My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
90. Ever After (2)


__ADS_3

Perdebatan panjang terpaksa berakhir karena suara ketukan dari luar. Pertarungan sengit itu tak dimenangkan oleh siapapun. Suara mereka cukup tinggi namun Jemima dengan nyamannya tidur di atas dada ayahnya. Nampaknya dia sudah menemukan tempat paling nyaman di dunia ini, diatas dada dan di dalam pelukan ayahnya.


Mereka terpaksa menutup mulut karena suara ketukan itu.


"Masuk.." Suara Max masih tinggi.


Salah satu asisten Max masuk dengan tubuh gemetar. Pandangannya menunduk ke bawah.


"Maaf Tuan.. ada tamu yang mencari Nyonya.."


Yana tersentak mendengar kata 'Nyonya'. Ah itu dirinya, dia sejenak lupa jika statusnya sekarang adalah istri Max di depan publik. Yana harus membiasakan diri dengan kata 'Nyonya sekarang'. Huh.. diam-diam Yana menghela nafas.


"Siapa?" Tanya Yana dengan suara lembut. Dia melihat tangan asisten Max yang gemetaran. Bekerja dengan atasan diktatot seperti Max pasti sulit. Yana tahu itu.


"Mereka dua orang. Atas nama Kang Taejoon dan Song Jieun.."


"Ah mereka temanku.." Yana berdiri dengan girangnya.


"Suruh mereka masuk.. dan terima kasih Nona.." Ucap Yana sopan.


Asisten Max mengangkat wajahnya dengan tatapan bingung. Tak biasanya dia sebagai bawahan diperlakukan dengan sopan begitu. Meskipun baru pertama kali bertemu dengan istri Tuannya, dia bisa menyimpulkan jika istri Tuannya itu sangat baik. Dia tersenyum tipis kemudia mengangguk.


"Mereka pasti sudah pulang dari bulan madu.." Celoteh Yana.


Belum sempat Max menimpali celotehan Yana, Taejoon dan Jieun telah masuk ruangan.


"Jieun!" Teriak Yana begitu melihat sosok Jieun. Dia langsung berhambur ke dalam pelukan Jieun.


"Hei bagaimana kabarmu? Aku kesini karena aku khawatir.." Jieun membalas pelukan Yana.


"Aku baik-baik saja.. kapan kalian kembali?" Yana melepas pelukannya untuk menjangkau wajah dua sahabatnya itu.


"Kemarin.. kami baru saja pulang dan disambut dengan berita tentangmu dan Jemima dimana-mana, apa yang terjadi? Sejujurnya kami tidak tahu apakah kamu masih ada disini atau sudah kembali ke Indonesia. Kami sempat ragu datang kesini. Tapi resepsionis bilang kamu ada disini jadi kami memaksa untuk bertemu.. kami sempat adu mulut di lobi karena mereka tidak percaya kamu temanku.." Jelas Jieun panjang lebar.


"Maaf tidak memberi kabar pada kalian. Aku takut mengganggu acara bulan madu kalian.. lagi pula aku dan Jemy baik-baik saja.." Yana menenangkan Jieun yang sepertinya merasa bersalah.


"Kami yang lebih mengkhawatirkan kamu Yana.." Ucap Taejoon lembut.


"Ehem!" Suara deheman keras mengagetkan mereka bertiga, sontak saja semuanya menoleh.


"Ya Tuhan!" Suara teriakan Jieun memenuhi ruangan. Bukan hanya dia, Taejoon juga terkejut melihat asal suara.


Max bertengger di sofa dengan Jemima yang tidur di atas dadanya. Matanya menatap lurus acara reuni singkat Yana dan kedua temannya, tanpa dia. Max berdehem karena kesal diabaikan.


"Apa kabar.. lama tak berjumpa. Bagaimana kabar kalian?" Suara Max menginterupsi reuni mereka.


"Ah kami baik. Bagaimana kabarmu?" Ucap Taejoon canggung. Keceriaan mereka seketika lenyap setelah menyadari tak hanya ada mereka tapi ada Max. Hanya dengan diam, aura menakutkan Max menguar menyelimuti mereka.


