
Setelah semua urusan administasi magang selesai Yana bergegas pulang. Dia janji pada adiknya bahwa malam ini Yana akan menelponnya. Dalam perjalan pulang Yana mampir ke supermarket dekat apartementnya. Beberapa bahan dapur habis. Yana tak berlama-lama disana, cukup dengan beberapa bahan dan camilan dia bergegas pulang. Hari semakin malan. Yana harus segera pulang kemudian mandi dan menelpon keluarganya di Indonesia.
Pasti Max sudah pergi. Biasanya Max tak akan lama di apatement Yana, kadang dia menginap tapi itupun tak sering. Jika Max menginap Yana bahkan tak sempat melihat wajahnya ketika dia bangun. Max selalu pergi pagi-pagi saat Yana masih terlelap.
Tapi hari ini beda, Yana hampir melempar plastik belanjaannya ketika melihat Max dengan santainya tiduran di sofa dengan tangan kanan sebagai penyangga, asyik menonton tv.
"Max?" Yana terkesiap. Max biasanya tak seperti ini. Entah kenapa itu membuatnya tak nyaman dan senang secara bersamaan.
"Sudah pulang?" Max balik bertanya.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Yana mendekati Max. Dia mengucek kedua matanya, memastikan jika Max di depannya itu nyata.
"Menonton tv.. kenapa?" Max membenarkan posisinya.
"Tidak biasanya kamu.." Yana menggantung ucapannya. Mulutnya tertutup rapat melihat Max yang menatapnya intens.
"Biasanya aku bagaimana? Tidak bolehkah aku tinggal lebih lama disini? Ini kan rumahku juga.." Protes Max.
Ya memang benar ini rumahmu Max. Yana yang menumpang. Tapi ini tidak seperti biasanya. Kenapa kamu seperti ini? Sikap ini membuat Yana tak nyaman Max.
"Kamu tentu boleh Max.. ini adalah rumahmu.. aku tidak berhak mengusirmu.." Jawab Yana sinis sambil berjalan menuju kulkas dan meletakkan belanjaannya disana.
__ADS_1
Max menatap nanar tubuh Yana yang berjalan menjauhinya.
"Kamu marah? Apa yang aku perbuat salah?"
Suara bisikan Max terdengar lembut di telinga Yana. Tangan Max sudah melingkar di perut Yana dan kepalanya terbenam di ceruk leher Yana, menciumi leher jenjang Yana sekilas kemudian kembali terbenam.
Yana terpejam sejenak. Bagaimana Yana bisa marah Max. Dia selalu termakan rayuan maut Max.
"Tidak. Hanya tidak biasanya kamu seperti itu Max. Aku sedikit terkejut.." Yana melanjutkan aktivitasnya.
"Aku rindu kamu.."
"Tidak ada jadwal hari ini. Bolehkah aku menghabiskannya bersamamu?"
Bimbang. Yana ada janji menelpon adiknya. Kalau ada Max bagaimana dia bisa menelponnya.
"Tapi Max.."
"Tidak boleh? Boleh ya.. aku mohon.." Max mengencangkan pelukannya.
"Tapi ada janji menelpon keluargaku di Indonesia.."
__ADS_1
"Telpon saja. Aku tidak akan mengganggu.. apa aku sekalian memberi salam kepada mereka?"
"Hah?" Yana membalikkan tubuhnya tiba-tiba. Max mendengus kesal. Tak suka jika pelukannya dipaksa berakhir.
"Kenapa? Aku kan pacarmu. Kamu tidak berencana menyembunyikan aku selamanya kan?"
Astaga. Apalagi ini Max. Yana merasa Max jadi aneh setelah pulang dari Jepang. Dia tanpa ragu-ragu mengaku pada dua temannya kalau dia adalah kekasih Yana, kemudian Max sudah menunggu Yana pulang dan kali ini Max ingin memberi salam pada orang tua Yana sebagai kekasihnya.
Tolong seseorang sadarkan Yana akan keanehan Max ini. Pasti terjadi sesuatu di Jepang.
Yana tak berani bertanya pada Max. Mereka sudah berjanji tidak akan saling ikut canpur urusan pribadi.
"Tapi Max.."
"Sepertinya cuma aku yang mencintaimu mati-matian. Kamu bahkan belum membalas perasaanku.. jangan-jangan kamu tidak mencintaiku.. ya kan?" Celetuk Max sambil lalu.
Max kembali ke sofa kemudian menjatuhkan tubuhnya begitu saja. Tanpa menoleh dia bergumam tak karuan.
Ya Tuhan apa lagi ini.. kenapa jadi seperti ini? Tolong biarkan hidupku tenang. Aku tak sanggup melewati situasi yang rumit ini.. Batin Yana berteriak lantang.
Bersambung...
__ADS_1