
"Apa maumu?" Ucap Max tanpa basa-basi.
"Kamu tahu apa yang aku mau Max.."
Dahi Max mengkerut. Tenang. Dia harus berkepala dingin menghadapi gadis gila ini. Sialnya keselamatan Yana ditangannya. Fakta ini yang membuat Max geram.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu maksud.." Jawab Max datar.
Swan tersenyum tipis. Dia menyodorkan amplop coklat ke arah Max.
"Apa ini?" Tanya Max memperhatikan amplop ditangan Swan.
"Lihatlah.. sesuatu yang akan membuatmu terguncang mungkin.." Swan tertawa kecil.
Posisinya saat ini kuat. Tak ada keraguan lagi untuk mundur seperti di London dulu. Kendali permainan ada ditangannya. Dia sangat yakin jika kali ini Max akan jatuh ke tangannya.
Max mengambil amplop itu penuh curiga. Perlahan dia membukanya dan mengeluarkan isinya.
Mata Max membulat sempurna. Hampir saja amplop itu lepas dari genggamannya. Gila, pekiknya dalam hati. Isi amplop itu membuat kepalanya sakit seketika.
Foto Yana, fotonya, foto mereka berdua tak terhitung jumlahnya keluar dari dalam amplop. Wajah Yana terlihat jelas, wajah Max sendiri juga jelas, banyak pose foto yang diambil. Bahkan ada wajah ibunya dan wajah Seo Woon. Semuanya terbingkai.
__ADS_1
Pikiran Max mendadak kacau melihatnya. Ini adalah foto yang lebih jelas dibandingkan foto yang tengah beredar di media saat ini. Jika satu saja foto ini keluar, semuanya akan terbongkar.
Selain foto di dalam amplop itu ada satu lembar kertas. Jantung Max terhujam melihat tulisan yang tercetak. Biodata Yana. Tangan Max bergetar. Tubuhnya langsung menegang. Ini gawat. Isi amplop ini sangat berbahaya.
"Dari mana kamu mendapatkan semua ini?" Suara Max menggeram. Dia sedang menahan amarahnya.
"Hasil dari semua usahaku.." Jawab Swan.
"Jadi kamu yang mengirimkan foto itu ke wartawan?"
"Ya seperti itulah.. aku sudah bilang aku punya senjata untuk balas dendam padamu Max.. harusnya kamu menerimaku saat aku memintamu untuk menjadi pacarku.. jadi hal seperti ini takkan terjadi.." Swan tertawa licik.
"Tidak. Aku tidak sejahat itu Max. Pesuruhku yang mengikuti kalian melaporkan semuanya setiap hari dengan detail.."
"Gila kamu.. aku tidak menyangka kamu orang seperti itu Lovy.." Mata Max berkilat penuh amarah.
"Kamu yang memaksaku seperti ini. Kamu lebih memilih gadis itu kan? Siapa namanya? Yana bukan?"
"Apa yang dia punya hingga kamu tertarik padanya Max? Aku lebih unggul darinya. Aku punya segalanya. Jika kita bersama, kita bisa menjadi raja dan ratu dunia hiburan.." Celoteh Swan.
"Tutup mulutmu. Yana terlalu baik jika dibandingkan denganmu. Sekali lagi kamu menghina Yana akan aku robek mulutmu.."
__ADS_1
"Ha ha ha ha.." Swan tertawa keras mendengar ancaman Max.
Pesona inilah yang membuatnya jatuh cinta pada Max. Semakin Max menolaknya semakin membuatnya jatuh cinta pada Max.
"Hentikan semua omong kosong ini Lovy.." Suara Max kembali normal.
Situasi saat ini tak menguntungkan untuk Max. Dia harus berfikir jernih dan tidak gegabah.
"Identitas gadis itu dalam perjalanan ke Seoul News Max. Aku perkirakan satu jam lagi sampai. Besok wajah gadis itu akan menghiasi halaman depan surat kabar terbesar di Korea. Kira-kira bagimana reaksi publik ya? Aku tak sabar menunggu besok.." Jelas Swan penuh kemenangan.
"Aku kecewa kamu memilih diam Max. Aku kira kamu akan segera mengambil tindakan. Ternyata kamu jauh lebih berhati-hati. Kamu mengecewakanku. Diammu itulah yang membuatku melakukan semua ini.."
Gadis gila. Batin Max berteriak. Otaknya sedang memproses situasinya saat ini. Satu jam? Ini benar-benar gila.
"Apa maumu?"
Max terbawa arus. Gelombang besar itu dengan dahsyatnya melahap tubuhnya. Dia harus melindungi Yana. Keselamatan Yana adalah prioritasnya.
"Mari kita buat kesepakatan.." Jawab Swan tanpa ragu.
Bersambung...
__ADS_1