
"Tidak ada yang ingin aku ceritakan padamu. Kita bukan teman atau apalah yang bisa saling bercerita kehidupan masing-masing.." Ucap Yana sinis. Dia mengalihkan pandangannya pada dinding kosong.
"Hmm..." Max menghela nafas panjang.
"Ayolah Yana.. ada hal yang kamu sembunyikan dariku kan?"
"Tidak. Tidak ada yang aku sembunyikan. Hubungan kita sudah lama selesai.."
"Yakin tidak ada hm?" Suara Max melembut.
Pengejarannya sulit sekali ternyata. Yana membentengi dirinya dengan dinding yang tinggi diantara mereka. Atmosfir percakapan mereka kali ini pun sangat berbeda dengan dulu, saat mereka masih bersama. Dulu hatinya sangat lembut, cara bicaranya halus, sikapnya penuh perhatian. Tapi sekarang yang dilihat Max adalah tatapan sinis, rasa tak suka dan kewaspadaan. Perubahan itu membuat hati Max tersayat. Luka yang dia torehkan pada Yana pasti sangat dalam hingga dia membatasi diri padanya.
"Tidak.." Jawab Yana tegas.
"Lalu bagaimana dengan Jemima?"
Tubuh Yana tersentak. Dari mana Max tahu tentang Jemima? Mereka beradu pandang. Namun Yana segera memalingkan wajahnya. Yana tak ingin Max tahu apa yang dia sembunyikan dari sorot matanya.
"Dari mana kamu tahu Jemima?"
"Tidak ada yang tidak aku tahu tentang Jemima. Sebelum aku bertanya aku menyuruhmu untuk menceritakannya dulu.. tapi kami malah tidak mau.."
"Jemima tak ada hubungannya denganmu. Aku mengadopsinya.." Jawab Yana singkat.
"Aku tidak percaya.."
"Apa maksudmu?"
"Bagaimana kamu menjelaskan bola mata dan bibir Jemima yang mirip denganku?" Max melipat tangannya di depan dada.
"Itu hanya kebetulan saja.."
"Kamu ya benar-benar suka dipaksa Yana.."
"Atas dasar apa kamu mencurigai Jemima? Hubungan kita sudah selesai sejak lama Tuan Han Jungwoo. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Silahkan tinggalkan kami. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi.." Rahang Yana mengeras. Yana tidak akan menyerah atas Jemima sama sekali. Jemima adalah miliknya.
Dahi Max mengkerut. Rupanya Yana berniat bertahan hingga akhir. Tidak ada cara lain. Jika dia ingin mendapatkan Yana dan Jemima, Max harus nekat.
"Jangan berbohong padaku Yana. Aku tahu semuanya.."
"Apa yang kamu tahu?" Yana masih ngotot.
"Jemima anak kita bukan?"
"Tidak!" Suara Yana meninggi.
__ADS_1
"Ayo kita lakukan tes DNA pada Jemima.."
------
Yana kalah. Pertarungannya yang sengit dimenangkan oleh Max. Benteng pertahanan yang telah dia bangun dua tahun ini runtuh berkeping-keping. Memang sepandai-pandainya tupai melompat, dia akan jatuh juga.
Max sudah tahu dan yakin jika Jemima adalah anaknya. Tapi dia ingin Yana yang mengatakannya sendiri. Dia tak menyangka jika Yana sangat keras kepala. Segala usaha yang dia lakukan mental. Yana menyangkalnya berkali-kali. Hingga Max tak ada pilihan lain selain memaksanya dengan tes DNA.
Keputusannya ternyata tepat. Setelah dia mengatakan tes DNA, sikap Yana langsung melunak. Kepalanya menunduk dan air matanya berjatuhan. Tanpa ditanya Max tahu jika Yana mengakui bahwa Jemima adalah anaknya.
"Aku yang memutuskan untuk melahirkannya. Dia adalah anakku. Meskipun kamu tahu itu takkan mengubah apapun.." Suara Yana timbul tenggelam.
"Jangan egois. Darahku juga mengalir di tubuh Jemima. Dia anakku juga.."
"Tidak dia anakku.."
Max mendengus kasar. Yana memang keras kepala, sangat keras kepala. Dia sudah bisa membuat Yana mengatakan jika Jemima adalah anaknya. Namun Yana tak membiarkan dirinya mendekat. Usaha memenangkan hati ternyata sulit. Yana menjadi waspada setelah dia terluka. Max sangat merasakan jika Yana menjaga jarak diantara mereka.
Max ingin Yana yang dulu. Yana yang selalu ada untuknya. Yana yang mencintainya. Yana yang mengerti dirinya. Yana yang selalu tersenyum padanya. Yana yang hanya miliknya.
