
Yana datang paling akhir diantara Jieun dan Taejoon. Setelah melepas mantelnya Yana langsung duduk.
"Maaf jalanan ramai sekali.." Nafas Yana tersengal.
"Kami juga baru datang.." Taejoon menyodorkan segelas air putih pada Yana.
"Terima kasih.." Yana langsung meraihnya, meminum isi gelang sekali teguk.
"Kenapa buru-buru.. kami bisa menunggu.." Timpal Jieun.
"Sudah pesan? Kita pesta malam ini.. mari rayakan hari kebebasan.." Yana berteriak lantang.
"Ayo!!!" Jieun dan Taejoon kompak teriak bersama.
Meskipun mereka ribut atau berteriak tak ada yang terganggu. Tempat minum soju memang diperuntukkan untum orang-orang seperti mereka.
Yana meneguk satu gelas kecil Soju.
"Ahhhhh.." Rasa pahitnya menusuk tenggorokannya.
"Soju memang paling terbaik.." Seloroh Jieun.
"Geonbae.."
Tak
Mereka bersulang bersama. Soju dan beberapa makanan ringan menghiasi meja. Yana tidak suka minum soju hingga mabuk tapi hari ini cairan putih di dalam botol hijau bening itu menarik perhatiaannya. Ada kepuasan ketika menenggaknya berkali-kali.
"Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Jieun.
Dahi Jieun mengkerut melihat Yana terus menuang Soju ke dalam gelasnya. Kebiasaan temannya tidak seperti ini. Satu atau dua gelas saja dia minum. Hari ini tidak, sudah lebih dari lima kali.
"Tidak ada. Aku hanya ingin merayakan berakhirnya magang.." Jawab Yana datar.
"Apa karena iklan Max yang baru?"
Ops. Taejoon sepertinya kelepasan. Melihat perubahan wajah Yana dan Jieun yang terkejut, Taejoon menyadari kecerobohan mulutnya.
"Iklan?" Jieun penasaran.
"Ya iklan.." Jawab Taejoon.
"Iklan apa?"
Taejoon membuka ponselnya kemudian memutar video. Itu adalah iklan dari pusat perbelanjaan terbesar di Korea. Video berdurasi 5 menit itu telah beredar di dunia maya.
"Astaga.." Jieun melongo.
Dia tahu ini hanya akting tapi dia memikirkan perasaan Yana. Inilah yang disebut resiko versi Jieun. Pacaran dengan artis.
"Orang-orang ditempatku magang heboh dengan munculnya iklan ini tadi pagi. Mereka mengatakan jika Max dan Swan itu cocok bersama. Mungkin mereka juga menjalin hubungan.." Mulut Taejoon tak tahu kondisi.
Plak
Jieun memukul belakang kepala Taejoon. Kadang mulut cowok itu harus diajari sopan santun. Menjalin hubungan katanya? Apakah dia lupa jika pacar Max adalah Yana. Jieun gemas.
"Mungkin mereka benar Taejoon. Aku sendiri tidak tahu siapa sebenarnya aku. Max memang mengatakan aku pacarnya tapi hubungan kita tidak seperti orang kebanyakan. Lebih tepatnya aku adalah teman tidurnya.. yah.. sesuatu yang seperti itulah.. kalian pasti tahu sendiri.." Yana terkejut dengan kefasihan bahasanya.
Melihat Taejoon dan Jieun membeku didepannya, Yana tersenyum tipis. Hatinya sakit. Dia kecewa pada Max.
"Yana.. apakah itu sulit?" Suara Jieun melembut.
Yana mengangguk. Air matanya tak terasa mengalir.
"Dia sudah berjanji seperti itu padaku.. tapi janji hanyalah janji. Tak tahulah.. aku tidak mau memikirkan hal itu.. mari kita nikmati saja pesta kita hari ini.." Yana mengangkat gelas sojunya.
"Ya ya.. jangan pikirkan yang lain.. mari nikmati pesta kita saja.." Taejoon ikut menganggkat gelasnya.
"Minum sampai puas.." Jieun tam mau kalah.
__ADS_1
Yana diam-diam menyeka air matanya. Teman memang tempat terbaik ketika kita sedang gundah. Yana bahagia memiliki Kang Taejoon dan Song Jieun sebagai temannya.
"Bolehkah aku menginap di tempatmu? Sudah lama aku tidak kesana.." Yana merengek.
"Malam ini?"
Yana mengangguk.
"Pintu kamarku selalu terbuka untukmu Yana.. silahkan.." Jieun tersenyum simpul.
"Bolehkah aku juga ikut?" Rengek Taejoon.
"Tidak boleh. Ini hanya untuk wanita. Laki-laki pulang sana.." Jawab Jieun seraya mendorong tubuh Taejoon menjauh dan segera meninggalkannya.
