My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
Love Bird Ep 29 - END


__ADS_3

Setelah lelah memangis Yasha jatuh tertidur. Seo Won membaringkannya di ruang istirahat yang ada di ruangan CEO. Sebuah kamar khusus yang diperuntukkan untuk CEO. Seo Won hanya diam dan sesekali menenagkan Yasha saat menangis. Seo Won sengaja membiarkannya. Dia tak mungkin mendesak Yasha untuk berhenti menangis atau apapun. Tentu saja Seo Won khawatir dengan keadaan bayi yang ada dikandungan Yasha saat dia menangis, tapi mau bagaimana lagi, tangis Yasha semakin kencang saat Seo Won membuka mulutnya barang satu kata saja.


Hanya kata maaf dan kata menanangkan yang keluar dari mulut Seo Won. Dia terus memeluk Yasha dengan tangan yang mengelus kepala dan bahu Yasha yang bergetar. Kemeja yang dia gunakan mejadi kusut dan basah pun Seo Won tak peduli. Pasalnya Yasha menangis dengan menenggalamkan wajahnya di dadanya.


Seo Won menarik selimut untuk menutupi tubuh Yasha kemudian keluar dengan perlahan. Dia mengambil ponsel yang tergeletak kemudian menekan tombol call pada kontak Max.


"Halo.."


"Halo Max, ini aku.."


"Ah hyung.. ya.."


"Aku ingin bertanya sesuatu.."


"Apa itu? Di kantor tidak terjadi sesuatu kan? Apa aku harus ke kantor sekarang? Tidak kan? Jemima sedang demam jadi kami sibuk sekali di rumah hyung.."


"Tidak. Tidak terjadi apa - apa di kantor.."


"Lalu ada apa? Jangan membuatku panik.. Yana sedang istirahat sekarang, Yana tidak tidur semalaman karena Jemima demam, jadi sekarang aku sedang mengurus Jemima dan Gaby sekaligus. Aku tidak bisa ke kantor sekarang hyung.."


"Hah.. Max dengarkan aku!"


"Ya ya aku mendengarkan.."


"Aku hanya ingin bertanya tentang tawaranmu yang dulu.. apa masih berlaku?"


"Tawaran?"


Hening sejenak.


"Ah tawaran menjadi Wakil Direktur?"


"Ya.."


"Tentu saja masih hyung.. eh kenapa tiba - tiba hyung bertanya? Bukankah hyung sudah menolaknya?"


"Siapa yang menolaknya, aku bilang akan mempertimbangkannya dulu.."


"Tapi itu kan sudah lama sekali, aku kira hyung menolaknya.."


"Aku hanya butuh waktu.. mmm sekarang aku sudah memikirkannya matang - matang.."


"Jadi hyung menerimanya?"


"Ya begitulah.."


"Astaga! Akhirnya.. aku kan sudah bilang, hyung lah yang cocok menjadi wakilku dibandingkan hanya menjadi sekretaris pribadiku.. bagaimana kalau menjadi Direktur Kedua sekalin?"


"Tidak. Ini kan perusahaanmu Max.."


"IM Entertainment milik kita berdua hyung, karena kita yang menjalankannya bersama.."


"Aku sudah cukup seperti ini Max.. menjadi Wakil Direktur juga sama saja. Intinya pekerjaanmu aku yang urus juga.."


"Maaf hyung, mau bagaimana lagi.. hyung tahu kan?Aku sedang menebus waktu yang aku sia - siakan selama Yana mengandung dan membesarkan Jemima. Mau bagaimanapun aku menebusnya, aku merasa itu tidak cukup dibandingkan pengorbanan Yana, mengandung dan melahirkan Jemima sendirian.."


"Iya aku tahu itu, makanya aku tidak akan berbuat bodoh seperti dirimu. Aku akan bertanggungjawab dan tidak akan meninggalkan Yasha sedetikpun.."


"Baguslah hyung, jangan sampai seperti aku yang menyesal begini.."


"Aku mengerti perasaanmu Max, Yana beruntung memilikimu.."


"Aku yang beruntung memiliki Yana.."


Hening lagi.


"Oh ya Max, rumah yang dulu kita tempati.. mmm rencananya aku ingin menggunakannya kembali, dalam waktu dekat ini.."


"Kapan kalian pindah? Yasha sudah tahu?"


"Belum.. nanti aku akan memberitahunya.."


"Perlu bantuan hyung? Aku akan mengajak Yana berkunjung sekalian membantu.."


"Tidak perlu.. datanglah setelah kami pindah. Aku berenana untuk membawa Yasha lusa, apartement tidak cocok untuk ibu hamil, aku rasa disana akan cocok untuk pertumbuhan janin.."


"Hah ibu hamil? Siapa? Yasha?"

__ADS_1


"Ya.. Yasha hamil.."


"Astaga! Hyung! Serius?"


"Serius Max, Yasha sudah memeriksanya ke Joan.."


"Hyung selamat! Lalu apa rencana hyung dalam waktu dekat ini?"


"Aku belum membicaraknnya dengan Yasha sebenarnya.. tapi aku ingin ke Jakarta dulu, menemui orang tua Yasha untuk meminta ijin menikah.."


"Sendiri?"


"Tidak mungkin aku mengajak Yasha kan Max?"


