My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
36. Permainan


__ADS_3

From : Max


Kangen...


Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malan. Yana masih terjaga. Komputernya juga masih menyala. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di sampingngnya. Senyumnya tersungging membaca pesan hang dia dapat dari Max. Secepat kilat Yana membalasnya.


To: Max


Yana juga. Sudah makan malam? Semuanya baik-baik saja kan?


Beberapa detik kemudian.


From: Max


Tidak.


Yana menatap layar ponselnya agak lama. Tidak? Tidak apa? Tidak makan atau tidak baik-baik saja.


To: Max


Tidak? Semuanya baik-baik saja kan Max?


Max tidak membalas. Yana menghentikan pekerjaannya. Hatinya ragu sejenak untuk menelpon Max. Yana memilih untuk tidak. Dia harus berhati-hati dengan perbuataannya.


To: Max


Max..


Beberapa detik kemudian.


From: Max


Tidak ada yang baik-baik saja selama aku tidak melihatmu. Hidupku kacau tanpa kamu Yana. Besok malam aku kosong. Aku akan kesana. I love you..


-----

__ADS_1


"Hahh.. aku bisa gila.." Yana menggerutu pelan.


Anak magang tak bedanya seperti kambing perah. Sudah seharian diberi pekerjaan, pulang kerja disuruh lembur lagi. Yana tak sanggup menyelesaikan semuanya hari ini juga. Bisa meledak otaknya.


"Astaga.." Dia menjerit melihat jam dindingnya.


Max bilang akan datang malam ini tapi Yana belum menyiapkan apapun.


Apakah dia akan menginap?


Masak apa ya?


Sebaiknya aku mandi dulu.


Setelah mandi Yana memotong beberapa bahan dari kulkas. Nasi goreng menjadi pilihannya. Max selalu menanyakan makanan jika datang ke tempat Yana.


Dua piring nasi goreng dan telor dadar tertata rapi di atas meja makan. Yana melirik jam dinding miliknya, pukul 9 malam. Max belum datang. Yana sedikit gelisah.


Jam berapa dia datang? Yana bertanya dalam hati. Max tidak ada menghubungi atau apa. Dia sedikit pusar. Max tidak suka jika dia menghubunginya duluan. Yana memutuskan untuk menunggu Max.


Pukul 12 malam. Yana sudah lelah menunggu. Setidaknya memberi kabar jika tidak datang. Yana menyesali itu. Tangannya dengan cekatan menyingkirkan dua piring nasi yang tampak menjengkelkan di depannya. Nafsu makannya hilang entah kemana.


"Bodoh.."


Riasan tipis di wajahnya terseka kapas putih. Warna putih kapas itu ternoda lipstik merahnya. Rambut yang diikat terurai tak karuan. Pakaian yang khusus dia pakai sudah berganti dengan piyama. Yana mematut dirinya di depan cermin.


"Apa yang kamu harapkan sehingga kau begitu berani Yana? dia bisa saja begini. Kamu hanyalah simpanan. Jangan bertindak terlalu jauh.. jangan berharap lebih.."


-----


Seorang gadis berwajah blesteran mondar-mandir sambil menggigit kukunya yang bercat merah. Ketika pintu itu dibuka mata sang gadis menyala penuh harap.


"Sudah diatur.. tenang saja.." Seorang pria dewasa keluar dari pintu itu.


"Oppa terima kasih.."

__ADS_1


-----


"Kamu menipuku hyung!"


"Situasinya di luar prediksi. Kita tidak bisa melepaskan kerjasama bernilai puluhan milyar ini.. kamu tidak pernah terjun ke dunia bisnis meskipun kamu memiliki saham, pertarungan seperti ini tuh sulit.." Jelas Woon panjang lebar.


"Kamu sudah janji jika malam ini aku kosong.. kamu pembual.."


"Mengertilah Max.."


"Aku tidak mau tahu. Aku hanya bisa mentolerir beberapa jam. Yana pasti sedang menungguku.."


"Kalau perlu aku yang akan menghubungi Yana untuk meminta pengertiannya.."


"Jangan pernah sekali-kali menyentuh Yana. Menjauh darinya hyung. Kalau tidak aku tidak akan memaafkanmu.."


Seo Woon diam. Kesalahan mutlak miliknya. Tapi apa daya. Dia hanya seorang manajer. Semua keputusan ada di pihak manajemen. Max adalah anak pemilik IM Entertainment, dia selaku artis dinaungan mereka tak ada pembeda. Tidak ada perlakuan khusus. Semua sama. Tuntutan profesionalitas.


Acara show terakhir Max adalah sore tadi. Tapi tiba-tiba Woon mendapat kabar jika pihak sponsor iklan Max mendatang ingin bertemu.


Seperti kata Woon tadi. Semuanya di luar prediksi.


-----


Pukul 2 pagi Max masuk ke apartement Yana. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya minim yang ada. Dia mengkap sosok Yana yang tidur di atas ranjang dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Max meminta Woon untuk mengundur jadwalnya hari ini hingga siang. Tentu saja dengan pemaksaan. Bisa gila dia tidak bertemu Yana. Dia butuh mengisi kekuatannya. Butuh penyembuhan atas lelahnya selama ini.


Tak ada maksud untuk mengusik Yana, Max naik ke atas ranjang pelan sekali agar tidak membangunkan Yana. Dia masuk ke dalam selimut Yana kemudian memeluk tubuh yang dia rindukan. Mencium pipinya pelan kemudian kening.


"Maafkan aku.."


Gumam Max seraya membenamkan wajahnya di dada Yana. Kenyamanan ini tak akan bisa di tukar. Yana miliknya. Max tak mau kehilangannya.


Dalam hitungan detik Max menyusul Yana merajut mimpi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2