Bagaimana caranya?
Ah. Jemima. Ya lewat Jemima. Mari gunakan Jemima untuk melunakkan hati Yana. Batin Max bergumam.
"Yana.. jangan egois. Ya dia memang anakmu, tapi Jemima juga anakku. Ijinkan aku akrab dengan Jemima.."
"Satu hari saja. Ijinkan satu hari saja. Aku ingin merawat Jemima.. Aku tidak ingin Jemima tidak tahu wajah ayahnya.." Max berusaha sekuat tenaga.
"Tidak!"
"Ok begini saja. Jika kamu ijinkan satu hari saja aku bersama Jemima, aku tidak akan mengganggu kalian lagi.."
"Kamu tidak bohong kan?"
Max menggeleng. Ini usahanya yang terakhir. Berbagai cara dia lakukan namun selalu gagal. Max tak ada pilihan lain. Pikirannya sudah buntu.
"Satu hari tidak lebih. Aku ijinkan kamu bersama Jemima. Setelah itu tepati janjimu. Jangan ganggu aku dan Jemima.."
"Aku pasti menepati janjiku.."
Rasa senang dan rasa sedih terasa berbarengan. Senang karena Max bisa bersama Jemima. Sedih karena dia mengeluarkan janji bodoh. Jika cara ini tidak berhasil Max benar-benar harus melepaskan Yana dan Jemima. Huh.. ini sangat berat, ucap Max lirih.
-----
Jemima masih tertidur di dalam pangkuan Yana. Dia ingin mengatar Jemima ke tempat Max. Ada banyak hal yang harus dia sampaikan untuk merawat Jemima. Yana saat ini tidak menyimpan asi cadangan untuk Jemima. Jadi dia perlu mempersiapkannya.
__ADS_1
Mobil Max melaju pelan di pinggir jalanan yang lengah, perumahan dengan bangunan khas eropa berjajar rapi. Tempat yang belum pernah dikunjungi Yana. Ini bukan area rumah Seo Woon, bukan apartementnya ataupun apartement Yana.
"Masuklah.. ini rumahku.." Ucap Max membukakan pintu untuk Yana.
Dengan sigap dia membantu Yana membawa barang-barang bawaannya. Max menuntut Yana naik tangga menuju dalam rumahnya.
Tubuh kecil di pelukan Yana menggeliat pelan. Perlahan-lahan mata Jemima terbuka.
"Hai.. sudah bangun sayang.." Yana memberikan ciuman dipipi Jemima.
Jemima menggeliat sekali lagi. Setelah benar-benar sadar, Jemima mengangkat kepalanya kemudian bergumam tak jelas.
"Kamu lapar?" Tanya Yana kembali mencium pipi Jemima.
Jemima terus saja berceloteh tak jelas.
Max diam memperhatikan segala interaksi Yana dan Jemima. Jika saja dulu tak ada kejadian yang memisahkan mereka. Saat ini Yana pasti sudah menjadi istrinya dan Jemima menjadi anaknya. Mereka memang punya anak sekarang. Tapi tak ada status yang mengikat diantara mereka.
Kali ini, Yana harus menjadi istrinya. Max takkan melepaskan Yana lagi.
"Max.. sudah pulang.."
Suara Seo Woon dari dalam rumah menginterupsi keintiman mereka.
"Yana!" Teriak Seo Woon terkejut.
"Hai.. apa kabar ahjussi? Lama tak berjumpa.." Yana memberi salam pada Seo Woon dengan senyum disudut bibirnya.
"Ah hai.." Seo Woon membalas salam Yana.
Seo Woon terkesiap melihat Jemima yang juga menatapnya balik.
"Matanya.. matanya mirip sekali dengan milik Max.." Seo Woon terkesima. Dia sampai tak mampu berkata-kata setelah melihat Jemima.
"Bolehkan aku masuk dulu? Aku harus memberi susu pada Jemima. Saat ini waktunya Jemima makan.."
"Masuklah.. aku akan segera menyusulmu.." Max membukakan pintu untuk Yana.
Max memilij tinggal sebentar diluar bersama Seo Woon.
"Apa yang terjadi Max? Bukankah itu anak adopsi kata Park Jihoo? Tapi matanya, bahkan wajahnya mirip denganmu. Pasti ada kesalahan disini.. aku rasa anak itu.."
"Jemima anakku hyung.. Yana menyembunyikannya dariku.." Ucapan Seo Woon disambar oleh Max dengan cepat.
"Apa?"
__ADS_1
Bersambung...