
"Lama tak berjumpa.." Swan mengndalikan suaranya. Jantungnya hampir saja meledak mengetahui jika Max masih mengingat nama kecilnya.
"Ya.." Jawab Max acuh tak acuh.
"Kita akan.."
"Swan!"
Ucapan Swan terpotong oleh teriakan salah satu staffnya. Swan menoleh ke arah sumber suara.
"Ayo cepat. Kita harus siap-siap.."
"Sampai bertemu lagi Max.."
Max tak menjawab. Dia mematap kosong sosok Swan yang menghilang di depannya. Melihat Swan menambah rindunya pada Yana. Lagi apa ya dia? Tidak ada kirim pesan sama sekali. Dasar wanita jahat. Selalu aku yang rindu dia duluan. Max menutup matanya kemudian membukanya.
"Model wanita diganti. Katanya itu langsung dari PDnya.." Woon kembali dari konfirmasi ke sutradara.
"Kenapa tidak ada konfirmasi sebelumnya? Kalau tahu dia lawan mainnya aku tidak akan setuju dengan iklan ini hyung.."
"Mereka minta maaf karena lupa mengkonfirmasi.."
"Lain kali tolong cek baik-baik hyung.. aku tidak suka dengan orang itu.." Max menekankan kata 'orang itu".
"Aku tidak mau ada rumor lagi dengan dia.."
"Ya. Aku akan memeriksa semua jadwalmu lagi mulai sekarang.."
-----
__ADS_1
Sebuah iklan pusat perbelanjaan bebas pajak. Skenarionya adalah dua orang yang pernah jatuh cinta kemudian bertemu kembali disana dan saling mengungkapkan cinta. Klise sekali. Max berdecak membawa naskah skenario. Cerita murahan. Bahkan Max tak tertarik sama sekali. Ditambah kehadiran Swan yang membuat *mood*nya berantakan.
Take 1.
Max yang sedang berbelanja dengan beberapa temannya tak sengaja bertemu dengan Swan yang berbelanja dengan temannya juga. Tangan mereka bertabrakan karena tertarik dengan barang yang sama kemudian saling pandang. Cut.
Take 2.
Mereka saling menatap dalam diam. Swan mengingat-ingat wajah pria di depannya kemudian membuka mulutnya. Max merespon Swan dengan senyum. Mereka tertawa kecil bersama. Karena pertemuan pertama kali mereka setelah sekian lama. Max mengajak Swan untuk minum kopi di salah satu kafe di dalam pusat perbelanjaan. Cut.
Take 3.
Max dan Swan saling bercerita masa-masa mereka sekolah dengan hangat dan riang. Kopi panas mengepul di antara mereka. Swan menundukkan kepala malu karena cerita Max kemudian membalas dengan senyum kecil. Saat mereka hendak berpisah, Swan ragu untuk pamit. Max sendiri juga tak ingin berpisah dengan Swan. Swan membungkuk memberi hormat kemudian berbalik meninggalkan Max, dengan cepat Max menarik tangan Swan sehingga mereka saling berhadapan. Suasana hening sesaat. Cut.
Max melempar tubuhnya di sofa ruang istirahatnya. Dia memuji kemampuan aktingnya. Rahangnya kebas dan tenggorokannya kering karena lelah berpura-pura bahagia di depan kamera. Dengan suasana hatinya yang buruh diperparah dengan lawan mainnya. Untung saja Max tidak muntah ditempat saking muaknya. Satu hal yang Max inginkan. Segera menyelesaikan syuting, segera pulang menemui Yana dan tidur di atas ranjang dengannya bergulat dengan keringat dan desahan.
"Ada tambahan satu adegan lagi kata sutradara.." Woon masuk dengan suara putus asa.
"Hah? Di naskah ini yang terakhir hyung.." Max bangkit dari istirahat kecilnya.
"Katanya melihat chemistry kalian yang bagus, sutradara menambahkan endingnya.."
"Tidak masuk akal.." Max mendengus kesal.
"Mereka akan siap 10 menit lagi. Katanya hanya satu adegan saja.."
"Apa itu?"
"Ciuman.."
__ADS_1
"Apa?" Suara Max menggelegar.
-----
Hari terakhir magang. Yana senang sekali. Enam minggu hidup bagai budak menjadi mahasiswa magang. Tidak dibayar, diberi pekerjaan paling banyak, disepelekan. Itulah perlakuan yang dia dapat selama magang. Untung saja tekad Yana sekuat baja. Apapun keadaannya dia tindak pernah mengeluh.
Yana memilih jalur bus berbeda seperti biasa. Sore ini tujuannya bukan pulang tapi menemui Taejoon dan Jieun di tempat mereka nongkrong.
Ketika jam pulang kantor halte bus akan penuh sesak. Yana tak yakin bisa naik bus pertama yang datang. Bukan hanya para pegawai, anak sekolahan juga terlihat menunggu bus.
"Hmm.." Yana menghembukan nafas pelan kemudian mengedarkan pandangannya untuk membunuh bosan.
Matanya terpaku pada satu titik. Papan iklan di beberapa sudut. Max? Hatinya berdesir. Hanya tampak dari samping karena wajahnya ditutupi kepala seseorang dari depan, tapi Yana mengenalinya. Itu adalah poster iklan pusat perbelanjaan terkenal di Korea, Lotto.
Max dan Swan
Lotto Duty Free
Tercetak besar dan tebal. Yana bisa mengenali Max bahkan tanpa tulisan itu. Rasa sakit naik dari hatinya menyusup ke tulang belakangnya. Adegan yang tercetak di poster itu menghujam jantungnya. Dia lupa jika Max adalah artis yang sangat mungkin beradegan seperti itu. Kebahagiaan karena hadirnya Max mengaburkan kebenaran penting yang dia lupakan karena terhanyut suasana.
Poster yang menggiring publik untuk percaya jika itu benar. Mungkin bisa jadi itu benar.
Max menarik wajah Swan dengan salah satu tangannya kemudian mencium pipinya. Mata Max tertutup seolah menyelami perasaanya ketika mencium Swan.
Persis. Persis ketika Max melahap bibir Yana. Mata Max akan tertutup penuh gairah mencium kasar bibir Yana ketika mereka bermesraan di atas tanjang.
Yana ingin sekali menjerit tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Max tak mungkin melakukannya, dia sudah berjanji takkan menerima adegan seperti itu sebagai pekerjaannya. Tapi.. Poster itu tampak nyata adanya. Yana diambang keputusasaan.
Hingga bus berlalu lalang, Yana masih membatu di depan poster iklan yang tertempel di halte bus.
__ADS_1
Bersambung..