My Idol Boyfriend

My Idol Boyfriend
14. 3 JT Won


__ADS_3

Mobil Max melaju pelan memasuki kawasan perumahan elit. Yana bisa melihatnya dengan jelas dari bangunan yang menjulang tinggi dengan desain eropa. Laju semakin pelan ketika garasi mobil dari salah satu rumah tersebut terbuka, mobil Max masuk ke dalam garasi dengan sempurna. Dengan sekali gerakan sabuk pengaman yang dikenakan Max dan Yana dibuka oleh Max dengan kasar. Yana sempat tercengan, rupanya Max masih marah padanya. Pantas saja sepanjang perjalanan yang entah dimana ini, Max hanya diam dan Yana pun tak berani buka suara. Melihat raham Max yang mengeras berkali-kali membuat tubuh Yana menyusut.


"Turun! Ikuti aku.." Titah Max dengan suara terdengar garang.


Yana hanya mengangguk pelan.


Langkah Yana pasti mengikuti langkah Max menaiki tangga disebalah garasi. Ketika lampu dinyalakan, bola mata Yana hampir saja terlepas melihat pemandangan di depannya. Ruang tengah entah rumah siapa- sungguh mengagumkan. Dekorasi dominan putih dengan barang-barang yang tertata rapi. Rumah satu lantai dengan garasi di bawah tanah itu mampu membuat mata Yana tak berkedip. Sungguh indahnya melebihi lukisan Leonardo da Vinci.


"Kamu hanya akan berdiri disitu?"


Suara Max membuat kesadaran Yana kembali. "Rumah siapa ini Max?" Tanyanya. Mata Yana menyapu seluruh ruangan.


"Rumahku. Tidak ada siapa-siapa disini. Masuklah!" Titah Max.


Dengan setengah berlari Yana mengikuti Max masuk ke area dapur. Lagi-lagi Yana takjub. Desain interior dan penataan perabotan di dapur milik Max sungguh sempurna. Di dalam hati Yana sedikit iri, dia ingin sekali punya rumah seperti milik Max ini.


"Mau minum apa?" Tanya Max sembari membuka kulkas.


"Aku air putih saja.." Jawab Yana singkat.


"Duduklah.." Max menunjuk salah satu kursi panjang di salah satu meja yang menghadap ke dapur. "Ini.." Max kembali dengan membawa satu dua gelas air putih. Satu untuk Yana dan satunya lagi untuknya.


"Max?"


"Ya.. ada apa?" Jawab Max ikut duduk di sebelah Yana, dengan sekali teguk air di dalam gelas Max telah habis.


"Kenapa kamu membawaku kemari?"


"Aku tidak nyaman bertemu di depan rumahmu.."


"Itu bukan rumahku, aku membayar bulanan untuk tinggal disana, itu rumah kost.."


"Apapun itu terserah.. aku tak mau timbul masalah jika ada yang mengenaliku disana.."


Mendengar jawaban Max barusan Yana sedikit kecewa, sejak perjalanan kesini Yana terus saja memikirkan alasan Max membawanya, ternyata dugaannya salah. Yana kira max hanya ingin bertemu berdua dengannya, ternyata Max tidak mau keluar skandal tentang dirinya. Kamu terlalu percaya diri Yana, ingatlah siapa dirimu. Gumam Yana dalam hati.

__ADS_1


"Ya kamu benar. Kenapa tidak didalam mobil saja seperti biasanya?" Tanya Yana lagi.


"Kapan kamu akan selesai bertanya Yana? Aku datang kemari bukan untuk menjawab semua pertanyaanmu.."


"Tapi kan Max---"


"Aku paling tidak suka dibantah. Tidakkah kamu ingin bertanya kenapa aku pulang ke Korea?" Mata Max menatap Yana lurus.


"Memangnya kenapa?"


"Karena aku juga merindukanmu.." Singkat, jelas, dan padat. Ucapan Max terngiang di telinga Yana.


Sejenak Yana diam. Mendengar Max rindu padanya di telpon dengan diucapkan langsung jauh berbeda. Yang satu ini berhasil membuat jantung Yana berdetak tak karuan, sangat berbahaya sekali untuk kesehatan jantung.


"Kenapa rindu aku?" Yana mencoba membuat suaranya terdengar normal.


"Haruskah ada alasannya?"


"Ya haruslah.. bahkan kita saja tidak berteman dekat atau menjalin hubungan untuk saling leluasa merindukan Max.." Jelas Yana dengan tenang. Tak mungkin selamanya dia harus terlibat seperti ini dengan Max. Hubungan mereka bahkan tidak lebih dari orang yang berhutang dan orang yang menghutangi.