-----
"Gila gila gila.. aku bisa gila!"
Brak
Max menggebrak meja Seo Woon. Si pemilik meja sedang merenung dengan tangan menopang dagus. Pikirannya tak berada di tempat.
"Apa yang mereka lakukan hyung. Kenapa bagian itu yang dicetak sebagai poster iklan?" Amarah Max naik ke permukaan.
"Hyung jangan diam saja.. Yana pasti salah faham.. mereka memang sudah gila.." Nafas Max bercampur dengan amarahnya. Hawa ruangan Woon terasa panas pada musim semi.
"Kita tidak bisa berbuat banyak Max. Itu adalah hak mereka.. mereka sudah membayar hak ciptanya.." Seo Woon menjelaskan dengan hati-hati.
"Bisa gila aku hyung.." Max mendesah kasar. "Apa jadwalku hari ini?" Tanya Max.
"Wawancara dengan Korea Magazine.."
"Pending jadwal itu. Aku harus menemui Yana.."
"Max!"
"Lakukan segala cara untuk membuatnya menjadu besok.." Max tak ingin berdebat lebih lama. Dia segera meninggalkan ruangan Woon.
"Ya. Satu-satunya.." Jawab Max tanpa menoleh kemudia membuka pintu dan pergi.
"Dasar anak itu.. kapan menjadi dewasa.."
Seo Woon meraih gagang telpon dan mulai menelpon beberapa orang. Mengundur jadwal tak semudah itu. Max memang membuat Woon lembur hari ini.
-----
Apartement Yana kosong. Max masuk mengedarkan pandangannya. Mencari sosok Yana yang seharusnya sudah berada di rumah, tapi tidak ada. Dia sudah mencoba menghubungi Yana dalam perjalanan kesini tapi tak diangkat. Sesat kemudian nomor Yana tak bisa dihubungi. Max frustasi. Dia tidak tahu dimana Yana. Dia tidak tahu dimana tempat Yana magang, dan dia tidak tahu nomor ponsel teman-teman Yana.
Mereka sudah menjalin hubungan hampir satu tahum tapi Max tak tahu banyak tentang Yana. Dia terlalu tidak peduli dengan kehidupan Yana. Tangannya mengusak rambutnya kasar. Max menyadari kesalahannya.
Max menunggu hingga pagi dan Yana tak kunjung datang. Darah panas mengalir cepat di tubuhnya. Pikiran-pikiran buruk melintas di kepalanya. Yana meninggalkannya, Yana marah padanya, dan sebagainya.
Dia telihat mondar-mandir di depan pintu. Matanya menatap nanar pintu yang tak kunjung terbuka itu. Kalau satu jam lagi Yana tak datang, Max akan mendatangi rumah kost Yana yang lama. Mungkin saja dia ketempat Jiuen.
Ditengah-tengah kecemasannya, pintu itu akhirnya terbuka. Masuklah Yana.
"Darimana saja kamu?"
Suara berat seorang pria yang membuatnya terkejut. Yana baru saja masuk ketika suara itu terdengar.
"Max?" Yana mencari-cari pemilik suara itu. Lampu kamar yang gelap dengan tirai jendela yang masih di tutup membuat keadaan apartementnya gelap meskipun diluar sudah terang.
"Kenapa baru pulang? Kemana saja kamu?"
Ya itu suara Max. Max duduk di sofa dengan tangan terlipat di depan dada.
"Aku menginap di tempat Jieun semalam.." Yana menjawab sambil berlalu.
Dia meletakkan tas kemudian membuka mantelnya.
__ADS_1
"Kenapa tidak menjawab telponku?"
"Maaf batreku habis.."
Hening.
Yana masuk ke dalam kamar mandi dan mengganti bajunya cepat. Ketika dia keluar tenaga yang sangat kuat mendorong tubuhnya hingga menempel pada tembok.
"Max!" Yana terksiap. Max mengunci tangan dan tubuhnya.
Tanpa basa-basi Max menggigit leher Yana dan menghujani bibir Yana dengan ciuman yang dalam.
"Kamu habis minum?" Max menarik bibirnya menjauh.
"Sedikit.. minggir.. aku lelah mau tidur. Kenapa pagi-pagi kemari? Ada yang mau kamu bicarakan?" Yana mendorong tubuh Max menjauh tapi tak berhasil. Max meraih kedua tangannya kemudian menguncinya ke atas kepala. "Max!" Yana menjerit kaget.
"Aku sudah menunggumu semalaman disini. Kamu tahu itu.. kamu membuatku tak bisa tidur karena tak bisa dihubungi. Apa kamu sengaja hmm? Membuatku kacau kemudian berlari menemuimu. Jika iya kanu berhasil Yanaku.." Max kembali melahap bibir Yana dengan kasarnya.
Saat mereka kehabisan nafas barulah Max menarik bibirnya.
