
"Selamat siang semuanya.. saya adalah Han Jungwoo CEO IM Entertaiment.. bagaimana kabar kalian semua?"
Max menyapa kumpulan wartawan di hall IM Entertainment. Ruangan besar itu penuh sesak oleh para pemburu berita dengan kamera menyala disetiap sudut ruangan.
Max masuk dan menaiki mimbar dengan penuh percaya diri. Dia berdiri sendirian di depan ratusan orang tanpa takut. Seo Woon bersiap di bawah mimbar menunggu perintah selanjutnya dari Max.
"Anda pasti sudah tahu alasan saya menggelar konferensi pers kali ini.." Max tersenyum ramah. Deretan gigi putihnya terlihat jelas. Ketampanannya tak pernah memudar seiring berjalannya waktu.
"Ini adalah konferensi pers keempat saya bukan? Tentunya kalian semua masih mengingatnya dengan baik.." Ucap Max.
Wartawan kompak mengangguk. Beberapa ada yang sibuk dengan laptopnya dan ada juga yang sibuk mengambil gambar. Di belakang para wartawan yang duduk dengan rapi ada siapan live dari beberapa stasiun televisi.
Konferensi yang bertujuan untuk klarifikasi ini sudah keempat kali Max lakukan. Yang pertama adalah pengumuman hubungannya dengan Swanlove Ruby, kedua tentang putusnya hubungan mereka dan yang ketika saat Max mengundurkan diri dari dunia hiburan. Ketiga konferensi itu dilakukan ditahun yang sama. Tahun itu merupakan tahun terpuruk sepanjang karir Max menjadi idol.
"Saya membenarkan berita yang beredar pagi ini. Mereka adalah anak dan istri saya.."
Kilatan cahaya kamera menjadi terang benderang. Suara para wartawan terdengar riuh rendah.
Mengucapkan kata 'istri' membuat hati Max tergelitik. Kata itu benar-benar luar biasa. Dia memang belum menikah resmi dengan Yana, tapi apa bedanya. Mereka sudah setuju untuk menikah. Menikah hanya perkara saling mengucap janji di hadapan banyak orang. Jika Yana sudah setuju menikah dengannya, Max anggap mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Jadi Max yang menyebut Yana sebagai istrinya sekarang tidaklah salah menurut prinsipnya.
"Hal itu saja yang ingin saya sampaikan pada kalian semua. Silahkan jika ada yang mau ditanyakan. Saya akan menjawan semuanya dengan jujur.." Lagi-lagi deretan gigi putih Max terlihat. Sudut bibirnya yang seksi terangkat membentuk senyuman. Itu adalah sopan santun tingkat tinggi. Tak lupa Max juga memberikan hormat sekali lagi kepada para wartawan yang pernah membesarkan namanya sebagai idol.
"Konferensi kali ini dilakukan sangat cepat. Ini hanya beberap jam saja setelah berita itu menjadi hot news.." Celetuk salah satu wartawan.
"Sebenarnya saya belum ingin memperkenalkan anak kami ke publik tapi karena kalian tidak sengaja mengetahuinya dan akhirnya menjadi berita jadi saya terpaksa melakukan konferensi ini lebih cepat.. saya juga sedang tidak sibuk.. jadi seperti itulah.." Max cukup tenang menghadapi para wartawan yang tampaknya tak segan-segan melahapnya dengan banyak pertanyaan.
"Kapan anda menikah? Sudah berapa lama?"
"Dua tahun yang lalu.. maaf tidak mengundang para rekan wartawan. Karena bangak alasan makanya saya menyembunyikan pernikaha kami.."
"Bukankah dua tahun lalu anda memiliki hubungan dengan model Swanlove Ruby?"
Sekali terkena skandal selamanya skandal itu akan melekat seperti bayangan. Contohnya sekarang. Max tak pernah berhubungan dengan Swanlove Ruby lagi tapi namanya tetap terbawa dimanapun.
