My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
Love Bird Ep 25 - Nyonya?


__ADS_3

"Sha.. Yasha.."


Sentuhan lembut membangunkan Yasha dari tidur panjangnya. Matanya samar melihat sosok duduk di sampingnya dan membelai kening, pipi dan rambutnya pelan.


"Bangun sudah siang.."


Tangan itu terus mengganggu pipi Yasha dengan sentuhannya, padahal Yasha masih ingin tidur. Tubuhnya sangat lelah dan tidak punya daya untuk bangun. Tapi suara dan sentuhan itu memaksa kesadarannya bangun.


Yasha menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan si pengganggu. Dengan sangat lemah Yasha mengangkat tangannya. Tapi dia sama sekali tidak bisa meraih si pengganggu.


Bibir Seo Won terangkat membentuk senyuman melihat mata Yasha yang dipenuhi kantuk. Rasa bangganya membumbung saat melihat leher dan pundak Yasha dipenuhi dengan tanda kepemilikannya. Sejak semalam Yasha seutuhnya menjadi miliknya. Seo Won meraih tangan Yasha kemudian menciumnya.


"Oppa?"


Merasakan sentuhan lembut di punggung tangannya, Yasha membuka matanya. Si pengganggu adalah Seo Won. Manusia tidak berperi kemanusiaan yang menyiksanya semalaman.


"Aku mengkhawatirkanmu, sudah siang tapi kamu belum bangun sayang.."


Tangan Seo Won merapikan anak rambut Yasha yang menutupi keningnya.


"Ini kan gara - gara oppa.." Jawab Yasha dengan suara serak.


"Maafkan aku.. masih sakit? Di bagian mana? Perlu aku panggil Joan?"


"Joan? dr. Joan? Kenapa memanggilnya?"


Pipi Yasha memerah. Tubuhnya memang sakit apalagi dibagian area bawahnya tapi itu bukan rasa sakit yang harus memanggil dokter. Apalagi itu dokter yang dia kenal.


"Tadi keningmu agak panas, apa kamu baik - baik saja?" Tanya Seo Won polos.


"Ya aku baik - baik saja.."


Beberapa saat yang lalu Yasha sibuk menahan rasa kantuknya. Setelah matanya benar - benar sadar, Yasha menlihat jika Seo Won sudah berpakaian rapi lengkap dengan kemeja. Fantasi Yasha menggila. Dia membayangkan dada atletis Seo Won dibalik kemeja hitam yang dia kenakan. Dada itu yang semalam terus mendorongnya. Rasa berat tubuh Seo Won yang membuatnya berteriak centil, meringis hingga mendesah.


"Astaga! Apa yang aku pikirkan sekarang! Aku benci pikiran kotorku!"


Yasha cepat - cepat menghilangkan pikirannya yang tak masuk akal. Tapi adegan panas semalam dengan Seo Won bukanlah hal yang bisa dilupakan begitu saja. Rasanya masih nyata. Rasa gesekan yang awalnya terasa perih kemudian berubah nikmat masih sangat nyata. Sentuhan hingga hentakan demi hentakan pinggul yang Seo Won berikan padanya membuat Yasha melayang. Ini adalah pengalaman pertamanya. Dia tidak tahu jika hubungan wanita dan pria dewasa bisa semenyenangkan ini.


"Ah aku sudah kehilangannya. Bagaimana ini.."


Yasha mendadak takut. Dia telah menyerahkan mahkotanya kepada Seo Won. Dia takut jika suatu saat nanti Seo Won akan meninggalkannya. Dia sudah tidak punya hal spesial yang dimiliki seorang wanita, dia hanya punya cinta. Cinta yang sangat besar untuk Seo Won. Dia berharap Seo Won bertanggungjawab atas apa yang terjadi.


Namun tanpa Yasha tahu. Jika Seo Won melakukannya untuk membuat Yasha melekat padanya. Bergantung padanya dan takkan berpaling darinya.


Seo Won hang sadar akan tatapan intens Yasha membuka mulutnya.


"Ada telpon dari kantor, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan.."


Tanpa bertanya Yasha sudah mendapatkan alasan Seo Won berpakaian rapi padahal sedang cuti. Harusnya lusa Seo Won baru berangkat kerja.


"Sekarang?"


"Iya.. ada investor asing yang mengajak meeting.. jadwal awal seharusnya bulan depan, tapi diajukan dengan berbagai alasan.." Jelas Seo Won dengan suara berat.


Jika saja itu bukan investor besar, Seo Won tak akan peduli. Tapi investor ini sangat penting bagi IM Entertaimnent.


"Max juga terpaksa harus datang. Kerjasama kami takkan berhasil jika tidak ada Max.."


Yasha mengangguk.


