
Rasanya lelah sekali. Matapun berkabut. Untuk menggerakkan jaripun rasanya berat. Sakit. Seluruh tubuh Yana terasa sakit.
Yana bangun dengan Max berada di dadanya dan tangannya melingkari perut Yana. Tangan Yana mengelus rambut Max pelan. Semalam adalah malam paling panjang untuk Yana. Max tak membiarkannya tidur. Setelah selesai satu putaran, Max tak memberi waktu istirahat untuk Yana. Yana baru saja tidur saat fajar.
"Max.." Ucap Yana lirih. Sebenarnya tak ingin waktu berpisah. Tapi apa daya, Yana harus kuliah.
"Hmmm.." Max menggeliat pelan. Matanya masih tertutup ketika tubuhnya berguling ke sisi kasur yang kosong.
"Aku harus pulang sekarang. Aku ada jadwal kuliah.. jangan buat aku jadi anak nakal.."
"Tidak boleh.." Jawab Max dengan mata setengah tertidur. Pelukannya semakin erat.
"Max.." Yana protes.
"Sssttt.. tidurlah.. hari ini adalah hari liburku yang terakhir. Besok aku harus kembali kerja lagi.." Max mendengus kesal. Kepalanya masih di dada Yana.
Yana kembali mengelus kepala Max. Dia menghela nafas dalam. Apapun yang diminta Max sulit dia tolak. Jatuh ke dalam pesona Max lagi dan lagi.
-----
Hari sudah sore ketika dua manusia itu benar-benar bangun. Max adalah orang yang bangun pertama kali. Setelah mandi dia ke dapur membuat minuman hangat. Duduk di tepian kasur kemudian mengusap pipi Yana pelan.
"..Na.."
"Yana.."
Sayup-sayup terdengar suara memenggil namanya. Pipinya juga terasa hangat disentuh sesuatu. Setengah sadar Yana mengidentifikasi objek di depannya.
"Max.."
"Bangun.." Max mendoncongkan tubuhnya kemudian memeluk Yana.
Mata Yana terbuka lebar menerima pelukan Max. Tangannya menyentuh rambut Max yang masih basah. Aroma sabun yang bercampur aroma tubuh Max tercium hidungnya. Segar. Harum. Sungguh luar biasa. Tiba-tiba dada Yana sesak akan ketakutan. Takut akan banyak hal. Sanggupkah dia kehilangan pria ini. Pria yang baru saja menyatakan perasaan padanya.
Aku mencintamu Max. Aku cinta kamu.
Kata itu tercekat di tenggorokan Yana.
"Bangun terus mandi. Aku tunggu di meja makan.. oke?" Max mendongak. Mencium pipi Yana pelan.
Yana mengangguk.
__ADS_1
-----
"Kamu bisa memasak?" Yana terpesona.
Max menggunakan apron memegang spatula dan panci di tangannya. Kemarin pagi Max memasak nasi goreng sebenarnya. Tapi Yana tidak melihatnya karena Max beruntun menerima tamu yang tak diundang. Pertama Seo Woon yang kedua Gongmin dan Antony.
"Aku tinggal sendiri.. memasak bukanlah hal yang sulit.." Jawab Max datar.
"Bukanlah hal yang sulit?" Yana mengulang kata Max dengan wajah tak percaya.
Spagetti. Memasak spagetti bukanlah hal yang sulit? Otak Yana dipaksa untuk percaya. Tapi ini memang kenyataan. Max memasak didepan matanya dengan sexynya. Betapa beruntungnya mata Yana melihat mahakarya Tuhan ini.
"Makanlah.. seharian kamu belum makan.." Max menyodorkan piring berisi spagetti.
"Selamat makan!" Yana berseloroh penuh semangat. Dengan cepat tangannya menyambar garpu dan melilit beberapa spagetti menjadi gulungan besar.
"Wah... enak.. Max kamu luar biasa.."
Yana buru-buru memasukkan spagetti di piring ke dalam mulutnya. Mulut kecil miliknya belepotan saus dan pipinya mengembang.
Max terkekeh. Kelucuan Yana mengalihkan dunianya. Dia lupa jika piring spagetti miliknya belum tersentuh.
"Pelan-pelan.. tak ada yang merebut makananmu.." Max menyeka saos di pipi Yana dengan tangannya kemudian menjilatnya. Senyum manisnya tersungging.
"Ah ya.. aku sudah menyiapkan tempat tinggal yang baru untukmu. Sebuah apartement kecil.."
"Hmm? Apartement?" Yana menjatuhkan garpunya.
"Ya. Keberadaanmu disini tidak aman. Di tempat tinggalmu yang lama juga tidak aman untukku. Harus ada tempat yang aman untuk kita berdua bukan?"
"Ah.. haruskah? Kita biasanya bertemu di luar. Tidak pernah terjadi masalah selama ini.." Protes Yana.
"Di luar? Apakah kamu tidak memikirkan apa yang kita lakukan semalam?"
"Hah?"
Mendengar kata semalam tubuh Yana seperti tersengat listrik ribuan volt. Tentu saja dia ingat. Hal intim yang di lakukan semalam dengan Max dan rasa sakit yang dia terima. Bahkan tadi ketika dia mandi, rasa sakit itu masih melekat. Jangan bilang Max mau melakukannya lagi.
"Apa maksudmu Max?" Yana gelagapan.
"Kita butuh tempat untuk berduaan Yana. Aku tidak mau melakukannya di luar. Melakukannya disini itu sangat beresiko. Bisa saja Woon hyung atau yang lain datang. Aku tidak mau diganggu.."
__ADS_1
Astaga. Pipi Yana terasa panas. Pria ini di dalam pikirannya hanya ada nafsu.
"Max!"
"Kenapa? Kamu tidak berencana tidak melakukannya lagi denganku kan?" Suara Max bergetar.
Yana tak sanggup menjawab.
"Ah serius? Aku sudah bilang semalam kalau kita berhubungan sekarang.. jangan menghindariku.."
"Tapi aku belum menjawabnya.."
"Aku tidak peduli. Segara pindah atau akan melakukan sesuatu yang tak terduga.."
"Mana bisa begitu. Max kamu pemaksa.."
"Tapi aku lembut padamu. Setidaknya di tempat tidur.."
"Max!"
Saat ini pipi Yana semerah tomat. Berkali-kali Max mengucapkan mata yang membuatnya malu. Max memang juaranya.
"Kemasi barangmu dan besok segeralah pindah.."
"Bagaimana aku bilang pada Jieun. Teman sekamarku?"
"Apapun yang menurutmu masuk akal.."
"Termasuk hubungan kita? Aku boleh mengatakannya.."
"Lebih baik untuk tidak mengatakannya pada siapapun.." Jawab Max datar.
Entah kenapa Yana tersinggung. Jadi hubungan mereka adalah rahasia. Apa bedanya dengan simpanan. Yana menunduk.
"Sudah selesai makan?"
Yana mengangguk lemas.
"Aku antar kamu pulang.."
Flashback Off
__ADS_1
Bersambung..