My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
Love Bird Ep 9 - Aku + Kamu = Kita


__ADS_3

"Yasha.. sepertinya aku menyukaimu.."


"Yasha.. sepertinya aku menyukaimu.."


"Yasha.. sepertinya aku menyukaimu.."


"Yasha.. sepertinya aku menyukaimu.."


"Yasha.. sepertinya aku menyukaimu.."


Suara Seo Won menggema di telinga Yasha. Kedua bola mata Yasha membulat sempurna sebagai reaksi ucapan Seo Won.


"Yasha.. sepertinya aku menyukaimu.." Sekali lagi suara Seo Won menggema.


"Mungkin menurutmu ini aneh tapi begitulah adanya.. aku tidak tahu mulai kapan.. perasaan ini sudah sangat besar saat aku menyadarinya. Semakin ingin ku lupakan, perasaan itu semakin kuat menggerogori hatiku.. aku sudah banyak terluka karena menghindarinya.. dan aku tidak mau menghindarinya lagi.. aku menyukaimu Yasha.. aku mencintaimu.." Jelas Seo Won panjang lebar. Suaranya terdengar frustasi karena Yasha hanya diam, tak menunjukkan reaksi apa - apa.


Tentunya Seo Won ingin perasaannya juga dibalas. Dia mengaku tanpa berfikir panjang tadi, dia hanya ingin jujur tapi dia juga tidak siap dengan jawaban Yasha. Kini dia merasakan masa kritis dalam hidupnya. Harusnya tadi dia tahan sambil mencari tahu perasaan Yasha padanya sebelum jujur akan perasaannya. Tapi mau bagaimana lagi, cinta itu tentang ketidakkonsistenan antara ucapan, pikiran dan perasaan.


"Kamu pasti kaget kan? Aku akan memberimu waktu untuk berfikir.. tapi tolong katakan sesuatu.. jangan diam saja.. hmm.. Yasha? Katakan sesuatu. Kamu marah padaku kan? Aku mohon marahi kalau begitu.." Pinta Seo Won.


Mulut Yasha yang terkunci rapat. Matanya yang melotot ke arah Seo Won tanpa kedip, membuat hati Seo Won seperti jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam, gelap dan jauh. Akan lebih baik jika Yasha menolaknya sekarang juga. Dia mengutuk semua kesalahannya. Seo Won mengusak rambutnya dengan kasar saking frustasinya.


"Yasha kumohon.. jangan diam begini.. pukul aku.. pukul aku kalau kamu memang sangat marah.." Paksa Seo Won dengan menarik tangan Yasha ke dadanya dan memukulkannya beberapa kali.


"Huwa.. huwaaa.. hiks hiks hiks.."


Air mata Yasha kembali tumpah dan isak tangisnya pecah. Dia sedang mencerna ucapan Seo Won. Dia butuh waktu, tapi Seo Won terus mendesaknya. Otak yang dia miliki bukan kereta ekspres yang bisa sampai ke tujuan sangat cepat. Tapi Seo Won terus saja mengganggu dan mendesaknya. Bukan karena Yasha marah atau tidak menyukai Seo Won. Yasha sedang berusaha percaya jika ini itu kenyataan. Seo Won menyukainya, tidak, Seo Won mencintainya. Bagaikan di alam mimpi, bahwa pria yang kamu sukai menyukaimu juga. Disaat Yasha sibuk mempercayai ini bukan mimpi, Seo Won terus mendesaknya hingga dia terpojok. Air matalah yang menjadi jawaban saat mulutnya tercekat. Bukan air mata kesedihan tapi air mata bahagia.


"Yasha.. kenapa? Kenapa menangis?" Suara Seo Won panik.


"Oppa.." Yasha tak kuasa menahan air matanya.


"Jangan menangis lagi.. tenanglah.." Seo Won menunduk hendak mengusap air mata Yasha yang meleleh menodai pipi putih mulusnya. Namun aksinya didahului pelukan Yasha.


"Oppa aku juga.." Suara Yasha serak.


"Hmm?" Suara Yasha tak begitu jelas di telinga Seo Won.


"Hiks.. hiks.. aku.. hiks.. juga menyukaimu.. hiks.. oppa.. aku.. hiks.. aku juga hiks.." Susah payah Yasha bicara sambil menangis.

__ADS_1


"Yasha juga menyukaiku?" Ulang Seo Won.


Yasha mengangguk. Kepalanya menempel erat di dada Seo Won dan kedua tangannya melingkar di perut Seo Won.


Seperti tanah tandus yang diguyur hujan. Hati yang tadi frustasi kini menghilang tanpa bekas. Perasaan yang dia sampaikan diterima. Rasa cintanya di balas. Meskipun ini bukan rasa cinta yang pertamanya, tapi bagi Seo Won ini adalah rasa pertama. Karena rasa yang dulu pernah ada telah ia lupakan sejak lama. Baginya rasa itu tidak berarti lagi.


