My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
37. Kacau


__ADS_3

Jadwal hari ini pemotretan majalah. Tema hari ini sesuai dengan suasana hati Max. Galau.


Ketika dia membuka mata pagi ini, Max mendapati dirinya seorang diri di apartement Yana. Hari masih pagi tapi Yana sudah berangkat magang.


-- Aku harus berangkat pagi-pagi ke kantor. Tidurmu nyenyak sekali, aku tak berani membangunkanmu. Maaf aku tidak membuatkan sarapan. Barangkali masakanku tidak sesuai seleramu. Semoga harimu indah. --


Yana.


Max linglung membaca pesan Yana di post it yang tertempel di bantal sampingnya.


"Yana marah padaku.."


Itulah kesimpulan Max. Yananya tak pernah seperti itu. Dia adalah gadis yang tak mudah marah. Dia pasti sudah menunggu Max hingga lelah. Makanya marah. Max frustasi. Kali ini dia melakukan kesalahan besar.


Suasana hatinya sedang buruk. Fotografer mengarahkan banyak gaya tapi Max tak bergeming. Gayanya monoton ekspresinya datar. Tapi si fotografer cukup puas dengan kerja Max hari ini.


Max berganti pakaian dibantu beberapa asisten. Woon mencoba mendekati. Aura Max menyeramkan. Meskipun tak terlihat tubuh Max diselimuti awan hitam.


"Apakah terjadi sesuatu hari ini Max?" Suara Woon rendah.


Max tak menjawab.


Woon menghela nafas kasar. Terjadi sesuatu hari ini. Seo Woon mundur. Dia membiarkan Max dengan para asistennya bersiap-siap untuk set foto kedua.


-----


"Max ada apa dengamu hari ini?"


Terjadi kekacauan di lokasi pemotretan kedua. Max tak mau mengikuti arahan fotografer dan hasilnya foto yang didapat tidak bagus. Terjadi perselisihan kecil antara forografer dan Max. Seo Woon sebagai manajer berada ditengah, menjadi mediator antara mereka.


"Tidak suka ya tidak suka. Tidak mau ya tidak mau. Jangan memaksaku. Aku cukup kesal hari ini. Jangan menambahi kesalku!" Suara Max nyaring. Para staff Max diam. Ketika Max marah tak ada solusi, tak ada yang bisa menenangkannya.


"Jangan seperti ini. Kamu menyusahkan semua orang.." Debat Woon.


Max menatap tajam Woon. Matanya mengunci seperti tatapan predator pada mangsanya.


"Semua karena hyung!" Bentak Max.


Para staff keluar dari ruangan. Pertengkaran ini terlalu berat. Mereka tak mau terseret dalam arus itu.


Woon melihat sekeliling. Semua staff telah pergi. Dia menghembuskan nafas pelan.


"Apa semalam terjadi sesuatu? Berkaitan dengan Yana mungkin?"


"Tutup mulutmu hyung. Yana marah karenamu.." Max membanting pintu keras. Wajah terkejut beberapa staff yang menunggu di depan pintu menjadi penampakan.


"Max mau kemana?" Teriak Woon.

__ADS_1


"Menenangkan pikiran.." Jawab Max tanpa menoleh.


"Anak itu.. benar-benar.." Gumam Woon lirih.


Pasti terjadi sesuatu. Tidak ada cara lain. Kalau tidak emosi Max akan meledak-ledak kembali. Jadwal mereka cukup padat. Akan terjadi kekacauan besar jika Max tak terkendali.


Woon mengambil ponselnya kemudian menelpon seseorang.


"Halo.."


-----


Max berjalan menyusuri taman belakang studi foto. Terdapat taman kecil dengan danau buatan yang cukup indah. Max duduk di salah satu kursi batu. Mengusak rambutnya kasar. Suasana hatinya sangat-sangat buruk. Max sudah mencoba menghubungi Yana tapi tak di angkat. Mengirim pesan pun tak di balas.


