
“Mau kemana dia..” Gumam Max dengan tangan memegang kemudi mobilnya. Matanya menatap tajam pada Yana yang keluar dari taksi.
Yana setengah berlari menaiki tangga. Dia tergersa-gesa kembali ke kamar kosnya. Ada sesuatu yang ingin dia ambil kemudian dia harus segera pergi.
“Yana..” Song Jieun teman sekamar Yana terkejut ketika pintu kamarnya dibuka dengan kasar.
Yana tak menjawab sapaan temannya. Dirinya tengah sibuk mengambil bungkusan coklat yang dia taruh di bawah bajunya. Setelah mengambilnya, Yana langsung saja pergi tanpa menoleh pada Jieun.
Mata Jieun mengerjap pelan, otaknya masih belum bisa merespon peristiwa yang dia saksikan. Teman satu kamarnya tiba-tiba membuka pintu dengan mata yang merah karena menangis kemudian tergesa-gesa mengambil sesuatu dan langsung pergi. Mukut Jieun menganga lebar.
Max masih setia menunggu Yana keluar dari gedung berlantai yang ada di depannya. Matanya masih saja mengamati pintu masuk gedung itu. Dia bertanya-tanya, apa yang dilakukan Yana di gedung yang terlihat kumuh tersebut. Apapun itu, Max tetap menunggu Yana keluar.
Tak berapa lama Yana keluar dengan langkah gonta keluar dari gedung apartemantnya. Kakinya dia pacu menuju mesin ATM terdekat. Namun tangannya tiba-tiba terasa nyeri, tanpa dia sadari tangan bekas selang infus tadi masuh mengeluarkan darah.
“Awwhhh...” Yana meringis pelan. Langkahnya berhenti sejenak. Matanya menatap nanar pada tangannya yang berdarah. Namun dia tidak ingin mempedulikan rasa sakit itu, keluarganya yang ada di Indonesia sedang membutuhkannya.
Kaki Yana melangkah lagi menuju mesin ATM yang dekat dengan bangunan kostnya. Baru beberapa langkah pergerakaan Yana terhenti karena tangannya dicekal. Yana terkesiap.
“Max..” Yana terkejut, tangannya yang mencekalnya adalah Max. Dia bisa dengan jelas mengenali Max. Karena pria itu tidak menutupi wajahnya sama sekali, tidak seperti kebanyakan artis yang menyamar ketika di tempat umum.
“Kamu terluka..” Ucap Max mengangkat tangan Yana yang berdarah.
“Lepaskan hiks.. aku baik-baik saja hiks..” Yana melepaskan tangannya dari Max, namun gagal. Max menarik tangan Yana, menuntutnya untuk masuk ke dalam mobil Max.
“Apa yang kamu lakukan?” Yana protes atas perlakuan Max.
“Diam.. masuk dan pakai sabuk pengamanmu..” Tutur Max menutup pintu mobil, kemudian dia berputar ke pintu mobil satunya.
“Aku harus pergi.. aku buru..”
__ADS_1
“Aku antar.. tapi obati dulu lukamu..”
“Aku buru-buru.. aku ada urusan, aku harus pergi..” Yana terus saja berusaha keluar dari mobil Max.
Ceklek
Max mengunci otomatis semua pintu mobilnya.
“Hiks hiks.. lepaskan aku.. aku harus segera pergi.. apa sebenarnya salahku? Hiks hiks..” Yana menangis sejadi-jadinya, dia merasa tidak berdaya. Dia harus segera ke mesin ATM kemudian mengirim uang untuk ibunya di Indonesia. Perlakuan Max ini membuatnya tak berdaya.
“Apa yang terjadi? Ceritakan padaku.. aku tidak mengerti bahasamu ditelpon tadi.. aku akan membantumu.. aku janji..” Jelas Max memandang Yana yang menangis. Hati Max jadi ikut bersedih menatap air mata tak hentinya keluar dari mata teduh gadis itu.
“Ayahku kecelakaan.. aku harus segera mengirim uang ke ibuku di Indonesia.. tolong lepaskan aku.. aku harus segera ke ATM..” Ucap Yana. Uang di ATMnya memang tak seberapa, tapi setidaknya itu bisa membantu beban ibunya sedikit. Yang bisa Yana lakukan hanya ini.
