My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
Side Story - Yasha


__ADS_3

ADA KENANGAN INDAH DI CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA.


-----


Yasha baru bisa tidur dini hari. Seharian dia menunggu kabar dari Yana---kakaknya--- yang katanya akan pulang hari ini. Tapi tiba-tiba saja Yana yang berada di Korea itu mengundur kepulangannya dan itu sudah terjadi dua kali. Yana tak mengatakan dengan jelas kenapa harus mengganti jadwal kepulangannya, dia hanya bilang ada beberapa hal yang perlu diurus.


Tidur Yasha semakin pulas mengingat hari ini adalah hari pertama libur semester. Semestar depan adalah semester akhirnya kuliah. Artinya dia harus rajin mengerjakan TA untuk menyelesaikan kuliahnya di jurusan manajamen perhotelan. Dua bulan kedepan Yasha akan memanfaatkan waktu liburannya untuk menyusun TA agar bisa segera lulus dan kerja. Dia ingin menjadi wanita yang mandiri. Menjadi wanita karir yang sukses dalam bidang perhotelan. Selama ini dia sudah banyak membebani keluarganya terutama Yana, kakaknya.


Baru beberapa menit terpejam, suara Yoga meraung-raung membangunkan mimpi indahnya.


"Apa? Aku baru tidur Yoga.."


"Kak bangun. Ada tamu yang katanya dari Korea.."


"Korea?" Sontak sana Yasha membuka matanya lebar-lebar.


"Iya.. aku tidak begitu mengerti bahasa Inggris, kakak temui mereka. Ibu dan ayah sedang bersama mereka di ruang tamu.."


"Kak Yana sudah pulang?" Tanya Yasha segera turun dari ranjang. Rasa kantuk yang menempel erat di kelopak matanya tiba-tiba saja sirna entah kemana.


"Belum.."


"Lah terus mereka siapa?"


"Makanya kakak temui mereka dulu, salah satu dari mereka bisa berbahasa Indonesia tapi sedikit-sedikit.." Yoga menarik lengan Yasha ke arah pintu.


"Tunggu dulu.. apakah dia ayah Jemy?"


Keluarga Yana tahu siapa ayah Jemima. Dengan alasan takut mengingatkan akan masa lalu Yana, mereka semua menutup rapat-rapat mulut mereka. Tidak ada yang berani mengucapkan kata Max sekalipun. Yasha dan Yoga tahu persis wajah ayah Jemima. Jemima dan ayahnya bak pinang di belah dua. Sudah dua tahun berlalu tapi tidak menjadikan ingatan mereka memudar.


"Bukan.. entahlah siapa tadi namanya.. Arthur dan Seo Woon atau siapalah.. kakak cepatlah.." Yoga menarik-narik tangan Yasha kasar.


"Iya iya.." Jawab Yasha pelan. Dalam hati dia bertanya "siapa mereka? nama itu sangat asing ditelinganya..".


Diam-diam dia melirik jam yang menempel di dinding. Pukul satu pagi, berarti 30 menit yang lalu Yasha tidur. Mereka sungguh tidak sopan bertamu pagi-pagi begini. Apakah kebiasan orang disana seperti ini? Sekuat apapun Yasha berfikir dia tidak bisa menemukan jawaban apapun. Dia akan mengkritik habis-habisan tamu yang berani mengganggu istirahatnya.


Tampaknya Yasha lupa dengan kritik yang dia rencanakan. Otaknya blank melihat dua sosok pria yang tengah duduk di hadapan kedua orang tuanya dan Yoga. Salah satu dari mereka mengeluarkan cahaya keemasan dari tubuhnya. Mata Yasha berkilat-kilat melihat pemandangan dua pria yang seperti dewa-dewa Yunani.


"Oh kakak!" Yoga sadar akan kehadiran Yasha.


Suara pekikan Yoga terdengar seperti 'syukurlah kamu datang.. aku tidak mengerti apa yang mereka ucapkan..'. Yasha mendengus kasar. Yoga telah mengganggu fantasinya.


"Hai.. ada yang bisa saya bantu.." Ucap Yasha dalam bahasa Inggris.

__ADS_1


Kemahiran berbahasa asing bukanlah hal sulit baginya. Mengambil jurusan perhotelan ada tuntutan sendirii untuk mahir berbahasa asing, minimal bahasa Inggris. Bahasa Inggris ibaratnya kemampuan dasar untuk masuk bisnis perhotelan. Selama kuliah Yasha kesana kemari untuk meningkatkan kemahiran bahasa asingnya. Selain bahasa Inggris, Yasha juga sedikit menguasai bahasa Jepang dan Korea.


"Akhirnya kita bisa berkomunikasi dengan baik.. perkenalkan saya Seo Woon. Sekretaris pribadi Max.." Seo Woon mengulurkan tangannya pada Yasha.


"Max?" Yasha sedikit terkejut. Dia sontak menoleh pada Yoga yang sepertinya paham setelah mendengar nama Max.


"Ya.. saya kemari untuk menjemput keluarga Nona.. itu perintah dari Max.." Jelas Seo Woon tanpa basa-basi. Sejak tadi dia berkali-kali melirik jam tangannya. Waktunya tak banyak.


"Hah? Kakakku juga di Korea. Apa terjadi sesuatu padanya?" Tanya Yasha hati-hati.