Hening sejenak.


"Aku baik. Silahkan kalian mengobrol disini. Aku akan menidurkan Jemima di dalam.." Max bangkit mengangkat tubuh Jemima seperti mengangkat bulu yang ringan.


Bagitu Max menghilang dari pandangan, Taejoon dan Jieun menghela nafas kasar. Mereka seperti masuk ke dalam situasi yang menegangkan.


"Astaga.. Max menakutkan sekali.. huh.." Taejoon menghirup nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya kasar.

__ADS_1


"Benar.. kharismanya mematikan. Rasanya hampir mati hanya bertatapan dengan matanya.." Keluh Jieun.


"Apa yang kalian bicarakan? Ayo duduk.. kalian pasti lelah karena perjalanan jauh. Kalian harus menceritakan pengalaman kalian disana.." Yana menarik tangan Jieun dan Taejoon untuk duduk di sofa.


"Kamu yang harus menceritakan tentang apa yang terjadi Yana.. aku melihat Jemima sangat lengket pada Max. Ceritakan semuanya dan jangan ada yang terlewatkan.."


Suara tegas Jieun membuat bulu kuduk Yana berdiri. Tatapan Jieun mengunci Yana seperti mangsa. Jika seperti ini, Yana tak akan bisa mengelak.


Yana menceritakan semua yang terjadi dengan rinci. Taejoon mengangguk-angguk dan Jieun melongo tak percaya. Mereka hanya satu minggu bulan madu ke Hawaii tapi tampaknya ada banyak hal yang mereka lewatkan.


"Kalian memang luar biasa.." Taejoon buka suara.


"Aku tak tahu akan begini. Semuanya terjadi begitu cepat. Jemy tak mau jauh dari Max dan aku terjebak dan ditangkap oleh Max.." Yana tersenyum dengan mata membulat.


"Itu yang namanya takdir.." Seloroh Jieun. Dia begitu kagum dengan cerita cinta Yana dan Max. Mereka memang ditakdirkan bersama sejak awal.


"Aku setuju.." Tiba-tiba suara Max terdengar jelas.


Lagi-lagi suasana menjadi hening. Entah kenapa ketika bertatapan dengan Max baik Jieun ataupun Taejoon akan menahan nafas. Aura yang keluar dari tubuh Max membungkam mulut mereka.


"Hah?" Jieun reflek menjawab.


"Takdir.." Max tersenyum tipis. Dia mengambil tempat duduk di sebelah Yana.


"Ah iya.."


Rasanya Jieun dan Taejoon ingin melarikan diri dari suasana kikuk ini. Dia belum terbiasa berhadapan dengan Max secara langsung.


"Apa waktu tidur Jemima memang sering seperti ini? Sepertinya hari ini dia mudah sekali tidur. Apa tidak apa-apa?" Max mengalihkan pandangannya ke arah Yana.


"Tidak apa-apa. Anak kecil memang tak menentu jadwal tidurnya.." Jawan Yana datar.


"Jemima tidur nyenyak semalam.."


"Memang kamu tahu? Kamu yang tidur nyenyak semalam dipundakku.."


Ucapan Max membuat tubuh Yana membeku. Dia dengan cepat mencubit perut Max namun tak berhasil. Otot perut Max yang terbentuk sangat keras dan sulit dicubit.


"Tutup mulutmu.. ada tamu.." Wajah Yana tersipu malu.


"Kenapa? Mereka pasti sudah tahu apa yang terjadi.." Max tertawa kecil. Menggoda Yana memang menyenangkan. Baru sedikit saja digoda wajah Yana berubah menjadi merah padam.


"Ehem.. jadi.. kapan kalian akan menikah?" Pertanyaan tiba-tiba Jieun yang baru saja menyaksikan romantisme Yana dan Max membuat mereka menoleh bersamaan.


"Besok.." Jawab Max cepat.


"Max!" Teriak Yana keras. Itu adalah bentuk protesnya. Dia sudah berkali-kali mengatakan menikah itu harus dipersiapkan dengan baik-baik.


"Besok aku akan mengirim mobil untuk menjemput kalian. Datanglah ke pernikahan kami besok.."