"Iya, terlalu beresiko untuk ibu hamil muda.."


"Itulah pertimbanganku.. aku akan meminta bantuan Arthur Alexander lagi.. kali ini bukan untuk dirimu Max, tapi untuk aku sendiri.."


"Ah iya Arthur, dia masih tinggal di Jakarta kan?"


"Sepertinya begitu, karena belum ada kabar dia kembali ke Seoul.."


"Hyung semoga sukses, jika perlu bantuan jangan sungkan.."


"Selama aku ke Jakarta tolong jaga Yasha untukku, setelah dia bangun aku akan mengatarnya kesana.. kamu bisa dipercaya kan Max?"


"Astaga.. tentu saja hyung, ada Yana juga.. tidak perlu khawatir.."


"Terima kasih Max.."


Klik


Panggilan telpon berakhir.


---


Dua tahun kemudian..


"Sayang! Sudah belum?"


"Iya iya sudah, ih cerewat sekali sih kamu hari ini.."


"Astaga.. kenapa Yana ingin sekali kita cepat kesana?"


"Katanya Gaby terus menangis ingin bertemu Jun dan Jin.."


"Iya sudah, aku sudah selesai.."


"Tidak ada yang tertinggal kan?"


"Tidak, semua sudah masuk mobil.."


"Lets go!"


Seoul City, satu jam kemudian..


"Kamu datang terlambat adik ipar.." Seloroh Max dari dalam rumah.


"Tutup mulutmu Max!"


Umpatan Seo Won dibalas dengan senyum kecil Max dari dalam rumah.


"Halo Seo Jun.. halo juga Seo Jin.." Max bergantian menyapa bayi kecil di stroller yang di dorong Yasha.


"Halo paman Max.."


"Yana, Jemima dan Gaby sudah menunggu kalian.. masuklah.."


Yasha mengangguk kemudian mendorong stroller besar untuk dua bayi kembarnya masuk ke dalam rumah. Seo Won mengikuti dibelakangnya dengan langkah yang santai.


"Hyung terlambat datang dari waktu janjian.." Celetuk Max di samping Seo Won.


"Cobalah mengurus dua anak kembar sekaligus.."


"Hei.. aku juga punya dua anak.."


"Tapi tidak kembar.."

__ADS_1


"Tapi sama repotnya.."


"Tidak. Itu beda.."


"Oke baiklah itu beda.. lagian apa yang hyung tahu? Bukannya yang merawat Jun dan Jin itu Yasha sendirian?" Max terkekeh.


"Apa maksudmu? Aku juga ikut merawat mereka.." Suara Seo Won tinggi karena tidak terima.


"Iya hyung iya.."


"Kenapa kalian selalu menyuruh kami datang setiap akhir pekan Max? Aku dan Yasha juga perlu waktu untuk berdua.."


"Sudah aku bilang, semuanya akan mudah jika hyung meninggalkan Jun dan Jin disini.. kalian bebas berdua.."


"Hah? Maksudku kami dan si kembar.."


"Ayolah hyung, bukankah disini juga sama saja.."


"Max.. kenapa kalian terobsesi sekali dengan si kembar?"


"Karena mereka lucu dan menggemaskan.."


"Buatlah sendiri Max.."


"Aku sudah membujuk Yana hyung, tapi Yana keras kepala tidak mau.."


"Kalian aneh.."


"Ayolah hyung, Jun dan Jin sudah cukup untuk kami.."


"Oke, hanya untuk minggu ini.. minggu depan aku ingin menghabiskan waktu kami berempat di rumah.."


"Astaha hyung.. jika Gaby menanyakan si kembar bagaimana?"


"Itu urusanmu.."


"Kalau begitu biar kami yang datang kerumah kalian.." Desak Max.


"No!"


"Aku akan bicara pada Yasha kalau begitu.."


"Max! Jangan berlebihan.."


"Apa yang berlebihan"


"Sikapmu.."


"Sikap apa?"


"Jangan mengulangi perkataanku, aku pusing.."


Terjadilah adu mulut antara Max dan Seo Won di halaman rumah Max. Padahal hanya hal sederahana, tapi karena tidak mau saling mengalah, jadilah perselisihan yang rumit. Hingga suara Yasha dari dalam yang mampu menghentikan perselisihan ini.


"Sayang!"


"Ya sayang? Aku akan segera masuk.."


"Jangan. Jangan dulu. Ambilkan botol susu milik Jin, sepertinya tertinggal di mobil.."


"Aku akan mengambilkannya segera.." Seru Seo Won.


"Jangan macam - macam kamu Max.." Ancam Seo Won pada Max.


"Sana ambil dulu yang diminta Yasha, aku masuk duluan ya hyung.. aku perlu bicara sengan Yasha.."


"Max!"


Max tak menghiraukan teriakan Seo Won, dia tersenyum penuh arti seraya melangkah ke dalam dengan cepat. Seo Won ingin sekali mencegah Max, namun apa daya, dia harus mengambil barang yang tertinggal di mobil.


The End


***


Terima kasih sudah membaca My Idol Boyfriend, cerita ini tidak akan berarti tanpa dukungan kalian semua, muah muah (cium satu - satu 😘)


Salam hangat,

__ADS_1


Eva ♥️


__ADS_2