“Berapa yang kamu butuhkan?”
Yana menggelengkan kepalanya. Tangannya yang tidak terluka menggenggam erat kartu ATM berwarna putih miliknya. Uang didalamnya jika dirupiahkan hanya berjumlah 10 juta saja, bahkan uang itu adalah uang untuk membayar kuliah Yana tahun depan. Namun kesehatan ayahnya adalah yang
“Bilang saja.. aku akan membantumu..”
“Aku tidak tahu.. aku ada uang di ATMku, aku hanya perlu ke mesin ATM untuk mengirimnya ke pada ibuku..” Ucap Yana mengangkat wajahnya menatap Max. Yana berharap pria itu mau melepaskannya.
“Tidak perlu ke mesin ATM, aku kirim lewat online saja. Berapa yang kamu butuhkan?”
“Aku hanya punya 850.000 won*..” Lirih Yana.
Alis Max terangkat sebelah. “Apakah segitu sudah cukup?”
Yana menggeleng cepat, mana mungkin cukup. Jika dirupiahkan sekitar Rp. 10.000.000,-. Uang itu untuk biaya rumah sakit saja tidak akan cukup, belum biaya tebus obatnya. Walaupun hanya sedikit, Yana ingin meringankan beban orang tuanya.
__ADS_1
“Berapa nomor rekeningnya? Akan aku bantu transfer online..” Ucap Max mengambil ponsel dari kantong celananya. Diam-diam sedang mencari kurs won ke rupiah. Dia sedang mengira-ngira pengeluaran untuk kasus kecelakaan.
“Separah apa keadaan ayahmu Yana?” Baru pertama kali ini Max memanggil nama gadis di sebelahnya itu. Max mengucapkannya dengan santai, namun dia tidak sadar jika ini adalah kali pertamanya memanggil nama Yana.
Yana yang mendengar namanya dipanggil tiba-tiba hatinya berdesir. Dia melirik Max yang tengah serius dengan ponselnya. Bisanya Max akan memanggilnya ‘Hei’
“Ayah tidak apa-apa, hanya saja kakinya terluka. Jadi ayah harus istirahat beberapa minggu..” Jelas Yana masih memandang wajah Max yang masih berkutat dengan ponselnya, entah apa yang pria tampan itu baca mulutnya komat kamit dan bola matanya bergerak-gerak pelan. Yana tersihir dengan pesona imut Max disebalahnya.
“Berapa nomornya?” Tanya Max lagi tanpa menoleh pada Yana.
“Ini..” Jawab Yana seraya menyodorkan ponselnya ke arah Max.
Max mengutak-atik ponselnya sebentar, setelah itu senyumnya terbit.
Melihat senyum Max, Yana seperti melayang diantara awan dan bintang di langit. “Tampan sekali..” Gumam Yana pelan.
“Hmm? Apa? Kamu memanggilku?” Max menoleh ke arah Yana karena mendengar Yana mengucapkan sesuatu, namun tidak begitu jelas.
“Tidak-tidak.. apakah sudah berhasil?” Yana mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah.. ini sudah tertransfer ke rekening tujuan..” Tutur Max menyerahkan ponselnya ke arah Yana.
“Ya Tuhan... Max.. apa yang kamu lakukan? Itu banyak sekali.. uangku tidak sebanyak itu..” Mata Yana terbelalak membaca nominal yang di transfer oleh Max, 5.000.000 juta won. Jika dirupiahkan itu hampir 60 juta rupiah. Uang Yana tidak lebih dari 10 juta, dan nominal yang dikirim Max 6 kali lipat dari yang dia punya.
“Kenapa? Kata kamu kaki ayahmu yang terluka.. aku rasa uang segini harusnya lebih dari cukup..” Jawab Max tanpa memperhatikan perasaan Yana saat ini.
“Kamu sudah gila ya?” Yana meninggikan suaranya.
Max mengerutkan dahinya mendengar jika dia di katai gila oleh seoarang gadis di sebelahnya.
__ADS_1
Bersambung.....