My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
47. Drama


__ADS_3

Matahari mulai tenggelam. Ibu Max pamit untuk membersihkan diri. Yana pun begitu. Tubuhnya sudah lengket karena aktivitasnya di dapur.


Sebelum ibu Max berjalan pergi, dia bertanya kapan Max pulang.


"Katanya akan terlambat sampai rumah..." Jawab Yana.


"Semoga makan malam di rumah.."


Mereka menuju kamar masing-masing.


Seperti biasanya Yana diikuti oleh beberapa pelayan di belakangnya. Kali ini dia mulai terbiasa. Untuk mandi Yana tak mau dibantu. Tubuhnya adalah hal privasi. Tapi soal berganti pakaian dan menata rambut Yana suka bantuan para pelayan. Sentuhan mereka sesuai selera Yana. Jika ini mimpi Yana rela tak bangun selamanya.


Kali ini kaos putih ketat dengan lengan pendek dan rok tutu berwarna hitam dari bahan transparan dan furing dibawah lutut menjadi pilihan para pelayan Yana. Pakaian yang mereka pilih menampilkan lekuk tubuh dan dada Yana yang berisi tampak seksi. Rambutnya diikat keatas dengan sederhana. Leher jenjangnya yang mulus terekspos. Make up malam ini sangat tipis.


Yana turun ke bawah setelah semuanya selesai. Nyona Han, ibu Max telah turun terlebih dahulu. Kecantikannya tampak berseri setelah bersihkan diri dan berganti baju.


"Maaf saya terlambat.."


"Tidak perlu formal begitu Yana.. santai saja.. kita kan sudah jadi teman.."


"Ah maaf kalau saya salah ibu.."


"Tidak apa-apa.. kita kan teman.. santai saja ok?"


Yana mengangguk "Apa yang bisa saya bantu?"


"Ambil piring itu dan tata disini. Semoga Max segera pulang.."


Beberapa pelayan juga tampak sibuk mempersiapkan meja makan. Yana belum terbiasa dengan situasi ini. Meja makan yang dipenuhi makanan membuatnya berkeringat dingin. Makanan itu bisa untuk menjamu 20 orang. Pengalaman makan siangnya tadi membuat Yana bergidik ngeri. Baru kali ini dia muak dengan makanan.


"Apakah Max sudah menghubungi? Ini sudah pukul delapan malam.."


"Belum.. ponselku tidak bisa digunakan disini bu.. Max biasanya menelpon nomor rumah.." Jelas Yana dengan tangan yang sibuk menata piring di meja dapur.


Dengan hati-hati Yana mengangkatnya tapi tangannya tak mampu menopang beratnya piring keramik tersebut.


Prang prang


Piring ditangannya membentur lantai dan pecah berhamburan. Yana terkejut. Kakinya mundur selangkah namun serpihan piring mengenai betis dan menggoresnya.


"Ahh.." Suara Yana terkesiap.

__ADS_1


Semua pelayan menoleh pada Yana.


"Maaf aku tidak sengaja.. ah.." Yana berjongkok mencoba memungut pecahan piring dengan tangan kosong. Tangannya tergores tajamnya pecahan piring.


"Ahh.." Rintihnya pelan.


Semuanya tertegun.


Ibu Max yang berada tak jauh dari meja makan berlari ke arah Yana.


"Yana.. apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?"


Yana belum sempat menjawab tapi suara lain sudah mendahuluinya


"Apa yang terjadi disini? Ibu apa yang kau lakukan?" Suara menggelagar membuat semua orang tersentak. Suaranya penuh penekanan. Ada nada kasar disana.


Max baru saja masuk rumah ketika suara piring terdengar di telinganya. Tanpa menghiraukan Seo Woon yang sedang memasukkan mobil ke garasi, Max langsung berlari ke sumber suara.


Pemandangan yang dia lihat ketika menemukan sumber suara itu adalah Yana yang berjongkok dengan pecahan piring di bawah kakinya dan ibunya yang berdiri tak jauh dari Yana dengan mulut yang terbuka seperti sedang marah. Pikiran negatif segera memenuhi otak Max.


