My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
34. Rumit (2)


__ADS_3

Yana pengibarkan bendera putih.


Melewati perdebatan yang panjang akhirnya Yana menuruti keinginan Max. Apapun hal yang diinginkan Max harus dikabulkan. Kadangkala Yana merasa sesak akan dominasi Max. Hari inipun dia dengan mati-matian merayu Max.


Bak anak kecil yang meminta permen tapi tidak boleh ibunya. Bibirnya mengerucut. Matanya menatap lurus ke layar televisi tanpa menoleh pada Yana yang sudah duduk disampingnya. Sampai saat ini Yana belum membalas pernyataan cintanya. Max tak mungkin memaksa Yana. Gadis itu tak menolak semua perlakuannya, tak menolak akan sentuhannya di atas kasur tapi Max benar-benar tak bisa memprediksi hati Yana. Setiap saat dia bisa memeluk tubuh Yana, tapi itu hanya tubuh. Sebuah cangkak. Sedangkan isinya tidak. Kenyataan itu membuat Max kesal. Dia tak mau kehilangan Yana. Dia sudah memiliki tubuh Yana tapi untuk hatinya belum. Max ingin seluruh hidup Yana, tanpa kecuali.


"Max.." Panggil Yana lembut.


Tak ada respon.


"Max.." Panggilnya lagi. Kali ini Yana memberanikan diri mencium pipi Max. Bahkan Yana terkejut dengan keberaniannya ini.


Masih tidak ada respon.


"Kamu marah?"


Batin Yana mengutuk. Harusnya dia yang marah karena dia tidak tahu kenapa Max marah padanya. Tapi keadaannya sekarang tidak memungkinkan untuk melawan Max. Dia bukan korban tapi tersangka disini. Max benar-benar seperti anak kecil.


"Kalau kamu marah aku minta maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya bingun dengan kamu yang tidak biasanya.. kalau kamu marah dan tidak mau berbicara denganku baiklah.. aku akan ke tempat Jieun.." Yana berdiri. Kakinya hendak melangkah namun tangannya ditarik Max.


"Mau kemana kamu?"


Sorot mata marah. Yana bergidik melihatnya kilatan merah di bola mata coklat Max.


"Mungkin kamu tidak nyaman dengan orang yang membuatmu marah.. jadi aku mau ke tempat Jieun.." Jawab Yana cepat.


Alis Max terangkat sebelah. Memandang dengan intens mata Yana. Amarah menyusup bersamaan dengan aliran darahnya yang mengalir ke suluruh tubuhnya.


"Apa maksudmu?!"


Max menarik tangan Yana dengan cepat kemudian merengkuh tubuh kecilnya dan membawanya ke dalam pangkuan Max.


"Dasar keras kepala.."


Max menggigit pipi Yana. Tidak sakit tapi meninggalkan bekas merah tipis di pipi Yana.


"Sakit.." Tubuh Yana berjingkat.

__ADS_1


"Keras kepala.." Max menekankan ucapannya.


"Apa terjadi sesuatu di Jepang?"


"Jepang?"


"Kamu bersikap aneh.."


"Tidak ada. Apanya yang aneh? Aku hanya ingin menghabiskan waktu senggangku bersamamu.." Max merapatkan tubuhnya. Tubuh Yana seperti magnet. Max selalu ingin berdekatan dengan Yana. Dia harus mencari cara untuk mengikat Yana jika Max tak mau kehilangannya.


Ok baiklah. Jika Max mengatakan tidak ada itu berarti tidak ada apa-apa dan jangan bahas itu lagi. Menghabiskan waktu setahun dengan Max membuat Yana mengenal Max dengan sangat baik. Jika Max mengatakn tidak, meskipun itu mungkin ya, akan tetap tidak.


-----


Korea memiliki perbedaan waktu 2 jam lebih awal dengan Indonesia. Jika di Korea pukul 7 PM berarti di Indonesia sekarang pukul 5 PM.


Yana memposisikan ponselnya tepat di depannya. Max berada disampingnya. Inilah kekalahannya. Max ngotot ingin menyapa keluarga Yana di Indonesia.


Setelah mengotak-atik ponselnya. Gambar dua anak remaja muncul di layar ponselnya.


"Yasha.." Sapa Yana.


"Kakak.." Yasha dan Yoga kompak menyapa Yana.


"Bagaimana kabar kalian?" Yana antusias. Kerinduannya akan keluarga tak terbendung.


Max hanya diam, memperhatikan gambar dua anak remaja yang mirip dengan Yana. Selain itu Max juga tidak mengerti bahasa mereka. Max memilih untuk diam memperhatikan situasi.


"Kami baik kak.. Kakak siapa paman yang ada disebelah kakak.." Celetuk Yoga.


Yana terkekeh geli. Yoga memanggil Max paman. Dia melirik Max sekilas tapi Max tak ada respon. Kemungkinan besar Max tak mengerti bahasa mereka. Dan itu memang benar.


"Apa yang mereka bicarakan?" Max membuka suaranya. Dua adik Yana itu menunjuk Max. Max merasa mereka sedang bertanya siapa Max.


"Mereka bertanya kamu siapa.."


"Oh.." Mulut Max membulat. "Hai.. im your sister boyfriend.." Ucap Max tiba-tiba.

__ADS_1


"Boyfriend? Hai.. im Yasha.. and my lil bother Yoga.." Suara Yasha sangat antusias. "Kak.. pacara kakak ganteng banget.. what your name?" Tambahnya.


"Max.. nice too meet you.." Max tertawa melihat adik Yana yang sepertinya antusias padanya.


"Kakak.. pacar kakak ganteng.. aku bilang ayah sama ibu ya.."


"Yasha.. tidak perlu.. biar kak Yana sendiri nanti yang bilang ke mereka.." Sergah Yana.


Bisa gila Yana kalau orang tuanya tahu. Yana belum tahu apakah orang tuanya akan senang atau tidak. Untuk saat ini Yana memilih untuk tidak memperkenalkan Max dulu. Nanti. Biar waktu yang menjawabnya.


"Hai..."


"Hai..."


Kedua adik Yana dan Max saling bertukar sapaan meskipun hanya 'hai'. Lucu. Tangan mereka saling melambai. Yana tak menyangka mereka bisa akrab begitu meskipun terkendala bahasa. Tampaknya bahasa tak jadi penghalang sekarang. Max dengan baik memperkenalkan dirinya pada adik Yana.


"Kapan-kapan kakak VC lagi. Jaga kesehatan. Salam untuk ayah dan ibu.."


"Kakak juga.. kami sayang kakak.."


Klik. Layat ponsel kembali normal. Gambar dua adik Yana menghilang. Hati Yana kosong.


"Apakah mereka adikmu?"


"Iya.."


"Mereka imut.."


Imut? Mata Yana mendelik. Kata imut keluar dari mulut Max, sangat kontras dengan raut wajah dan rahangnya yang keras.


"Tadi tidak ada orang tuamu.. kemana mereka?"


"Sepertinya ada urusan.." Kelit Yana.


"Kalau begitu apakah aku harus memberi salam langsung ke Indonesia?"


"Apa?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2