertama kalinya Yana merasa seperti wanita terhormat. Pikirannya kemarin tiba-tiba melintas dibenak Yana. Keluarga seperti apa yang dimiliki Max? Sepertinya mereka cukup kaya untuk memiliki semua ini. Otak Yana tak tahu ukuran seseorang cukup kaya atau sangat kaya. Jika punya banyak uang berarti kaya. Ambang batasnya pada Max adalah, keluarga Max kaya.
"Dimana dia?"
"Tuan muda sudah pergi pagi-pagi dengan Tuan Seo. Tuan mengatakan akan kembali agak terlambat hari ini. Tuan berpesan untuk menemani Nona selama Tuan tidak ada.."
Yana mengangguk tanda mengerti.
"Pukul berapa sekarang?"
"Pukul dua siang Nona.."
Tubuh Yana tersentak mengetahui pukul berapa hari ini. Dia sepertinya tidur seperti orang mati.
"Tidak perlu memenggil dokter. Aku akan mandi kemudian aku akan turun. Aku sedikit lapar.." Yana tersenyum tipis.
Lapar adalah keadaan manusiawi. Tapi dia sedikit malu mengakuinya.
"Apa yang ingin anda makan Nona?"
"Apapun.." Jawab Yana sambil bangkit mencari pintu kamar mandi.
Seperti dikode, salah satu pelayan yang berada di samping kiri kasur membuka pintu paling ujung. Pemandangan toilet terlihat dari luar. Ternyata pintu yang berjejer itu salah satunya adalah kamar mandi.
"Terima kasih.."
__ADS_1
Yana melangkah ke dalam tapi langkahnya diikuti oleh dua orang pelayan yang berada di dalam kamarnya tadi.
"Kenapa kalian ikut masuk?" Suara Yana terbata. Tidak mungkin kan mereka ikut mandi bersama Yana.
"Kami akan membantu Nona mandi.." Jawab salah satu dari mereka.
"Hah?"
Dia tak pernah diperlakukan seperti ini. Apakah orang-orang kaya hidup seperti ini? Yana seperti orang pesakitan yang harus dibantu melakukan apapun.
"Tidak perlu.. aku bisa sendiri.."
"Ijinkan kami membantu Nona.."
"Apa?" Yana ragu sejanak. Keringat dingin muncul di dahinya.
"Tunggu saja di luar. Aku akan mandi dengan cepat. Aku bisa sendiri. Kumohon.." Suara Yana terdengar putus asa.
"Baik.. kami tunggu di luar Nona. Kami akan menyiapkan pakaian anda.. pakaian seperti apa yang ingin anda kenakan?"
"Aku? Aku apapun tidak masalah.."
Yana tak tahu ucapannya sendiri. Dia hanya ingin menyingkirkan dua orang pelayan itu. Dia bisa mandi sendiri. Mendapatkan perlakuan seperti itu membuat tubuhnya merinding.
Segera setelah pintu kamar mandi ditutup, Yana membersihkan tubuhnya yang sudah lengket karena keringat.
Apapun. Jadi apapun. Pemandangan setelah Yana keluar kamar mandi membuat tubuhnya membatu. Para pelayan yang berada di kamarnya tadi masing-masing memegang benda ditangannya. Ada sisir, ada handuk dsb.
Yana berlalu begitu saja melewati mereka menuju meja rias yang berada di samping kasur. Karena dia tak membawa pakaian ganti ke kamar mandi, Yana mengenakan jubah mandi tunggal yang tersedia. Rambutnya basah. Segera dia duduk di kursi rias dan mematut dirinya. Dari pantulan cermin Yana bisa melihat para pelayan mendekatinya. Apa yang akan mereka lakukan kali ini? Yana mengernyit.
"Kami akan membantu Nona berganti pakaian.."
Yana menoleh kebelakang. Sebuah gaun tanpa lengan berwarna biru laut tersemat di gantungan almari. Tanpa corak, warnanya biru laut polos. Bagian dada hingga ke atas leher sedikir terbuat dari renda transparan dengan kamisol diatas dada. Bawahnya lebar dan panjangnya kira-kira satu lutut. Gaun itu jelas bukan miliknya. Dia tak punya gaun secantik itu. Harganya tampak mahal melihat kemewahannya. Dia menelan rasa penasarannya. Mungkin itu bukan untukknya. Yana membawa beberapa pakaian dari Korea.