"Aku akan segera pulang.. tunggu aku ya.."


Seo Won menurunkan badannya kemudian mencium kening Yasha pelan. Dia tidak ingin berpisah dengan Yasha sedetik pun. Jika bisa Seo Won ingin mengajaknya kemanapun. Namun melihat kondisi Yasha yang tak berdaya karena ulahnya, Seo Won mengurungkan niatnya.


Tok tok

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar.


Yasha menatap Seo Won seolah bertanya.


"Siapa? Di apartement ini hanya ada mereka berdua.."


Tok tok


Suara ketukan kembali terdengar.


"Masuklah.."


Yasha lebih terkejut dengan ucapan Seo Won. Ada siapa di apartement ini selain mereka? Belum sempat Yasha membuka mulutnya untuk bertanya, tiga orang dengan pakaian rapi memasuki kamar. Yasha reflek menutup badannya dengan selimut karena saat ini dia tidak mengenakan sehali kain pun.


"Selamat siang Tuan dan Nyonya Seo.." Ucap mereka bertiga memberi salam.


"Hah? Nyonya?"


Yasha dibuat bingung setengah mati. Dia bergantian menatap Seo Won dan tiga orang yang berdiri di dekat pintu.


"Aku memanggil mereka. Mereka adalah suster, dan dua pengurus rumah. Mereka akan menemanimu selama aku ke kantor.." Jelas Seo Won.


"Apa?"


"Aku tidak tega meninggalkanmu sendirian disini sayang.. badanmu hangat, tidak mungkin aku membawamu ke kantor. Jadi diam dan teruti apa mauku.. mereka akan membantumu.."


Yasha merasa Seo Won semakin tidak masuk akal. Memangnya Seo Won mau di kantor berapa lama hingga harus memanggil pembantu, bukan hanya satu tapi ada dua. Apartementnya tidak terlalu besar, untuk mengurusnya pun tidak memerlukan pembantu. Yasha benar - benar tidak tahu pola pikir Seo Won.


Yang lebih parah lagi, ada suster juga. Orang yang berdiri paling ujung dengan pakaian serba putih. Yasha tidak sakit parah hingga memerlukan suster jaga.


Astaga!


Yasha tertegun hingga tak mampu berkata - kata.


"Baik Tuan.."


Mata Yasha mendelik. Lapor setiap satu jam sekali? Apa lagi itu? Memangnya dalam satu jam apa yang akan terjadi? Rasanya Yasha ingin berlari dan berteriak jika Seo Won sudah gila.


"Aku berangkat dulu ya sayang.."


Seo Won mendekatkan kembali wajahnya kemudian mencium bibir Yasha. Setelah itu dia terus menanam ciuman acak di seluruh wajah Yasha dari kening, mata, pipi, hingga kembali ke bibir. Dia sangat tidak ingin berpisah dengan Yasha.


"Hahhh!" Serunya dalam hati.


Dengan perasaan yang berat Seo Won bangkit dan melangkah keluar kamar. Mobil perusahaan sudah menunggunya di bawah sejak tiga puluh menit yang lalu.


Seo Won pergi dengan meninggalkan kesunyian di kamar antara Yasha dan tiga orang yang yang masih berdiri rapi di dekat pintu. Suasana tiba - tiba jadi kikuk.


"Ada yang bisa kami bantu Nyonya?" Salah satu dari mereka buka suara. Memecah keheningan yang terjadi.


"Ah tidak. Aku baik - baik saja.."


Yasha berusaha bangun dengan bertopang pada satu tangannya tapi itu sangat sulit. Tangannya tidak punya tenaga untuk dijadikan sandaran. Akhirnya ringisan kecil keluar dari mulutnya. Berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit yang dia derita.


"Pria itu memang binatang!" Umpat Yasha dalam hati.


Namun tak disangka, salah satu dari mereka bertiga yang memakai pakaian serba putih yang merupakan perawat khusus bergerak cepat dan membantu Yasha bangun kemudian bersandar pada kepala ranjang. Yasha tidak menolak bantuan itu. Sepertinya tubuhnya memang sangat butuh bantuan.


"Terima kasih suster Song.." Ucap Yasha setelah dia nyaman dengan posisinya. Berbicara dengan orang lain dengan posisi tidur tak sopan menurutnya.


Suster Song membungkuk kemudian mundur dua langkah dari tempatnya tadi membantu Yasha.


Song Yerim, Yasha sempat melirik name tag yang tersemat di dada perawat yang membantunya. Di bawah name tag itu terjahit rapi logo Alexander Hospital. Tiba - tiba Yasha teringat perkataan Seo Won yang ingin memenggil doktee jika Yasha merasa sakit.


