
Drrtt drrtt
Max meraih ponsel yang ada disakunya.
"Halo hyung.."
"Kami sudah sampai di Korea.."
"Langsung bawa kerumah.."
"Ok.."
Seo Woon mematikan panggilan sepihak. Dia yang baru saja tiba di Korea langsung menelpon Max. Dia membawa tiga orang dari Indonesia. Sepertinya jika Max menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan seperti itu lagi Seo Woon tak kan sanggup. Max tidak tahu betapa beratnya pekerjaan yang dia lakukan kemarin. Seo Woon menghela nafas panjang. Dia menyimpan ponselnya kembali kedalam saku jasnya kemudian menoleh.
"Silahkan ikuti saya.."
Bahasa Inggris Seo Woon berantakan. Untungnya dua dari tiga orang yang dia bawa mengerti ucapannya.
-----
"Kakak ipar mau kakak memakai itu.." Yasha menunjuk gaun yang tergantung di lemari.
Dahi Yana mengernyit. Dia sedang mengeringkan rambut dengan handuk di tangannya. Yana menoleh. Sekilas tak ada yang aneh dari gaun itu, yang aneh adalah Max menyuruhnya memakai gaun itu. Gaun berleher sabrina tanpa lengan dengan panjang menjuntai dibawah lutut. Sesuai dengan seleranya, bermotif floral. Gaun itu berwarna putih dengan bunga-bunga kecil biru dan merah muda membuat gaun itu tampak bersinar di mata Yana.
"Max bilang begitu?" Yana mengkonfirmasi.
"Ya.."
"Kenapa dia sekarang suka nyuruh-nyuruh.." Cibir Yana mengkritik Max.
"Hari ini kan hati spesial kakak.."
"Spesial apanya?"
"Ya spesial.."
Yana mengambil kursi kecil di depan meja rias. Tangannya dengan lincah mengeringkan rambut dan menyisirnya. Rambutnya yang hanya sebahu tak butuh waktu lama untuk mengeringkannya. Yana mengaplikasikan make up tipis di wajahnya. Dia belum memutuskan memakai baju apa untuk hari ini. Matanya terus melirik gaun di gagang pintu lemari.
"Max merencanakan sesuatu kan?" Tanya Yana.
"Tanya aja sama kakak ipar.. aku tunggu diluar ya kak.. aku mau lihat mas ganteng.." Yasha langsung menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Memikirkan gaun itu dan ucapan Max membuat Yana bertanya-tanya. Menikah? Gaun itu jauh dari kata gaun yang biasanya digunakan untuk menikah. Hanya warna putihnya yang identik dengan warna untuk menikah.
Yana cepat-cepat menghilangkan pikirannya yang belum pasti itu. Keluarganya kemari mungkin karena Max tak mau dia kesepian dan menjemputnya. Tak mungkin mereka menikah secepat itu. Akhirnya Yana mengosongkan pikirannya dan segera memakai gaun itu. Dia cukup tertarik dengan penampakan gaun itu. Pesona gaun putih tersebut berhasil membuat Yana memakainya.
Berkali-kali Yana mematut dirinya di depan cermin. Air matanya hampir tumpah saat dia berhasil memakai gaun itu. Bahannya sangat lembut dan ringan. Dengan indahnya gaun itu jatuh begitu saja di kaki Yana. Potongan leher yang pendek mengekspos leher jenjang serta bahu mulus Yana. Panjangnya di bawah lutut tapi tak menutupi kaki Yana yang jenjang. Rambutnya dia biarkan apa adanya. Rambut hitam yang hampur mengenai bahunya itu menampah kesan seksi dan dewasa.
Gaun yang sangat indah. Batin Yana dalam hati. Max memang selalu tahu seleranya.
Rasanya dia sudah menghabiskan waktu yang sangat lama di dalam kamar. Perlahan-lahan Yana keluar kamar. Telinganya menangkap suara tawa banyak orang di ruang tengah. Kakinya melangkah sesuai rasa penasaran di hatinya.
"Kenapa semuanya bisa disini.." Yana tertegun melihat ruang tamu yang dipenuhi dengan banyak orang. Dia tak bisa mendengar apapun saat di dalam kamar. Tubuh Yana menegang karena terkejut.
"Oh sudah bangun.." Max bangkit kemudian menghampiri Yana. Dia menarik tubuh Yana dan menghadiahi pipi Yana dengan ciuman lembut.
Yana yang masih tertegun tak merespon. Dia bahkan belum sadar jika Max menciumnya di depan banyak orang yang dilihat Yana. Ada ibunya, Yasha, Yoga, Taejoon, Jieun, ibu Max, Elea, Seo Woon dan pastinya Jemima yang sekarang ada di pangkuan Nyonya Han, ibu Max.