"Jangan seperti ini Max. Pulanglah.. aku lelah aku mau tidur.."
Mata Max menyipit. Berkali-kali Yana menghindarinya. Bahkan saat dia menatapnya Yana akan memalingkan wajahnya. Dia merasakan ada yang tidak beres. Pasti karena iklan sialan itu. Max mennyumpah dalam hati.
"Apa karena iklan itu kamu tidak mengangkat telponku? Kamu sudah melihatnya kan?"
Max melepaskan tangan Yana. Salah satu tangannya menarik dagu Yana agar mata mereka bisa bertemu.
"Hmm? Benar seperti itu? Kamu marah?"
"Untuk apa aku Max. Aku tidak punya hak untuk itu.." Yana menjawab singkat.
Awalnya dia ingin menyakiti Max dengan kata-katanya tapi melihat bola mata Max yang berubah membuat hati Yana jatuh ke tanah.
"Kalau kamu tidak suka bilang padaku. Kamu berhak untuk marah Yana. Aku adalah kekasihmu. Kamu tentu saja punya hak.." Max menyembunyikan amarahnya di dalam. Suaranya lembut di luar tapi di dalam, amarah berkobar mendengar ucapan Yana.
"Bukankah kamu sudah berjanji padaku? Aku selalu percaya padamu. Tapi kalau kamu ternyata seperti ini aku bisa apa Max.." Suara Yana bergetar.
"Marahlah padaku. Pukul aku. Tampar aku. Itu akan lebih baik daripada kamu diam seperti ini Yana.." Hati Max merosot.
Dia ingat pernah berjanji pada Yana. Max ingat betul akan janjinya. Yana tak tahu apa yang sudah dilakukan Max untuk mengubah skenario yang sudah ditetapkan. Adegan itu harusnya ciuman bibir tapi Max mengubahnya menjadi ciuman pipi untuk menjaga perasaan Yana. Max pun tak tahu jika adegan itu yang akan dijadikan poster iklan.
"Sudah ku bilang aku tidak punya hak untuk itu Max.. kenapa aku harus marah? Aku baik-baik saja. Mau kamu beradegan lebih dari itu aku tidak masalah. Aku tidak peduli.." Yana tersentak dengan ucapannya barusan. Dia memang marah.
Tapi dia tak menyangka akan berkata seperti itu. Batinnya menertawakan mulutnya. Kalau marah tinggal mengakuinya saja tak perlu munafik. Untuk apa bersikap seperti itu? Entahlah.
"Sebegitu burukkah aku di depanmu saat ini Yana?" Max memundurkan tubuhnya. Tangannya menjauh dari tubuh Yana. Hatinya tersiksa. Yana marah padanya. Tapi marah Yana sangat menyakitkan. Lebih baik dia ditampar satu kali setelah itu selesai. Tapi Yana melukai hatinya dengan kata-katanya.
"Kamu memang tidak mencintaiku. Bahkan kamu tidak peduli padaku. Hah.. hanya aku yang sepertinya khawatir sendirian.." Max berbalik menuju sofa. Langkahnya gontai. Dia kecewa.
Tubuh Yana seperti tersengat listrik. Kata-katanya telah melukai pria itu. Dia wanita yang sangat jahat karena terus melempar pisau berupa ucapan berkali-kali pada Max.
"Maafkan aku.."
Yana berlari memeluk punggung belakang Max. Tangisnya pecah.
"Tentu saja aku mencintaimu Max. Aku cinta kamu.. aku marah.. aku cemburu.. maafkan aku.." Ucap Yana ditengah-tengah tangisnya.
"Aku takut kamu meninggalkanku.. aku sangat bodoh.. aku terjebak dengan pikiranku sendiri.." Isaknya semakin kencang.
Max berbalik kemudian memeluk Yana erat.
"Dasar keras kepala. Kalau tidak suka bilang saja.. jangan disimpan sendiri. Kamu bisa saja terluka. Badan bukanlah satu-satu bagian yang bisa terluka Yana.." Max mengelus kepala Yana.
"Maafkan aku.. aku hanya tidak tahu harus bagaimana.." Air mata Yana keluar bak air hujan.
"Aku juga minta maaf. Aku tidak memikirkan perasaanmu ketika menyetujui adegan itu.." Tangan Max mengelus punggung belakang Yana.
"Maafkan aku.. maafkan aku.."
__ADS_1
Hati Max terasa nyeri mendengar Yana yang terus meminta maaf. Dia harusnya yang meminta maaf. Tapi dia malah membuat Yana menangis. Tapi dalam hati Max senang karena dia sudah mendapat jawaban dari perasaannya. Butuh waktu satu tahun dan drama ini untuk membuat Yana mau mengakui perasaanya juga. Seperti disiram air dingin, hati Max lega.
Bersambung...