Kali ini Max mencoba menelpon Yana tapi nomor Yana sibuk. Dahinya mengkerut. Yana ada waktu mengangkat telpon seseorang tapi tak ada waktu untuknya. Kekesalan Max memuncak.


"Ahh.. shit!" Teriaknya lantang.


Baru kali ini dia kacau karena seorang wanita dan itu adalah Yana. Yana benar-benar membuat Max berantakan.


Hampir tiga puluh menit Max merenung disana. Beberapa kali Woon menelpon tadi tidak dia angkat. Hingga sebuah pesan membuat matanya menyipit.


From: Seo Woon hyung


Keparkiran mobil sekarang. Yana menunggumu.


"Apa maksud pesanmu hyung?"


Woon tak menjawab, dia malah menoleh ke arah mobil sportnya. Dia memilih tempat parkir paling ujung. Tak ada mobil lain selain mobilnya.


"Yana di dalam. Bicaralah dengannya. Aku tinggalkan kalian berdua.." Jelas Woon.


Max mengernyit. Sebelum Woon menjauh Max membuka suaranya.


"Hyung terima kasih.."


"Masuklah.. Yana sudah menunggumu.."


Max membuka pintu belakang mobil Woon. Benar ada Yana disana. Duduk dengan anggunnya. Melihat Max yang masuk kemudian duduk disebelahnya, Yana menoleh kemudian tersenyum tipis.


"Bagaimana kamu bisa.." Max ragu.


"Ahjussi menelponku katanya kamu terus-terusan membuat masalah.."


"Tidak.." Jawab Max cepat.


"Aku tidak marah padamu. Pekerjaanku sedang banyak. Kenapa kamu bisa mengatakan aku marah padamu?"

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan apapun.. kamu tahu darimana? Dari Woon hyung?"


"Dia hanya bilang Max uring-uringan. Katanya mungkin terjadi sesuatu seperti aku marah padamu makanya kamu begitu.."


"Kamu bahkan tidak mengangkat telponku.."


"Sudah ku bilang aku sibuk Max.."


"Jadi kamu tidak marah?"


"Tidak.."


Yana tersenyum tipis. Dia tidak punya hak untuk marah. Jika dia bisa dia akan berteriak pada Max, kenapa harus marah? aku tidak punya hak. Tapi Yana menelan ucapannya sendiri. Dia buka wanita yang pemberani.


"Kamu membuatku kacau hari ini.." Max menarik tubuh Yana kemudian memeluknya. "Maafkan aku, aku salah.." Lanjutnya. Kepalanya sudah terbenam di ceruk leher Yana sedangkan tubuhnya menghangat karena belaian Yana di kepalanya.


"Kamu memang salah.. jangan lakukan itu lagi. Kasihan Woon ahjussi.." Ucap Yana lembut.


"Ya.."


"Masuklah.. Lanjutkan jadwalmu. Aku harus segera kembali ke tempat magang.." Yana mendorong tubuh Max menjauh namun gagal. Max seperti lem super yang melekat kuat.


"Kenapa buru-buru pulang.. kita harus memanfaatkan waktu kita.."


"Max jangan berbuat tidak masuk akal. Apa maumu?" Perasaan Yana tak enak.


"Kamu harus dihukum karena membuatku salah faham.."


"Apa maksudmu? Kamu sendiri yang salah faham. Kenapa aku yang disalahkan?"


"Karena aku yang membuatnya begitu.."


"Max hentikan. Aku harus segera kembali.."


"Satu kali saja. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Kalau kami bekerjasama itu akan cepat tapi kalau tidak aku tak menjamin aku selesai sengan cepat.."


Yana membeku. Dia bisa melihat mata Max dipenuhi gairah yang berkobar.


"Mereka sedang menunggumu Max.." Yana berontak. Dia mencoba lepas dari genggaman Max.


"Cepat buka rokmu.." Titah Max.


"Tidak.."


Sayangnya Max bukan orang yang patuh begitu saja. Tanganya dengan cepat menyingkap rok yang digunakan Yana dan menyatukan tubuh mereka.


"Ah!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2