
"Hai!"
Deg
Hati Yasha berdesir melihat sosok pria di ambang pintu kedatangan. Lalu lalang orang tak membuat pandangannya terhalangi. Matanya mengunci pria jangkung dengan jaket hitam panjang dan kaos senada yang menutupi lehernya. Rambutnya sedikit acak-acakan, gayanya santai tapi tak mengurangi ketampanannya.
"Wahhh..." Gumam Yasha yang masih membatu di tempat.
---
05.03 waktu Seoul, Korsel
Yasha mendorong pelan koper kecilnya ke depan. Langkahya hati-hati karena di depan ada antrian orang yang ingin keluar. Langit masih gelap ketika dia keluar dari pintu kedatangan. Kakinya berhenti sejenak kemudian menghirup udara pagi Seoul dalam-dalam. Dingin. Masih terasa dingin meskipun sudah bulan Februari. Yasha mengencangkan tas punggungnnya, ketika dia hendak melangkah menuju deretan taksi, suara pria memanggilnya dari kejauhan.
"Hai! Yasha!"
Suara itu mendekatinya.
Samar diantara lalu-lalang orang yang baru saja datang dari berbagai negara, terlihat jelas sekali sosok pria muda berlari ke arah Yasha. Jantung Yasha berdetak kencang, seolah dunia di sekitarnya bergerak lambat. Rambut laki-laki itu acak-acakan karena berlari. Wajahnya bersih dan terlihat segar. Jika boleh, Yasha juga ingin berlari mendekatinya, namun kaki dan batinnya tak mengizinkan.
"Ah Hai!" Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.
"Sudah datang.. Max tak bisa menjemputmu jadi aku yang datang.." Ucap Woon polos.
"Tidak perlu dijemput juga tidak apa-apa harusnya.. aku bisa naik taksi.."
Seo Woon tak tahu seberapa keras detak jantung Yasha saat ini. Hanya dengan melihatnya berlari mendekat saja detak itu tak terkendali, apalagi sekarang mereka sedang berbincang, jantung Yasha hampir saja meledak. Sisa kenangannya dulu dengan Seo Woon masih tersisa. Dia mengagumi Seo Woon dalam dia. Entah rasa apa itu, Yasha masih asing dengan rasa itu.
"Hah.. bisa gila aku! Jantungku pliss jangan malu-maluin!" Yasha menepuk dadanya pelan.
"Hei.. mana mungking aku membiarkan wanita cantik naik taksi sendirian dini hari begini.." Seo Woon tersenyum tipis.
"Astaga! Senyum itu.. Aaaa!!! Mati aku!"
Pendar-pendar senyum Seo Woon berjatuhan dan menabrak hati Yasha.
__ADS_1
"Aku bawakan kopermu, mobilku terparkir disana.." Secara sepihak Seo Woon merebut koper dari tangan Yasha dan segera melangkah pergi tanpa mempedulikan Yasha yang sedang mengendalikan diri.
"Hah.. Sha.. tenang Sha.. baru segini aja kamu udah goyah.. memang ya.. wajahnya itu.. ah ga tau lah.."
Yasha yang belum selesai mengendalikan dirinya segera berlari mengekori Seo Woon.
Klak
Pintu mobil Seo Woon tertutup sempurna.
"Bagaimana perjalananmu?"
"Hah? Ah menyenangkan. Bukan yang pertama kalinya. Jadi ya.. baik.." Jawab Yasha gagap.
"Ya ampun Sha.. kok kamu jadi gagap gitu sih.. kendalikan dirimu Sha.. kamu memang lemah disebelah cowok ganteng.." Yasha terus saja mengelus dadanya. Dia menghirup dan membuang oksigen dengan teratur untuk menghilangkan kegugupannya di samping Seo Woon.
"Ah!!"
Tiba-tiba mobil Seo Woon berhenti mendadak karena mobil di depan.
Seo Woon menghalau tubuh Yasha dengan salah satu tangannya agar tidak menabrak dashboard mobil karena guncangan akibat rem yang mendadak.
"Aku... aku baik-baik saja.."
Setelah beberapa saat lalu lintas kembali normal dan mobil Seo Woon kembali melaju menuju tengah Kota Seoul.
