
Dua puluh tahun hidup Yana tanpa Max baik-baik saja, tapi sekarang satu hari tanpa telpon dari Max membuat hidup Yana terasa kurang. Hatinya seperti tak lengkap. Langkahnya kurang sempurna dan harinya seolah suram.
Berkali-kali Yana memandang tajam pada ponselnya yang tergeletak di meja. Jika mata Yana bisa mengeluarkan laser, mungkin ponsel itu sudah terbelah menjadi dua saking lamanya ditatap oleh Yana.
Max kemarin berjanji akan menelpon ketika selesai konser di Florida. Konsernya berlangsung semalam, namun sampai pagi hari ini Max tak ada menelpon. Perbedaan waktu antara Korea Selatan dengan Amerika Serikat adalah 13 jam. Korea lebih cepat 13 jam dari Amerika. Jika sekarang hari rabu pukul 11.00 AM di Korea, mungkin di Amerika sekarang hari selasa pukul 11.00 PM.
Nampaknya Taejoon memperhatikan gelagat mencurigakan dari Yana. Didepan ada dosen yang sedang menjelaskan materi strategi bisnis online tapi pandangan Yana tak berpaling dari ponselnya sejak tadi.
Srek
Taejoon menggeser posisinya agar lebih dekat dengan Yana.
“Hei kamu menunggu telpon dari seseoarang?” Bisik Taejoon pada telinga Yana.
“Astaga Taejoon, kenapa berbisik?” Yana terlonjak kaget ketika bisikan Taejoon sampai ke telinganya. Untung saja Yana tak sampai berteriak, pasalnya dosen yang sedang mengajar saat ini terkenal dengan dosen killer.
“Apa aku harus berteriak padamu? Yakin Miss Kim tidak mengeluarkan kita dari kelas kalau aku tidak berbisik?” Ucap Taejoon dengan sekilas senyum.
“Huhhh ok.. fokus ke depan, nanti Miss Kim curiga sama kita..” Jelas Yana mengalihkan pembicaraan. Yana jelas mendengar pertanyaan Taejoon tadi, tapi dia sedang tidak mood menjawabnya.
-----
Yana menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas kasurnya. Hari ini Max mengingkari janjinya, atau mungkin Yana yang mudah percaya pada Max. Entahlah.. Yana tak ingin berpikir macam-macam tentang Max. Max adalah orang yang sibuk, pekerjaan yang harus Max selesaikan banyak, Yana hanyalah segelintir kecil di kehidupan Max. Posisinya seperti debu, kecil sekali.
Drrt drrt drtt
__ADS_1
Ponsel Yana bergetar. Pasti itu Max.. Yana bergegas mengangkat telponnya tanpa melihat nama si penelpon.
“Halo.. Max?” Sapa Yana.
“Max? Siapa Max?” Suara di seberang sana mengagetkan Yana, sontak Yana menjauhkan ponsel dari telinganya kemudian membaca nama orang yang menelpon Kang-Tae-Joon.
“Hah? Bukan siapa-siapa.. hanya teman..” Yana menjawab Taejoon dengan suara bergetar. Bodoh bodoh bodoh, Yana memukul pelan kepalanya. “Taejoon ada apa menelponku?” Timpal Yana segera mengalihkan pembicaraan mereka. Sudah dua kali dalam sehari ini hampir saja Yana ketahuan jika sedang menunggu telpon dari Max oleh Taejoon. Yang pertama ketika dia tak ada hentinya memandang ponsel kemudian yang kedua barusan. Yana tanpa sadar memanggil nama Max.
“Oh... Jieun tak mengangkat telponku..” Jelas Taejoon yang tak mempermasalahkan siapa itu Max.
Yana menarik nafas lega. Taejoon tak menanyakan Max lagi. Kepribadian Taejoon yang polos inilah yang membuat Yana nyaman berteman dengan Taejoon. Eh atau mungkin Taejoon itu telmi ya? Hihihi ^^.
“Jieun dapat kerja sambilan baru.. kenapa? Nanti aku sampaikan ke Jieun kalau dia sudah pulang..”
Yana dan Jieun adalah mahasiswa yang harus membiayai hidupnya sendiri di Seoul. Mereka berdua cepat menjadi akrab ketika masa orientasi kampus karena merasa senasib. Ketika pertama kali berkenalan, Jieun adalah orang yang pertama mengulurkan tangannya. Bahkan teman satu jurasan Yana tak ada yang mau duduk disebelah Yana karena Yana dianggap berbeda, baik itu wajah ataupu bahasa yang Yana ucapkan. Hanya Jieun setelah itu Taejoon yang mengulurkan tangannya untuk Yana. Kepribadian Yana yang ceria di Indonesia tak berlaku di Korea, Yana menjadi pribadi tertutup setelah memakan asam garam kehidupan yang keras di Seoul. Seolah kerasnya hidup menuntutnya tetap waspada pada apapun dan siapapun.
“Kenapa? Ceritakan padaku Taejoon apa keluh kesahmu?” Yana menurunkan nada suaranya.
“Aku tidak suka melihat Jieun bekerja keras seperti itu..”
Hati Yana mencelos. Betapa bahagianya memiliki orang yang mengkhawatirkan kita.
“Taejoon.. kamu kan tahu.. kalau Jieun tidak begitu.. siapa yang akan membayar uang kuliahnya?” Yana mencoba memberi pengertian pada Taejoon.
“Ya aku mengerti tapi tetap saja kan Yana.. kalian berdua pasti kesusahan ya? Andai saja aku sudah lebih dewasa dan bisa menghasilkan uang sendiri, aku pasti akan membantu kalian berdua..”
__ADS_1
Ucapan Taejoon sungguh manis. Betapa lembut hati laki-laki itu. yana bersyukur bertemu dengan Taejoon dan Jieun di negara ini.
“Terima kasih.. cukup beri kamu dukungan itu sudah cukup..”
“Pasti.. aku akan selalu mendukung kalian. Beritahu aku jika kalian membutuhkan bantuan ok?”
“Ok boss!” Mereka tertawa bersama.
Yana memutus sepihak telpon dari Taejoon. Matanya mendongak menatap atap putih kamarnya. Max aku rindu kamu..
"Max apa kabar? Sudah satu minggu sejak janjimu akan menelponku. Tapi pesan singkat pun tak ada kamu kirim. Tahu kah kamu jika aku sedang menunggumu? Apa aku yang terlalu berharap padamu?"
"Apa yang sedang kamu lakukan disana Max? Bukan kah besok adalah konsermu di New York? Ingatkah kamu ada aku yang sedang menunggumu Max?"
"Andai saja kamu Taejoon Max, betapa bahagianya hatiku.. Taejoon yang diam-diam mengkhawatirkan Jieun. Tapi mungkin Taejoon seperti aku yang menkhawatirkan kamu seperti caranya.."
"Jika mencintaimu sesakit ini. Sejak awal harusnya aku menghindarimu. Aku yang salah Max, aku yang harus menanggung semuanya sendiri karena telah berani mencintai seorang bintang yang tengah bersinar di atas sana.."
"Aku mencintaimu Max.."
Pergumulan Yana dengan batinnya sendiri diakhiri dengan terpejamnya mata dan raga yang telah berkelana ke alam mimpi.
Malam sangat panjang sayang, tidurlah..
Bersambung...
__ADS_1