"Ya benar. Tepat setelah hubungan kami berakhir saya bertemu istri saya dan kami memutuskan untuk menikah.." Jawab Max dengan bumbu kebohongan. Dunia hiburan adalah panggung sandiwara belaka. Max tak gemetar meskipun sedang berbohong.
"Sepertinya istri anda bukan orang Korea. Melihat berita hari ini, beberapa foto diambil saat kalian sedang di bandara?"
"Benar. Istri saya adalah orang Indonesia.." Jawab Max singkat.
"Jika sudah selama itu anda menikah kenapa tidak pernah terdengar kabar anda menikah?"
"Selama ini istri dan anak saya tinggal di Indonesia. Istri saya jarang ke Korea. Kali ini dia datang karena ada temannya yang menikah.."
"Dimana kaliam bertemu?"
__ADS_1
"Istri saya mahasiswa disini.."
"Biasakah anda jelaskan lebih jelas proses bertemunya kalian?"
Bla bla bla
Begitulah suasana konferensi pers. Max dihujani dengan berbagai pertanyaan yang tak ada habisnya. Dengan sabarnya Max menanggapi semua pertanyaan itu dengan baik. Ada jawaban jujur dan ada jawaban bohong. Dia harus membuat situasi terkendali. Dia merasa tak perlu mengatakan skandal dua tahun lagi bahwa wanita yang digosipkan itu bukanlah Swanlove Ruby tapi Yana yang menjadi istrinnya sekarang. Itu adalah masalah yang besar. Menyangkut dia dan Swan tentunya. Biarlah berita itu terkubur selamanya. Hari ini Max menciptakan cerita baru dikalangan publik tentang dia, Yana dan Jemima.
"Saya hanyalah manusia biasa. Saya juga ingin hidup bahagia dengan orang yang saya cintai. Meskipun saya bukan lagi publik figur, saya mohon restuilah kami. Khususnya bagi orang-orang yang masih mengidolakan saya, saya mohon maaf jika membuat kesalahan. Untuk kedepannya tolonglah mengerti keadaan idola kalian. Mereka juga manusia biasa.." Max bangkit dari tempat duduknya kemudian memberikan hormat dengan membungkuk sedikit lebih lama dari biasanya.
Cahaya kamera dan suara jepretan kamera bertalu-talu.
-----
"Cih.. pintar sekali berbohong. Bertemu dan kemudian menikah dua tahun lalu? Kamu memang luar biasa Max.."
"Istriku? Siapa istrimu? Kita bahkan belum resmi menikah. Dasar pria egois.."
Konferensi pers Max disiarkan langsung di televisi. Yana duduk di sofa dengan televisi yang menyala. Berita Max memenuhi setiap chanel. Max memang orang terkenal. Hanya konferensi pers saja dia mampu menyedot perhatikan publik Korea.
Jemima memandang ibunya dengan mata hitam nan bulatnya. Dia dengan rakusnya menyusu setelah bangun tidur. Yana menundukkan kepalanya karena merasa Jemima terus saja mengawasinya.
"Ah ya ampun.. apa Jemy tidak suka mama membicarakan kejelakan ayah?" Yana mencium kening Jemima.
"Iya iya.. mama tidak akan membicarakan ayah lagi. Apa Jemy bahagia sekarang karena ayah akan bersama kita? Semua ini berkat Jemy. Jemy menjadi jembatan kembalinya mama dan ayah. Jemy sangat menyukai ayah ya?" Kali ini Yana mencium acak wajah Jemima. Dari kening, mata, hidung dan pipi gembulnya.
Bayi berusia satu tahun itu tertawa geli karena ciuman Yana. Suaranya nyaring memenuhi ruangan. Kalau saja bisa bicara, Jemima pasti akan menjawab "Tentu saja ku suka ayah ma.. mama juga menyukai ayah kan? Terima kasih karena sudah memaafkan ayah.."
Tawa Yana juga meledak. Yana terus memberikan ciuman pada Jemima dan Jemima tertawa karena geli. Kebahagiaan menyelimuti mereka berdua.