"Hah?" Ucap Jieun dan Taejoon bersamaan.


"Kalian merestui kami kan? Pastika besok kalian datang ke pernikahan kami.."


"Tutup mulutmu Max!" Amarah Yana meledak.

__ADS_1


"Aku bilang besok ya besok sayang.. jangan berteriak, kamu bisa membangunkan Jemima.."


"Jangan bawa-bawa Jemima!" Yana tak mampu lagi menahan amarahnya.


Cup


Dengan cepat Max membungkam mulut Yana yang tak henti-hentinya berteriak dengan ciuman kilat di bibir.


"Max!!!"


-----


"Pelankan suaramu sayang.. kamu bisa membangunkan Jemima.." Suara Max sedikit tertahan dalam tenggorokannya.


"Sakit.. pelan.. aku mohon lebih pelan.." Yana sekuat tenaga menaham jeritannya.


"Tidak bisa. Kamu terus menarikku masuk.."


Yana tak mampu lagi berkata-kata. Tangannya memeluk leher Max dengan erat. Tubuhnya terperangkap di bawah Max.


Kamar yang minim pencahayaan itu terdengar suara-suara aneh. Desisan, lenguhan dan eraman saling bersahutan. Dua orang terlihat saling menyatu dalam ritme yang harmonis. Nafas mereka terengah-engah. Penyatuan tubuh mereka membuat keduanya terseret ke dalam gairah yang membara. Dua tubuh yang saling merindukan terus bergerak dan berpelukan.


Meskipun di atas sofa yang luasnya terbatas, tak mengurangi gairah mereka berdua. Sempitnya tempat mereka sekarang membuat tubuh keduanya berhimpit. Max terus memacu dorongan naik turunnya, sedangkan Yana berusaha untuk tidak menjerit ketika Max menjatuhkan kekuatan ke tubuh bawahnya dengan kuat.


Ada Jemima yang sedang tidur di kasur tak jauh dari tempat mereka sekarang. Jika dia berteriak Jemima pasti akan bangun dan itu bisa membuat suasana menjadi kacau.


"Max.." Yana menyebut nama Max dalam kenikmatannya. Otaknya kosong. Hanya ada kesenangan yang memenuhinya.


Ketika mereka hampir mencapai puncaknya, suara tangisan Jemima terdengar nyaring.


"Ayah.. ayah.. huwa.. huwa.. ayah.. huwa.." Jemima gelisah mencari ayahnya yang tidak ada saat dia membuka mata.


"Jemima bangun.." Max menghentikan gerakannya.


"Kita selesaikan dulu.." Pinta Yana dengan suara serak.


"Tapi.." Max ragu namun dia kembali menggerakkan tubuhnya.


"Ayah.. ayah.. huwa.. huwa.. huwa.. ayah.." Tangisan Jemima semakin kencang diikuti dengan suara jeritan mencari Max.


"Aku tenangkan dulu Jemima.."


Max menarik miliknya dari sarang Yana. Dia meraih piyamanya yang tergeletak di lantai kemudian memakainya dengan cepat.


Langkahnya cepat mendekati Jemima dan segera mengambil tubuh kecil Jemima ke dalam pelukannya. Max mengelus punggung Jemima dan menimangnya. Beberapa menit kemudian Jemima kembali tenang dan Max menidurkannya kembali ke kasur. Dirasa sudah cukup aman, Max kembali ke sofa untuk melanjutkan olahraga malamnya dengan Yana.


Namun ketika Max kembali Yana telah mengenakan pakaiannya dengan lengkap.


"Kok sudah pakai baju? Ayo kita lanjutkan. Jemima sudah tidur lagi.."


Sepertinya Max tak bisa membaca situasi. Mood Yana sudah berantakan. Siapa yang tidak marah diperlakukan seperti itu. Yana bangkit tanpa menjawab Max.


"Sayang.." Max menarik tangan Yana.


"Lepaskan aku.." Yana menampik tangan Max kemudian menjauhi Max dengan acuh tak acuh.

__ADS_1


"Argghh!" Max mengusak rambutnya kasar.


Bersambung..


__ADS_2