My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
51. Motherhood


__ADS_3

Matahari sudah menyingsing. Entah jam berapa dia tertidur. Tubuh Yana tak berdaya karena lelah.


Kedamaian tidurnya yang sebelumnya sudah direnggut Max kembali terganggu. Rasa panas di bagian bawahnya kembali menjalar. Rasanya menggelitik hingga tulang belakangnya. Mata Yana terbuka sepenuhnya karena rasa sakit di area pahanya.


"Max.."


Matanya masih berkabut. Samar-samar terlihat wajah Max diatasnya dengan tubuh yang bergerak ke depan dan ke belakang. Ketika Max mendorong dengan kuat Yana menjerit.


Kesadaran Yana sepenuhnya kembali karena rasa sakit itu.


"Ah! sakit.." Rintih Yana. Air matanya mengalir dari sudut matanya.


Max memaksakan dorongannya tanpa stimulus terlebih dahulu. Melihat Yana yang terlelap membuatnya cemburu. Bagaimana bisa wanitanya memilih untuk tidur daripada dia. Amarahnya berkobar bersamaan dengan gairahnya yang belum puas meskipun telah dipadamkan berkali-kali.


Rasa sakit itu lama-lama berubah menjadi kenikmatan. Tubuhnya beradaptasi dengan baik. Mereka bersatu dengan ritme yang dikendalikan sepenuhnya oleh Max.


Dia tak akan sanggup melakukannya lagi. Tak terhitung berapa kali mereka melakukannya. Klimaks waktu fajar tadi dia anggap adalah yang terkahir. Tapi ketika matahari muncul tak disangka Max menyerangnya lagi. Menyakitinya dengan dorongan tanpa stimulus lebih dulu.


Yana jatuh terkulai di atas lengan Max. Lelah sekali.


"Kenapa kamu seperti ini Max?" Ucap Yana sambil terkantuk.


"Hmm.. aku?" Suara Max berat.


"Kamu kasar. Apa yang terjadi?"


"..."


"Apa aku melakukan kesalahan?" Yana mengangkat wajahnya untuk bertemu pandang dengan Max.


Max meraih dagu Yana kemudian mencium bibirnya pelan.


"Aku tidak suka kamu memakai pakaian semalam.."


Yana mengingat apa yang dia pakai. Kaos putih dan rok hitam panjang.


"Kenapa?"


"Dadamu bisa terlihat jelas.."


"Max!" Yana memukul dada Max. Bagaimana pakaian bisa didefinisikan dengan cabul oleh Max.

__ADS_1


"Menolak untuk memakai seperti itu lain kali.. aku tidak suka memamerkan milikku ke orang lain.."


Batin Yana menggeram keras. Tidak ada yang salah dengan pakaian yang dia kenakan. Pakaian yang dipilihlan oleh para pelayan sesuai dengan seleranya. Pakaian sesopan itu masih dikritik Max? Apa dia harus menggunakan pakian yang membungkus seluruh badan seperti suku dataran tinggi? Astaga.


Yana mengangguk kemudian tertidur dipelukan Max.


-----


"*Haus.."


"Jam berapa sekarang?"


"Tubuhku sakit.."


"Tak bisa digerakkan sama sekali*.."


"Nona anda sudah bangun?" Suara pelayan terdengar jelas.


"Haus air.." Gumam Yana lirih.


Elea yang secara langsung melayani Yana mengambil gelas air kemudian membantu Yana bangun dan memberikan gelas itu.


"Pukul 12 siang Nona.. saya kemari untuk melihat kondisi anda. Anda melewatkan sarapan. Apakah anda baik-baik saja? Nyonya khawatir karena anda belum bangun.."


"Aku hanya lelah.." Yana menjawab malas.


Semuanya adalah ulah Max dia jadi bangun siang. Di rumah calon mertua malah seperti ini. Max membuatnya menjadi calon menantu yang buruk.


"Nyonya sudah menunggu anda di bawah untuk makan siang. Anda mau mandi terlebih dahulu atau langsung makan?"


Langsung makan katanya? Dengan keadaannya yang kacau? Rambutnya saja seperti singa.


"Aku akan mandi dulu Elea. Bisa bantu aku untuk bangun. Punggungku sakit sekali rasanya.."


Elea membantu Yana bangun dengan hati-hati. Salah satu tangan Yana berpegangan tangan pada Elea. Ketika kakinya berdiri tegak di lantai, cairan kental berwarna kuning mengalir dari dalam gaun tidurnya mengalir turun ke paha, betis hingga jatuh ke lantai.


Pandangan Yana jatuh ke lantai yang diikuti oleh Elea dan pelayan lain di kamar itu. Astaga..


Para pelayan memandang Yana dengan wajah datar tanpa ekspresi. Mereka faham apa yang terjadi. Merrka tahu cairan apa tadi yang mengalir jatuh. Merrka sudah terlatih melayani Nyonya rumah sebelumnya. Tapi Yana tak biasa. Ini adalah hal paling memalukan dalam hidupnya.


"Aku akan mandi sendiri Elea.. tolong tinggalkan aku sendiri.."

__ADS_1


"Tapi Nona tampak lemah. Apa ada yang tidak nyaman?"


Ingin rasanya Yana teriak "Tinggalkan aku.. aku malu!"


Tapi ucapan Elea tak salah. Saking lelahnya, tubuhnya jadi lemas.


"Aku malu Elea.. kamu saja yang membantuku.. tolong yang lain suruh pergi.."


Elea segera mengirim pelayan yang lain. Setelah pintu kamar tertutup, Elea membantu Yana mandi dan berganti baju.


Urat malu Yana sudah tidak ada lagi. Setelah kejadian tadi kali ini leher dan dada Yana dipenuhi bercak merah. Seperti sudah mati rasa karena malu, Yana tak menghiraukan jika Elea melihatnya. Untungnya Elea juga tak bereaksi apapun.


Dress yang dipilihkan Elea sangat cocok. Dress selutut warna merah gelap dengan leher yang tinggi. Elea memang pelayan yang bisa diandalkan.


"Akhirnya kamu bangun juga.."


Nyonya Ham buka suara saat melihat Yana turun dari lantai ke dua.


"Maafkan aku bu.. aku harusnya bangun pagi malah aku bermalas-malasan seperti ini.."


Yana mendekati ibu Max yang duduk di ruang penerima. Sepertinya sedang menikmati tehnya.


"Tidak ada yang perlu dilakukan juga jika bangun pagi Yana.. hanya Max jadi heboh karena kamu belum bangun.."


Aku seperti ini karena ulah anakmu tahu.. Batin Yana berteriak lantang.


"Maafkan aku..Yana menunduk. "Dimana dia sekarang ibu?" Lanjutnya.


"Dia ada pemotretan tadi kalau tidak salah. Melanjutkan pekerjaannya yang kemarin. Kata Woon tadi ada di studio foto.." Jawab ibu Max.


Yana mengangguk faham.


"Bagaimana kalau kita susul mereka dengan membawa makan siang? Kuharap mereka belum makan siang.." Mata Nyonya Han berbinar.


"Memang kita boleh?" Tanya Yana.


"Tentu saja boleh.." Jawan ibu Max. "Elea segera siapkan makanan yang bisa kita bawa.." Titah Nyonya Han.


"Baik Nyonya.."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2