Ceklek
Max masuk keruangan dengan dahi mengkerut melihat dua orang yang sangat dia cintai tertawa bersama. Rasa iri mencul di hatinya.
"Apa yang mereka lakukan tanpa aku.."
Kalimat terakhir sangat menusuk hati Max. Mereka tertawa tanpa Max, itulah alasan keiriannya.
"Ah.. kapan kamu masuk Max?" Yana sadar akan kehadiran Max.
"Baru saja. Apa yang kalian tertawakan?" Max berjelan mendekati Yana dan Jemima.
"Tidak ada.." Jawab Yana tersenyum tipis.
"Besok lagi ajak ayah ya kalau bahagia.. ayah tidak mau kalian bahagia sendiri tanpa ayah."
__ADS_1
Max duduk di sebalah Yana. Tangannya dengan cepat mengambil tubuh Jemima diri Yana. Dia meletakkan Jemima di atas dadanya. Jemima tak protes. Dia malah tertawa menyapa Max. Mulut kecilnya komat-kamit dengan gumaman yang tidak jelas. Yana dan Max tersenyum menatap kelucuan Jemima.
Jika ini mimpi, Yana rela untuk tidak bangun selamanya. Dadanya sesak dipenuhi kebahagiaan.
"Kapan kamu akan mengantar kami pulang?" Yana buka suara.
"Aku berubah pikiran.."
"Hah? Apa maksudmu?"
"Sudah ku bilang kamu harus bertanggung jawab kalau kamu sudah setuju Yana.. kamu lupa?"
"Tapi kamu juga sudah berjanji akan mengantar aku dan Jemy pulang.."
"Kalau kamu kembali bagaimana kita bisa menikah?" Suara Max sedikit tinggi.
"Sesuai dengan apa yang kamu ucapkan di konferensi tadi kalau aku tinggal di Indonesia.. buktikanlah kalau itu bukan hanya kebohongan.." Yana kesal. Tak satupun janji Max yang ditepati. Dan dengan bodohnya Yana masuk ke dalam tipu muslihat Max hingga dia ditangkap dan dikalahkan.
"Kan aku jawab itu karena dia menanyakan kenapa pernikahan kita tidak terdengar oleh mereka. Kalau sekarang jelas beda, semua orang sudah tahu wajah kamu sayang.. bahkan mereka saat ini pasti sudah tahu namamu dan Jemima walaupun tadi aku tidak memperkenalkan kalian dengan jelas.."
"Aku tidak peduli. Kamu terus saja berbohong padaku.. dan jangan panggil aku istrimu. Kita bahkan belum resmi menikah.." Yana memalingkan wajahnya karena kesal.
"Apa bedanya? Kalau itu masalahnya, ayo kita menikah besok. Kalau kamu melahirkan anakku, itu berarti kamu adalah istriku Yana, Nyonya rumah Han yang baru. Menikah itu perkara mudah.." Max menarik wajah Yana untuk kembali bertemu pandang dengannya.
"Jangan bercanda Max.. aku memang setuju untuk menikah dengamu. Tapi tidak secepat itu.." Wajah Yana memerah. Mana ada seorang pria mengajak menikah tanpa basa-basi seperti ini.
"Aku tidak bercanda sayang.. seluruh Korea tahu jika kamu adalah istriku. Semua ucapanku di konferensi pers tadi sudah cukup menjadi janji pernikahan kita dariku.."
"Mana bisa menikah seperti itu.."
"Jika aku bilang besok itu pasti akan jadi besok.."
Yana tak mampu lagi berkata-kata. Sampai kapanpun dia tak akan memang melawan Max.
"Kekuargaku di Indonesia pasti mengkhawatirkan aku Max. Aku terus saja menunda kepulanganku.." Yana kembali memohon untuk dibebaskan Max.
"Woon hyung sedang mengurusnya.. kamu tidak perlu khawatir.."
"Hah?"
"Dia perjalanan ke Indonesia sekarang.."
"Apa?"
Bersambung...
__ADS_1