My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
38. Trap


__ADS_3

"Dimana Yana?" Ucap Woon melihat Max masuk ke dalam ruang gantinya.


"Sudah kembali ke kantor.." Jawab Max singkat seraya membuka kemeja yang dia pakai.


Perasaan Woon agak ganjil melihat Max yang basah kuyup karena keringat. Tapi apa? Woon sedang mencarinya.


"Aku akan mandi dulu hyung.. katakan pada mereka aku setuju dengan apapun konsep mereka.."


Max ingat pesan Yana sebelum taxi datang menjemputnya.


Jangan menyusahkan banyak orang. Jadilah orang baik.


"Kenapa kamu menyuruhnya kembali sendirian? Aku bisa mengantarnya.." Tutur Woon.


"Dia buru-buru. Lagian tak mungkin Yana mau diantar hyung.." Ucapan Max mengambang.


Dahi Woon mengkerut. "Lalu?"


"Aku memesan taxi untuknya.. terima kasih sudah membawanya kemari. Bagaimana caranya dia setuju kesini hyung?"

__ADS_1


"Aku memaksanya.."


Tatapan Max terkejut.


"Jangan lakukan itu lagi hyung.. aku tidak mau melukainya.."


"Jika itu perlu aku rasa bagus. Lihatlah kamu sekarang. Setelah Yana datang kamu menjadi penurut. Sepertinya aku bisa memanfaatkannya.." Woon terseyum misterius.


Senyum itu tak disukai Max. Tak ada yang boleh melukai Yana selain dia. Yana wanitanya, miliknya. Ingin sekali dia teriak, jangan sentuh wanitaku.


"Hyung.. jangan macam-macam.."


-----


"Swanlove Ruby?" Dahi Max mengernyit melihat gadis muda diikuti oleh para staffnya berjalan memasuki lokasi syuting iklan.


Max membolak-bali naskah skenarionya lagi. Tidak ada namanya di naskah yang dia pegang. Seo Woon juga tidak mengatakan jika orang itu terlibat dengan syuting kali ini. Jelas-jelas model perempuan yang akan menjadi lawan mainnya adalah orang lain.


Tampaknya Woon juga sama terkejutnya dengan Max melihat Swanlove Ruby datang dengan belasan staffnya.

__ADS_1


"Hyung.. kenapa dia kemari?" Max menoleh pada Woon.


"Akan aku konfirmasi pada sutradara terlebih dahulu.." Woon bangkit kemudia berjalan mendekati sutradara yang berada di depan.


Ketika Max duduk sendirian karena ditinggal Woon menemui sutradara, model Swanlove Ruby yang biasa di panggil khalayak dengan Swan mendekati Max.


Sejak dia masuk ke lokasi matanya tak lepas dari Max. Mengunci pria yang bulan lalu debut solo dan dialah model dari MVnya. Setelah MV itu rilis Max tak ada menghubunginya bahkan sekedar ucapan terima kasih. Tak pernah ada yang menolak pesonanya selama ini. Mereka telah beradegan mesra dalam MV dan syuting di Jepang hampir satu minggu. Tapi pria itu tak ada kata tertarik melihatnya. Mereka dulu teman waktu kecil sebelum Max pindah ke New York dengan orang tuanya. Setelah itu pertama kali saat Max masih di DAMN! dalam beberapa kerjasama atau show bareng. Swan diperlakukan tak lebih dari rekan dan teman. Padahal Swan menginginkan lebih. Dia telah jatuh cinta pada Max saat pertemuan lagi mereka tahun lalu.


Dia akan menempel dekat Max saat mereka kerja bareng agar ada rumor antara mereka. Usahanya berhasil tapi taka ada respon dari Max ataupun manajemennya. Swan sudah kehilangan akal untuk menarik perhatian Max. Saat ini dia sudah berbuat terlalu jauh. Dia memonopoli aktivitas Max dengan segala upayanya. Jika ini gagal dia akan hancur, kali ini dia harus membuatnya berhasil. Apapun caranya, Max harus menjadi miliknya.


"Hai Max.. lama tak berjumpa.." Swan menyapa Max riang.


"Oh hai Lovy.." Sekedar sopan santun. Max menjawab sapaan Swan. Dia adalah pria sopan. Mengacuhkannya di depan banyak bukanlah perilaku bijak.


Max bahkan mendengus setelah menyapa Swan. Kenapa akhir-akhir ini dia sering bertemu Swan. Bukan karena tidak suka, tapi Max ingin menghindari skandal yang pernah berhembus diantara mereka. Menjadi model MV**nya harusnya sudah cukup. Tapi sekarang dia terjebak lagi dengan wanita yang ingin dia hindari.


Di sisi lain hati Swan bergetar saat Max memanggilnya dengan nama kecilnya dulu, Lovy. Tekadnya semakin kuat untuk mendapatkan Max. Apapun akan dia tempuh meskipun itu memerlukan pengorbanan yang besar.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2