"Kyaaa!" Teriak Yasha saat pijakan kakinya terangkat. Pusat gravitasi seperti menghilang dari kakinya. Seo Won mengangkat tubuhnya dengan mudah. Karena takut jatuh Yasha memeluk leher Seo Won dengan kedua tangannya. "Oppa!" Teriak Yasha sekali lagi.


"Diamlah jangan bergerak.. kamu bisa jatuh.." Ucap Seo Won.


Seo Won membawa Yasha ke ruang tengah dengan cara mengangkat tubuh kecil Yasha kemudian mendudukkannya ke dalam pangkuannya. Dua orang yang sedang dimabuk cinta ini lupa dengan ramen yang sudah terlalu matang di atas kompor.


"Oppa.."


"Diamlah.. kenapa kamu terus memanggilku saat aku berada dihadapanmu Yasha.."


"Bukan begitu.. ramennya.." Ucap Yasha mengalihkan pembicaraan. Entahlah.. Yasha malu sekali hari ini. Semuanya terjadi begitu cepat dan Yasha belum bisa mencerna situasinya dengan baik.


"Apakah ramen masih penting untuk sekarang?"


"Tapi ramennya bisa gosong.."


"Hah? Kapan? Pasti saat aku sedang sibuk berfikir. Aduh bagaimana ini.. wajahnya dekat sekali.. ya ampun jantung.. sejak tadi ga mau tenang banget sih.." Gumam Yasha dalam hati.


Yasha bisa merasakan hembusan nafas Seo Won karena jarak wajah mereka hanya beberapa inchi saja. Yasha gugup tapi matanya tak mau lepas memandang pria di depannya yang memiliki mata, hidung dan bibir yang seksi saat ini.


"Sejak kapan kamu menyukaiku?" Tanya Seo Won.


"Hah?"


"Aku tanya sejak kapan kamu menyukaiku?" Ulang Seo Won.


"Kalau oppa?"


"Kamu itu ditanya kenapa balik nanya?" Seo Won mencubit pelan pipi Yasha. Kalau saja tidak ditahan Seo Won mungkin sudah menggigit pipi Yasha seperti yang dia lakukan tadi.


Seo Won harus bisa mengendalikan keinginannya seperti anak umur belasan yang baru saja jatuh cinta. Tindakan agresifnya itu membuat Yasha takut. Jadi dia akan melakukannya pelan - pelan.


"Hah? Tidak boleh?"

__ADS_1


"Jawab aku dulu.. sejak kapan?"


"Mmm.. mungkin sejak oppa dan kakak ipar datang ke rumahku.. tapi aku masih kagum saja.. aku tidak tahu tepatnya kapan.." Jawab Yasha sambil memalingkan wajahnya.


"Ih malu tahu.."


"Sudah lama sekali. Kenapa tidak bilang?"


"Hah? Oppa gila? Mana mungkin aku asal mengakui perasaan pada orang yang baru ku temui.."


"Ya kan siapa tahu aku bisa mempertimbangkannya.."


"Hah? Astaga.. minggir, aku mau turun.. kasihan ramennya.. susah - susah dibuat malah dianggurin.." Yasha merajuk. Dia malu dengan godaan Seo Won. Posisi mereka juga sangat canggung, tidak bagus untuk kesehatan. Kesehatan jantung Yasha maksudnya.


"Tidak mau.. ramennya bisa dimakan nanti.." Seo Won mempererat pelukannya. Dia membenamkan kepalanya di dada Yasha.


Lagi - lagi tubuh Yasha tersentak. Seo Won sangat agresif hari ini. Entahlah. Yasha berusaha menjauhkan kepala Seo Won dari dadanya namun percuma, kekuatannya tak seimbang dengan Seo Won. Akhirnya Yasha menyerah. Perlahan dia mengelus puncak kepala Seo Won. Rambut Seo Won yang berantakan sangat seksi, tak kalah dengan orangnya.


"Oppa belum menjawab pertanyaanku.." Ucap Yasha melunak. Siapa coba yang tidak luluh diperlakukan penuh cinta seperti ini.


"Entahlah.. sejak kapan rasa ini ada.. saat aku sadar rasa itu sudah ada dan semakin besar.." Jawab Seo Won tegas.


"Hmm.."


"Berarti hari ini hari pertama kita kan?"


"Hah? Hari pertama?"


"Hari pertama kita pacaran.."


Yasha sepertinya lupa setelah saling mengungkapkan rasa selanjutnya adalah komitmen.


Deg


Detak jantung yang sejak tadi berontak, tiba - tiba tenang. Ini bukan lagi bahagia, ini adalah suka cita. Yasha tak menyangka hari ini akan tiba. Dia yang menyukai Seo Won diam - diam tak berharap lebih kini mendapatkan hatinya.


Anggukan cepat menjadi jawaban Yasha.


"Ya ini hari pertama kita.."

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2