"Max.." Ucap Nyonya Han melihat Max yang mengambil langkah lebar mendekatinya.


"Ibu apa yang terjadi? Ibu melukai Yana?"


"Ibu.. ibu melukai Yana kan?" Max menyembur ibunya.


Nyonya Han menyipitkan matanya menatap Max yang berkobar dengan amarahnya.


"Aku baik-baik saja Max.. ah.." Yana mencoba bangkit tapi pijakannya runtuh karena sakit di betisnya.


"Mana yang sakit?" Max meraih lengan Yana kemudian membawa tubuh Yana dalam gendongannya.


Langkah Max cepat menuju sofa di sudut ruangan kemudian mendudukkan Yana dengan lembut. Tangannya segera meraih pergelangan kaki Yana dan menyingkap roknya.


"Kamu terluka.."


"Max aku baik-baik saja.. kamu berlebihan.."


"Obat.. ambilkan obat.."


Pelayan yang berada di belakang mereka segera berlari mengambil kotak obat.

__ADS_1


"Tanganmu juga.. kamu baik-baik saja? Apa perlu memanggil dokter?" Max menyeka darah yang ada di tangan Yana dengan handuk yang dibawakan oleh pelayan.


Pelayan rumah Max cepat tanggap terhadap situasi apapun. Mereka dilatih untuk peka tanpa diperintah oleh Tuannya.


"Apa ibu menyakitimu? Dimana saja yang sakit?"


Max memindai seluruh tubuh Yana dari ujung rambut hingga kaki. Membolak-balikkan badan Yana. Tangannya *** bahu Yana.


"Max.." Yana menyentuh tangan Max menggunakan tangannya yang tidak terluka.


"Aku baik-baik saja.. tenanglah.. kenapa kamu marah-marah? Tidak sopan di depan orang tua seperti itu.." Ucap Yana lembut.


"Kamu berdarah, bagaimana aku bisa tenang dan marah? Bahkan jika ujung jarimu yang terluka aku akan marah pada mereka yang menyakitimu.."


Seorang pelayan datang membawa kotak obat.


"Cepat bantu Yana mengobati lukanya.." Titah Max seraya bangkit. "Aku harus berbicara pada ibu.." Suara Max dipenuhi amarah.


Melihat situasi yang mengancam, Yana segera bangkit dan menarik tangan Max.


"Aku yang salah.. aku baik-baik saja Max.. apa yang akan kamu perbuat?"


"Aku akan membuat perhitungan pada orang yang membuatmu terluka?"


Max melapas tangan Yana dan bersiap untuk melangkah. Tapi langkahnya terhenti karena tubuh Yana yang menahannya dari belakang. Tangan Yana melingkat kuat di perut dan kepala yang menempel di punggungnya.


"Tolong hentikan. Kamu salah faham. Piring itu aku sendiri yang memecahkannya. Ibumu berusaha membantuku.." Suara Yana bergetar. Pipinya dipenuhi lelehan air mata.


"Hiks.. hiks.. hiks.."


Max membatu. Punggungnya terasa basah karena air mata Yana. Gadis itu tak mudah menangis. Jika dia sampai menangis pasti sikapnya tadi sangat keterlaluan.


Dia meraih tangan Yana kemudian memutar badan untuk memeluk Yana. Tubuh Yana gemetar dalam pelukannya. Sikapnya tadi pasti membuat Yana ketakutan.


"Benarkah ibu tidak menyakitimu?" Suara Max melembut.


Yana mengangguk dalam pelukannya.


"Maafkan aku.. aku yang salah. Jangan menangis lagi.." Max mencium puncak kepala Yana. Isaknya semakin keras dan Max merasa hatinya hancur karena sudah membuat Yana menangis.


Tak jauh dari keributan itu, Nyonya Han memperhatikan semuanya. Drama kecil dengan pemeran utamanya adalah Max dan Yana. Diam-diam sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.

__ADS_1


Yana telah mengubah Max.


Bersambung...


__ADS_2