"Aku bisa sendiri terima kasih.." Yana kembali memalingkan wajahnya ke depan cermin. Tangannya hendak meraih pengering rambut ketika salah satu dari pelayan membuka mulutnya.
"Nona ijinkan kami membantu anda.. Tuan muda bisa marah jika tahu kami tidak melayani anda dengan baik.."
Tangan Yana berhenti. Matanya menatap satu-satu para pelayan lewat pantulan cermin. Wajah mereka tampak cemas dan takut.
Yana mendengus. Mungkin beginilah cara mereka bekerja. Mari jangan menyusahkan orang lain Yana. Kamu hanya perlu menikmatinya saja.
"Baiklah.. bantu aku berganti.."
__ADS_1
Wajah cerah menghiasi para pelayan. Segera mereka mendekati Yana dan membantunya mengeringkan rambut, menyisirnya, memakai makeup hingga berganti pakaian.
Gaun itu benar-benar untuk Yana. Dia ragu saat pelayan memakaian gaun itu ditubuhnya. Dia sempat malu karena tubuhnya yang hanya berpakaian dalam dilihat oleh mereka. Tapi mereka tak canggung dengan Yana. Mereka benar-benar profesional.
"Gaunnya pas ditubuh anda Nona.. anda sangat cantik memakainya.." Puji para pelayan. Mata mereka berkilat puas.
"Gaun siapa ini? Aku ingat tak pernah memilikinya.."
Pantulan dicermin itu seperti bukan dirinya. Yana tak berhasil memulas makeup di wajahnya, makanya dia tak pernah menyentuh mereka. Tapi pulasan makeup para pelayan tampak pas dan tidak berlebihan di wajahnya. Rambut berkepang samping yang diikat dengan tali warna senada juga tampak pas. Kalung dengan berlian tunggal yang sederhana melengkapi lehernya yang tampak jenjang.
"Tentu saja milik anda Nona. Kalau bukan milik anda tak mungkin sekarang anda memakainya.."
Jawabannya realistis. Tapi dia tak memilikinya pun tak ingat pernah membawanya kemari. Apa Max?
"Apakah Max.. maksudku apakah Tuan muda yang mempersiapkannya?"
Semua pelayan mengangguk.
"Satu hari sebelum anda kemari Tuan memerintah untuk mempersiapkan semua keperluan anda.."
Yana mengangguk faham. Ternyata ulah Max. Yana jengkel karena Max tak mengatakan apapun. Selalu melakukan apapun dengan sepihak.
"Anda bisa makan sekarang Nona.. para koki sudah menyiapkan makan untuk anda.."
Yana kembali mengangguk kemudian mengikuti para pelayan menuruni tangga menuju ruang makan.
Apapun. Benar-benar jadi apapun sekarang.
Berupa piring makanan tersaji di atas meja seperti hamparan permadani dengan banyak warna. Mata Yana mendelik melihat piring-piring itu.
"Para koki bingung ketika anda mengatakan ingin makan apapun. Mereka memasak beberapa masakan yang diharapkan sesuai selera Nona.."
Pelayan di ruang makan telah berganti. Pelayan yang melayani Yana di kamar tadi telah menyingkir pergi. Wajah para pelayan adalah wajah baru untuk Yana. Yana ingin berteriak ada berapa pelayan di rumah ini.
"Tapi ini sangat banyak untukku.."
"Silahkan makan dengan nyaman Nona.. kami akan melayani anda.."
Salah satu kursi di tarik dari dalam dan pelayan tadi mempersilahkan Yana untuk duduk. Nafsu makannya menghilang seketika. Kemana rasa lapar itu pergi? Yana lupa jika tadi perutnya terasa lapar. Tampaknya melihat piring sajian yang sangat cantik membuat perutnya kenyang.
Ini bukan beberapa makanan lagi. Ini puluhan makanan. Bagaimana bisa aku menghabiskannya. Aku tak akan mengatakan apapun lagi. Apapun menurut kalian benar-benar sesuatu. Dan ini adalah kekacauan besar. Bagaimana caranya aku menghabiskannya? Ahhhh!!!
Batin Yana menyentak keras.
__ADS_1
Bersambung..