"Cih.. pria itu ternyata sudah memberitahu dr. Joan dan meminta perawat untuk datang. Astaga.. sampai sejauh mana dia cerita pada dr. Joan. Ini kan bukan sakit yang harus memanggil dokter. Tidak ada riwayat medis sakit karena kehilangan keperawanan. Hah.. pria itu memang gila! Ah aku malu!"

__ADS_1


Yasha tenggelam dalam pikirannya sendiri hingga dia tidak sadar ada yang memanggilnya.


"Nya.."


"Nyonya.."


"Nyonya Seo.."


"Ah iya?"


"Tuan Seo bilang tadi anda belum makan sejak pagi. Kami sudah menyiapkan sesuatu sesuai perintah Tuan Seo. Apa anda ingin makan sekarang?"


"Iya nanti. Aku ingin mandi dulu.."


"Apa perlu kami bawa kesini?"


"Ah tidak perlu.. aku akan turun setelah mandi. Kalian boleh keluar.."


"Baik Nyonya, kami akan segera menyiapkan meja makan.."


"Mmm.. tunggu, bisakah kalian tidak memanggilku Nyonya? Aku sedikit tidak nyaman.."


Dua pengurus rumah saling pandang. Wajah mereka berubah panik. Lebih tepatnya terkejut.


"Bagaimana bisa kami begitu.. Tolong tarik kembali permintaan anda Nyonya.. Kami tidak mungkin berkata kasar seperti itu.." Ucap mereka kompak menunduk.


"Ah aku membuat kesalahan ya.. mereka juga pasti tidak nyaman karena permintaanku. Tapi panggilan Nyonya itu agak berlebihan. Aku kan belum menikah dengan Won oppa. Dasar pria itu.. bisa gila aku!"


"Maafkan aku, bukannya begitu.. tapi.. ya sudahlah, panggil saja senyaman kalian.. aku hanya tidak terbiasa dipanggil begitu.."


"Baik Nyonya.."


"Kalian berdua boleh keluar. Untuk suster Song apakah aku boleh meminta bantuanmu?"


"Iya Nyonya, apa yang bisa saya bantu?" Suster Song mendekat.


"Bantu aku mandi.." Ucap Yasha dengan suara ragu.


Bukan saatnya dia malu dengan keadaannya sekarang. Mereka bertiga jelas sudah melihat bercak merah disekujur leher, pundak hingga lengannya. Yasha yang menyadarinya tadi pagi saja syok, tapi Yasha akui mereka hebat. Mereka tidak memperlihatkan perubahan ekspresi setelah melihat Seo Won dan Yasha. Untungnya begitu, Yasha tidak harus malu dan menutupinya. Mereka memang sangat profesional.


Dengan dibantu suster Song, Yasha turun dari kasur. Kakinya kesemutan saat menyentuh lantai marmer, rasa dingin langsung menjalarinya. Tubuhnya di topang oleh suster Song, jika tidak mungkin saat ini sudah ambruk ke lantai. Yasha benar - benar kehilangan semua tenanganya.


"Aku rasa pria itu memang tidak punya belas kasihan! Umpat Yasha sekali lagi dalam hati.


-----


"Nyonya kembali ke kamar setelah makan dan minum obat. Tubuhnya agak panas jadi saya membantunya untuk istirahat.."


"Saya menyiapkan apa yang Tuan perintahkan. Nyonya memakan dua potong roti selai dan setengah buburnya. Nyonya mengeluh lelah dan ingin cepat kembali ke kamar.."


"Tidak ada keluhan yang berarti Tuan, saya juga sudah menyiapkan infus tapi Nyonya menolak. Dia hanya ingin tidur.."


Seo Won pulang larut malam. Siapa sangka meeting ini akan memakan waktu yang begitu lama. Bukan hanya Seo Won yang menggerutu, Max juga sama. Dia terus mendesah dan merengek ingin segera melihat Gaby, dia merindukan bayi kecilnya yang baru lahir.


Setelah mendengar laporan singkat pengurus rumah dan perawat, Seo Won mengirim mereka pulang. Dia berpesan akan memanggil mereka kembali jika butuh bantuan. Sebelumnya Seo Won juga berterima kasih sudah menjaga Yasha.


Seo Won membuka pintu kamar perlahan karena takut membangunkan Yasha. Dia melonggarkan ikatan dasinya dan melepas jasnya.


Hangat. Seo Won menempelkan punggung tangannya di kening Yasha. Sejak meeting dimulai Seo Won sudah gelisah, ditambah dia tidak punya waktu untuk menelpon ke apartement.


Tubuh Yasha kembali hangat padahal kemarin sudah baik - baik saja. Seo Won diliputi rasa cemas yang mendalam. Dia segera merogoh saku celananya kemudian meraih ponselnya.


"Halo Joan.."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2