"Kamu menganggap kita dekat Max? Bukankah kamu datang untuk memastikan jika aku tidak kabur dengan hutangku?" Yana sempat ragu untuk bertanya. Kalau bukan karena itu, lalu karena apa? Apa karena Max menyukainya? Hah! Tidak mungkin sekali, seorang superstar seperti Max menyukai gadis dekil seperti dirinya. Yana harus menyudahi hubungan ini, dia tidak ingin jatuh terlalu jauh menyukai Max, nantinya yang sakit adalah Yana sendiri. Ya, semuanya harus diakhiri hari ini. Mari kita perjelas Max.


"Jadi itu yang ada dipikiran mu?"


"Ya! Lalu apa lagi? Kamu tidak menyukaiku kan? Tidak mungkin kan Max?"


Hati Max berdesir mendengarnya. Benarkah dia menyukai Yana? Bahkan Max tidak faham dengan perasaannya sekarang. Satu yang pasti untuk Max, kehadiran Yana mampu membatu Max mengobati penyakit vertigo yang selama ini dia derita. Dokter pun menganjurkan dia untuk mencoba cara ini, yaitu cara perlahan berhenti minum obat. Semuanya sudah terbukti dengan pelukan Yana ketika dia mengalami vertigo mampu menyembuhkannya tanpa harus meminum obat dari dokter.


"Kamu menginginkan alasan dariku?"


"Ya tentu saja.." Jawab Yana tegas.


"Ok aku kan memberimu alasan Yana.."


"Apa?"

__ADS_1


"Tetaplah bersamaku dan datang jika aku menyuruhmu. Bantu aku menyembuhkan vertigo ku, kata dokter mungkin ini bisa menyembuhkanku tanpa harus meminum obat. Kamu masih ingat dengan kejadian tiba-tiba aku memelukmu untuk pertama kali itu kan?" Jelas Max.


"Ya aku masih ingat.."


"Pelukan kedua ketika dibelakang Sky Dome. Saat itu aku mendapat serangan juga. Semuanya bisa aku tahan dengan kehangatan tubuhmu. Mungkin ini terdengar mesum, tapi aku jujur. Bahkan dokter saja tidak mempercayaiku pada awalnya.."


Yana terdiam, otaknya memutar ingatannya kembali. Jadi karena penyakit itulah Max memelukanya waktu itu.


"Aku akan menganggap hutangmu lunas kalau kamu mau membantuku Yana.." Ucap Max dengan nada memohon.


Mulut Yana tercekat, kelemahan utamanya adalah uang. Bagaimana Max bisa tahu?


"Atau kalau masih kurang, aku akan membayarmu perjam. Anggap saja kamu bekerja padaku Yana.."


"Mau kan? Aku mohon. Aku hanya memelukmu, itu saja. Aku janji tidak lebih dari itu. Jika aku melanggarnya kamu boleh pergi meninggalkan aku.."


"Hanya itu saja kan? Aku harap kamu menepati janjimu Max.."


Realistis. Yana berfikir realistis, Yana sudah muak dengan kerja keras dia selama ini untuk mengumpulkan uang. Jika Max sendiri menawarkan cara pelunasan yang cukup mudah kenapa di tolak, toh Yana juga tak rugi. Kapan lagi bisa dekat bahkan mendapatkan pelukan dari artis top Max. Bahkan Max berjanji untuk membayarnya perjam. Yana berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melibatkan perasaan pada pekerjaan barunya kali ini.


"Aku janji. Jadi kamu setuju?"


"Ok aku akan membantumu. Pastikan kamu menghitung hutangku lunas Max.."


"Tentu saja.." Jawab Max dengan senyum bahagia. "Tidurlah disini, sudah larut malam. Besok aku akan mengantarmu pulang.. kamu bisa menggunakan kamar tamu disana.." Tutur Max menujuk pintu kamar disebalah kamarnya.


"Ok baiklah.." Yana mengiyakan ide Max untuk menginap. Jarak rumahnya dengan rumah Max lumayan jauh, Yana sudah tidak sanggup lagi melakukan perjalanan itu. Max sudah berjanji tidak akan terjadi apa-apa diantara mereka, Yana percaya pada Max.


"Kapan kamu akan kembali ke Amerika Max?"


"Mungkin besok.."


"Oh.. selamat malam. Mimpi indah.." Ucap Yana kemudian menutup pintu kamar yang ditunjuk Max tadi.


Tangan Yana mengepal erat diatas dadanya. Sadar Yana, jangan mengharapkan lebih. Max membutuhkanmu disampingnya bukan karena dia menyukaimu, dia meminta bantuamu untuk menyembuhkan penyakitnya. Berkali-kali Yana meneriaki hatinya untuk sadar akan posisinya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2