My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
77. Jangan Goyah


__ADS_3

Jemima dirawat di ruang kelas satu. Ruangan besar hanya untuk satu anak kecil terlihat sangat besar. Hanya ada Yana dan Jemima di dalam. Yana mendesah kesal, ingin dia protes tapi bukan sekarang saatnya. Kembali ke prioritas utamanya, Jemima.


Jemima terlihat baik-baik saja. Yana bersyukur. Saat ini Jemima tertidur pulas. Perlahan Yana mendekati Jemima dan ikut berebahkan tubuhnya di atas kasur yang ukurannya untuk orang dewasa. Max memang berlebihan.


Tangan Yana segera meraih tubuh kecil Jemima kemudian memeluknya.


Max masuk ke dalam ruangan saat Yana sudah menyusul Jemima tidur. Matanya bergantian mengamati Jemima dan Yana. Dua orang yang sangat berarti bagi hidup Max. Dua matahari yang menyinari hidupnya. Yang pertama adalah Yana dan yang kedua adalah Jemima. Matahari kecil itu sedang memancarkan sinarnya.


"Max.." Seo Woon masuk.


"Mereka sedang tidur hyung.. kita keluar saja.."


Seo Woon mengangguk dan mereka berdua keluar kemudian berjalan menuju kantin rumah rumah sakit.


"Gangguan pencernaan.." Gumam Max.


"Tadi aku tak sengaja bertemu dr. Joan. Dia bertanya kapan kamu menikah dan kenapa dia tidak diundang.." Tutur Seo Woon.


"Pria itu memang mulut besar.. hyung jawab apa?"


"Aku bilang tanya langsung saja pada Max.. dan dia terlihat kesal.." Jawab Seo Woon.


"Biarkan saja.."


"Jemima baik-baik saja?"


"Kata Joan tadi gangguan pencernaan. Cari tahu apa yang diberikan asisten Cha pada Jemima.." Titah Max.


"Sepertinya ice cream coklat dan beberapa kue.."


"Perut Jemima mungkin belum siap menerima makanan seperti itu.."


"Tapi biasanya anak kecil memang suka yang manis.."


Max diam. Dia menatap nanar gelas kopinya yang asapnya masih mengepul. Anak kecil perlu pendampingan yang ketat oleh orang tuanya. Max menyesal meninggalkan Jemima ke orang lain. Jika sudah ada kejadian begini, penyeselanlah yang hadir.


"Ah iya.. tadi ibumu menelponku. Katanya ponselmu tidak bisa dihubungi.."

__ADS_1


"Apa yang hyung katakan pada ibu?" Mata Max melotot.


"Aku ceritakan semuanya kenapa?" Jawab Seo Woon datar.


"Lalu reaksi ibu?"


"Tidak ada. Dia malah menyuruhku menjaga kalian dengan baik.."


"Hyung juga menceritakan tentang Jemima?"


"Iya.."


"Astaga hyung!"


Suara Max memekik memenuhi kantin rumah sakit. Beberapa orang melirik ke arah mereka.


"Kenapa?"


"Kenapa cerita pada ibu.."


"Habisnya ibumu tanya apa yang sedang kamu lakukan hingga tidak menjawab telpon. Ya aku ceritakan semuanya.. aku kan tidak mungkin berbohong.."


-----


Hari sudah malam saat Max kembali ke rumah sakit. Dia pulang ke rumah sebentar untuk membersihkan diri dan membawa beberapa pakaian. Max juga membelikan beberapa baju untuk Yana dan segala perlengkapan Jemima juga tak luput dari perhatiannya. Dia seperti seorang suami yang sedang mengurus istri dan anaknya.


Max membuka pintu dengan perlahan. Dia takut membangunkan Jemima kalau dia sedang tidur. Dugaannya salah. Jemima sedang rebahan di atas kasur dengan Yana yang duduk bersila. Jemima bergumam tidak jelas dan Yana menanggapinya. Saking asyiknya mereka tak sadar jika Max masuk kemudian memandangi keakraban ibu dan anak.


Baju Yana tidak rapi. Beberapa kancing bajunya terbuka. Buah dadanya yang bengkak menyumbal keluar. Dia baru saja menyusui Jemima. Dia membiarkan kancing bajunya terbuka untuk memudahkannya menyusui Jemima nanti.


Max tak ingin mengganggu keharmonisan Yana dan Jemima. Dia meletakkan barang yang dia bawa kemudian duduk di sofa dan memandang lurus ke arah kasur.


Tawa terus menggema memenuhi ruangan VIP Alexander Hospital. Ketika Yana tertawa ataupu Jemima yang menggumam kemudian tertawa, Max ikut tertawa meskipun tipis. Tiada yang lebih membahagiakan dari melihat dua orang yang dia cintai tertawa bahagia. Seolah tidak ada lagi yang diharapkan Max dalam hidupnya.


Jemima menggeliat kemudian menangis. Yana segera mengangkat tubuh kecil itu kemudian memberikan susunya. Tubuh Jemima melemah, nafasnya menjadi teratur, perlahan-lahan matanya tertutup. Dengkuran halus terdengar. Beberapa menit kemudian, Yana meletakkan tubuh Jemima kembali ke kasur dan menyelimutinya.


Yana memandang wajah Jemima sebentar. Keadaan Jemima sepertinya sudah baik-baik saja, dia sudah menyusu dengan baik. Asumsi Yana semoga benar.

__ADS_1


"Astaga! Sejak kapan kamu masuk.."


Jantung Yana terlonjak saat melihat Max yang dengan tenangnya duduk di sofa. Yana hendak ke kamar mandi saat dirinya mendapati Max di dalam ruangan.


"Sudah lama.."


"Kenapa aku tidak mendengar suaramu?" Ucap Yana kesal.


Yana kesal karena Max pasti melihat semua yang dia lakukan termasuk menyusui Jemima.


"Kalian bahagia sekali sampai tidak sadar aku maksud.. kamu mau kemana?" Max bangkit kemudian berjalan mendekati Yana.


Tangan Max terulur. Dia mengancingkan kebali baju Yana yang acak-acakan.


"Bisa gawat kalau ada orang lain yang melihat ini.."


Yana mengikuti pandangan Max yang jatuh ke arah buah dadanya.


"Ah!" Yana segera mundur. "Tutup matamu!" Teriak Yana lagi.


"Kenapa? Aku sudah melihat semuanya. Apa yang belum pernah aku lihat Yana.." Max menyeringai. Senyumnya sangat misterius.


"Dasar mesum!" Yana segera melarikan diri ke kamar mandi saking malunya.


"Hei.."


Panggilan Max tak dihiraukan sama sekali oleh Yana. Yana sudah menghilang sepenuhnya ke dalam kamar mandi. Tawa Max meledak. Hatinya dipenuhi kebahagiaan.


Di dalam kamar mandi, Yana memegangi dadanya yang terus berdetak tak karuan.


Yana jangan goyah. Jangan goyah karena hal sepele seperti ini. Jangan goyah!


Deg


Deg


Deg

__ADS_1


Detak jantung Yana menyentak-nyentak.


Bersambung..


__ADS_2