Matanya mengerjap beberapa kali dengan mulut yang masih menganga. Apa yang terjadi disini. Yana butuh seseorang untuk menjelaskan situasi yang dia lihat saat ini.
"Kenapa? Terkejut ya?" Guncangan kecil dari Max mengembalikan kesadaran Yana.
"Max apa yang terjadi? Mereka kenapa semuanya berkumpul?" Mata Yana tak lepas dari mereka. Dia melihat semuanya tampak akrab. Bahkan ibunya dan Nyonya Han juga tampak akrab.
"Hah?" Sontak Yana mengalihkan pandangannya ke arah Max. "Apa maksudmu?" Tambahnya.
"Sepertinya Yana sudah siap. Bisa kita mulai sekarang?"
"Tentu saja.." Celoteh dari beberapa orang dengan diikuti anggukan.
Tanpa basa-basi Max langsung menarik tangan Yana untuk mengikutinya. Dia membawa Yana menuju teras samping rumahnya. Disana sudah ada altar kecil yang dibuat sederhana. Bunga mawar berserakan disekitar altar.
Lagi-lagi Yana linglung. Dia masih belum tahu apa yang terjadi.
"Max.. apa-apaan ini?"
"Kemarin aku bilang kita akan menikah besok kan? Aku menepati janjiku hari ini sayang.. kita akan menikah. Kamu mau kan?"
"Kenapa mendadak seperti ini? Menikah itu sesuatu yang sakral. Harus dipersiapkan dengan baik.."
"Apa lagi yang kita butuhkan. Semua keluarga sudah setuju kita menikah. Mereka ada disini sekarang. Kamu dan aku juga sudah memakai pakaian menikah. Kurang apa lagi?"
"Tapi kan.." Yana menelan kembali kata-katanya.
__ADS_1
Max benar-benar serius akan ucapannya. Tadi Yana tak memperhatikan Max karena sibuk terkejut. Dia memakai kemeja putih tanpa dasi dan celana hitam. Meskipun sederhana, Max tampak keren.
"Ibu dan ayah merestui kalian Yana.. menikahlah.. Jemy butuh ayahnya.." Ibu Yana buka suara karena tak tahan melihat perdebatan Yana dan Max.
"Kami semua merestui kalian.. lebih cepat lebih baik.. Jemima butuh adik segera.." Ledek Jieun.
"Iya kak.. aku rela menyerahkan kakak pada kakak ipar.." Yasha tak mau kalah.
"Jangan buat Max menunggumu terlalu lama Yana.." Ucap Nyonya Han dengan senyum yang cerah.
Jika sudah begini Yana tak mungkin bisa melarikan diri dari Max. Untuk sekarang Yana menyerah. Dia akan membuat perhitungan dengan Max setelah semuanya selesai. Dia menjadi orang yang tidak tahu apa-apa. Ini semua pasti rencana Max.
"Ya aku mau.." Ucap Yana sambil menunduk.
"Serius?" Teriak Max.
Yana mengangguk.
"Hyung.. ayo cepat.."
Upacara pernikahan tampak khidmat dengan Seo Woon sebagai pemipin acara tersebut. Dia juga yang menerima sumpah Yana dan Max untuk menjadi suami istri.
Bukankah menikah soal janji untuk sehidup semati? Pesta pernikahan hanya bonusnya. Max tak suka keramaian karena selama dia menjadi artis dia sudah cukup berada di tengah keramaian. Dia hanya mau Yana sebagai istrinya. Acara pesta seperti itu pasti memakan banyak waktu dan persiapan. Dia sudah tak sabar memberikan adik untuk Jemima dan memiliki Yana seutuhnya.
"Lain kali jangam bertindak sesuka hati. Aku tidak mau jadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa.." Omel Yana.
"Iya maaf.. aku janji akan terbuka mulai sekarang.. dan aku pasti akan meminta izinmu terlebih dahulu sebelum bertindak.." Ucap Max dengan senyum misteriusnya.
"Bohong. "
"Ih kok bohong.. aku serius tahu.." Max memeluk Yana posesif.
Dengan rakusnya dia mencium wajah Yana dengan acak, dari dahi, mata, hidung, pipi, kemudian bibir berkali-kali. Seperti sedang dahaga di padang pasir. Max mencium bibir Yana hingga dia kehabisan nafas.
Semua orang tertawa penuh kebahagiaan melihat sepesang suami istri yang baru saja menikah di atas altar sedang menikmati ciuman.
Di tengah-tengah kebagiaan yang sedang membuncah, Yasha diam-diam memperhatikan Seo Woon yang berdiri dengan gagahnya di altar pernikahan. Senyumnya mengembang melihat laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. Hatinya tercubit dengan perasaan asing yang menyusup jauh di dalam dirinya.
Inikah cinta?
END.
__ADS_1