My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
68. Reuni


__ADS_3

Mobil Taejoon melaju di jalanan kota Seoul. Sesekali Taejoon melirik Jemima yang pulas ditangan Yana. Wajahnya sangat tidak asing. Taejoon yang diselimuti rasa penasaran memilih untuk diam, namun diam-diam dia telah menyusun daftar pertanyaan untuk Yana.


Mereka sampai disebuah rumah sederhana di tengah kota Seoul. Rumah itu adalah rumah pribadi Taejoon. Rumah yang nantinya akan ia gunakan untuk membesarkan anak-anaknya dengan Jieun.


Yana berjalan masuk mengikuti Taejoon yang membawakan kopernya. Taejoon menuntun Yana ke sebuah kamar yang cukup luas.


"Masuklah.. kamar ini sedikit kecil karena ini kamar tamu.. rumah ini hanya memiliki tiga kamar. Dua kamar utama sedang berantakan karena aku baru saja pindahan dan untuk persiapan pernikahan.."


Taejoon membukakan pintu kemudian meletakkan koper Yana di dekat lemari pakaian. Matanya terus saja memperhatikan Yana yang membaringkan Jemima di kasur dan menyelimutinya.


"Untung saja Jemy tidak rewel. Dia anak yang naik. Selama di pesawat Jemy tidak mau tidur. Dia baru tidur setengah jam menjelang landing.." Celetuk Yana lirih.


Taejoon mendekat.


"Berapa usianya?"


"Bulan depan genap satu tahun.."


"Anak yang manis. Ah iya.. Jieun akan segera datang. Tadi aku sudah mengabarinya lewat pesan singkat.."


Yana mengangguk. Dia terus menata tempat tidur untuk Jemima agar tidurnya nyenyak. Pukul tiga sore waktu Korea. Jam tidur Jemima tiga sampai empat jam untuk tidur siang. Karena di pesawat Jemima tidak tidur mungkin tidurnya kali ini agak lama.


"Jemima namanya.. nama yang indah.."


Mata Taejoon terus memperhatikan bayi monton Jemima yang pulas. Pipinya yang gembul menarik perhatiannya. Bayi yang menggemaskan.


"Taejoon!! Yan!! kalian ada dimana?" Suara melengking khas Jieun terdengar. Suara yang seperti sirine itu terdengar jelas.


"Astaga gadis itu. Kebiasaannya tidak berubah.."


Taejoon terlonjak kaget. Dia sering mendengarnya namun jantungnya selalu terkejut setiap mendengarnya.


Yana tersenyum tipis.


"Hei kami disini.. kamar dekat dapur.." Seloroh Taejoon berjalan keluar. "Jangan teriak-teriak Jemima sedang tidur.." Lanjutnya melihat sosok Jieun yang berjalan mendekat.


"Siapa Jemima?" Tanya Jieun penasaran. Belum juha terjawab mulut Jieun sudah mengeluarkan kata-kata lagi.


"Yana!!!!" Teriak Jieun girang.


Jieun yang melihat Yana langsung berhambur kearahnya. Dia memeluk Yana erat.


"Yana!!!!" Jieun mengulangi kata-katanya.


"Bagaimana kabarmu?" Yana membalas pelukan Jieun.


"Aku baik. Aku rindu kamu!!" Suara Jieun benar-benar tidak bisa dikendalikan.


Tampaknya Jieun belum sadar jika di dalam kamar ada bayi yang sedang tidur dan mungkin saja bangun karena suaranya yang melengking.


"Sudah sudah. Bagimana kalau kita ngobrol diruang tamu saja. Suaramu mengganggu Jemima tidur.."

__ADS_1


Dengan cepat Taejoon menginterupsi acara berpelukan Jieun dan Yana. Tangannya segera memisahkan tubuh mereka berdua.


"Siapa Jemima?!" Bentak Jieun pada Taejoon.


Jemima adalah nama seorang gadis. Antena prasangka Jieun langsung berdiri.


"Aku bilang pelankan suaramu.. astaga.. Jemima sedang tidur.." Taejoon menangkup pipi Jieun kemudian mengarahkannya ke Jemima.


"Anak siapa itu?"


"Anakku.." Jawab Yana dengam tersenyum.


"Hah?" Suara Jieun kembali melengking.


"Astaga! Ayo kita ngobrol diluar.." Taejoon menarik paksa tangan Jieun keluar. Calon istrinya ini benar-benar sudah gila.


Yana terkikik geli melihat Jieun yang tidak berubah. Suaranya yang keras, emosinya yang meluap-luap sangat bertolak belakang dengan sifat Taejoon yang pendiam. Yana sangat menantikan cerita mereka.


Bagaimana ya kok bisa menikah?


Taejoon, Jieun dan Yana duduk di bawah beralaskan karpet. Meja ada kecil ada ditengah mereka.


Hening.


"Mm.. Jemima ya namanya.. berapa usianya?" Jieun buka suara.


"Satu tahun.."