Hanya beberapa menit saja di dalam mobil, jantung Yasha yang tadi hampir meledak kini sudah meledak karena tindakan kecil Seo Woon tadi. Tangannya dengan sigap menangkap tubuh Yasha yang hampir saja membentur dash**board mobil. Tubuh mereka bersentuhan, dan hal itu membuat bulu halus Yasha berdiri. Tangannya hangat, hangat itu mampu menjalari tubuh Yasha yang terkena angin dingin Seoul. Perhatian itulah yang membuatnya melelah.
"Bagaimana bisa aku tidak menyukaimu. Kamu saja perhatian begini padaku.. pada orang asing yang belum kamu kenal.. ah.. bagaimana ini?! Hatiku.. jantungku.. tolong bekerjasamalah!" Jerit Yasha dalam hati.
---
"Kakak.."
Yasha langsung berhambur ke dalam pelukan Yana yang sudah menunggunya di ambang pintu. Begitu dia keluar dari mobil Seo Woon dan melihat Yana berdiri menunggunya, Yasha tak kuasa untuk tidak berlari.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu? Ayah, ibu dan Yoga bagaimana? Semuanya baik-baik saja kan?" Yana membalas pelukan Yasha. Tangannya mengelus pundak adik perempuannya itu.
"Semuanya baik-baik saja kak.. mereka akan segera menyusul kalau semua urusan selesai kak.. kakak bagaimana?" Yasha melepas pelukannya kemudian menjauhkan tubuhnya sedikit untuk memandang Yana dari atas hingga bawah.
"Kakak baik.. hanya kehamilan kali ini sedikit sulit.. entahlah.. mungkin karena ada Max jadi kakak menjadi manja dan malas.." Ucap Yana dengan mengelus perutnya yang sedikit buncit.
Tiga bulan. Usia kandungan Yana menginjak tiga bulan. Kehamilan kali ini terasa begitu berat. Kondisi yang jauh berbeda saat dia mengandung Jemima dulu.
"Kakak boleh begitu.. lagipula ada kakak ipar yang akan membantu kakak. Yasha tidak bisa membayangkan kejadian dulu waktu kakak mengandung Jemy.." Mata Yasha menerawang jauh.
"Iya.. kakak juga bahagia Sha.. kakak bersyukur memiliki Jemy dan Max.."
"Yasha ikut berbahagia untuk kakak.."
Mereka berpelukan sekali lagi. Percakapan kecil mereka terhenti karena Max menyusul dengan Jemima yang masih tidur di gendongannya. Yasha langsung menyapa Max begitu melihat sosoknya mendekat.
"Salam kakak ipar.. bagaimana kabarnya?" Sapa Yasha.
"Oh sudah datang. Yana tak bisa tidur semalaman menunggumu.. masuklah, diluar dingin.."
"Ya.. aku akan mengambil koperku dulu.."
"Tidak perlu, Woon hyung pasti akan mengurusnya.."
"Ah tapi kan.."
"Masuklah.. hyung akan segera menyusul.." Titah Max.
Max dan Yana melangkah masuk duluan, Yasha yang tak enak hati menoleh ke parkiran mobil. Lampu taman manyala terang meskipun lampu mobil sport hitam telah mati, meskipun samar Yasha bisa dengan jelas melihat sosok Seo Woon yang sedang sibuk mengeluarkan barangnya dari dalam mobil.
Satu koper sedang berwarna hitam, tas kertas yang cukup besar berisi oleh-oleh dari Indonesia, tas tangan kecil berisi perlengkapan pribadi, dan cardigan berwarna ungu pucat, itulah barang yang Yasha tinggalkan karena ingin segera memeluk kakaknya. Segala gerak-gerik Seo Woon tak luput dari pandangan Yasha. Dia dengan luwesnya mengeluarkan semua barang itu dan membawanya.
Tas tangan dan cardigan di tangan kiri, tas kertas diletakkan diatas koper dan kemudian didorong dengan tangan kanannya.
"Ya Tuhan.. kamu adalah makhluk sempurna ciptaan Tuhan.. hatiku bergetar hanya dengan melihat wajah tampanmu itu.. duh.. bagaimana aku mengatasi debaran ini setiap dekat kamu.." Lagi-lagi batin Yasha menjerit.
__ADS_1
Bersambung...