"Saya hanya diperintahkan untuk membawa semua keluarga anda. Nona Yana dan Jemima baik-baik saja.."


*Adakah suara yang lebih lembut dari ini? atau suara yang lebih indah dari nyanyian? Ah.. Yasha seperti melayang ke langit ketika mendengar suara itu. Suara laki-laki yang bernama Seo Woon.


Kamu percaya pada cinta pandangan pertama?


Selain suara yang indah, laki-laki itu juga sopan. Intonasinya rendah dan sangat beretika. Matanya menatap lurus lawan bicaranya. Dia membuat Yasha seperti tenggelam dalam percakapan yang hanya ada mereka berdua.


"Ah sepertinya aku sudah gila*.."


"... Na.. Nona.. anda mendengar saya?"


Panggilan Seo Woon menginterupsi percakapan Yasha dengan hati nuraninya.


"Saya tidak punya waktu lagi.. Ada hal mendesak yang menunggu di Korea.. anda setuju ikut saya ke Korea kan?" Desak Seo Woon.


"Tunggu.. saya perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi.." Yasha tak mau kalah.


"Akan saya jelaskan dalam perjalanan.."


"Tidak. Saya perlu mendengar alasannya dulu kenapa kami harus ke Korea. Saya mengkhawatirkan kakak dan keponakan saya.." Suara Yasha menggelegar.


Meskipun sejenak dunianya teralihkan oleh Seo Woon, Yasha bersikukuh ingin tahu duduk permasalahannya. Apa alasan orang yang bernama Max---ayah Jemima--- meminta keluarganya ke Korea. Kakaknya juga ada di Korea. Jadi dia butuh menyambung benang merah yang ada.


Yasha melirik dua orang di depannya bergantian. Pria satunya yang duduk di sebelah Seo Woon tak banyak membantu. Dia ada karena Seo Woon takut akan terkendala bahasa. Untungnya Yasha dengan mudah mematahkan anggapannya.


"Baiklah.. akan aku jelaskan. Tapi Nona harus berjanji untuk ikut setelah aku menjelaskannya.."


"Tidak bisa. Akan aku pertimbangkan dulu setelah aku mendengarnya.." Yana melipat kedua tangannya di dada.


Seo Woon tercengang. Sekilas dia melihat Yana di dalam tubuh gadis yang sedang bersitegang dengannya. Mereka sama-sama keras kepala. Kini dia mengerti perasaan Max menghadapi Yana. Adik dan kakak bak pinang dibelah dua. Seo Woon mendengus kasar. Akhirnya dia mengaku kalah.


Dia menceritakan semua yang terjadi di Korea dari awal hingga akhir. Jujur. Tak ada yang dia tutupi sama sekali. Sampailah dia dipenghujung ceritanya, niat Max untuk menikah dengan Yana. Karena tak mungkin dia ke Indonesia bersama Yana mengingat berita yang sedang beredar, makanya Max menyuruhnya untuk menjemput keluarga Yana.

__ADS_1


Mulut Yana terbuka lebar. Bulu matanya mengerjap beberapa kali. Dia tak percaya. Penjelasan Max seperti cerita dongeng yang sering dia dengar saat kecil.


"Jadi bisakah kita berangkat sekarang? Pesawatnya sudah menunggu. Kami tidak bisa lama-lama disini karena kami menggunakan izin khusus.."


"Hah? Tunggu sebantar. Aku perlu membicarakan ini pada keluargaku terlebih dahulu. Aku tidak bisa memutuskan ini sendiri.."


"Aku harap itu tidak akan lama.."


Yasha mengangguk pasti.


Lima belas menit kemudian Yasha kembali ke ruang tamu. Dia langsung duduk di hadapan Seo Woon.


"Sebelum aku memberitahukan keputusan kami. Aku akan bertanya beberapa hal terlebih dahulu.."


"Silahlan.." Jawab Seo Woon mantap.


"Apakah Max, maksudku orang itu.. ayah Jemima.. sungguh-sungguh dengan kakakku?"


"Aku jamin itu.."


"Jemima dan kak Yana baik-baik saja kan?"


"Ya.. kami sudah membentuk unit keamanan untuk Nona Yana dan Nona kecil.."


Alis Yasha mengkerut mendengar Jemima dipanggil dengan sebutan 'nona kecil'


"Kami bersedia ikut ke Korea. Tapi hanya aku, ibu dan adikku.. ayahku tak bisa meninggalkan pekerjaannya.. kami akan memutuskan untuk merestuai Max menjadi suami kakakku setelah kita tiba disana dan melihat situasinya.."


Lagi-lagi Seo Woon seperti kena pukulan telak. Keluarga Yana memang luar biasa. Keluarganya adalah jenis keluarga yang tak mudah ditaklukan. Seo Woon menggerutu dalam hati. Jika dia tak segera membawa mereka ke Korea, rencana yang sudah disusun rapi akan berantakan.


"Setuju. Akan lebih baik jika Nona langsung bertanya pada Max.."


"Ok.."


"Bisa kita berangkat sekarang?"


"Tunggu kami perlu persiapan.."


"Tidak perlu. Semua sudah dipersiapkan disana.."


"Hah?"


-----

__ADS_1


Cinta itu dari mata turun ke hati. Inilah awal kisah manis antara Seo Woon dan Yasha. Ikuti cerita mereka di Side Story ^^


__ADS_2