Yana menghirup udara dalam-dalam kemudian dia membuka mulutnya. Menceritakan semuanya yang terjadi padanya dua tahun ini. Semuanya dengan jujur. Tidak ada alasan menyembunyikannya lagi. Dia tak sanggup untuk berbohong pada Taejoon dan Jieun. Dua orang itu adalah sahabat yang dia punya.


"Kenapa kamu tidak memberitahu kami Yana? Kamu pasti mengalami banyak kesulitan.." Ucap Taejoon diakhir cerita Yana.


"Maafkan aku.. aku tak ingin kalian khawatir. Aku baik-baik saja.."


"Apa kamu tidak ingin Max tahu makanya kamu juga menyembunyikannya pada kami?"


Akhirnya nama Max mencuat juga diantara bahasan mereka. Yana mengangguk pelan. Alasan utamanya memang itu. Hubungan mereka sudah lama usai. Jika ada jejak setelah itu, itu berarti urusan Yana. Resiko yang harus dia tanggung karena telah salah mempercayai laki-laki. Dia tak mau Jemima dianggap sebuah kesalahan. Jemima bukan aib. Yana tak ingin Jemima menjadi bahan olok-olok kebodohannya. Jemima adalah hadiah dari Tuhan. Makanya Yana menutup rapat Jemima untuk melindunginya.


"Berarti Max tidak tahu kamu melahirkan Jemima?"


"Ya.. kami sudah lama selesai. Dia pasti sudah melupakanku. Tak ada untungnya juga dia tahu. Hubungan kita hanya sebentar.." Jawab Yana menundukkan kepala.


"Tapi Max ayahnya Yana.. jika Jemima bertanya siapa ayahnya bagaimana?"


"Aku akan memberitahunya nanti jika dia sudah besar.."


"Lalu Max?"


Yana menggeleng.


"Dia tidak perlu tahu. Aku tidak akan meminta belas kasihannya. Aku bisa membesarkan Jemy sendiri.."

__ADS_1


"Kamu yakin? Kalau dia tiba-tiba tahu?"


"Aku tidak akan membiarkan dia tahu. Kalian mau menjaga rahasia Jemima kan?"


Jieun dan Taejoon saling pandang dalam diam.


"Tentu saja.." Mereka kompak menjawab.


"Aku percaya padamu Yana. Semua keputusan yang kamu ambil pasti sudah kamu pikirkan. Aku hanya sedikit khawatir.." Timpal Jieun.


"Aku baik-baik saja Song Jieun.. jangan terlalu khawatir. Banyak yang harus kamu pikirkan selain aku. Dua hari lagi kamu akan menikah.."


"Astaga.. aku sudah melupakan sejenak keributan itu Yana. Persiapan menikah ternyata sangat merepotkan.."


Hahahahaha..


Meledaklah tawa diantara mereka.


"Mau minum soju?" Tawar Taejoon.


"Ah aku tidak. Aku masih menyusui Jemima.." Yana menyilangkan kedua tangannya.


"Minum jus buah lebih baik.." Ucap Jieun.


Tangisan Jemima mengehentikan obrolan mereka sejenak. Yana segera bangkit kemudian mengambil Jemima. Wajah Jemima masih dipenuhi kantuk. Kelapanya terkulai di tangan Yana. Dengan rakusnya Jemima minum susu dari Yana langsung. Setelah kenyang Jemima jadi bersemangat lagi. Bayi montok itu sekarang mulai bergumam lagi. Rasa kantuknya telah menghilang dari matanya. Yana membawa Jemima dalam pelukannya kemudian kembali ke ruang tamu.


"Ya Tuhan Jemima.. dia mirip sekali.." Mulut Jieun menganga. Dia takjub melihat Jemima.


"Aku pertama melihat Jemima juga begitu.." Sambung Taejoon.


"Matanya mirip sekali. Tidak tidak.. bahkan hidung, bibir, dan senyumnya mirip sekali dengan Max.."


Jieun tak ada henti-hentinya memuji wajah Jemima yang sangat mirip dengan Max. Bayi berusia satu tahun yang tertatih belajar berjalan ini seperti duplikat ayahnya. Sangat menggemaskan.


"Tidak ada keraguan lagi. Sekali melihat pasti akan tahu jika Max adalah ayah Jemima.." Celetuk Jieun.


"Mirip banget ya?" Tanya Yana.


"Banget.."


"Padahal aku yang mengandungnya hingga lahir. Bisa-bisanya tidak ada aku sama sekali di wajah Jemy.."


"Mungkin Jemima adalah penggangi sosok Max buat kamu Yana.. dia bisa menjadi pengobat rindumu pada Max. Apakah kamu masih mencintai Max? Maaf kalau aku lancang.."


Ucapan Taejoon walaupun sekali dan itupun jarang, sangat mengena dihati Yana. Selama ini belum ada yang bertanya padanya. Masihkah kamu mencintai Max?


"Entahlah.." Jawab Yana acuh.


Yana sendiri tak tahu isi hatinya. Masih mencintai Max? Yana sepertinya sudah lupa dengan semua itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2