
Nyonya Han kembali ke New York hari berikutnya bersama dengan Elea. Tak banyak yang bisa mereka perbuat. Yana tetap kekeh dengan keputusannya.
Meskipun sibuk dengan segala pekerjaannya, Max tetap menyempatkan diri untuk menemani dan membantu Yana mengurus Jemima. Awalnya Elea diminta untuk tetap tinggal agar bisa membantu mengurus Jemima, tapi Yana menolak dengan keras. Yana tak menolak kehadiran Max juga tidak menerima kehadirannya. Yana membiarkan semuanya berjalan apa adanya.
Tanpa dia sadari, sudah ada ikatan antara Jemima dengan ayahnya yang tidak diketahui Yana.
"Hari ini sudah boleh pulang kan dok?" Tanya Yana pada Joan yang melakukan pemeriksaan rutin di pagi hari.
"Sudah.. Jemima sudah sehat.." Jawab Joan.
Melesat satu hari dari perkiraan Joan. Jemima dirawat selama empat hari penuh. Sebenarnya tiga hari saja sudah cukup tapi Joan benar-benar ingin memastikan Jemima kembali pulih. Jadi dia memperpanjang satu hari perawatan.
"Kapan Jemy bisa dibawa pulang?"
"Sekarang pun sudah bisa.."
-----
Max mendapatkan telpon dari Joan ketika dia sedang mengadiri rapat internal IM Entertainment. Dia langsung membubarkan rapat dan segera berlari menuju rumah sakit. Max meminta tolong agar Joan menahan Yana hingga kedatangannya.
Max seperti kehilangan pijakannya. Selama empat hari ini hidupnya di tengah kekhawatiran tingkat tinggi. Kadang dia ingin Jemima terus dirawat agar dia bisa bersama Yana dan anaknya. Kadang dia juga ingin Jemima segara sembuh agar bisa tersenyum lagi padanya. Bagai kenyesap manisnya gula dan pahitnya racun sekaligus. Kekhawatirannya memuncak hari ini. Jemima sudah boleh dibawa pulang, itu artinya..
Yana akan membawa pulang Jemima pulang ke Indonesia. Aku pasti tidak akan bisa bertemu mereka lagi. Ya Tuhan.. bagaimana ini..
Batin Max bergejolak ditengah padatnya lalu lintas Kota Seoul. Dia melajukan mobilnya dengan kekuatan penuh. Pikirannya di penuhi dengan Jemima dan Yana.
__ADS_1
"Yana!"
Max masuk saat Yana sedang membereskan pakaian Jemima. Jemima sedang tidur saat itu. Max masuk dengan nafas terengah-engah. Dia berlari dari parkiran menuju ruang rawat Jemima.
"Max.. kenapa teriak-teriak? Jemima sedang tidur.."
"Kata Joan.. hah.. hah.." Suara Max tertelan nafasnya yang berat.
"Tarik nafas dulu.. ada apa?" Yana menghentikan aktivitasnya.
"Jemima sudah bisa keluar rumah sakit hari ini?"
"Iya. Kata dr. Joan Jemy sudah boleh pulang hari ini.."
"Tidak bisakah kamu tetap tinggal bersama Jemima disini?"
Disini, tetap disampingnya maksud Max.
"Aku tak mengerti apa yang kamu bicarakan.." Yana memalingkan wajahnya kemudian kembali pada aktivitasnya.
Tak banyak barang yang harus dikemas. Dia telah membeli tiket kepulangan ke Indonesia sore nanti. Jieun dan Taejoon masih bulan madu, meskipun begitu Yana memutuskan untuk segera kembali daripada sementara tinggal di rumah mereka. Sebisa mungkin dia ingin menghindar dari Max.
"Yana.." Suara Max parau. "Pikirkanlah demi Jemima.."
"Max cukup. Kamu sudah berjanji pada kami.."
__ADS_1
"Tapi.. tidak bisakah kita membatalkannya demi Jemima? Jemima butuh kasih sayangku sebagai ayahnya.."
"Aku mohon jangan ganggu kami lagi Max. Harusnya aku tidak datang ke pernikahan Jieun dan Taejoon jika tahu akan begini.." Kepala Yana menunduk lemah.
"Yana.." Max berjalan mendekati Yana kemudian menarik tangannya.
"Aku akan bertanggung jawab kali ini. Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi. Aku tidak akan memikirkan hal lain lagi seperti dulu. Yana.. aku sangat menyesal. Maafkan aku ya.. aku mohon.. pikirkanlah semuanya demi Jemima.. Ya? Hmm? Ayo kita mulai dari awal.."
Air mata Yana tak mampu dibendung lagi. Hatinya teriris. Kenapa baru sekarang, kenapa penyesalan selalu datang di belakang.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa dulu kamu tidak mencegahku pergi? Kamu membiarkan aku salah faham. Kamu bahkan tidak memilihku.. kenapa? Kenapa?" Yana memukul dada Max sekuat tenaganya. Isaknya semakin kencang saat di kembali mengingat kenangan buruknya dua tahun lalu.
"Maafkan aku Yana.. aku bodoh dulu. Aku bodoh.. maafkan aku.. pukul aku sebanyak yang kamu mau.. tampar aku Yana.. aku pantas mendapatkannya.."
Tubuh Yana bergetar karena isaknya yang kencang. Max segera menarik tubuh Yana kedalam pelukannya. Dia membenamkan kepala Yana di dadanya sedangkan tangannya mengelus puncak kepala Yana. Tubuh kecil Yana sangat pas di dalam pelukan Max. Perasaan hangat langsung membanjirinya. Rasa yang pernah hilang kini telah kembali. Max berharap rasa ini bertahan selamanya.
"Menikahlah denganku. Kamu tahukan kalau aku masih mencintaimu.. mari kita mulai lembaran baru bersama Jemima juga.. kamu mau kan?" Ucap Max.
Yana menarik tubuhnya dari pelukan Max. Wajahnya terangkat untuk bertemu pandang dengan Max.
"Maaf.. aku tidak bisa. Tolong tepati janjimu Max.." Jawab Yana kemudian segera menghilang ke dalam kamar mandi.
Tubuh Max langsung menegang. Seperti tersengat listrik ribuan volt. Penolakan lagi. Tubuh Max hampir tersungkur jika dia tidak berpegangan pada ranjang Jemima.
Bersambung..
__ADS_1